Selasa, 07 Juli 2009

4 Pertanyaan Tak Terhindarkan


Habiballah Abal Qosim Al Musthofa Shallallahu alaihi wa Aalihi Wassalam :

"Pada Hari kiamat tidak akan bergeser Tapak kaki anak Adam hingga ditanyai 4 perkara :

  • Tentang Umurnya Untuk apa ia habiskan.
  • Tentang Masa Mudanya dengan apa ia lalai.
  • Tentang Hartanya darimana ia peroleh dan kemana ia infaqkan.
  • Tentang kecintaannya kepada kami (Ahlulbayt AS) "
~ Tuhaf al Uqul hal 56



Di hadapan Mahkamah ALLAH AWJ seluruh Manusia akan menerima pertanyaan yang sama, maka bersiaplah menjawabnya, dan dihari itu tiada pertolongan manusia karena semua akan mendapatkan porsi pertanyaan yang sama dengan keharusan menjawabnya.

Mampu kah kita...?


Saat lisan terkunci, maka seluruh indera akan memberikan jawabannya secara lugas.. berharaplah semua indera kita mampu menjadi penyelamat kita dihadapan ALLAH AWJ

Pertama, Tentang Umur dan usianya. Usia atau umur adalah sebuah anugerah yang Allah berikan kepada manusia. Usia ini akan dimintai oleh Nya pertanggung jawabannya. Kitapun harus menjawabnya, untuk apa kita pakai usia ini ? Apakah untuk hal-hal yang diperintahkan Allah Swt. ? Apakah kita pakai untuk ketaatan, kebaikan dan ketaqwaan ? atau justru sebaliknya kita pakai untuk hal-hal yang menjadikan Allah murka, kemaksiatan, kedurjanaan, kelalaian terhadap perintah-perintah Allah Swt dan larangan-larangannya.

Segala yang kita lakukan dari detik demi detik hingga waktu berjalan, secara detil akan ditanya kemana dan untuk apa ia dihabiskan

Kedua, Tentang masa masa muda. Kalau pertanyaan yang pertama sifatnya umum, sejak masa akil baligh sampai mati. Masa muda itu akan dipertanyakan secara khusus. Bagaimana seseorang melewatkan masa mudanya ? Allah Swt. tidak akan mempertanyakan masa tua, atau bagaimana mengakhiri masa tuanya ? Allah Swt. tidak menanyakan masa kanak-kanak, tetapi masa muda. Karena masa muda adalah saat orang berada pada puncak ketegaran fisik dan kecerdasannya. Dalam usia muda, seseorang dapat mengerjakan banyak hal yang tidak mungkin dikerjakan oleh orang yang sudah tua karena fisiknya sudah lemah, dan anak kecil karena akalnya belum sempurna.

Ketika dia punya badan sehat, apakah dia gunakan untuk membantu fakir miskin ? Apakah dia menyantuni orang-orang yang perlu bantuan ? atau sebaliknya dia pakai untuk memukul orang-orang yang tak bersalah, bermain hura-hura, membuang waktu begitu saja, membuang
tenaga untuk hal-hal yang sifatnya merugikan dia dan juga merugikan orang lain.

Ketika dia punya kecerdasan dan otak yang masih segar, apakah dia memikirkan hal-hal yang menguntungkan dan membahagiakannya di dunia dan di akhirat ? Apakah dipakai untuk belajar, untuk bertafakur atau tidak ? Atau kecerdasan itu, digunakan untuk hal-hal yang merugikan dia, dan memikirkan hal-hal yang tidak baik. Jadi masa muda masa yang sangat didambakan, yang diangan-angankan oleh orang yang sudah tua. Sebuah syair Arab mengatakan, "Duhai alangkah bahagianya aku, sekiranya masa muda kembali lagi padaku, maka akan kuberi tahu pada orang-orang tentang derita dan kesulitan masa tua."

Ketiga, Tentang Hartanya dan nafkah, mai'syah, atau mata pencahariannya. Dari mana dia memperoleh kekayaan dan harta. Apakah dengan cara yang halal atau tidak ? Ketika dia berusaha mencari uang dengan cara yang halal sesuai dengan garis Islam, maka dia sangat beruntung sekali. Dia telah memperoleh harta yang halal. Atau sebaliknya, dia mencari harta dan bekerja dengan cara yang tidak sah, sehingga dia memperoleh harta yang haram dan makan barang yang haram.

Setelah seseorang memperoleh harta dengan cara yang benar dan halal, lalu harta itu digunakan untuk apa ?. Apakah setelah dia memperoleh harta yang halal, dia gunakan untuk kepentingan pribadi saja yang berlebih-lebihan, atau juga disamping untuk kepentingan pribadi, dia membantu fakir-miskin yang membutuhkan dan memerlukannya. Terkadang seseorang mendapatkan uang yang halal berlimpah ruah, tetapi dia tidak mempunyai kepedulian sosial sehingga enggan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Ada sebuah syair dari Al- Imam Ali a.s., beliau berkata : "Anda sudah dikatakan sebagai orang yang sakit, ketika anda tidur dengan perut kenyang, sementara di sekitar anda terdapat perut-perut yang merindukan makanan."

