Rabu, 11 Maret 2009

Shalat hajat untuk menambah rizki dan menunaikan hutang

Diriwayatkan dari Rasulullah saw: Pada suatu hari ada seseorang datang
kepada Rasulullah saw dan mengadu: Ya Rasulallah, aku mempunyai
keluarga banyak dan punya hutang, keadaanku sangat menderita, ajarkan
kepadaku doa yang jika dengan doa itu aku berdoa kepada Allah Azza wa
Jalla Dia memberiku rizki, sehingga dengannya aku dapat menunaikan
hutangku dan meringankan beban keluargaku. Kemudian Rasulullah saw
bersabda: “Wahai hamba Allah, berwudhu’lah dan sempurnakan wudhu’mu,
kemudian shalatlah dua rakaat dan sempurnakan rukuk dan sujudmu,
kemudian bacalah doa:

يَا مَاجِدُ يَا وَاحِدُ يَا كَرِيْمُ أَتَوَجَّهُ اِلَيْكَ بِمُحَمَّدٍ
نَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ، يَا
مُحَمَّدُ يَا رَسُولَ اللهِ اِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ اِلَى اللهِ رَبِّي
وَرَبِّكَ وَرَبِّ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ اَنْ تُصَلِّيَ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَاَهْلِ بَيْتِهِ، وَأَسْأَلُكَ نَفْحَةٍ كَرِيْمَةٍ
مِنْ نَفْحَاتِكَ وَفَتْحًا يَسِيْرًا وَرِزْقًا وَاسِعًا أَلُمُّ بِهِ
شَعَثِي وَأَقْضِي بِهِ دَيْنِي وَأَسْتَعِيْنُ بِهِ عَلَى عِيَالِي.

Yâ Mâjidu yâ Wâhidu yâ Karîmu atawajjahu ilayka bi-Muhammadin
Nabiyyika Nabiyyir rahmah shallallâhu ‘alayhi wa âlihi, yâ Muhammadu
yâ Rasûlallâh innî atawajjahu bika ilallâhi Rabbî wa Rabbika wa Rabbi
kulli syay-in, wa as-aluka Allâhumma an tushalliya ‘alâ Muhammadin wa
Ahli baytihi, wa as-aluka nafhatan karîmatan min nafahâtika wa fat-han
yasîrâ wa rizqan wâsi’â alummu bihi sya’atsî wa aqdhî bihi daynî wa
asta’înu bihi ‘alâ ‘iyâlî.

Wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Maha Esa, wahai Yang Maha Dermawan,
aku menghadap kepada-Mu dengan Muhammad Nabi-Mu Nabi pembawa rahmat
(semoga Allah menyampaikan shalawat kepadanya dan keluarganya), ya
Muhammad ya Rasulallah denganmu aku menghadap kepada Allah Tuhanku dan
Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu. Aku memohon kepada-Mu ya Allah, agar
Kau sampaikan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baytnya. Aku memohon
kepada-Mu karunia yang mulia dari seluruh karunia-Mu, kemenangan yang
mudah dan rizki yang luas, yang dengannya aku dapat mengatasi
kesulitanku, menunaikan hutangku dan dengannya aku memohon pertolongan
untuk keluargaku.
(Al-Bâqiyâtush Shâlihât Mafâtihul Jinân bab 2: 230)

Bahaya Orang Yang Enggan Melunasi Hutangnya



Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Alhamdulillahi robbil 'alamin. Allahumma sholli 'ala nabiyyina Muhammad, wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam.
duit1Risalah kali ini adalah lanjutan dari risalah sebelumnya. Pada risalah sebelumnya, kami telah menjelaskan mengenai keutamaan orang yang memberi pinjaman, keutamaan memberi tenggang waktu pelunasan dan keutamaan orang yang membebaskan sebagian atau keseluruhan hutangnya. Pada risalah kali ini agar terjadi keseimbangan pembahasan, kami akan menjelaskan beberapa hal mengenai bahaya orang yang enggan melunasi hutangnya. Semoga bermanfaat.

Keutamaan Orang yang Terbebas dari Hutang

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

"Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (mencuri hasil rampasan perang sebelum dibagikan), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga." (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Ibnu Majah membawakan hadits ini pada Bab "Peringatan keras mengenai hutang."

Mati Dalam Keadaan Masih Membawa Hutang, Kebaikannya Sebagai Ganti

Dari Ibnu 'Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ
"Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Ibnu Majah juga membawakan hadits ini pada Bab "Peringatan keras mengenai hutang."
Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang dan belum juga dilunasi, maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika hari kiamat karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang tersebut.

