Minggu, 04 Januari 2009

Imam Ja’far Ash-Shadiq as

Nama : Ja'far

Gelar : Ash-Shadiq

Jlillikan : Abu Abdillah

Ayah : Muhammad al-Baqir

lbu : Fatimah

Tcmpat/Tgl Lahir : Madinah, Senin 17 Rabiul Awal 83 H.

Hari/Tgl Wafat : 25 Syawal 148 H.

Umur : 65 Tahun

Sebab Kematian : Diracun Manshur al-Dawaliki

Makam : Baqi', Madinah

Jumlah Anak : 10 orang; 7 laki-laki, 3 perempuan

Anak Laki-laki : Ismail, Abdullah, al-Afthah, Musa al-Kadzim, Ishaq, Muhammad al-Dhibbaja, Abbas, Ali

Anak Perempuan : Fatimah, Asma, Ummu Farwah

Riwayat Hidup

Imam Ja'far Ash-Shodiq a.s. adalab anak dari Imam Muhammad al-Baqir bin As Sajjad bin Imam Husein As-Syahid bi karbala, shalawatullah wasalamuhu alaihim aj-main.Beliau dilahirkan di Madinah al-Munawwarah, di masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, Dinasti Umayyah. Kehidupannya sarat dengan keilmuan dan ketaatan kepadaTuhan, sebab sejak kecilnya hingga selama sembilan belas tahun, beliau bernaung di bawah asuhan dan didikan ayahnya, Imam Muhammad al-Baqir. Setelah kepergian ayahnya yang syahid, maka sejak tahun 114 H beliau menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin spiritual yang juga marji' dalam segala bidang ilmu atas pilihan Allah dan Rasul-Nya. Situasi politik di zaman Ja'far As-Shadiq a.s. sangat menguntungkan beliau. Sebab di saat itu terjadi pergolakan politik di antara dua kelompok yaitu Bani Umayyah dan Bani Abbasiah yang saling berebut kekuasaan. Dalam situasi politik yang labil inilah Imam Ja'far As-Shadiq a.s. mampu menyebarkan dakwah Islam dengan lebih leluasa. Dakwah yang dilakukan beliau meluas ke segenap penjuru, sehingga digambarkan murid beliau berjumlah empat ribu orang, yang terdiri dari para ulama, para ahli hukum dan bidang lainnya seperti, Jabir bin Hayyan At-Thusi, seorang ahli matematika, Hisyam bin al-Hakam, Mu'min Thaq seorang ulama yang disegani, serta berbagai ulama sunni seperti Sofyan ats-Tsauri, Abu Hanifah (pendiri mazbab hanafi) al-Qodi As-Sukuni dan lain-lain.

Seperti yang digambarkan di atas bahwa di zaman Imam Ja'far terjadi pergolakan politik. Rakyat sudah jenuh berada di bawah kekuasaan Bani Umayyah dan muak melihat kekejaman dan penindasan yang dilakukan mereka selama ini. Situasi yang kacau dan pemerintahan yang mulai goyah dimanfaatkan oleb golongan Abbasiah yang juga berambisi kepada kekuasaan. Kemudian mereka berkampanye dengan berkedok sebagai "para penuntut batas dan bani Hasyim".

Bani Umayyah akhirnya tumbang dan Bani Abbas mulai membuka kedoknya serta merebut kekuasaan dan Bani Umayyah. Kejatuhan Bani Umayyah serta munculnya Bani Abbasiah membawa babak baru dalam sejarah. Selang beberapa waktu ternyata Bani Abbas memusuhi Ahlu Bait dan membunuh pengikutnya. Imam Ja'far juga tidak luput dari sasaran pembunuban. Pada 25 Syawal 148 H, al-Manshur membuat Imam Syahid dengan meracunnya. "Imam Ja'far ibn Muhammad, putra Imam kelima, lahir pada tahun 83 H/702 M. Dia wafat pada tahun 148 H/757 M, dan menurut riwayat kalangan Syiah diracun dan dibunuh karena intrik al-Manshur, khalifah Dinasti Abbasiyah. Setelah ayahnya wafat dia menjadi Imam keenam atas titah ilahi dan fatwa para pendahulunya ( Thabathaba'i dalam "Islam Syiah (Asal-Usul dan Perkembanganny hal 233-234-235).

Selama masa keimaman Imam ke-6 terdapat kesempatan yang lebih besar dan iklim yang menguntungkan baginya untuk mengembangkan ajaran-ajaran agama. Ini dimungkinkan akibat pergolakan di berbagai negeri Islam, terutama bangkit-nya kaum Muswaddah untuk menggulingkan kekhalifahan Bani Umayyah, dan perang berdarah yang akhirnya membawa kerutuhan dan kemusnahan Dinasti Umayyah. Kesempatan yang lebih besar bagi ajaran kaum Syiah juga merupakan hasil dari landasan yang menguntungkan, yang diciptakan Imam ke-5 selama 20 tahun masa keimamannya melalui pengembangan ajaran Islam yang benar dan pengetahuan Ahlu Bait.