Keempat - Terpenting, Tentang kecintaan terhadap Ahlul Bait As. Mengapa kecintaan kepada Ahlul Bait dipertanyakan pada hari qiamat ?. Karena kecintaan kepada mereka sebagai parameter keimanan dan kesetiaan kepada Rasulullah Saww. Seorang muslim sudah bisa dipastikan mencintai Rasulullah Saww, namun untuk membuktikan sejauh mana kecintaannya itu benar dan sungguh-sungguh, maka bukti itu dinyatakan dengan kecintaan kepada keluarganya. AllahSwt berfirman, " Katakanlah ( hai Muhammad )," Aku tidak meminta dari kalian upah atasnya ( dakwah Islam ini ) kecuali mencintai kepada keluargaku ".( QS. al Syura : 23 )

Pertanyaan tentang Ahlul Bait a.s. tentu berkisar pada masalah ketaatan dan keikut sertaan manusia dengan mereka. Kenyataan sejarah kaum muslimin menunjukkan bahwa banyak dari mereka yang meninggalkan Ahlul Bait a.s., bahkan ada pula yang memusuhi Ahlul Bait. Rasulullah Saww. berkali-kali mengingatkan kaum muslimin tentang Ahlul Bait a.s. dengan mengatakan, " Allah, Allah, ( hati-hati )terhadap keluargaku. Janganlah kalian mendahului mereka atau menjauhi mereka, maka kalian akan tersesat ".

Jadi cinta kepada Ahlul Bait itu termasuk soal dan pertanyaan yang akan Allah ajukan kepada kita semuanya. Oleh karena itu, kita berusaha untuk meningkatkan kecintaan kita kepada Ahlul Bait dan berusaha untuk berada di belakang mereka. Kita berusaha agar seperti Salman Al-Farisi yang secara batin dan lahir selalu mengikuti Ahlul Bait a.s.

Riwayat dimasa Imam Ali As. Imam As selalu menjadi imam shalat subuh di masjid Kufah. Dan Salman Al-Farisi selalu berdiri di belakang Imam Ali a.s. Kemudian seorang sahabat beliau iri hati ingin berdiri di belakang beliau. Untuk itu, dia berusaha berangkat ke mesjid sedini mungkin agar dapat sholat dibelakang Imam Ali a.s. Sesampainya di depan mesjid, dia senang bahwa di mesjid hanya ada seorang saja, dan itu pasti Imam Ali a.s. Karena waktu itu, teras mesjid masih berupa tanah sehingga pijakan orang yang jalan akan meninggalkan bekas.

Maka dengan senang hati dia masuk ke masjid dengan harapan besar dapat sholat di belakang Imam Ali a.s. Tetapi, ternyata Salman al Farisi sudah berada di belakang Imam Ali a.s.?. Lalu orang itu menanyakan tentang dari mana Salman masuk ke mesjid. Salman menjawab bahwa dia datang dengan cara melangkahkan kakinya di atas bekas telapak kaki Imam Ali a.s., karena dia yakin bahwa bekas telapak kaki Imam Ali a.s. pasti diridhoi Allah Swt.

Sampai sejauh itulah Salman mengikuti Ahlul Bait. Oleh karena itu, Rasulullah Saww. pernah bersabda, " Salman minna Ahlal Bait " (Salman termasuk dari kami, Ahlul bait) . Hal itu, karena kecintaan dan ketaatan beliau kepada Rasulullah Saww dan Ahlul Baitnya As. Kita selama ini baru mengenal Ahlul Bait As sebatas sejarah mereka saja, tetapi selain itu kita mungkin belum mengenal siapa mereka sebenarnya dan bagaimana kedudukan mereka di sisi Allah Swt serta fungsi mereka di alam semesta ini. Mari kita berusaha sedikit demi sedikit agar lebih jauh dapat mengenal mereka, dengan harapan agar kita diakui sebagai orang yang cinta kepada mereka, Insya ALLAH....

Dirangkum dari Al Jawad kajian Ust. Husein Al Kaff

Dosa-dosa yang Mengurangi Umur Manusia


Imam Ali Zainal Abidin (sa) menjelaskan faktor-faktor yang dapat mengurangi umur manusia. Dia mengatakan: "Dosa-dosa yang dapat mempercepat datangnya ajal ialah memutuskan silaturahim, sumpah palsu, ucapan bohong, zina, menutup jalan orang Mukmin, dan mengakui kepemimpinan yang tidak hak." ((Maanil Akhbar, hlm. 271)

Dalam hadis itu disebutkan mengenai adanya enam faktor yang menyebabkan dipercepatnya datangnya kerusakan dan kebinasaan. Pada baris-baris berikut ini kami uraikan sebagian faktor tersebut.

Barangkali pembaca yang mulia pernah menyaksikan dalam. hidupnya bukti-bukti mengenai adanya keterkaitan yang sedang kita bicarakan ini. Alangkah banyaknya orang-orang yang panjang umurnya, hidup dalam kebaikan dan kebahagiaan akibat silaturahim yang dia lakukan. Dan alangkah banyak orang yang menempuh kesengsaraan hidupnya akibat memutuskan tali silaturahim.