Urusan Orang yang Berhutang Masih Menggantung

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
"Jiwa seorang mukmin masih bergantung karena hutangnya hingga dia melunasinya." (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman Shohih wa Dho'if Sunan At Tirmidzi)

Al 'Iroqiy mengatakan, "Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya yaitu tidak bisa ditentukan apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa hutangnya tersebut lunas atau tidak." (Tuhfatul Ahwadzi, 3/142)

Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Hutang Akan Dihukumi Sebagai Pencuri

Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا
"Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri." (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Al Munawi mengatakan, "Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka." (Faidul Qodir, 3/181)
Ibnu Majah membawakan hadits di atas pada Bab "Barangsiapa berhutang dan berniat tidak ingin melunasinya."
Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
"Barangsiapa yang mengambil harta manusia, lalu dia berniat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya." (HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Di antara maksud hadits ini adalah barangsiapa yang mengambil harta manusia melalui jalan hutang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan hutang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya. Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berhutang dan enggan untuk melunasinya.

Masih Ada Hutang, Enggan Disholati

Dari Salamah bin Al Akwa' radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

Kami duduk di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, "Apakah dia memiliki hutang?" Mereka (para sahabat) menjawab, "Tidak ada." Lalu beliau mengatakan, "Apakah dia meninggalkan sesuatu?". Lantas mereka (para sahabat) menjawab, "Tidak." Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!" Lalu beliau bertanya, "Apakah dia memiliki hutang?" Mereka (para sahabat) menjawab, "Iya." Lalu beliau mengatakan, "Apakah dia meninggalkan sesuatu?" Lantas mereka (para sahabat) menjawab, "Ada, sebanyak 3 dinar." Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, "Shalatkanlah dia!" Beliau bertanya, "Apakah dia meningalkan sesuatu?" Mereka (para sahabat) menjawab, "Tidak ada." Lalu beliau bertanya, "Apakah dia memiliki hutang?" Mereka menjawab, "Ada tiga dinar." Beliau berkata, "Shalatkanlah sahabat kalian ini." Lantas Abu Qotadah berkata, "Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya." Kemudian beliau pun menyolatinya." (HR. Bukhari no. 2289)

Dosa Hutang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid

Dari 'Abdillah bin 'Amr bin Al 'Ash, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ
"Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang." (HR. Muslim no. 1886)

Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: "Mampukah saya melunasi hutang tersebut dan mendesakkah saya berhutang?" Karena ingatlah hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Sering Berlindung dari Berhutang Ketika Shalat

Bukhari membawakan dalam kitab shohihnya pada Bab "Siapa yang berlindung dari hutang". Lalu beliau rahimahullah membawakan hadits dari 'Urwah, dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berdo'a di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A'UDZU BIKA MINAL MA'TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang)."
Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, "Kenapa yang engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah hutang?" Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari." (HR. Bukhari no. 2397)

Al Muhallab mengatakan, "Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah do'a Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berlindung dari hutang dan hutang sendiri dapat mengantarkan pada dusta." (Syarh Ibnu Baththol, 12/37)

Adapun hutang yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berlindung darinya adalah tiga bentuk hutang:
[1] Hutang yang dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan dia tidak memiliki jalan keluar untuk melunasi hutang tersebut.
[2] Berhutang bukan pada hal yang terlarang, namun dia tidak memiliki cara untuk melunasinya. Orang seperti ini sama saja menghancurkan harta saudaranya.
[3] Berhutang namun dia berniat tidak akan melunasinya. Orang seperti ini berarti telah bermaksiat kepada Rabbnya.
Orang-orang semacam inilah yang apabila berhutang lalu berjanji ingin melunasinya, namun dia mengingkari janji tersebut. Dan orang-orang semacam inilah yang ketika berkata (membuat janji) akan mendustakan janji tersebut. (Syarh Ibnu Baththol, 12/38)
Itulah sikap jelek orang yang berhutang sering berbohong dan berdusta. Semoga kita dijauhkan dari sikap jelek ini.

Kenapa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering berlindung dari hutang ketika shalat?
Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa'id (hal. 57, Darul Aqidah) mengatakan,
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak hutang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia."

Inilah do'a yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari hutang: ALLAHUMMA INNI A'UDZU BIKA MINAL MA'TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).

tawakkalBerbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Hutangnya

Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab "Siapa saja yang memiliki hutang dan dia berniat melunasinya." Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah.

كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا ».
Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, "Jangan kamu lakukan itu!" Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, "Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia". (HR. Ibnu Majah no. 2399)

Dari hadits ini ada pelajaran yang sangat berharga yaitu boleh saja kita berhutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.
Juga terdapat hadits dari 'Abdullah bin Ja'far, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ
"Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah." (HR. Ibnu Majah no. 2400)

Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar hutang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya atau melunasi sebagiannya jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berhutang dan yang memberi hutangan.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
"Sesungguhnya yang paling di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang." (HR. Bukhari no. 2393)

Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya hutang, mudahkanlah kami untuk melunasinya.
Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu 'ala nabiyyiina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Yogyakarta, 6 Shofar 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal


--
Jika ilmu yang engkau miliki berbeda dengan hukum yang Allah tetapkan,
Gantilah hukum Allah agar sesuai dengan ilmu-mu sebagaimana yahudi telah melakukannya,
Atau engkau tambahlah agar hukum yang Allah tetapkan agar lebih bervariasi sebagaimana nashrani melakukannya,
Namun jika engkau muslim kewajibanmu hanya sami'na wa atha'na tidak perlu mengurangi apalagi menambah.
http://baiturrahmah.blogsome.com/

Senin, 02 Maret 2009

kisah bijak !!!!!!!!!!!!!!!

Salah seorang arif (bijak) berkata: “Aku memiliki seorang anak berumur tiga puluh tahun. Namun hingga kini aku tidak pernah memberikan perintah kepadanya, karena aku takut ia tidak mentaati perintahku yang akhirnya akan menyebabkan ia mendapatkan siksa”. [Euis.D]


Tanggapan

Justru engga bijak jadiknya. Syariah ada bukan untuk membebani dan mencari-cari orang untuk mengisi neraka (karena melanggar syariah). Allah membuat syariah justru memberi kesempatan agar kita bisa lebih baik. Begitu juga ketika menjadi ortu, justru harusnya kita mengajarkan dan memberi kesempatan padanya untuk bisa mengenal tuhannya dan lebih baik hidupnya (dgn syariah).

Kertas putih itu memang terlihat bersih, hanya karena kita takut mengotorinya, bukan berarti kita tidak bisa melukis diatasnya.

———————————————————-

Islam Feminis:

Jika anda pahami ungkapan orang tua itu, niscaya anda tidak akan melihat terdapat kontradiksi antara penyataannya dan pernyataan anda.

Perintah orang tua akan dapat dibenarkan selama tidak bertentangan dengan perintah Allah. Jika hubungannya bersifat vertikal maka perintah jenis ini tidak menjadi masalah. Namun jika bersifat horisontal maka harus tidak taat kepada orang tua dan harus mendahulukan perintah Allah. Penafian perintah orang tua yang bertentangan dengan perintah Allah pun harus dengan cara yang baik dan sopan, sesuai apa yang diperintahkan Allah.

Maksud dari perintah orang tua di atas adalah, ia khawatir perintahnya itu bersifat horisontal. Makanya ia hanya memberikan perintah Allah saja kepada anaknya. Itu saja.

Salah seorang pembesar telah ditanya; bagaimana Tuan dapat mencapai kedudukan seperti ini? Beliau menjawab: “Melalui doa ibuku. Pada suatu malam beliau meminta air dariku. Lantas aku mengambilkan dan hendak memberikan kepadanya, namun aku melihat beliau telah tertidur kembali. Menyaksikan hal itu aku berdiri menunggunya hingga waktu subuh. Sewaktu ibuku terbangun dengan penuh rasa heran beliau bertanya: “Kenapa berdiri?” lantas aku menceritakan sebab berdiriku kepadanya. Melihat hal tersebut kemudian ibuku bangkit untuk melaksanakan shalat dan berdoa seraya berkata: “Wahai Tuhanku, sebagaimana anakku ini telah menghormati dan memuliakanku maka muliakan dan jadikanlah orang besar di antara makhluk-Mu”. [Euis.D]

(Sumber: Dantanhoye Mauzu, karya Kazim Said Pur)

Perempuan Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh

desa-iran.jpg

Maksud ayahku, bahwa aku buta karena aku tidak pernah melihat laki-laki yang bukan muhrim. Aku tuli karena aku tidak pernah mendengar perkataan buruk. Aku bisu karena aku tidak pernah menggunjing orang dan mengatakan perkataan buruk, serta aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kakiku menuju tempat-tempat maksiat”.

——————————————————————-

Perempuan Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh

Muhammad ayahnya seorang ulama besar yang bernama Al-Mukaddas AL-Ardibily hidup di desa Nayar-Ardibil (salah satu nama kota di Iran). Pada suatu hari, beliau sedang sibuk menyirami ladangnya, tiba-tiba melihat sebuah buah apel yang terbawa air yang menyirami ladangnya. Lantas beliau mengambil apel tersebut dan memakannya. Namun setelah berlalu satu jam, beliau merasa menyesal karena telah memakan apel tersebut tanpa sebelumnya meminta izin kepada pemiliknya. Kemudian beliau berjalan menelusuri aliran air sampai akhirnya tiba di kebun apel. Beliau menemui pemilik pohon apel dan memohon kerelaan darinya. Pemilik apel berkata: “Aku merelakannya, namun pohon apel ini milik aku dan saudaraku. Sementara aku tidak tahu apakah ia merelakannya atau tidak? Dan sekarang ia tinggal di
kota Najaf (Irak)”. Mendengar hal itu Muhamad Ardibily merasa sedih. Lalu dengan berniat untuk berziarah ke makam Imam Ali as dan demi meminta kerelaan pemilik pohon apel, akhirnya beliau berangkat ke kota Najaf. Sesampainya di kota Najaf, beliau menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi kepada pemilik pohon apel tersebut, serta memohon kerelaan darinya.
Namun, pemilik pemohon apel tersebut akan menerima permohonan kerelaannya dengan syarat ia harus menikah dengan putrinya. Dalam memperkenalkan keadaan putrinya beliau berkata: “Ia buta, tuli, bisu dan lumpuh”. Karena ia telah bersusah payah untuk mendapatkan kerelaannya, dan tidak mungkin kembali tanpa membawa hasil, akhirnya beliau menerima syarat tersebut.