Imam telah memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembangkan berbagai pengetahuan keagamaan sampai saat terakhir dari keimamannya yang bersamaan dengan akhir Dinasti Umayyah dan awal dari kekhalifahan Dinasti Abbasiyah. Dia mendidik banyak sarjana dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan aqliah (intelektual) dan naqliah (agama) seperti Zararah, Muhammad ibn Muslim, Mukmin Thaq, Hisyam ibn Hakam, Aban ibn Taghlib, Hisyam ibn Salim, Huraiz, Hisyam Kaibi Nassabah, dan Jabir ibn Hayyan, ahli kimia. Bahkan beberapa sarjana terkermuka Sunni seperti Sofyan Tsauri, Abu Hanifah pendiri madzhab Hanafi, Qadhi Sukuni, Qodhi Abu Bakhtari dan lain-lain, beroleh kehormatan menjadi murid-muridnya. Disebutkan bahwa kelas-kelas dan majelis-majelis pengajaranya menghasilkan empat ribu sarjana hadis dan ilmu pengetahuan lain. Jumlah hadis yang terkumpul dari Imam ke-5 dan ke-6, lebih banyak dari seluruh hadis yang pernah dicatat dari Imam lainnya.

Tetapi menjelang akhir hayatnya, Imam menjadi sasaran pembatasan-pembatasan yang dibuat atas dirinya oleh al-Manshur, khalifah Disnati Abbasiyah, yang memerintahkan penyiksaan dan pembunuhan yang kejam terhadap keturunan nabi, yang merupakan kaum Syiah, hingga tindakan-tindakannya bahkan melampaui kekejaman kaum Umayyah. Atas perintahnya mereka ditangkap dalam kelompok-kelompok, beberapa dan mereka dibuang dalam penjara yang gelap dan disiksa sampai mati, sedangkan yang lain dipancung atau dikubur hidup-hidup atau ditempatkan di bawah atau di antara dinding-dinding yang dibangun di atas mereka. Hisyam, khalifah Dinasti Umayyah, telah memerintahkan untuk menangkap Imam ke-6 dan dibawa ke Damaskus. Belakangan, Imam ditangkap oleh Saffah, khalifah Dinasti Abbasiyah dan dibawa ke Iraq. Akhirnya Al Manshur menangkapnya lagi dan dibawa ke Samarah untuk diawasi dan dengan segala cara mereka melakukan tindakan lalim dan kurang hormat dan berkali-kali merencanakan untuk membunuhnya. Kemudian Imam diizinkan kembali ke Madinah, di mana dia menghabiskan sisa hidupnya dalam persembunyian, sampai dia diracun dan dibunuh melalui upaya rahasia al-Manshur.

Mendengar berita tewasnya Imam ke-6, Manshur menulis surat kepada gubenur Madinah, memerintahkan untuk pergi ke rumah Imam dengan dalih menyatakan belasungkawa kepada keluarganya, meminta pesan-pesan Imam dan wasiatnya serta membacanya. Siapapun yang dipilih oleh Imam sebagai pewaris dan penerus harus dipenggal kepalanya seketika. Tentunya tujuan Manshur adalah untuk mengakhiri seluruh masalah keimaman dan aspirasi kaum Syiah. Ketika gubenur Madinah, melaksanakan perintah tersebut, membacakan pesan terakhir dan wasiatnya, dia mengetahui bahwa Imam telah memilih empat orang dan bukan satu orang, untuk melaksanakan amanat dan wasiatnya yang terakhir, yakni khalifah sendiri, gubenur Madinah, Abdullah Aftah, putra Imam yang sulung, dan Musa, putranya yang bungsu. Dengan demikian rencana al-Manshur menjadi gagal".

Meskipun Imam Ja’far telah syahid, namun peninggalannya, khususnya dalam bidang ilmu, telah membawa babak baru dalam perkembangan kebudayaan islam.

Kamis, 01 Januari 2009

PERKEMBANGAN ISLAM LEWAT IMAM JA’FAR

Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.
a. Biografi Singkat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.
Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. dilahirkan di Madinah pada tanggal 17 Rabi’ul Awal 83 H. Ayahnya adalah Imam Muhammad Baqir a.s. dan ibunya adalah Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar.

