Setelah selesai melakukan perpisahan dengan keluarga tercintanya, Imam Husein as. pun bergerak dengan gagah berani menyambut tantangan musuh, walau di pihaknya tinggal dia sendiri. Dia tidak gentar dan tidak sedikitpun ada rasa takut dalam hatinya. Ia menyambut kematian bak menyambut sesuatu yang sangat berharga. Syahadah adalah cita-cita tertingginya. Terang saja ia adalah putra singa arab, pendekar kaum Quraisy, Ali as. sang haidar yang dengan sebelah tangan ia angkat pintu khaibar. Dengan langkah pasti Husein as. Menuju medan laga. Namun, seketika langkahnya terhenti ketika terdengar suara kecil memanggilnya; ayah !.. ayah !..
Sukaenah keluar dari kemah dan berlari menuju ke arahnya Imam Husein as. berkata : ada gerangan apa wahai puntriku ? Sukaenah berkata : wahai ayah sebelum engkau pergi ada satu permintaan yang ingin aku ajukan kepadamu apakah engkau mau mengabulkan permintaanku ini ?. Imam as. berkata : tentu wahai putriku sampaikanlah permintaanmu itu. Wahai ayah tandas Sukaenah dengan nada lirih dan diringi isak tangis. Sebelum engaku pergi, maukah engkau mengusap kepalaku ? Mendengar itu imam Husein as. tersentak keheranan dan berkata : wahai putriku kenapa engkau meminta ayah melakukan itu, engkau bukanlah anak yatim, aku ayahmu masih ada disisimu. Sukaenah dengan tersendat-sendat berkata : wahai ayah! Memang engkau masih berada disisiku, akan tetapi aku tahu bahwa sebentar lagi engkau akan pergi untuk selamanya. Al-Husein pun tak kuasa menahan tangis dan iapun memeluk tubuh kurus putrinya. Ia teringat ketika Muslim bin Aqil syahid, ia berkunjung ke keluarga Muslim dan menghampiri putri kecil Muslim serta mengelus kepalanya. Putri kecil itu berkata : wahai paman kenapa engkau mengusap kepalaku, aku ini bukan anak yatim, ayahku masih hidup ia sedang pergi jauh dan ayah berkata bahwa ia akan kembali secepatnya. Dan kini putrinya Sukaenah memintanya untuk mengusap kepalanya sementara ia masih ada. Seraya iapun mendendangkan syair.
Ketahuilah! akan panjang masa setelahku wahai sukaenah
Tangisan darimu ketika kematian menjemputku
Jangan kau bakar hatiku dengan tetesan air matamu
Selama ruh masih berada di jasadku
Maka jika aku terbunuh nanti, engkaulah yang paling layak
Untuk menangisiku wahai sebaik-baiknya wanita !
Sukaenah merupakan salah satu putri kecil diantara sekian putra serta putri yang berada di karbala. Karbala, tempat berkecamuknya perang, tempat tangan dan kepala terpisah dari badan. Putra-putri kecil itu masih sangat lemah jiwanya untuk bisa menanggung beban perang. Mereka masih sangat kecil untuk menahan beban berat ini. Mereka masih belum kuat menyaksikan tangan dan kepala ayah-ayah mereka terpisah dari badan. Putra-putri kecil itu belum sanggup menyaksikan perlakuan-perlakuan yang tak berprikemanusiaan pasukan Yazid terhadap ayah-ayah mereka.
Akan tetapi semua beban itu mereka alami di karbala. Mereka menyaksikan tangan dan kepala ayah-ayah mereka terpisah dari badannya. Pasukan Yazid yang tidak berprikemanusiaan itu, bahkan tega menyiksa dan membunuh anak-anak kecil. Anak-anak kecil yang tidak berdosa kecuali hanya karena mereka keluarga suci Nabi saw. Membunuh dan menyiksa anak kecil adalah kejahatan yang peling besar. Tidak ada satu agama, kaum serta madzhab pun yang membolehkan penyiksaan terhadap anak-anak yang tidak berdaya. Ketika anak kecil melakukan kesalahan, ia tidak dihukum melainkan hanya diperingati. Akan tetapi mereka telah membunuh dan menyiksa anak-anak kecil yang tak berdosa dan tak berdaya. Mereka telah melakukan kejahatan yang paling buruk dan telah melakukan dosa yang teramat besar.