Kemudian setelah itu, upacara pernikahanpun dilaksanakan. Pada malam pengantin Muhamad sangat kaget karena tidak mendapatkan istrinya sebagaimana yang telah disifati oleh ayahnya. Bahkan ia mendapatkan istri yang cantik dan tidak cacat. Dengan penuh keheranan ia menanyakan sebab perkataan ayah istrinya kepadanya, dalam menjawab pertanyaan suaminya ia berkata: “Maksud ayahku, bahwa aku buta karena aku tidak pernah melihat laki-laki yang bukan muhrim. Aku tuli karena aku tidak pernah mendengar perkataan buruk. Aku bisu karena aku tidak pernah menggunjing orang dan mengatakan perkataan buruk, serta aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kakiku menuju tempat-tempat maksiat”.

Dari pernikahan ini lahirlah seorang ulama besar yang bernama Ahmad yang kemudian dikenal dengan Syeikh Al-Mukaddas Al-Ardibily. Beliau telah mendapat kehormatan berjumpa dengan Imam Mahdi aj.

(Euis Daryati, sumber: Ahklak Ijtimai Dukhtaran, Ali Ashghar Zahiri, hal 106)

Tidaklah Sia-Sia Persembahan-ku!?

rasulullah.jpg

Tolong khabari aku bagaimana keadaannya? Setelah melihat ketegaran perempuan tersebut lalu anak muda menjawab pertanyaannya, seraya berkata: “Alhamdulillah Nabi Muhamad saww selamat”. Wajah perempuan menjadi cerah ceria sewaktu mendengar perihal keadaan Nabi Muhamad saww. Kemudian ia berkata: “Persembahan kami tidaklah sia-sia”.

———————————————–

Tidaklah Sia-Sia Persembahan-ku!?

Pada perang Uhud (perang antara musyrikin Mekah dengan Muslimin) dari pasukan Islam banyak yang terluka, termasuk Nabi Muhamad saww dan Imam Ali as pun mengalami luka berat. Bahkan para kaum Musyrikin telah menyebarkan isyu, bahwa Nabi Muhamad saww telah syahid. Hal ini telah membuat sedih para perempuan Islam Madinah. Lantas mereka pergi untuk mencari kabar yang sebenarnya tentang keadaan pemimpinnya dan junjungannya, Nabi Muhamad saww.

Salah satu dari muslimah Madinah telah bertemu dengan seorang anak muda yang baru kembali dari perang Uhud. Lantas ia menemuinya seraya bertanya: “Bagaimana keadaan junjunganku, Nabi Muhamad saww?”. Anak muda tersebut karena mengetahui Nabi Muhamad saww selamat ia tidak menjawab pertanyaannya, namun ia berkata: “Wahai saudariku ayahmu telah mati syahid”.

Perempuan Madinah sedikit terenyuh seusai mendengar tentang kesyahidan ayahnya, namun ia bertanya kembali: “Bagaimana keadaan junjunganku Nabi saww?”. Anak muda tersebut kembali tidak menjawab pertanyaan, akan tetapi ia berkata: “Wahai saudariku, saudaramu telah mati syahid”.

Setelah mendengar khabar itu, ia seperti keadaan sebelumnya, tenang. Dan kembali bertanya: “Bagaimana keadaan junjunganku, Nabi saww?”. Anak muda seperti sebelumnya tidak menjawab pertanyaan, namun ia berkata: “Wahai saudariku, suamimu telah mati syahid”.

Perempuan muslimah sangat marah di saat anak muda tersebut tidak pernah menjawab pertanyaannya, lalu ia berkata: “Aku tidak ingin menanyakan kepadamu tentang keluargaku yang masih hidup ataupun yang telah syahid. Aku hanya ingin mengetahui keadaan junjunganku, Nabi saww. Tolong khabari aku bagaimana keadaannya? Setelah melihat ketegaran perempuan tersebut lalu anak muda menjawab pertanyaannya, seraya berkata: “Alhamdulillah Nabi Muhamad saww selamat”. Wajah perempuan menjadi cerah ceria sewaktu mendengar perihal keadaan Nabi Muhamad saww. Kemudian ia berkata: “Persembahan kami tidaklah sia-sia”.