Namanya adalah Ja’far, julukannya adalah Ash-Shadiq dan panggilannya adalah Abu Abdillah. baca selengkapnya

Ia syahid di Madinah diracun oleh Manshur Ad-Dawaniqi pada tanggal 25 Syawal 148 H. dalam usianya yang ke-65 tahun. Ia dikuburkan di pekuburan Baqi’.

b. Program-program Imam Shadiq a.s. (dalam Menyebarkan Islam)
Imam Shadiq a.s. telah memusatkan seluruh tenaga dan pikirannya dalam bidang keilmuan, dan hasilnya, ia berhasil membentuk sebuah “hauzah” pemikiran yang telah berhasil mendidik fuqaha` dan para pemikir kaliber dunia. Dengan demikian, ia telah meninggalkan warisan ilmu yang sangat berharga bagi umat manusia. Di antara murid-muridnya yang ternama adalah Hisyam bin Hakam, Mukmin Ath-Thaaq, Muhammad bin Muslim, Zurarah bin A’yan dan lain sebagainya.

Gebrakan ilmiah Imam Shadiq a.s. telah berhasil menguasai seluruh penjuru negeri Islam sehingga keluasan ilmunya dikenal di seluruh penjuru negara dan menjadi buah bibir masyarakat.

Abu Bahar Al-Jaahizh berkata: “Imam Shadiq telah berhasil menyingkap sumber-sumber ilmu di muka bumi ini dan membuka pintu ilmu pengetahuan bagi seluruh umat manusia yang sebelumnya belum pernah terjadi. Dengan ini, ilmu pengetahuannya menguasai seluruh dunia”.

Tujuan utama kegiatan ilmiah dan budaya Imam Shadiq a.s. adalah menyelamatkan umat manusia dari jurang kebodohan, menguatkan keyakinan mereka terhadap Islam, mempersiapkan mereka untuk melawan arus kafir dan syubhah yang menyesatkan dan menangani segala problema yang muncul dari ulah penguasa waktu itu.

Usaha Imam Shadiq a.s. tersebut –dari satu sisi– adalah untuk melawan arus rusak akibat situasi politik yang terjadi pada masa dinasti Bani Umaiyah dan Bani Abasiyah. Penyelewengan akidah yang terjadi pada masa itu banyak difaktori oleh penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia dan India, dan bermunculannya aliran-aliran berbahaya seperti Ghulat, kaum zindiq, pemalsu hadis, ahlur raiy dan tasawuf. Aliran-aliran inilah yang telah menyiapkan lapangan bagi tumbuhnya banyak penyelewengan saat itu. Imam Shadiq a.s. melawan mereka, dan dalam bidang keilmuan, ia mengadakan dialog terbuka dengan mereka sehingga alur pemikiran mereka diketahui oleh khalayak ramai.

Dan dari sisi lain, ia juga –dengan usahanya tang tak kenal lelah– telah berhasil menyebarkan akidah yang benar dan hukum-hukum syariat, memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan mempersiapkan para ilmuwan guna mendidik masyarakat.

Imam Shadiq a.s. menjadikan masjid Rasulullah SAWW di Madinah sebagai pusat kegiatan. Masyarakat datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru untuk menanyakan berbagai masalah dan mereka tidak pulang dengan tangan kosong.

Di antara “figur-figur” yang pernah menimba ilmu dari Imam Shadiq a.s. adalah Malik bin Anas, Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan Asa-Syaibani, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu ‘Uyainah, Yahya bin Sa’id, Ayub As-Sijistani, Syu’bah bin Hajjaj, Abdul Malik bin Juraij dan lain-lain.

Imam Shadiq a.s. memerintahkan kepada para pengikutnya untuk tidak berlindung kepada penguasa zalim dan melarang mereka untuk mengadakan kerja sama dalam bentuk apa pun dengannya. Ia juga mewasiatkan kepada mereka untuk melakukan taqiyah supaya para musuh tidak menyoroti gerak-gerik mereka.

Imam Shadiq a.s. menganjurkan kepada semua masyarakat untuk mendukung perlawanan yang dipelopori oleh Zaid bin Ali melawan dinasti Bani Umaiyah. Ketika berita kematian Zaid bin Ali sampai ke telinganya, ia sangat terpukul dan sedih. Ia memberikan santunan kepada setiap keluarga yang suaminya ikut berperang bersama Zaid bin Ali sebesar 1000 Dinar. Begitu juga, ketika pemberontakan Banil Hasan a.s. mengalami kekalahan total, ia sangat sedih dan menyayangkan ketidakikutsertaan masyarakat dalam pemberontakan tersebut. Meskipun demikian, ia enggan untuk merebut kekuasaan. Hal ini ditangguhkannya sehingga umat betul-betul siap untuk mengadakan sebuah perombakan besar-besaran, ia dapat menyetir alur pemikiran yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan dapat memperbaiki realita politik dan sosial yang sudah betul-betul bobrok.