Nash-nash agama dan riwayat banyak sekali yang menegaskan mengenai adanya keterkaitan tersebut. Kita sebutkan di sini sebagian saja.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya ada orang yang menjalin silaturrahmi, yang sisa umurnya tinggal tiga tahun, kemudian Allah menambah umurnya menjadi tiga puluh tahu. Dan ada orang yang memutuskan silaturrahmi, yang sisa umurnya masih tiga puluh tahun, kemudian Allah menjadikan umurnya tiga tahun. Kemudian beliau membacakan firman Allah swt: ‘Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab’.” Ar-Ra’d/13: 39. (Safinah Al-Bihar 1: 514).
Rasulullah saw. bersabda: 'Silaturahim mempermudah hisab dan menghindarkan diri dari kematian yang jelek."'

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: "Sesungguhnya sumpah palsu, dan memutuskan tali silaturahim mengakibatkan rumah,rumah ditinggalkan oleh penghuninya." (Dar Al-Salam, 3: 193)

Beliau juga mengatakan: "Aku berlindung kepada Allah dari dosa-dosa yang mempercepat kebinasaan."
Lalu ada salah seorang yang berdiri sambil bertanya: "Wahai Ali, adakah dosa yang dapat mempercepat kebinasaan?"
Beliau menjawab: "Ya, celaka engkau, memutuskan tali silaturahim." (Ushul Al-Kafi 4: 48)

Nasab Rasulillah Saww Bersih.. !!



Isu ini terangkat kala sebagian umat islam mengaku pengikut Rasulillah Saww justru memusyriknya ayahanda Rasulullah Saww. (Innalillah..)

Dalam menjawabnya saya sampaikan 2 jawaban sekaligus bahwa :

Nama ayahanda Rasulullah Saww adalah Sayyidina Abdullah bin Abdul Muthalib r.a yang artinya Hamba ALLAH.

Definisinya jelas bahwa ayahanda Rasul Saww sangat mengenal ALLAH AWJ
karena nama ini yang membedakan antara penyembah berhala dengan penyembah Illah SWT.

Contoh Nama nama Jahiliyah (mirip mirip Tuhan mereka Latta dan Udza):
Uta, Abul Udza, dll

Jadi jelaslah bahwa Ayahanda Mulia Ar Rasul Saww bukan seperti claim mereka..!

Ayah Nabi Ibrahim As tidak Kafir


Banyak orang yang memaknai bahwa Azar adalah ayahnya Nabi Ibrahim demi memuluskan upaya mereka menampilkan 'cacatnya' Nasab Nabi Saww.

Namun sekali Lagi Hujjah ALLAH AWJ membungkam sekaligus membongkar kebohongan bertingkat kaum hipokrit pendengki Ar Rasul Saww..

Dalam Nasab Umum inilah Nasab Ayahanda Rasul Saww :

Sayyidina Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hâsyim (AMR) bin 'Abd al-Manâf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu ' Ayy bin Isma 'ell (Ismail) bin ibrahim bin Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh bin Lamik bin Metusyalih bin Idris bin Yarid bin Mihla'iel bin Qinan bin Anusy bin Syith bin Adam A.S


Rantai Nasab diatas ada Nama Azar {tarih}

sesungguhnya keduanya adalah orang yang berbeda. Azaar adalah paman Nabi Ibrahim yang bekerja tuk Namrud dalam membuat Patung. Sedang Tarikh adalah Ayahanda Nabi Ibrahim As.

Lamanya sejarah serta berlapisnya pengkaburan membuat orang sulit mencari jawaban siapa Ayah Nabi Ibrahim As sebenarnya, Padahal Jawabannya ada di Depan mata

Kuncinya ada pada QS al An'am ayat 74 dalam kata Ab' (ayah dalam makna luas)

Penggunaannya :

Abu jabir (ayah Jabir)
Abu Abdillah (ayah Hamba Allah)
atau :

Abaaika (Kakek)

metode ini sederhana, namun banyak yang tidak faham, artinya penggunakaan kata ab' pada orang tertentu tidak menyatakan bahwa orang tersebut adalah Ayah dalam nasab.

Dalil yang dijadikan sebagai dasar pengkafiran ayah Nabi Ibrahim adalah ayat yang menyebutkan Azar sebagai " ab " Ibrahim. Misalnya :

" Ingatlah ( ketika ), Ibrahim berkata kepada " ab "nya Azar, " Apakah anda menjadikan patung-patung sebagai tuhan ?. Sesungguhnya Aku melihatmu dan kaummu berada pada kesesatan yang nyata ".( al An'am 74 ).

Atas dasar ayat ini, ayah Ibrahim yang bernama Azar adalah seorang kafir dan sesat. Kemudian ayat lain yang memuat permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya ditolak oleh Allah dikarenakan dia adalah musuh Allah ( al Taubah 114). Dalam menarik kesimpulan dari ayat di atas dan sejenisnya bahwa ayah nabi Ibrahim adalah seorang kafir sungguh sangat terlalu tergesa-gesa, karena kata " abun " dalam bahasa Arab tidak hanya berarti ayah kandung saja.

Kata ab' bisa juga berarti, ayah tiri, paman, dan kakek.

contoh lain

Misalnya al Qur'an menyebutkan Nabi Ismail sebagai " ab " Nabi Ya'kub as., padahal beliau adalah paman NabiYa'kub as.

"Adakah kalian menyaksikan ketika Ya'kub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika ia bertanya kepada anak-anaknya, " Apa yang kalian sembah sepeninggalku ? ". Mereka menjawab, " Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayah-ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, Tuhan yang Esa, dan kami hanya kepadaNya kami berserah diri ".( al Baqarah 133 )

Dalam ayat ini dengan jelas kata "aabaaika " bentuk jama' dari " ab " berarti kakek ( Ibrahim dan Ishak ) dan paman ( Ismail ).