[Euis D, Zanan Mard Overine Tharikh, Muhahad Isytihardi, hal, 95-96]

Kunci Kesuksesan’ Murtadha Muthahari’

motahhari.jpg

“Salah satu kunci kesuksesan beliau yang sangat menarik, sejak usia 15 tahun beliau selalu mencatat semua yang telah dibaca (poin-poin penting dan garis besar pembahasan), sampai-sampai beliau memiliki buku catatan berdasarkan Abjad. Bahkan beliau selalu menyarankan kepada kita ketika ingin membaca sebuah buku maka bacalah sebanyak tiga kali: Pertama, bacalah! Kedua, pahamilah! Dan ketiga, perdalamilah. Sampai beliau menghapal setiap buku yang beliau baca”, Lanjutnya.

—————————————————–

Kunci Kesuksesan’ Murtadha Muthahari’

Ketika melihat berbagai karya beliau yang telah diterjemahkan dan dicetak ke dalam bahasa Indonesia, sebagian menulis nama beliau dengan tulisan ‘Murteza Muthahari’, dan adapula yang menulis nama beliau dengan tulisan ‘Murthadha Muthahari’. Pada ejaan pertama maupun kedua, orangnya adalah satu. Hanya saja, nama pertama dengan ejaan bahasa Persia yang sudah diIndonesiakan, sementara nama kedua dengan ejaan bahasa Arab yang telah diIndonesiakan. Sebenarnya kita tak perlu berdebat berkaitan dengan nama beliau.

Pada hari ini, di kampus kami diselenggarakan peringatan hari kesyahidan Murthada Muthahari. Di Negara Iran hari kesyahidan (beliau mati syahid .red) beliau dijadikan sebagai hari guru. Pada hari tersebut, para murid membawa bunga dan hadiah untuk dipersembahkan kepada para guru sebagai tanda terima kasih atas jasa-jasa mereka.

Bertepatan dengan ‘hari guru’ dan untuk mengenang Murtadha Muthahari, kampus kami mengundang salah satu putri beliau yang bernama Dr. Wahidi Muthahari. Sewaktu ayahnya syahid, beliau berusia 14 tahun. Kemudian beliau memulai pembicaraannya dengan penuh ketawadhuan (rendah hati) seraya berkata: “Aku tidak memiliki kelebihan yang dimiliki oleh ayahku. Aku hanya ingin menyampaikan yang kuketahui tentang beliau dari perannya sebagai seorang ayah dan seorang guru. Selama 14 tahun kami hidup bersamanya. Kelahiran dan kematian beliau dimulai dengan sebuah mimpi (mimpi benar). Nenekku (ibu Murthadha Muthahari) berkata: ”Semasa aku hamil, aku telah bermimpi terdapat banyak perempuan telah berkumpul. Tiba-tiba seorang perempuan datang memberi air bunga kepada kami, para perempuan. Namun anehnya, ada yang disirami hanya setetes saja, bahkan ada yang sama sekali tidak disirami air bunga tesebut. Namun ketika tiba giliranku, beliau menyiramiku dengan air bunga yang sangat banyak. Untuk menghilangkan rasa keheranan yang telah meliputiku, akhirnya aku bertanya: “Kenapa tuan menyiramiku banyak sekali? Beliau menjawab: “Ini dikarenakan janin yang ada di dalam rahimmu.”

Putri Murtadha Muthahari melanjutkan; “Jiwa dan raganya, beliau serahkan kepada Kekasih Sejatinya (Allah swt). Beliau benar-benar pandai membagi waktu untuk keluarga, ibadah, dan tugas beliau lainnya. Segala sesuatu dilakukan berdasarkan planing dan program terlebih dahulu. Kesabaran beliau sebagai ayah, lemah lembut tapi tegas. Beliau meluangkan waktu untuk acara keluarga, memperhatikan dan mengontrol tugas-tugas anak-anaknya, dan mengontrol dengan cermat tugas-tugas yang berkaitan dengan kewajiban agama anak-anaknya (shalat, puasa dan ibadah lainnya). “Beliau selalu bangun dari tidurnya 2 jam sebelum adzan Subuh, untuk bermunajat dengan Kekasih Sejatinya dan melakukan shalat malam (tahajud) dengan melakukan sujud yang sangat panjang. Beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam sejak muda sampai ketika beliau mendekati kesyahidannya. Seusai shalat Subuh beliau melaksanakan ibadah mustahab lainnya seperti zikir dan membaca al-Qur’an sampai terbit matahari.”