Seorang manusia yang membunuh anak kecil yang tak berdaya pada hakekatnya bukanlah manusia. Ia lebih buas dari pada srigala, lebih beracun dari pada ular dan lebih najis dari pada anjing serta babi. Dalam undang-undang perburuan, tidak diperbolehkan memburu dan membunuh hewan yang masih kecil. Akan tetapi pasukan Yazid telah melanggar aturan-aturan kemanusiaan, mereka mengejar-ngejar, memburu, menyiksa dan mebunuh manusia-manusia yang masih kecil itu. Anak-anak kecil yang lebih suci dari pada cahaya, tangan anak kecil itu belum sanggup membawa senjata, belum bisa menarik anak panah. Akan tetapi mereka tega memotong tangan-tangan mungil itu.
Bocah-bocah Syahid
Abdullah bin Hasan adalah salah satu anak kecil yang berada di karbala. Ia sudah yatim ketika masih dalam kandungan ibunya, ia dibesarkan oleh pamannya ( Al-Husein as. ) dan sekarang sudah berumur sepuluh tahun. Imam Husein as. telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, seolah putranya sendiri. Setelah beberapa saat pamannya pergi ke medan perang, Abdullah mulai gusar. Ia khawatir dengan keadaan sang paman, jangan-jangan… . ia tidak kuasa menahan kekhawatirannya, ia pun berlari menuju kearah dimana pamannya tadi pergi. Ketika sampai dikerumunan pasukan Yazid langkahnya terhenti, matanya menuju kearah setumpukan hitam yang dikelilingi pasukan. Ia melangkah pelan menuju kearahanya, tersentak seketika, tatkala ia melihat bahwa tumpukan hitam itu adalah pamannya Imam Husein as. dengan darah disekujur tubuhnya dan badan yang tercabik-cabik. Ia pun terjatuh ketanah, tubuhnya lemas dan tak berdaya tak percaya kalo tubuh itu adalah tubuh paman yang sangat disayanginya. Abdullah menangis histeris memanggil-manggil pamannya.
Ketika melihat Abdullah, Imam Husein as. memanggil saudarinya Zainab dan menyuruhnya untuk menahan Abdullah agar tidak melanjutkan langkahnya. Zainab berusaha menahan Abdullah, akan tetapi Abdullah berontak dan berteriak : demi Allah aku tidak akan meninggalkan pamanku sendirian. Iapun berhasil lepas dari pelukan Zainab dan berlari menuju tubuh Al-Huseian as. dan memeluknya. Sementara salah seorang pasukan Yazid mengayunkan pedang hendak menebas tubuh Al-Husein as. Abdullah berdiri dan berkata : apakah kamu akan membunuh pamanku? Ia halangi Al-Husein dan ia jadikan tangan kecilnya sebagai tameng pamannya. Tidak disangka, jauh dari naluri kemanusiaan, laki-laki tersebut menebaskan pedangnya dan mengenai tangan mungil itu. Abdullah menjerit kesakitan, tangannya hampir putus dan menggantung ketanah. Ia menangis dan memanggil-manggil ibunya. Imam Husein as. dengan sisa tenaganya memeluk tubuh keponakannya dan menengadah ke langit mengadukan perbuatan ummat kakeknya terhadap keluarga sucinya. Pasukan Yazid menebas kepala Abdullah dan iapun syahid menjemput ayah tercintanya ( Al-Hasan as. ). Ia berhasil menjalankan sumpahnya terhadap bibinya bahwa ia tidak akan meninggalkan pamannya sendirian.
Muhammad tiga tahun lebih kecil dari Abdullah, ia adalah cucu dari Aqil. Muhammad tidak ikut berperang akan tetapi ia salah satu dari para syuhada di karbala. Ketika Imam Husein as. telah syahid, pasukan Yazib menyerbu ke kemah yang di dalamnya hanya terdapat para wanita dan anak-anak. Mereka menyerbu kemah untuk menawan para wanita dan merampas apa saja yang mereka bawa. Muhammad karena ketakutan ia keluar dari kemah dan tak tahu harus lari kemana. Ia pun lepas dari awasan para wanita, semua kalang kabut, berlarian, panik, api, asap, debu… Tapi sungguh tidak disangka, tidak ada kasih sayang, tidak berprikemanusiaan… Muhammad memegang salah satu tiang kemah, sepuluh penunggang kuda menuju kearahnya salah satunya Hani Al-Hadhrami mendekat, makin mendekat dan … mereka membelah badan kecil itu menjadi dua. Anak yang tak berdaya itu mengapa harus menjadi sasaran kebiadaban pasukan Yazid ????