c. Imam Shadiq a.s. dalam Kaca Mata Orang Lain
Fuqaha` dan para ilmuwan yang hidup pada masa Imam Shadiq a.s. serta mereka yang hidup sesudah itu memujinya dengan penuh keagungan dan keluasan ilmu pengetahuan. Mereka antara lain:

a. Abu Hanifah, pemimpin dan imam mazhab Hanafiah. Ia berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih alim dari Ja’far bin Muhammad”. Dalam kesempatan lain ia juga berkata: “Jika tidak ada dua tahun (belajar kepada Ja’far bin Muhammad), niscaya Nu’man akan celaka”. Nama asli Abu Hanifah adalah Nu’man bin Tsabit.

b. Malik, pemimpin dan imam mazhab Malikiah. Ia pernah berkata: “Beberapa waktu aku selalu pulang pergi ke rumah Ja’far bin Muhammad. Aku melihatnya selalu mengerjakan salah satu dari tiga hal berikut ini: mengerjakan shalat, berpuasa atau membaca Al Quran. Dan aku tidak pernah melihatnya ia menukil hadis tanpa wudhu`”.

c. Ibnu Hajar Al-Haitsami berkata: “Karena ilmunya sering dinukil oleh para ilmuwan, akhirnya ia menjadi buah bibir masyarakat dan namanya dikenal di seluruh penjuru negeri. Para pakar (fiqih dan hadis) seperti Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraij, Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Hanifah, Syu’bah dan Ayub As-Sijistani banyak menukil hadis darinya”.

d. Abu Bahar Al-Jaahizh berkata: “Ilmu pengetahuan Ja’far bin Muhammad telah menguasai seluruh dunia. Dapat dikatakan bahwa Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri adalah muridnya, dan hal ini cukup untuk membuktikan keagungannya”.

e. Ibnu Khalakan, seorang sejarawan terkenal menulis: “Dia adalah salah seorang imam dua belas mazhab Imamiah dan termasuk salah seorang pembesar keluarga Rasulullah yang karena kejujurannya ia dijuluki dengan ash-shadiq. Keutamaan dan keagungannya sudah dikenal khalayak ramai sehingga tidak perlu untuk dijelaskan. Abu Musa Jabir bin Hayyan Ath-Thurthursi adalah muridnya. Ia menulis sebuah buku sebanyak seribu halaman yang berisi ajaran-ajaran Ja’far Ash-Shadiq dan memuat lima ratus pembahasan”.

d. Keberhasilan Imam Shadiq a.s. dalam Membentuk Sebuah Tatanan Masyarakat Baru di Balik Berkecamuknya Situasi Politik
Masa Imam Shadiq a.s. adalah masa melemahnya pemerintahan Bani Umaiyah dan menguatnya kekuatan Bani Abasiyah. Dua kelompok ini saling tarik-menarik kekuatan dan berperang demi merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Sejak Hisyam bin Abdul Malik berkuasa, perang politik Bani Abasiyah sudah dimulai. Pada tahun 129 H. mereka mulai mengadakan pemberontakan bersenjata, dan akhirnya, pada tahun 132 H. mereka mencapai kemenangan. Pada masa-masa itu Bani Umaiyah sedang menghadapi berbagai problema politik sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengadakan penekanan serius terhadap Syi’ah. Bani Abasiyah pun karena mereka ingin merebut kekuasaan atas nama membela keluarga Rasulullah SAWW dan membalas dendam atas darah mereka yang sudah terteteskan, mereka tidak berani mengadakan penekanan terhadap para pengikut Ahlul Bayt a.s.

Atas dasar ini, periode tersebut adalah sebuah periode tenang bagi Imam Shadiq a.s. dan para pengikutnya meskipun sangat relatif. Ia menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya dengan memulai sebuah gebrakan kebudayaan yang tidak tanggung-tanggung. Karena ia yang berhasil menyebarkan fiqih dan ilmu Ahlul Bayt a.s. dengan pesat serta mempermantap hukum dan teologi Syi’ah, akhirnya mazhab Syi’ah dikenal dengan nama mazhab Ja’fari.

Imam Shadiq a.s. menghadapi segala aliran pemikiran dan akidah yang berkembang pada waktu itu. Dengan segala upaya ia telah menjelaskan Islam dan tasyayyu’ di hadapan mereka dan berhasil membuktikan keunggulan pemikiran Syi’ah dibandingkan dengan aliran-aliran pemikiran tersebut.

Imam Shadiq a.s. mendidik murid-muridnya sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Hasilnya, setiap orang dari mereka memiliki spesialisasi dalam ilmu-ilmu tertentu, seperti hadis, tafsir, fiqih dan kalam.

Hisyam bin Salim bercerita bahwa pada suatu hari kami duduk di hadapan Imam Shadiq a.s. Tidak lama kemudian seseorang yang berkewarganegaraan Syam minta izin untuk masuk. Setelah ia masuk, Imam berkata kepadanya: “Duduklah! Apa yang kau inginkan?”.

Ia menjawab: “Saya mendengar bahwa engkau menjawab semua pertanyaan orang. Aku datang untuk berdebat denganmu”.