Putri Murtadha Muthahari mengatakan bahwa salah seorang mantan tetangganya telah berkata: “Aku melihat cahaya lampu yang berasal dari salah satu tempat tetanggaku setiap 2 jam sebelum adzan subuh. Rasa heran mendorongku untuk mengatahuinya. Lantas aku bangun dan mengikuti tempat berasal cahaya lampu tersebut. Ternyata, aku melihat orang yang setiap hari aku melihat beliau keluar dari rumah pagi-pagi sekali dengan aktifitas yang padat dan kembali pada malam hari. Saat itu beliau sedang melaksanakan shalat malam dengan sujud yang sangat lama. Setelah menyaksikan hal itu, akhirnya aku melaksanakan shalat subuh dan selalu melaksanakan shalat, padahal sebelumnya aku tidak pernah melakukan shalat (ia menjadi orang yang baik).”

Dalam melanjutkan pembicaraannya kembali berkata: “Ayahku selalu membaca al-Qur’an sebelum tidur, kurang lebih selama 20 menit. Beliau pun selalu dalam keadaan wudhu (Murtadha Muthahari berwudhu bukan untuk ketika hendak mendirikan shalat saja), dan tidak pernah melakukan pekerjaan apapun tanpanya (tanpa berwudhu). Beliau sangat berani, walaupun posisi sulit dan tekanan yang beliau hadapi baik yang berasal dari rezim Pahlavi maupun dari orang yang mengaku Islam tapi Islam marxis. Kebebasan pemikiran beliau. Beliau menjauhi ketenaran dan tidak cinta kedudukan. Salah satu contoh konkrit ketawadhuannya ialah beliau tidak pernah mau menerima selain namanya dicantumkan (Tidak suka gelarnya dicantumkan) dalam berbagai karyanya, seraya berkata: “Namaku hanyalah ‘Murthadha Muthahari’. Beliau lakukan semuanya yaitu menulis berbagai buku dalam berbagai bidang seperti: Tafsir al-Qur’an, Filsafat Islam dan Barat (studi komparasi dan kritisi pemikiran dan berbagai aliran filsafat Barat), Teologi, Mistik (Tasawuf/Irfan), Sosiologi, Politik, Ushul-Fikih, Fikih, Ilmu Logika…dll, dengan penuh keikhlasan dan karena Allah swt (demi menjalankan tugas yang ada di pundaknya).”

Dan kelebihan yang beliau miliki yang tidak mungkin disebutkan semuanya dalam kesempatan sekarang ini. “Namun salah satu kunci kesuksesan beliau yang paling menarik, sejak usia 15 tahun beliau selalu mencatat semua yang telah dibaca (poin-poin penting dan garis besar pembahasan), sampai-sampai beliau memiliki buku catatan berdasarkan Abjad. Bahkan beliau selalu menyarankan kepada kita ketika ingin membaca sebuah buku maka bacalah sebanyak tiga kali: Pertama, bacalah! Kedua, pahamilah! Dan ketiga, perdalamilah! Sampai beliau menghapal setiap buku yang beliau baca”, Lanjutnya.

Salah satu karya beliau yang sangat menarik yang telah membahas isu-isu perempuan ialah: Hijab (baca; jilbab), tentang sejarah, falsafah, pensyariatan ..dll. begitupula karyanya tentang hak-hak perempuan dalam Islam. Berulang-ulang saya membaca buku tersebut, penjelasan serta analisa beliau yang sangat menarik yang membuat buku tersebut akan terasa selalu baru dan menarik. Terutama ketika saya langsung membaca buku dari bahasa aslinya (bukan terjemahan), terasa lebih lezat (emang makanan) dan enak sekali. Buku-buku ini sebelumnya bukanlah berbentuk sebuah buku, akan tetapi berupa makalah yang beliau tulis dalam rangka menjawab berbagai gugatan terhadap Islam berkenaan dengan perempuan di kala itu. Begitupun karya beliau yang berkaitan dengan filsafat, beliau menulis itu dalam rangka menjawab pemikiran marxisme yang berkembang kala itu di Iran.

Di akhir pembicaraannya putri Murtadha Muthahari melanjutkan: “Di awal pembicaraan telah saya katakan, bahwa kelahiran dan kesyahidan ayahku selalu dimulai dengan sebuah mimpi. Tiga hari sebelum kesyahidan menjemputnya beliau bermimpi, lantas beliau menceritakan mimpinya kepada ibuku seraya berkata: “Aku telah bermimpi melihat Rasulullah saww keluar dari Masijil Haram. Sementara Imam Khomaini telah berdiri di samping kananku. Rasulullah saww datang mendekati kami. Aku berkata: “Wahai Junjunganku, ini adalah keturunan Engkau!” Kataku sambil menunjuk ke arah Imam Khomaini. Beliau menjawab: “Ya, tentu”. Lantas beliau memeluk dan menciumi Imam Khomaini. Setelah itu beliau mendatangiku, memeluk dan menciumku kurang lebih ¼ jam lamanya. Aku terbangun sementara hangat pelukan Rasulullah saww masih terasa oleh diriku. Lantas aku ceritakan mimpiku kepada istriku, ia mengatakan mungkin itu pertanda baik dan Rasulullah saww meridhoi sepak terjangmu”.