Dan juga kata " abuya " atau " buya " derivasi dari " ab " sering dipakai dalam ungkapan sehari-hari bangsa Arab dengan arti guru, atau orang yang berjasa dalam kehidupan, termasuk panggilan untuk almarhum Buya Hamka, misalnya.

Dari keterangan ringkas ini, kita dapat memahami bahwa kata " ab " tidak hanya berarti ayah kandung, lalu bagaimana dengan kata " ab " pada surat al An'am 74 dan al Taubah 114 ?

Dengan melihat ayat-ayat yang menjelaskan perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim as. akan jelas bahwa seorang yang bernama " Azar ", penyembah dan pembuat patung, bukanlah ayah kandung Ibrahim, melainkan pamannya atau ayah angkatnya atau orang yang sangat dekat dengannya dan Ia adalah pembuat Patung tuk Raja Namrud

Pada permulaan dakwahnya, Nabi Ibrahim as. mengajak Azar sebagai orang yang dekat dengannya, "Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka Tuhan yang Maha Pemurah " ( Maryam 44 ).

Namun Azar menolak dan bahkan mengancam akan menyiksa Ibrahim. Kemudian dengan amat menyesal beliau mengatakan selamat jalan kapada Azar, dan berjanji akan memintakan ampun kepada Allah untuk Azar. " Berkata Ibrahim, " Salamun 'alaika, aku akan memintakan ampun kepada Tuhanku untukmu " ( Maryam 47 ).

Kemudian al Qur'an menceritakan bahwa Nabi Ibrahim As menepati janjinya untuk memintakan ampun untuk Azar seraya berdoa,

" Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan gabungkan aku bersama orang-orang yang saleh. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku ( abii ), sesungguhnya ia adalah termasuk golongan yang sesat. Jangnlah Kamu hinakan aku di hari mereka dibangkitkan kembali, hari yang mana harta dan anak tidak memberikan manfaat kecuali orang yang menghadapi Allah dengan hati yang selamat ".(al Syua'ra 83-89 ).

Allamah Thaba'thabai menjelaskan bahwa kata " kaana " dalam ayat ke 86 menunjukkan bahwa doa ini diungkapkan oleh Nabi Ibrahim as. setelah kematian Azar dan pengusirannya kepada Nabi Ibrahim as. ( Tafsir al Mizan 7/163).

Setelah Nabi Ibrahim as. mengungkapkan doa itu, dan itu sekedar menepati janjinya saja kepada Azar, Allah AWJ menyatakan bahwa tidak layak bagi seorang Nabi memintakan ampun untuk orang musyrik, maka beliau berlepas tangan ( tabarri ) dari Azar setelah jelas bahwa ia adalah musuh Allah swt. (lihat surat al Taubah 114 )

Walid = Ayah Nasab (kandung)

  • Bedakan dengan kata walid (sebutan ayah dalam makna nasab/ kandung) seperti doa yang diajarkan Khalil ALLAH Ibrahim As. dan Doa ini muktabar dikalangan kita. Jelaslah bahwa Walid menunjukkan bahwa ia menuju pada Orang tua asli (kandung)

Ketika Nabi Ibrahim datang ke tempat suci Mekkah dan besama keturunan membangun kembali ka'bah, beliau berdoa,

"Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua walid- ku dan kaum mukminin di hari tegaknya hisab"( Ibrahim 41 ).

Kata " walid " hanya mempunyai satu makna yaitu yang melahirkan.

Dan yang dimaksud dengan " walid " disini tidak mungkin Azar, karena Nabi Ibrahim telah ber-tabarri (berlepas diri) dari Azar setelah mengetahui bahwa ia adalah musuh Allah (al taubah 114)

Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan walid disini adalah orang tua yang melahirkan beliau, dan keduanya adalah orang-orang yang beriman. Selain itu, kata walid disejajarkan dengan dirinya dan kaum mukminin, yang mengindikasikan bahwa walid- beliau bukan kafir. Ini alasan yang pertama.

  • Alasan yang kedua, adalah ayat yang berbunyi, " Dan perpindahanmu ( taqallub) di antara orang-orang yang sujud ".( al Syua'ra 219 ). Sebagian ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah bahwa diri nabi Muhammad saww. berpindah-pindah dari sulbi ahli sujud ke sulbi ahli sujud.
Artinya ayah-ayah Nabi Muhammad dari Abdullah sampai Nabi Adam adalah orang-orang yang suka bersujud kepada Allah. (lihat tafsir al Shofi tulisan al Faidh al Kasyani 4/54 dan Majma' al Bayan karya al Thabarsi 7/323 ).

Nabi Ibrahim as. beserta ayah kandungnya termasuk kakek Nabi Muhammad saww. Dengan demikian, ayah kandung Nabi Ibrahim as. adalah seorang yang ahli sujud kepada Allah swt.

Tentu selain alasan-alasan di atas, terdapat bukti-bukti lain dari hadis Nabi yang menunjukkan bahwa ayah kandung Nabi Ibrahim as. bukan orang kafir.

Hingga timbul Pertanyaan Besar Siapa Ayah kandung Nabi Ibrahim As ?