“Dalam bidang apa?”, tanya Imam kembali.

“Dalam bidang bacaan Al Quran”, jawabnya pendek.

Imam Shadiq a.s. menoleh kepada Hamran seraya berkata: “Hamran, orang ini adalah milikmu!”

Orang Syam itu kembali berkata: “Aku ingin berdebat denganmu, bukan dengan Hamran”.

“Jika engkau dapat mengalahkan Hamran, berarti engkau telah mengalahkanku”, ia menimpali.

Dengan terpaksa ia menerima untuk berdebat dengan Hamran. Setiap pertanyaan yang dilontarkan dijawab dengan tegas dan berdalil oleh Hamran hingga akhirnya ia merasa kalah dan kecapaian.

“Bagaimana engkau melihat Hamran?”, tanya Imam a.s.

“Sungguh Hamran sangat cerdik. Setiap pertanyaan yang kulontarkan, dijawabnya dengan tepat”, jawabnya.

Setelah itu ia berkata kembali: “Saya ingin berdebat denganmu berkenaan dengan bahasa dan sastra Arab”.

Imam a.s. menoleh kepada Aban bin Taghlib seraya berkata: “Berdebatlah dengannya!”

Aban pun tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengelak dan berdalih serta akhirnya ia menyerah.

“Aku ingin berdebat mengenai fiqih denganmu”, lanjutnya.

Imam a.s. menoleh kepada Zurarah seraya berkata: “Berdebatlah dengannya!” Ia pun mengalami nasib yang sama.

“Aku ingin berdebat denganmu berkenaan dengan ilmu kalam”, katanya lagi.

Imam a.s. menunjuk Mukmin Ath-Thaaq untuk melayaninya. Dan tidak lama kemudian ia pun mengalami nasib yang sama.

Begitulah seterusnya ketika ia meminta untuk berdebat berkenaan dengan masalah kemampuan (seseorang) untuk melakukan kebaikan dan keburukan, tauhid dan imamah, Imam a.s. menunjuk Hamzah Ath-Thayyar, Hisyam bin Salim dan Hisyam bin Hakam untuk melayaninya. Dan mereka dapat melaksanakan tugas mereka masing-masing dengan baik.

Melihat peristiwa yang sangat menyenangkan itu Imam Shadiq a.s. tersenyum bahagia.

Pada kesempatan ini kami haturkan kepada para pembaca budiman hadis-hadis suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Shadiq a.s. selama ia hidup.

1. Mengecek diri setiap hari

“Seyogianya setiap muslim yang mengenal kami (Ahlul Bayt) untuk mengecek setiap amalannya setiap hari dan malam. Dengan demikian ia telah mengontrol dirinya. Jika ia merasa berbuat kebaikan, maka berusahalah untuk menambahnya, dan jika ia merasa mengerjakan keburukan, maka beristigfarlah supaya ia tidak hina di hari kiamat”.

2.Istiqamah

“Jika Syi’ah kami mau beristiqamah, niscaya malaikat akan bersalaman dengan mereka, awan akan menjadi pelindung mereka (dari terik panas matahari), bercahaya di siang hari, rezekinya akan dijamin dan mereka tidak akan meminta apa pun kepada Allah kecuali Ia akan mengabulkannya”.

3.Akibat menipu dan dengki

“Barang siapa yang menipu, menghina dan memusuhi saudaranya (seiman), maka Allah akan menjadikan neraka sebagai tempat kembalinya. Dan barang siapa merasa dengki terhadap saudaranya, maka imannya akan meleleh sebagaimana garam meleleh (di dalam air)”.

4.Wara’, usaha dan menolong mukminin

“Janganlah kalian terbawa arus mazhab dan aliran! Demi Allah, berwilayah kepada kami tidak akan dapat digapai kecuali dengan wara`, usaha yang keras di dunia, dan menolong saudara-saudara seiman. Dan tidak termasuk Syi’ah kami orang yang menzalimi orang lain”.

5.Hasil percaya kepada Allah

“Barang siapa yang percaya kepada Allah, maka Ia akan menjamin segala yang diinginkannya, baik yang berkenaan dengan urusan dunia maupun akhiratnya, dan akan menjaga baginya apa yang sekarang tidak ada di tangannya. Sungguh lemah orang yang enggan membekali diri dengan kesabaran untuk menghadapi sebuah bala`, tidak mensyukuri nikmat dan tidak mengharapkan kelapangan di balik sebuah kesulitan”.

6.Praktek akhlak

“Bersilaturahmilah kepada orang yang memutus tali hubungan denganmu, berikanlah orang yang enggan memberimu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, ucapkanlah salam kepada orang yang mencelamu, berbuat adillah kepada orang yang memusuhimu, maafkanlah orang yang menzalimimu sebagaimana engkau juga ingin diperbuat demikian. Ambillah pelajaran dari pengampunan Allah yang telah mengampunimu. Apakah engkau tidak melihat matahari-Nya menyinari orang yang baik dan orang yang jahat dan air hujan-Nya turun kepada orang-orang yang saleh dan bersalah?”.

