Jumat, 24 Juli 2009

Membantu Para Penindas

Ayatullah Abdul Husayn Dastghaib Shirazi:
Dosa, membantu para penindas juga diklasifikasikan sebagai dosa besar. Fadhl Ibnu Shazān memiliki riwayat dari Imam Ridha (as) mengenai dosa besar: "Dan membantu para penindas (dhalim-dhalimin) dan condong ke arah mereka". Dalam riwayat dari Imam Sadiq (as) disebutkan, "Tidak membantu orang yang tertindas adalah dosa besar." Dengan kata lain membantu penindas juga termasuk dosa besar. Imam Musa bin Ja'far (as) mengatakan: "Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan para penindas, berusaha untuk mencapai tujuan jahat mereka dan membantu mereka adalah sama dengan kafir dan juga bersandar kepada mereka adalah dosa lebih besar dan pantas masuk neraka. "(Wasa'il ul-Syiah).

Nabi Muhammad(sawa) juga bersabda: "Pada malam Miraj, ketika saya melihat prasasti di pintu neraka,(bertuliskan) 'Jangan lah menjadi pembantu kaum penindas." (Wasa'il ul-Shia). Ini berarti bahwa jika tidak ingin masuk neraka maka harus menahan diri dari bekerjasama dengan para penindas. Selain itu, ini adalah dosa yang dijanjikan oleh hukum suci sang Maha Kuasa dalam Alquran: "Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang tidak adil, supaya jangan disentuh api (neraka), dan jangan kamu memiliki wali selain Allah, maka kamu tidak akan diberi pertolongan". (Surah Hud 11:113).
Menurut tafsir-Minhaj Shādiqīn: 'tidak condong' berarti kita tidak memiliki sedikitpun inklinasi (kecendrungan hati, keinginan) terhadap para penindas. Oleh karena itu kita harus memperlakukan mereka dengan tidak hormat dan tidak berkumpul dengan mereka dan tidak bebas mengekspresikan isi hati kita kepada mereka. Kita tidak boleh serakah akan hadiah mereka, atau kita harus tidak mentaati dan menuruti perintah mereka. Ketika adanya hukum larangan terhadap penindas yang seperti itu, maka jelaslah bahwa akan dapat dihalal membantu mereka dan bekerja sama dengan mereka dalam penindasan.
Rasul Allah (sawa) menyatakan, "Barang siapa yang mendoakan panjang umur para penindas sama dengan dia memusuhi Allah di bumi." (Minhaj ash-Shādiqīn).