As Sayyid Nikmatullah al Jazairi menjawabnya dalam kitab an Nur al Mubin fi Qashash al An biya wal Mursalin hal 270 mengutip az Zujjaj bahwa Ayahanda Nabi Ibrahim As bernama Tarikh


Salam atas Khalil ALLAH yang suci..
Salam atas Nabi ALLAH Ibrahim alaihissalam..


Source :
Dinukil dari Buletin al Jawad edisi 1421 dan Kitab Adam hingga Isa (Sayyid Jazairi)

Minggu, 05 Juli 2009

Adam As bertawassul dengan Nur Suci Ahlu Kisa As


Alhamdulillahhi Robbul Alamin atas segala NikmatNYA yang berpedar dibumi dan diambil manfaatnya bagi yang tidak membutuhkan sekalipun..

Allohumma Sholli ala Muhammaddin Wa Aali Muhammad at Thoyyibinna Thohirin
amma baad'

Qs Al Maidah ayat 16 :
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Sesungguhnya Kitabullah dan Itrah AhlulBayt tidak akan berpisah hingga yaumul Akhir.. (Hadist Mutawatir)

Dari Kitab Ibnu Hajjar As Qalani - Lisannu Mizan Juz 3 : 346, ia meriwayatkan sebuah Hadist :
Konon, 2000 tahun sebelum penciptaan Nabi Adam (as) ALLAH SWT telah menciptakan 5 Cahaya Suci yaitu; Al Musthofa SAWW, (Imam) Ali kw, Sayyidah Fatimah (AS), (Imam) Husein (AS), (Imam) Hasan (AS).

Dalam Dur Manthur, Suyuthi di kutip secara garis besar, Dialog Nabi Adam AS dengan ALLAH SWT

Nabi Adam AS : Ya ALLAH, apakah Engkau menciptakan manusia sebelum aku..?
ALLAH SWT berfirman : Tidak, wahai adam..

Lima Cahaya Yang berpedar diatas itu, siapakah ya ALLAH ?

ALLAH SWT : Mereka itu kekasihku dan nama namanya diambil dari NamaKU, Doamu akan ku kabulkan bila kau sertai dengan bertawassul pada mereka

(ALLAH Azza Wa Jalla pun mengajarkan Nabi Adam AS cara bertawassul)

Ya Hammid bi haqqi Muhammad
Ya Ali bi haqqi Ali
Ya Fathir bi haqqi Fatimah
Ya Muhsin bi haqqi Hasan
Ya Qadhimul Ihsan bi Haqqi Husein

Demikianlah Tawassul telah di ajarkan oleh ALLAH Awj kepada Nabi Adam As penghulu Para Manusia. Yang dalam riwayat selanjutnya dijabarkan Bahwa Nabi Adam As bertawassul kepada Rasulillahi Saww

Dikisahkan bahwa tatkala Nabi Adam as dikeluarkan dari surga, ia memohon ampun kepada Allah atas perbuatannya. Dalam permohonannya itu, ia bertawassul melalui Nabi Muhammad SAWW: "Ya Allah, melalui kebesaran Muhammad, aku mohon ampun padaMu kiranya Engkau ampuni dosaku."

Allah Swt bertanya kepada Adam, "Dari mana kamu tahu Muhammad padahal Aku belum menciptakannya (sebagai Manusia)?"

Adam berkata, "Tuhanku, ketika Engkau ciptakan aku dengan tanganMu dan Engkau tiupkan ruhMu dalam diriku, aku mengangkatkan kepalaku dan kulihat di pilar pilar Arsy tertulis Lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh. Aku tahu Engkau tidak akan menyertakan nama hambaMu kepada namaMu kecuali yang paling Engkau cintai."

Allah Swt berfirman, "Engkau benar, Adam. Muhammad adalah hamba yang paling Aku cintai. Dan karena engkau memohon ampun melaluinya, maka Aku kabulkan permohonanmu. Hai , kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu."Riwayat diatas diatas adalah sebagian kecil dari keutamaan Tawassul.

Dalam Kitab lain di cantumkan riwayat :

Ya ALLAH, Mengapa setiap kali aku bertawassul dengan nama Husein, aku selalu menangis dengan air mata yang tak terbendung ?

ALLAH SWT : Wahai Adam, Husein adalah KekasihKU, juga salah satu dari cucumu yang kelak akan di aniaya, disembelih dengan cara yang keji di Karbala

Spontan Nabi Adam AS pun menangis tersedu seraya mengutuk pelakunya..

(Ar Rawandi)

Demikianlah Setiap Nabi Yang ALLAH Utus selalu dikabarkan Cucu Mereka yang akan DI Hina kan di Padang Karbala. Dan Begitu pula Keadaan Para Nabi Mulia, Beliau Beliau selalu menangis seraya mengutuk pelaku Kejam tersebut..

**

5 Nur Suci ini tidak akan pernah kita temui dalam kajian umum dalam masyarakat umum olahan Bany Ummayah.. sehingga banyak dari kita kadang tertawa, heran, bingung ataupun mungkin menolak habis sebelum faham.

Mereka terlalu takut untuk menemui kenyataan indah.. sehingga asal patetik (logis), mereka tempatkan pada garis depan dalam agama ini.