7.Pelan-pelan!

“Pelankanlah suaramu, karena Allah yang mengetahui segala yang kau simpan dan tampakkan. Ia telah mengetahui segala yang engkau inginkan sebelum kalian meminta kepada-Nya”.

8.Surga dan neraka adalah kebaikan dan keburukan sejati

“Segala kebaikan ada di depan matamu dan segala keburukan juga ada di depan matamu. Engkau tidak akan melihat kebaikan dan keburukan (sejati) kecuali di akhirat. Karena Allah azza wa jalla telah menempatkan semua kebaikan di surga dan semua keburukan di neraka. Hal itu dikarenakan surga dan nerakalah yang akan kekal”.

9.Wajah Islam

Islam itu telanjang. Bajunya adalah rasa malu, hiasannya adalah kewibawaan, harga dirinya adalah amal saleh dan tonggaknya adalah wara`. Segala sesuatu memiliki asas, dan asas Islam adalah kecintaan kepada kami Ahlul Bayt”.

10.Beramal untuk akhirat

“Beramallah sekarang di dunia demi kebahagiaan yang kau harapkan di akhirat”.

11.Pahala membantu para pengikut Ahlul Bayt a.s.

“Tidak ada seorang pun yang membantu salah seorang pengikut kami walaupun dengan satu kalimat kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab”.

12.Jauhilah riya`, berdebat dan permusuhan

“Jauhilah riya`, karena sifat riya` akan memusnahkan amalanmu, jauhilah berdebat, karena berdebat itu akan menjerumuskanmu ke dalam jurang kehancuran dan jauhilah permusuhan, karena permusuhan itu akan menjauhkanmu dari Allah”.

13.Kebersihan jiwa adalah tolak ukur penentu seorang mukmin

“Jika Allah menghendaki kebaikan atas seorang hamba, maka Ia akan membersihkan jiwanya. Dengan itu, ia tidak akan mendengar kebaikan kecuali ia akan mengenalnya dan tidak melihat kemungkaran kecuali ia akan mengingkarinya. Kemudian Ia akan mengilhamkan di hatinya sebuah kalimat yang akan mempermudah segala urusannya”.

14.Meminta afiat kepada Allah

“Mintalah afiat kepada Tuhan kalian. Bersikaplah wibawa, tenang dan milikilah rasa malu”.

15.Jiwa doa adalah amal

“Perbanyaklah doa, karena Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Ia telah menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan (doa-doa mereka). Pada hari kiamat Ia akan menghitung doa-doa mereka sebagai sebuah amalan yang pahalanya adalah surga”.

16.Cinta orang-orang miskin

“Cintailah orang-orang miskin yang muslim, karena orang yang menghina dan bertindak sombong terhadap mereka, ia telah menyimpang dari agama Allah dan Ia akan menghinakannya dan murka atasnya. Kakek kami SAWW pernah bersabda: “Tuhanku telah memerintahkanku untuk mencintai orang-orang miskin yang muslim”.

17.Akar kekufuran

“Jangan menghasut orang lain, karena akar kekufuran adalah hasud dan iri dengki”.

18.Amalan penumbuh benih kecintaan

“Tiga amalan dapat menumbuhkan benih kecintaan: memberi hutang, rendah diri dan berinfak”.

19.Amalan penumbuh benih permusuhan

“Tiga amalan penimbul benih permusuhan: kemunafikan, kezaliman dan kesombongan”.

20.Tiga tanda untuk tiga orang

“Tiga hal tidak dapat diketahui kecuali dalam tiga kondisi: penyabar tidak akan dikenal kecuali dalam kondisi marah, pemberani tidak akan diketahui kecuali ketika perang dan saudara tidak akan diketahui kecuali ketika (kita) membutuhkan”.

PERKEMBANGAN MAHZAB DUA BELAS IMAM

twelve-caliphs.jpg

Perkembangan pesat Mazhab Dua Belas Imam

Selama masa keimaman Ja’far ash-Shadiq inilah, mazhab Syi’ah Dua Belas Imam atau dikenal juga Imamiah mengalami kesempatan yang lebih besar dan iklim yang menguntungkan baginya untuk mengembangkan ajaran-ajaran agama. Ini dimungkinkan akibat pergolakan di berbagai negeri Islam, terutama bangkitnya kaum Muswaddah untuk menggulingkan kekhalifahan Bani Umayyah, dan perang berdarah yang akhirnya membawa keruntuhan dan kemusnahan Bani Umayyah. Kesempatan yang lebih besar bagi ajaran Syi’ah juga merupakan hasil dari landasan yang menguntungkan, yang diciptakan Imam ke-5 selama 20 tahun masa keimamannya melalui pengembangan ajaran Islam yang benar dan pengetahuan Ahlul Bait. Sampai sekarang pun mazhab Syi’ah Imamiah juga dikenal dengan mazhab Ja’fari