Ada kejadian yang menarik dalam buku Rawdhātul Jannah tentang pengarang Maqasikul Ahkam, Sayyid Muhammad. Setelah Sayyid dan seorang guru terhormat lain, Ash- Shaykh, ketika mereka berencana berziarah ke makam suci dari Imam Ridha (as) di Mashad, tetapi ketika mereka mengetahui bahwa Shah Abbas Safavi sedang tinggal di Mashad maka mereka memutuskan untuk membatalkan perjalanan ziarah mereka.
Demikian pula di dalam biografi Sayyid Bahrul Al Mansūrm; disebutkan bahwa ketika beliau bersikap terhadap Gubernur propinsi Shustaran yang dihormati, beliau berkata, "Sebelum rasa suka saya kepada dia berkembang dan berada di bawah tuduhan ayat Qur'an, maka saya melarikan diri dari tempat itu". Kemudian belaiau pindah dari Dezful dan menetap di Irak sepanjang sisa hidupnya.
Ketika kita mempelajari biografi beberapa ulama, kita akan menyadari bagaimana mereka bertindak begitu ketat terhadap pertemuan, pencampuran/berkumpul atau berkomunikasi dengan para penindas, sehingga tidak akan ada bahkan begitu jauh kesempatan bagi mereka untuk melindungi para penindas dan membantu kegiatan mereka.
Muhaddith Jazaeri menulis dalam buku Fawaidur Rizwia bahwa ada seorang yang melakukan kejahatan besar di hadapan Shah Abbas Safavi dan untuk menyembunyikan dirinya maka dia mencari perlindungan di Mashad. Kemudian akhirnya dia mendekati Mulla Ahmad (Muqaddas Ardebeli) dan meminta beliau untuk menulis kepada Shah untuk memaafkan kejahatannya. Syahpun memaafkannya.
Hal ini dikutip dari Tarikh Bahire dimana Khwaja Nizamul Mulk Perdana Menteri Malik Shah Seljuq, seorang yang sangat bijaksana , takut akan akhirat dan hari kiamat. Dia selalu dirundung ketakutan terhadap hal ini. Selama masa jabatannya dia selalu melayani orang miskin, para interluktual dan sabar dalam mengikuti kewajiban agama. Ia berharap untuk mendapatkan sertifikat akademisi dan intelektual (keagamaan, memastikan berakhlaq baik, sehingga akan dapat menjadi tabungan yang akan dipakai nanti ketika saat pemakaman. Dia berharap untuk dapat keselamatan disini. Dia merancang sebuah sertifikat dan dikirimnya ke beberapa ulama dan intelektual untuk ditanda tangani. Ketika sampai di Baghdad dan bertemu dengan seorang guru yang dihormati di madrasah Nizamiya, Syekh Abu Ishaq, dia menulis, "Saya bersaksi bahwa Syekh Nizamul Mulk adalah penidas yang sedikit lebih baik di antara para penindas."
Ketika Khwaja Nizamaul Mulk membalas tulisan Syekh Abu Ishaq, dia menangis dan berkata: "Apapun tulisan Abu Ishaq adalah benar." Tidak ada keraguan bahwa membantu penindas adalah haram dan juga merupakan dosa besar. Ada hukum Islam untuk setiap jenis penindas dan cara untuk membantu penindas, maka wajib untuk belajar peraturan (hukum) dan perintah (amr)itu.

Jenis Para Penindas (Dhalim)
'Dhulm' di bahasa Arab bermakna penindasan dan ketidakadilan berarti: mengabaikan perintah suci dan juga bagi mereka yang melawan apa yang sesuai dengan akal dan logika. Ada dua jenis penindasan seperti:
(1) Melampaui batasan hukum agama seperti politeisme (penyembah berhala). Sebagaimana difirmankan Allah, "... sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar –benar kezaliman yang besar." (Surah Luqman:13)
(2) Menentang ketetapan hukum suci juga merupakan tanda-tanda penindas seperti yang dinyatakan dalam Kitab Suci, ... Orang orang kafir itulah orang yang dhalim "(Surah Al-Baqarah :254)
Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa semua hukum agama seharusnya kita ikuti sesuai dengan alasan agama atau perintah agama yang harus ditaati dengan seksama. Tidak menerima atau tidak percaya adalah jenis kedhaliman. Selain itu, tidak menerima perintah suci Ilahi atau tidak bertindak atas dasar itu atau tidak menghormati batas yang ditentukan oleh Yang Mahakuasa, seperti melalaikan hal yang Wajib atau melakukan perbuatan yang Haram, semuanya ini merupakan ketidakadilan atau kedhaliman.
Dengan demikian, Tuhan Yang Maha Kuasa berkata, "... dan barang siapa melamggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang –orang yang dhalim." (Al-Baqarah:229).
Hal ini juga berlaku ke atas ketidakadilan pada diri sendiri. Sebagai Allah (SWT) berfirman: "Barangsiapa kafir, maka kekafiran itu akanmenimpa dirinya sendiri". (Surah Fāt'ir 35:39)
Beberapa jenis para penindas: termasuk melecehkan, memaksa, atau merendahkan, memenjarakan orang; juga merajam atau menuduh seseorang dengan tuduhan palsu atau menyakiti fisik seseorang. Bentuk penindasan yang lain adalah merebut harta-benda seseorang, atau mengambil tanpa izin dari pemilik atau tidak mengembalikan hak sang pemilik lain sebagainya cara mengusai hak orang lain dengan paksa. Contoh dari ketidakadilan yang besar adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah Bani Umayyah dan Bani Abbas ketika mereka menyalahgunakan kekuasaan Wilāyah (supremasi) Suci Ahl ul-Bayt (as). Contoh lain dari kedhaliman adalah mendudukkan dirinya sebagai Qadhi.(berfatwa sebelum menduduki posisi mujtahid, red).
Penindasan termasuk dalam dua kategori.
Penguasa tiran yang ganas dan para raja, yang melakukan penindasan sebagai amalan biasa.
Individu yang mungkin melakukan ketidakadilan/kedhaliman pada orang lain sekali-sekali.
Membantu dalam penindasan penindas
Membantu suatu penindasan dalam bentuk apapun dan bagaimanapun adalah haram. Misalnya memberikan sebatang rotan tangan seseorang sehingga ia dapat memukul orang yang bersalah, atau untuk membantu dengan cara apapun untuk menyekap atau membunuhnya.
Shaykh Ansari menulis di Makasib yang terkenal telah mengkonfirmasikan larangan kerjasama dengan penindas (dhalim) dengan empat pembuktian melalui dasar hukum yang diperlukan dalam hukum Islam. i.e. Al Quran, Sunnah, Akal dan Ijma.
Logika: Menyatakan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara yang penindas dan orang yang membantunya. Keduanya sama-sama bertanggung jawab atas tindakan yang dhalim. Mungkin saja jika tidak ada satu untuk membantu penindas, mungkin tidak terjadi penindasan. Oleh karena itu logika berkesimpulan bahwa membantu penindas hukumnya haram.
Ijma: Merujuk kepada buku-buku fikih (hukum Islam), semua mengkonfirmasikan bahwa semua (ulama) sepakat terhadap pendapat bahwa membantu penindis adalah haram.
Al Quran: The Qur'anic ayat "Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang tidak adil (dhalim),", sudah cukup untuk membuktikan ketidak-absahan membantu orang yang tidak adil. Sekalipun memberikan bantuan yang sedikit juga tidak dibenarkan, maka bagaimana dapat dibenarkan memberikan membantu mereka (kepada kedhalimanan). sebagaimana membantu mereka akan menjadikan dukungan paling bentuk terhadap mereka.
Selain itu, Maha Kuasa mengatakan: "... dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksanya." (Surah Al-Mā'ida: 2).