Hati itu ibarat wadah, bila wadah telah ditutup (hijab) maka segala apapun yang akan mengisi wadah tersebut tidak akan berhasil..

maka Hijab penutup Wadah Ilmu ini pun harus kita lepaskan dahulu bila ingin mengenal "keindahan Islam" dan mengisi Wadah tersebut dengan sifat Rahmah..

"Aku hadir untuk menyempurnakan Akhlak tul Karim (Rahmah)" [Al Hadist]

Allohumma Sholli ala Muhammaddin Wa Ahli Baythi At Qiya,
Wassalammualaykum Wa rohmah.. Ya Karim..

Apakah Khalifah terdahulu Bernasab Ibrahim..?


Firman Alloh Ta'ala dalam Surat Al Baqoroh [2] Ayat 124 :


"Dan , ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat , lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: " dari keturunanku" . Allah berfirman: "Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim".

Telaah Mantik dari ayat ini..
Abu bakar, Umar bukanlah bernasab Ibrahim seperti Janji Alloh dalam Surat diatas..

"Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia"

Wa'Allahu Alam..

12 Pemimpin Quraish





Imam Muhammad Al Baqir As berkata :

"ISLAM ditegakkan atas 5 perkara :

~ Mendirikan Sholat
~ Menunaikan Zakat
~ Haji di Baitullah
~ Puasa di Bulan Ramadhan
~ Menjadikan Ahlulbait Sebagai pemimpin.

Yang 4 perkara masih ada keringanan sedang yang satu perkara (berwilayah kepada Ahlul Bayt) tidak ada keringanan. Sesiapa yang tidak mempunyai harta tidak diwajibkan zakat, Sesiapa yang tidak mempunyai harta tidak diwajibkan berhaji, Sesiapa yang tidak bisa berdiri (karena sakit), boleh sholat dengan duduk dan tidak berpuasa. Namun berwilayah kepada Ahlulbayt (menjadikan Ahlulbayt sebagai pemimpin) adalah wajib bagi yang sakit ataupun sehat, bagi yang berharta maupun yang tidak berharta" [ Wasail Syiah Juz 1 Hal.14 ]


Al Karim Surah An Nisa ayat 59

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian."

Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati "Ulil Amri" secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah saw.

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?"

Rasulullah saw menjawab, "Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama "Al-Baqir" dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja'far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja'far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi' al-Mawaddah, hal. 494, 443-Qundusi al hanafi


Surah An Nisa ayat 59 - Perintah Mentaati Ulil Amri

"Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil Amri kamu."

Yang dimaksud "Ulil Amri" dalam ayat ini adalah Ali dan para Imam dari keturunannya.

-Imam Ali bin Abi Tholib AS (40 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba AS ( 50 H)
-Imam Husein bin Ali asy-Syahid AS (61 H)
-Imam Ali Bin Husein Zainal Abidin as-Sajjad AS (95 H)
-Imam Muhammad bin Ali al-Baqir AS (114 H)
-Imam Ja'far bin Muhammad ash-Shodiq AS (148 H)
-Imam Musa bin Ja'far al-Kadhim AS (183)
-Imam Ali bin Musa ar-Ridho AS (203)
-Imam Muhammad bin Ali al-Jawad AS (220 H)
-Imam Ali bin Muhammad al-Hadi AS (254 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Askari AS (260 H)
-Imam Abul Qasim Muhammad bin Hasan al-Mahdi AFS (lahir 15 Sya'ban 255 H dan masih hidup)

{ Yanabi'ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134 dan 137, cet,. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204. Tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 357. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tastari, jilid 3, halaman 424, cet. Pertama, Teheran. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250. }

Khutbah Imam Ali As No 191





Kedudukan Tinggi Amirul Mukminin dan Perbuatan Islam yang Menakjubkan


Hati-hatilah! Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada saya untuk memerangi mereka yang memberontak atau membuat kekacauan di bumi. Mengenai para pelanggar baiat, saya telah memerangi mereka; mengenai para penyeleweng dari kebenaran, saya telah melancarkan perang suci terhadap mereka; dan mengenai orang-orang yang telah keluar dari agama, saya telah menempatkan mereka dalam kehinaan (yang parah).[**]

Mengenai iblis di lobang, ia pun telah saya tanggulangi melalui pekikan keras, yang dengan itu jeritan hatinya dan goncangan dadanya juga kedengaran.[***] Hanya sebagian kecil dari pemberontak yang tertinggal. Apabila Allah memberikan kepada saya satu kesempatan lagi atas mereka, saya akan menumpas mereka kecuali sedikit sisa yang mungkin tinggal bertebaran di pinggiran-pinggiran kota.

Bahkan ketika saya masih anak-anak, saya telah merendahkan dada para lelaki Arab (yang kenamaan), dan mematahkan ujung tanduk (yakni mengalahkan para kepala) suku Rabi'ah dan Mudhar. Pastilah Anda tahu akan kekerabatan saya yang dekat dan hubungan saya yang khusus dengan Rasulullah (saw). Ketika saya masih kanak-kanak, beliau mengasuh saya. Beliau biasa menekankan saya ke dada beliau dan membaringkan saya di sisi beliau di tempat tidur beliau, mendekatkan tubuh beliau kepada saya dan membuat saya mencium bau beliau. Beliau biasa mengunyah sesuatu kemudian menyuapi saya dengannya. Beliau tidak mendapatkan kebohongan dalam pembicaraan saya, tak ada pula kelemahan dalam suatu tindakan saya.