Bahkan, lebih kecil dari itu pun mereka bunuh. Ali bin Husein as. bayi yang masih menyusui itu pun ternyata menjadi sasaran panah pasukan Yazid. Bayi yang tak berdaya, tak mampu membela diri, ia tidak bisa berperang akan tetapi ia berhasil mengurangi satu anak panah musuh. Bayi yang memiliki ibu bernama Rubab dan kakak yang bernama Sukaenah, Imam Husein as. sangat menyayangi keduanya. Disela-sela perang Imam Husein menyempatkan diri untuk menengok putranya itu. Ia kembali ke kemah dan meninta Zainab untuk membawakan putranya itu. Al-Husein as. menggendong sang putra dan menciuminya, namun… seketika anak panah melesat dan mengarah ke leher halus bayi itu. Bayi pun mengerang dan darah menyembur dari lehernya. Al-Husein as., Zainab serta semua yang ada dikemah histeris melihat kejadian itu. Al-Husein as. mengambil darah itu dan mengrahakannya kelangit seraya berkata :
“Ya Allah ! aku persembahkan darah ini kepadaMu. Darah ini tidak lebih sedikit dari darah sembelihan hewan. Jika saat ini engkau tidak menghendaki kami untuk menang, maka berikan kemenangan untuk ummat yang akan datang. Ambillah pembalasan atas darah-darah kami yang di hamburkan oleh kaum yang dhalim”.
“Wahai yang maha pengasih ! satu hal yang membuat musibah ini menjadi mudah bagi kami, yaitu karena Engkau melihat semua ini”

Ck ck ck luar biasa mbak ini euis Salut sebagai seorang mahasiswi Tafsir Al-Qur’an.
Mengapakah membandingkan sumber yang tidak dijamin kebenarannya, ada tendensi apakah gerangan ?
Semoga apa yang menjadi maksud baik mbak euis terkabulkan
NB: Klo butuh sumber saya nanya mbak euis boleh ya, karena saya ini bukan ahli apa-apa, hanya bisa menuangkan isi otak kedalam tulisan saja.
By: SangOtak on Mei 22, 2007
at 9:46 am
baru baca kesimpulannya, tak link… kapan-kapan saya baca-baca lagi……
saya pernah baca buku yang intinya mirip seperti ini (tapi lupa judulnya), ya karena memang belum memiliki kemampuan meneliti seperti sampeyan…. intinya: banyak mitos-mitos dalam Islam yang sumbernya bukan dari al-Qur’an tapi dari taurat maupun injil…..! bener..??
By: walahwalah on Mei 24, 2007
at 8:42 am
Salam.. Waah komprasi yang bagus. saya perlu membaca ulang dan perlu aku minta izin copy paste artikel ini untuk di di sini. makasih
By: kurtubi on Mei 25, 2007
at 3:31 pm
bagus…di copy ah!
By: dedi on Mei 30, 2007
at 4:25 am
Alhamdulillah, terima kasih telah berbagi ilmu.
By: Dimas on Juni 2, 2007
at 9:51 am
makasih ya mba artikelnya,
aku ikut ngopi ya buat referensi skripsi ku… ^_^
jazakumullah khairan katsiran…
semangat kaum hawa…….
By: ibnu ghozali on Juni 5, 2007
at 6:36 am
@Sang Otak
Wah ini terlalu berlebihan Mas…banyak sekarang perempuan yang belajar seperti jurusan saya…
Kitab Taurat dan Injil memang tidak dijamin kebenarannya, karena kalau memang kedua kitab suci tersebut terjamin kebenaran dan keotentikannya maka tidak akan diturunkan kitab suci al-Qur’an. Dan jika al-Qur’an tidak terjamin kebenarannya, maka harus diturunkan kitab suci lagi. Jika tidak melakukan hal itu, berarti Tuhan tidak proposonal, karena membiarkan makhluknya terombang-ambing tanpa buku pedoman yang dijamin kebenarannya untuk menuju kehidupan abadi, pasca kematian.