Imam Khomaeni menangis ketika mendengar kabar tentang kesyahidan Murtadha Muthahari, padahal ketika anak terbesarnya telah syahid beliau tidak menangis ataupun menunjukkan kesedihan. Dalam kutipan ucapan Imam Khomaeni setelah kesyahidan Murtadha Muthahri beliau berkata: “…Aku mengucapkan duka atas kesyahidan seseorang yang telah menghabiskan umurnya untuk membela tujuan-tujuan suci agama Islam…seseorang yang dalam menguasai berbagai keilmuan Islam, dan metodologinya tidak ada yang membandinginya. Aku telah kehilangan seorang anak yang sangat mulia…”.

Ringkasnya kita akan menikmati karya-karya Murtadha Muthahri sewaktu kita membacanya. ‘Manusia Sempurna’, ‘Islam dan Tuntutan Zaman’, ‘Keadilan Tuhan’, Falsafah Akhlak, Hak-Hak Perempuan dalam Islam, Hijab (baca:jilbab), sejarah dan masyarakat…dll di antara karya-karyanya yang telah diterjemahkan. Lebih menarik lagi jika membaca karya beliau yang menyerempet pembahasan filsafat, sebelumnya kita sudah mengetahui (ada basic) paling tidak ilmu logika dan dasar-dasar filsafat.

[Euis D, sumber: Ceramah Dr. Wahidi Muthahari-salah satu putri Murtadha Muthahari-]

Tanggapan

  1. Subhanallah….
    Segera setelah meng-klik tombol ‘Submit Comment’ ini, saya akan mencatat tips penting dari seorang Syahid Muthahhari.
    Terima kasih, semoga Allah dan 14 ma’shumin meridhai upaya Anti. Keep up your good works!


  2. Terima kasih atas doanya…


  3. Salam Sejahtera

    semoga Web ini tetap bisa eksis diantara kegersangan bacaan yang selalunya mengumbar hawa nafsu.

    saya berharap tetap bisa mendapatkan informasi yang baru.
    trimakasih

    ———————————————————————————

    Islam Feminis:
    Salam juga…Terimakasih juga atas kunjungan, dukungan dan doanya.


  4. ass.wr,wb. SALAM JUANG
    ya allah, datangkanlah muthahari 2x baru yang akan selalu cinta akan keadilanmu, yang selalu menegakkan keadilan di muka bumi.
    bumi ini milikmu
    disini tempat muhammad
    disini tempat ayah dan ibuku
    dulu permai, indah dan damai
    semua itu tinggal kenangan
    MUTHAHARI PANUTANKU.


  5. salam.

    terima kasih teh euis untuk tulisannya. walau di perpustakaan kecil di rumah kami terdapat sejumlah buku karangan beliau, tapi saya belum mengetahui good habit beliau ini. insya Allah, akan saya teruskan kepada kedua anak kami, terutama si bungsu karena nama tengahnya mengambil nama beliau (zaki muthahhari lubis) kata suami saya mah … nama anak kedua kami ini agak lucu, karena kedua namanya bermakna yang sama. fyi, yang sulung nama tengahnya mengambil dari allamah nasir makarim assyiraz (afif makarim lubis). terima kasih artikelnya.
    kapan pulang ke tanah air? ngisi di fathimiyyah ya? diantos pisan. bulan lalu kami bahas soal haid dll, dipandu neng dina, menggunakan bahan dari teh euis.

    wass, ratna

    ———————————————

    Islam Feminis:
    Insya-Allah bu, mohon doanya saja…
    Saya turut berdoa semoga anak-anak ibu akan menjadi kebanggan kedua orangtuanya dan sellau mengharumkan nama agamanya. Amin

‘Super-women’

Ummu Sulaim berkata: “Beberapa waktu lalu engkau telah diberi amanat oleh seseorang. Sekarang telah aku kembalikan amanat tersebut kepada pemiliknya. Engkau tidak merasa khawatir khan?”. “Kenapa aku harus merasa khawatir, memang sudah semestinya sebuah amanat harus dikembalikan kepada pemiliknya”, jawab Thalhah. Mendengar hal itu lantas Ummu Sulaim melanjutkan ucapannya; “Allah swt telah menitipkan kepada kita amanat berupa seorang anak. Dan sekarang, amanat tersebut telah diambil kembali oleh Pemiliknya”.