baca selanjutnya

Murid-murid Ja’far ash-Shadiq

Imam telah memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembangkan berbagai pengetahuan keagamaan sampai saat terakhir dari keimamannya yang bersamaan dengan akhir Bani Umayyah dan awal dari kekhalifahan Bani Abbasiyah. Dia mendidik banyak sarjana dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan aqliah (intelektual) dan naqliah (agama) seperti:

  • Zararah,
  • Muhammad bin Muslim,
  • Mukmin Thaq,
  • Hisyam bin Hakam,
  • Aban bin Taghlib,
  • Hisyam bin Salim,
  • Huraiz,
  • Hisyam Kaibi Nassabah, dan
  • Abu Musa Jabir Ibn Hayyan, ahli kimia. (di Eropa dikenal dengan nama Geber)

Bahkan beberapa sarjana terkemuka Sunni seperti:

Mereka beroleh kehormatan menjadi murid-muridnya. Disebutkan bahwa kelas-kelas dan majelis-majelis pengajaranya menghasilkan empat ribu sarjana hadist dan ilmu pengetahuan lain. Jumlah hadist yang terkumpul dari Imam ke-5 dan ke-6, lebih banyak dari seluruh hadits yang pernah dicatat dari Imam lainnya.

] Sasaran dari Khalifah yang berkuasa

Tetapi menjelang akhir hayatnya, Beliau menjadi sasaran pembatasan-pembatasan yang dibuat atas dirinya oleh Al-Mansur, khalifah Bani Abbasiyah, yang memerintahkan penyiksaan dan pembunuhan yang kejam terhadap keturunan Nabi, yang merupakan kaum Syi’ah, hingga tindakan-tindakannya bahkan melampaui kekejaman Bani Umayyah. Atas perintahnya mereka ditangkap dalam kelompok-kelompok, beberapa dan mereka dibuang dalam penjara yang gelap dan disiksa sampai mati, sedangkan yang lain dipancung atau dikubur hidup-hidup atau ditempatkan di bawah atau di antara dinding-dinding yang dibangun di atas mereka.

Penangkapan Beliau

Hisyam, khalifah Bani Umayyah, telah memerintahkan untuk menangkap Imam ke-6 dan dibawa ke Damaskus. Belakangan, Imam ditangkap oleh As-Saffah, khalifah Bani Abbasiyah dan dibawa ke Iraq. Akhirnya Al-Mansur menangkapnya lagi dan dibawa ke Samarra, Iraq untuk diawasi dan dengan segala cara mereka melakukan tindakan lalim dan kurang hormat dan berkali-kali merencanakan untuk membunuhnya. Kemudian Imam diizinkan kembali ke Madinah, di mana dia menghabiskan sisa hidupnya di Madinah, sampai dia diracun dan dibunuh melalui upaya rahasia Al-Mansur.

Riwayat-riwayat mengenai Ja’far ash-Shadiq

Dari Malik bin Anas

Imam Malik menceritakan pribadi Imam Ja’far ash-Shadiq dalam kitab Tahdhib al-Tahdhib, Jilid 2, hlm. 104:

“Aku sering mengunjungi ash-Shadiq. Aku tidak pernah menemui beliau kecuali dalam salah satu daripada keadaan-keadaan ini:
  1. beliau sedang shalat,
  2. beliau sedang berpuasa,
  3. beliau sedang membaca kitab suci al-Qur’an.
Aku tidak pernah melihat beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi SAW tanpa taharah. Beliau seorang yang paling bertaqwa, warak, dan amat terpelajar selepas zaman Nabi Muhammad SAW. Tidak ada mata yang pernah, tidak ada telinga yang pernah mendengar dan hati ini tidak pernah terlintas akan seseorang yang lebih utama (afdhal) melebihi Ja’far bin Muhammad dalam ibadah, kewarakan dan ilmu pengetahuannya.”

Dari Abu Hanifah

Pada suatu ketika khalifah Al-Mansur dari Bani Abbasiyah ingin mengadakan perdebatan antara Abu Hanifah dengan Imam Ja’far ash-Shadiq AS. Khalifah bertujuan untuk menunjukkan kepada Abu Hanifah bahwa banyak orang sangat tertarik kepada Imam Ja’far bin Muhammad karena ilmu pengetahuannya yang luas itu. Khalifah Al-Mansur meminta Abu Hanifah menyediakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk diajukan kepada Imam Ja’afar bin Muhammad AS di dalam perdebatan itu nanti. Sebenarnya Al-Mansur telah merencanakan untuk mengalahkan Imam Ja’far bin Muhammad, dengan cara itu dan membuktikan kepada orang banyak bahwa Ja’far bin Muhammad tidaklah luas ilmunya.