Sejak waktu penyapihannya, Allah telah menempatkan seorang malaikat yang kuat bersama beliau untuk membawa beliau sepanjang jalan akhlak yang luhur dan perilaku yang baik, siang dan malam, sementara saya biasa mengikuti beliau seperti seekor anak unta mengikuti jejak kaki induknya. Setiap hari beliau menunjukkan kepada saya beberapa dari akhlaknya yang mulia dan memerintahkan saya untuk mengikutinya seperti panji. Setiap tahun beliau pergi menyendiri ke bukit Hira', di mana saya melihat beliau tetapi tak seorang pun lainnya melihat beliau. Di hari-hari itu Islam tidak teidapat di rumah mana pun selain rumah Rasulullah (saw) dan Khadijah, sementara saya adalah orang ketiga dari keduanya. Saya biasa melihat dan memperhatikan sinar cahaya dari wahyu dan risalah Ilahi, dan benghirup napas kenabian.

Ketika wahyu turun kepada Nabi Allah (saw), saya mendengar bunyi keluhan iblis. Saya berkata, "Wahai Rasulullah, keluhan apakah itu?" dan beliau menjawab, "Ini iblis yang telah kehilangan segala harapan untuk disembah. Ya, 'Ali, Anda melihat apa yang saya lihat dan Anda mendengar apa yang saya dengar, kecuali bahwa Anda bukan nabi; tetapi Anda adalah seorang wazir dan sesungguhnya Anda pada (jalan) kebajikan."

Saya bersama beliau ketika sekelompok orang Quraisy datang seraya berkata kepada beliau, "Hai, Muhammad, Anda telah membuat suatu pengakuan besar yang tak ada dari nenek moyang kalangan famili Anda telah melakukannya. Kami meminta kepada Anda satu hal; apabila Anda memberi jawaban atasnya kepada kami, kami akan mempercayai bahwa Anda adalah seorang nabi dan rasul; tetapi, apabila Anda tak dapat (memenuhinya), kami akan tahu bahwa Anda seorang penyihir dan pembohong."

Rasulullah berkata, "Apa yang Anda minta?" Mereka berkata, "Suruhlah pohon ini berpindah bagi kami, bahkan dengan akar-akamya, dan berhenti di hadapan Anda." Nabi menjawab, "Apabila Allah melakukannya untuk Anda, apakah Anda akan percaya dan memberi kesaksian atas kebenaran itu?" Mereka berkata, "Ya." Maka beliau berkata, "Saya akan menunjukkan kepada Anda apa yang Anda kehendaki, tetapi saya tahu bahwa Anda tak akan tunduk kepada kebajikan, dan ada di antara Anda sekalian orang-orang yang akan dilemparkan ke dalam lobang dan orang-orang yang akan membentuk partai-partai (melawan saya)." Kemudian Nabi Suci berkata, "Hai pohon, apabila Anda beriman kepada Allah dan Hari Pengadilan, dan mengetahui bahwa saya adalah Rasul Allah, datanglah dengan akar-akar Anda dan berdirilah di hadapan saya atas izin Allah." Derni Dia yang mengutus beliau dengan kebenaran, pohon itu berpindah sendiri dengan dengungan besar dan kepakan seperti kepakan sayap burung, sampai ia berhenti di hadapan Rasulullah, sementara beberapa rantingnya menurun sampai ke bahu saya, dan saya berada di sisi kanan Nabi Suci.

Ketika orang-orang itu melihatnya, mereka berkata dengan bangga dan sombong, "Sekarang Anda perintahkanlah separuhnya datang kepada Anda sedang yang separuhnya lagi tinggal (di tempatnya)." Nabi memerintahkan pohon itu untuk berlaku seperti itu. Kemudian setengah dari pohon itu maju kepada beliau secara yang mencengangkan dan dengan dengungan yang lebih keras, hampir menyentuh Rasulullah. Kemudian mereka berkata, dengan tidak beriman dan secara memberontak, "Suruhlah yang setengah itu kembali (berpadu) kepada sesamanya dan menjadi seperti semula." Nabi memerintahkannya dan pohon itu pun kembali. Lalu saya berkata, "Ya Rasulullah, saya yang pertama beriman kepada Anda dan mengakui bahwa pohon itu telah melakukan apa yang baru saja telah dilakukannya dengan perintah Allah Yang Mahamulia, sebagai saksi atas Kenabian Anda dan untuk meninggikan kata Anda. Atasnya semua orang itu berteriak, "Malah seorang penyihir, seorang perabohong; itu sihir yang menakjubkan, ia sangat mahir dalam hal itu. Hanya lelaki seperti ini (sambil menunjuk kepada saya) dapat berdiri sebagai saksi kepada Anda dalam urusan Anda." Sungguh, saya termasuk kepada kelompok manusia yang ddak mempedulikan ejekan siapa pun dalam urusan mengenai Allah. Wajah mereka adalah wajah orang benar dan ucapan mereka adalah ucapan orang berkebajikan. Mereka berjaga di waktu malam (dalam ibadat kepada Allah) dan menjadi menara (petunjuk) di siang hari. Mereka berpegang teguh pada tali Al-Qur'an, menghidupkan sunah-sunah Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak menyombong dan tidak bergelimang dalam mengagumi diri, tidak menyeleweng dan tidak membuat bencana. Hati mereka berada di surga, sedang tubuh mereka sibuk beramal.