Dan salah satu cara untuk mengetahui bahwa kitab suci lainnya tidak otentik lagi dan tidak dijamin kebenarannya ialah dengan mengadakan study komparatif antara kedua / ketiganya, terkhusus kandungannya.
Toek NB: Kalau saya dapat bantu, ya insyaAllah saya akan membantunya tentu dengan semua keterbatasan yang saya miliki Mas…dan saya yakin Anda memiliki keahlian tersendiri. Terima kasih….
@Kurtubi
Waalaikumussalam…
Sebuah langkah baru…pelan tapi pasti…mmm (senyum)
Silahkan Pak Yai…
Makasih
@Dedi
Terima kasih, mudah-mudahan dapat bermanfaat.
@Dimas
Terima kasih juga.
@Ibnu Ghazali
Silahkan…sama-sama
By: islam feminis on Juni 5, 2007
at 6:43 am
Assalamualaikum wr wb
Saya gak sengaja buka , but saya ucapkan salut atas artikel diatas, mampu menelaah lebih jauh mitos yang berkembang di masyarakat muslim. memang jangan hanya mereka theologis kristen yang mempelajari serta membandingkan dengan kitab yang lain.
mohon diterangkan lebih lanjut arti buah khuldi?
terimakasih. mohon balasannya
jakamullah katsiran.
Wassalamualaikum wr wb
By: Dedy Krismanto on Juni 12, 2007
at 7:44 am
Wa’alaikumsalam wr wb
Terima kasih atas kunjungannya.
Ya seharusnya seperti itu, jika masih mampu untuk kembali meneliti sumber-sumber mitos maka tak ada salahnya kita kembali mengkaji masalah itu.
Berkenaan dengan buah khuldi perlu penjelasan yang panjang dengan merujuk beberapa sumber yang menjelaskan hal tersebut karena terdapat perbedaan penafsiran ttg buah khuldi dalam Kitab Perjanjian Lama dan al-Qur’an. Termasuk dalam berbagai sumber islam sendiri terdapat berbagai pendapat.
InsyaAllah pada kesempatan lain saya akan menyinggung hal itu.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
By: islam feminis on Juni 12, 2007
at 9:56 am
Salam,
Ini kajian kristologi Islam yang bagus sekali. Mabruk!
Kajian ini merupakan topik-topik mendasar dalam kajian lintas iman di agama-agama Ibrahimik, seperti Yudaisme, Kristenitas dan Islam.
Tujuannya adalah jelas, meninjau kembali apakah benar Adam as dan Hawa as melakukan dosa ataukah tidak? Dan apakah prinsip dosa itu bisa diwariskan seperti yang diimani Katolik.
Jadi, kajian ini sangat diperlukan. Selamat sekali lagi.
By: musadiqmarhaban on Juni 21, 2007
at 4:33 pm
Wa’alaikumsalam
Terima kasih
Semakin kita berusaha menggali dan memperbandingkan kandungan agama kita dan agama lainnya (terkhusus di antara agama samawi)dalam permasalahan yang sama, maka disaat itu keyakinan akan kebenaran agama kita akan semakin mantap.
By: islam feminis on Juni 22, 2007
at 6:48 am
bolehkah saudara terangkan 5 wasiat terakhir nabi adam a.s sebelum wafat.. antar satu adalah jikalau ingin memmbuat sesuatu hendaklah berbincang dahulu seperti nabi adam a.s tidak bertanya kepada malaikat tentang buah khuldi itu
————————–
Islam Feminis:
Silahkan anda menjelaskannya disertai dengan referensinya…terimakasih.
By: mohd nadzim on Agustus 31, 2007
at 2:56 pm
Walaupun singkat, tetapi sudah menunjukkan semuanya. Artikelnya sangat menarik, ringkas, jelas, dan padat.
Semoga Ukhti Euis Daryati diberi kekuatan dan kesehatan hingga mencapi kersarjanaannya. Amin.