Menurut Abu Hanifah,

“Al-Mansur meminta aku datang ke istananya ketika aku tidak berada di Hirah. Ketika aku masuk ke istananya, aku melihat Ja’far bin Muhammad duduk di sisi Al-Mansur. Ketika aku memandang Ja’far bin Muhammad, jantungku bergoncang kuat, rasa getar dan takut menyelubungi diriku terhadap Ja’far bin Muhammad lebih daripada Al-Mansur. Setelah memberikan salam, Al-Mansur memintaku duduk dan beliau memperkenalkanku kepada Ja’far bin Muhammad. Kemudian Al-Mansur memintaku mengemukakan pertanyaan-pertanyaan kepada Ja’far bin Muhammad. Aku pun mengemukakan pertanyaan demi pertanyaan dan beliau menjawabnya satu persatu, mengeluarkan bukan saja pendapat ahli-ahli fiqih Iraq dan Madinah tetapi juga mengemukakan pandangannya sendiri, baik beliau menerima atau menolak pendapat-pendapat orang lain itu sehingga beliau selesai menjawab semua empat puluh pertanyaan sulit yang telah aku sediakan untuknya.”

Abu Hanifah berkata lagi,

“Tidakkah telah aku katakan bahwa dalam soal keilmuan, orang yang paling alim dan mengetahui adalah orang yang mengetahui pendapat-pendapat orang lain?”

Lantaran pengalaman itu, Abu Hanifah berkata,

“Aku tidak pernah melihat seorang ahli fiqih yang paling alim selain Ja’far bin Muhammad.” [2]

Imam Ja’far ash-Shadiq sering berkata

“Hadist-hadist yang aku keluarkan adalah hadits-hadits dari bapakku. Hadist-hadist dari bapakku adalah dari kakekku. Hadist-hadist dari kakekku adalah dari Ali bin Abi Thalib, Amirul Mu’minin. Hadist-hadist dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib adalah hadist-hadist dari Rasulullah SAW dan hadist-hadist dari Rasulullah SAW adalah wahyu Allah Azza Wa Jalla.” [3]

IMAMIAH


14masoom.jpg

PANDANGAN DUA BELAS IMAM

Imamiah merupakan kelompok mayoritas dalam Syi’ah, disebut juga Itsna Asyariah, berikut ini merupakan daftar Imam yang merupakan pengganti Nabi Muhammad dalam hal kepemimpinan umat (bukan sebagai Nabi, karena Imamiah berpendapat Nabi terakhir adalah Muhammad). Setiap Imam merupakan anak dari Imam sebelumnya kecuali Husain bin Ali, yang merupakan saudara dari Hasan bin Ali.

Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
Ja’far bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
Musa bin Jafar (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at-Taqi
Ali bin Muhamad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

Pandangan Ismailiyah

Ismailiyah percaya bahwa lima pertama dari enam Imam di atas adalah Imam sebenarnya pengganti Muhammad, tetapi Ismailiyah berpendapat bahwa Ismail bin Jafar adalah Imam pengganti ayahnya Jafar as-Sadiq, bukan saudaranya Musa al-Kazim. Dari Ismail bin Jafar, garis Imam Ismailiyah sampai ke Aga Khan yang mengklaim sebagai keturunannya. Lihat [1].

Ali bin Abi Thalib (600–661)
Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain as Syahid
Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Jafar as-Sadiq
Ismail bin Jafar
Hal penting untuk dicatat adalah Hasan bin Ali tidak termasuk dalam Imam yang diakui oleh Ismailiyah.

Pandangan Zaidiyah

Zaidiyah percaya bahwa empat Imam pertama seperti dalam daftar Imamiah adalah Imam yang sebenarnya, tetapi berbeda dengan yang kelima. Zaidiyah menyatakan bahwa Zaid bin Ali dan bukan saudaranya Muhammad al-Baqir sebagai Imam penerus. Untuk Zaidiyah, Keimaman dipindahkan dari Zaid bin Ali ke Imam yang menjadi pengikutnya; sering mereka menggunakan gelar Khalifah.

Ali bin Abi Thalib (600–661)
Hasan bin Ali (625–669)
Husain bin Ali (626–680)
Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
Zaid bin Ali (meninggal 740)

YA ZAHRA YA FATIMAH

ya-fatimah.gif

fatimah-az-zahra-1.jpg

ya-fatimah-2.jpg


AHLUL KISA


ahlul-kisa.jpgahlul-bayt.jpgal-kisa.jpg

kisa-2.jpg


KARBALA


karbala-1.jpgkarbala-2.jpgya-husayn.jpgkarbala.jpg