————————————————

‘Super-women’

Ummu Sulaim adalah salah seorang perempuan yang telah masuk Islam semasa Rasulullah saww masih tinggal di Makkah dan belum hijrah ke Madinah. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat setia Rasulullah saww. Salah seorang anak muda bernama Thalhah al-Anshari telah kehilangan istrinya (telah meninggal). Ia seorang laki-laki berparas tampan dan berasal dari keluarga terhormat.

Tidak lama setelah istrinya meninggal, ia melamar Ummu Sulaim. Sebenarnya Ummu Sulaim mencintai Thalhah, akan tetapi karena ia belum masuk Islam maka dengan tegas Ummu Sulaim dalam menjawab lamarannya berkata: “Aku akan menerima lamaranmu dengan syarat engkau harus masuk Islam terlebih dahulu”. Setelah itu Ummu Sulaim pun menjelaskan kepadanya tentang kesesatan penyembahan berhala. Akhirnya Thalhah masuk Islam dan menikahi Ummu Sulaim dengan mas kawin ‘masuk Islam’.

Setelah berapa lama dari pernikahannya, akhirnya mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Pada suatu hari, anaknya menderita penyakit parah yang berakhir dengan kematiannya. Padahal waktu itu, Thalhah sedang berada di luar rumah. Lantas Ummu Sulaim menutupi mayat anaknya dengan kain dan diletakkannya di sudut kamar.

Tidak lama kemudian Thalhah kembali ke rumahnya. Ummu Sulaim tidak memberitahukan kepada suami tentang kematian anaknya. Ia menyediakan dan menghidangkan makanan untuk suaminya. Selagi menyantap makanan, Thalhah menanyakan tentang kondisi anaknya kepada Ummu Sulaim; “Ia baik-baik saja dan sedang tidur”, jawab Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim berusaha tetap tegar dan dalam keadaan ceria sehingga membuat suaminya senang dengan senyuman dan ucapannya. Kemudian Ummu Sulaim berkata: “Beberapa waktu lalu engkau telah diberi amanat oleh seseorang. Sekarang telah aku kembalikan amanat tersebut kepada pemiliknya. Engkau tidak merasa khawatir khan?”.

“Kenapa aku harus merasa khawatir, memang sudah semestinya sebuah amanat harus dikembalikan kepada pemiliknya”, jawab Thalhah. Mendengar hal itu lantas Ummu Sulaim melanjutkan ucapannya; “Allah swt telah menitipkan kepada kita amanat berupa seorang anak. Dan sekarang, amanat tersebut telah diambil kembali oleh Pemiliknya”.

Thalhah sangat takjub saat menyaksikan ketabahan, kesabaran dan ketawakalan yang dimiliki oleh istrinya. Lantas ia berkata: “Seharusnya aku yang harus lebih sabar dan tabah darimu dalam menghadapi musibah ini”. Kemudian ia bangkit untuk memandikan, mengkafani dan menguburkan mayat anak yang sangat dicintainya tersebut.

[Euis D; Isytihardy, M Muhammady, Zanan Mardofarin-e Tarikh, hal:90]

Tanggapan

  1. Ma pernah denger cerita ini,,

    keren banget ya,, Ma ga yakin bisa setabah ini,,,

    btw, baru nih skin-nya,,


  2. Duh, jadi anak mereka satu-satunya itu langsung diambil oleh-Nya ya……
    Jarang sih ada orang yang rela melepas sesuatu yang mereka anggap berarti seperti itu………… :(
    Tapi emang bener deh kaya’nya sikap mereka emang benar disitu.
    Anak mereka khan pemberian Allah, jadi seandainya Allah mengambi kembali apa yang ditipkannya, bukanlah hal yang mustahil…. dan disitu ada pesan sederhana….. segala yang tercipta akan kembali menjadi milik Allah semata kembali :)

    ——————————
    Muslimah:

    Itu anak pertama dari buah hati hasil pernikahan mereka. Dalam sejarah disebutkan bahwa Ummu Sulaim telah memiliki anak dari suami sebelumnya yang bernama ‘Anas’ yang dengan berkat doa Rasulullah saww ia memiliki anak dan harta yang banyak. Bahkan dalam perang Hunain Ummu Sulaim ikut perang dengan menggengam sebuah senjata tajam untuk menjaga Rasulullah saww jika ada musuh yang mendekatinya maka akan ditusuk dengan senjata tersebut. Suaminya (Thalhah Anshari) mengadukan hal itu kepada Rasulullah saww tentang hal tersebut, beliau berkata: “Aku telah mengetahuinya, biarkanlah.”


  3. semoga ketabahan dan kesabaran tsb bisa menular kpd kita semua …


  4. subhanallah….bagus bangeeet….terimakasih banyak ya bu..atas segala kisah, teladan, ilmu yg disharing..benar2 bermanfaat…