-----

** Amirul Mukminin 'Ali, Ab Ayyub al-Anshari, Jabir ibn 'Abdullah al-Anshari, 'Abdullah ibn Mas'ud, 'Ammar ibn Yasir, Abfl Sa'id al-Khudri, dan 'Abdullah ibn 'Abbas meriwayatkan bahwa Nabi telah memerintahkan 'Ali ibn Abi Thalib untuk memerangi orang-orang pelanggar baiat (nkitsn), penyeleweng dari kebenaran (qsithn), dan orang-orang yang meninggalkan agama (mriqn). (Mustadrak, III, h. 139; al-Isti'ab, III, h. 1117; Usd al-Ghdbah, III, h. 32-33; ad-Durr al-Mantsur, VI, h. 18; al-Khasha'ish al-Kubr, II, h. 138; Majma' az-Zawa'id, V, h. 186 dan VI, h. 235 dan VII, h. 238; Kanz al-'Umml, VI, h. 72, 82, 88, 155, 215, 319, 391, 392; Tarikh Baghdd, VIII, h. 340, h. 186-187; Tarikh Ibn Katsr, VII, h. 304-306; ar-Riydh an-Ndhirah, II, h. 240; Syarh al-Mawhib al-Laduniyyah, III, h. 316-317; Mawadhdhah al-Auham, I, h. 386.) Ibn Abil Hadid mengatakan, "Telah dibuktikan (dengan periwayatan yang benar) dari Nabi bahwa beliau berkata kepada 'Ali,

'Anda akan memerangi para pelanggar janji, para penyeleweng dari kebenaran, dan orang-orang yang meninggalkan agama.'"

Pelanggar janji adalah kaum Jamal, karena melanggar baiat mereka kepadanya. Penyeleweng dari kebenaran adalah orang Suriah (Syam) di Shiffin. Orang yang meninggalkan agama adalah kaum Khariji. Tentang ketiga kelompok ini Allah berfirman,

"Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri...." (QS. 48:10)

(Tentang kelompok yang kedua) Allah berfirman,

"Adapun orang-omg yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka mejadi kayu api bagi neraka jahanam." (QS. 72:15)

Mengenai kelompok yang ketiga, Ibn Abil Hadid merujuk hadis berikut: Bukhari, ash-Shahih, IV, h. 166-167; Muslim, ash-Shahih, m, h. 109-117; Tarmidzi, al-Jami' al-Shahih, IV, h. 481; Ibn Majah, as-Sunan, I, h. h. 59-62; an-Nasa'i, as-Sunan, II, h. 65-66; Malik ibn Anas, d-Muwaththa', h. 204-205; ad-Daraquthni, as-Sunan, III, h. 131-132; ad-Darim, as-Sunan, II, h. 133; Ab Dawd, as-Sunan, IV, h. 241-246; al-Hakim, al-Mustadrak, II, h. 145-154 dan IV, h. 531; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 88, 140, 147, dan III, h. 56, 65; dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubr, VIII, h. 170-171. Semuanya telah meriwayatkan melalui sekelompok sahabat Nabi bahwa beliau berkata tentang Dzul Khuwaishirah (julukan Dzuts-Tsudayyah Hurqs ibn Zuhair at-Tamimi, pemimpin kaum Khariji).

"Dari keturunan orang ini akan muncul orang yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka; mereka akan membunuh para pengikut Islam dan akan membiarkan pemuja berhala. Mereka akan memandang sekilas melalui ajaran Islam sama tergesa-gesanya seperti panah melewati mangsanya. Apabila saya sampai mendapatkan mereka, saya akan membunuh mereka seperti kaum 'Ad."

Kemudian Ibn Abil Hadid melanjutkan,

"Ini suatu tanda kenabian (Nabi Muhammad saw) dan ramalannya tentang pengetahuan rahasia." (Syarh Nahjul Balghah, XIII, h. 183)




*** Dengan "iblis di lobang", rujukannya ialah Dzuts-Tsudayyah (yang nama lengkapnya telah disebutkan dalam catatan nomor 5 di atas, yang terbunuh di Nahrawan oleh sambaran kilat dari langit, dan tak ada orang lagi yang perlu membunuhnya dengan pedang. Nabi telah meramalkan kematiannya. Oleh karena itu, setelah menumpas kaum Khariji di Nahrawan, Amirul Mukminin keluar mencari, tetapi tidak menemukan mayatnya di mana-mana. Sementara itu, ar-Rayyan ibn Shabirah melihat sekitar empat puluh atau lima puluh mayat di dalam lobang di tepi terusan. Ketika mayat-mayat itu dikeluarkan, mayat Dzuts-Tsudayyah juga terdapat di antara mereka. la dinamai Dzuts-Tsudayyah karena sebongkok daging di bahunya. Ketika Amirul Mukminin melihat mayatnya, ia berkata, "Allah Maha-besar, tidak saya berkata bohong, tidak pula saya dibohongi." (Ibn Abil Hadid, Syarh Nahjul Balghah, XIII, h. 183-184; ath-Thabari, I, h. 3383-3384; Ibn Atsir, III, h. 348).