By: suryadhie on September 17, 2007
at 8:47 am
Ass…….
Saya sangat senang membaca tulisan anda…
mohon keikhlasannya…
saya copy beberapa artikel buat referensi menata hati saya…
Best Regard’s
——————————————————————
Islam Feminis:
Waalaikumsalam…
Silahkan…
Terima kasih
By: janatul firdaus on September 18, 2007
at 4:33 am
soo…good aku baca penjelasan ini tambah pinter aja jadinya n kalo bisa di jadikan VCD nya yaaa biar kita bisa ulang ulang terus kan jd ga lupa skses teruss ya kabari aku di alamat e-mail ini biar aku dapat info info yang baruu thanks banget
By: lilis fajriah on Nopember 8, 2007
at 8:48 am
sebenarnya Ada pertanyaan menarik yang mendasar sebelum menanyakan siapa yang salah antara adam dan hawa sehingga mengakibat mereka turun dari surga ke bumi…
pertanyaannya yaitu kenapa Tuhan menciptakan manusia dan memberikan hidup sementara di surga kemudian ke bumi untuk transit menuju surga dan neraka yang kekal itu..?
pada dasarnya Allah telah menciptakan semua yang Dia inginkan dengan diciptakan-Nya malaikat dengan dunianya sendiri yang luar biasa taatnya kepada Allah tanpa kata ‘lelah’. namun menarik ketika Allah menciptakan Manusia. Allah dengan sengaja memberikan keistimewaan terhadap manusia akal pikiran yang bisa membentuk sikap maupun perilaku yang tercermin dari semua sifat-Nya.
Skenario yang disusunkan Allah untuk dilakoni manusia adalah untuk beribadah kepadanya… dan memiliki episode yang dinamis.
lalu kenapa surga yang dihuni adam dan hawa tidak kekal… beda dengan surga setelah hari akhir nanti yang kekal itu…?
Allah sebnarnya cemburu dengan ciptaan-Nya ini. ketika di ciptakan untuk menghuni surga, manusia pada saat itu atau adam dan hawa, hidup dengan gemerlapnya kehidupan surga, sehingga setan disisi lain pun enggan untuk menyembah adam. Allah memberikan kehidupan yang lebih dari kecukupan namun tidak se-taat apa yang dilakukan malaikat kepada Allah. untuk tidak menyia-nyiakan ciptaan-Nya agar selalu bisa taat kepada-Nya maka manusia harus mempunyai kesalahan dan harus terus mengingat-Nya. Inilah sebab manusia ditakdirkan untuk di bumi dengan kehidupan dinamisnya selalu bertujuan kembali ke Rabb-Nya.
itu aja yang bisa saya jomontari mbaa
——————————————————————————————-
Islam Feminis:
Terimakasih atas komentarnya. Namun ada satu kejanggalan yang membikin saya kurang paham dari ungkapan anda. Anda menyatakan; “Allah sebnarnya cemburu dengan ciptaan-Nya ini”, apa maksud cemburu? Apakah mungkin Dzat Yang Maha Kaya nan Sempurna akan cemburu dengan hasil ciptaan-Nya yang sangat terbatas? Apa yang harus dicemburui oleh Dzat Yang Maha Kaya dan Sempurna itu dari Adam dan Hawa, manusia yang lemah dan banyak kekurangan?
Dan satu ungkapan lagi dari anda, yaitu; “setan disisi lain pun enggan untuk menyembah adam”. Apakah Allah memerintahkan Iblis untuk menyembah Adam, atas dasar apa? Apakah sujud berarti menyembah? Apakah mungkin Allah memerintahkan hamba-Nya (Malaikat dan Iblis) untuk melakukan perbuatan yang paling Dia benci, yaitu menyekutukan Allah (syirik)? Apa esensi dasar penyembahan (ubudiyah) versi Islam sehingga sujud disamaartikan sebagai penyembahan? Jika sujud=menyembah maka Iblis jauh lebih mulia dari malaikat, karena Iblis menolak sujud (=menyembah) dan Malaikat melakukannya untuk Adam. Jika benar semacam itu, kenapa justru Iblis yang dilaknat dan diusir oleh Allah, kenapa tidak Malaikat saja?
Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain jika kita perdalam tentang masalah ini.