Hadits dari Ahl ul-Bayt (as) terhadap membantu penindas
Berbagai hadits telah sampai kepada kita yang datang dari Syaikh Ansari yang mencatat hadits hadits dari Nabi Suci (S) dalam bukunya Warām: "Jika seseorang membantu seorang penindas dengan sadar, ia telah digolongkan sebagai orang yang ingkar dari Islam." (Majmual Warām)
Sangat alami, perbuatan yang membuat orang keluar dari iman kepada Islam harus mendapatkan dosa yang dihasilkan kehancuran yang dibuatnya.
Imam Ja'far as-Sadiq (as) mengatakan: "Ketika hari kiamat nanti ketika panggilan diserukanl:" Di manakah ketidak adilan, penolong ketidak adilan (dhalim) dan orang-orang menyukai ketidak adilan? Begitu banyak, karena walaupun seseorang yang telah menuliskan pena dan tinta untuk (mendukung) penindas maka dia digolongkan sebagai penindas; semua orang-orang ini akan digabungkan dalam satu kandang besi dan dilemparkan ke dalam neraka. "(Wasa'il ul-Syiah)
Rasul Islam (sawa) mengatakan: "Jika seseorang memberikan sebatang kayu untuk raja yang lalim sehingga ia dapat memukul seorang yang tertindas, maka Allah akan mengubah kayu tersebut menjadi ular, tujuh puluh ribu hasta panjangnya dan akan membawanya kedalam api Neraka (untuk mengazabnya). "(Wasa'il ul-Syiah)
"Orang-orang yang mengambil hubungan oppressors di tangan mereka dan membantunya dalam penindasan akan, pada saat kematian, yang akan menyampaikan berita Divine kutukan dan api neraka oleh malaikat maut. Dan Neraka adalah sebuah resor jahat. Satu panduan yang penindih yang akan dipertimbangkan di menyetarafkan Haman (menteri dari Fir'on). Dan hukuman yang membantu orang-orang yang tidak adil dan oppressors sendiri akan lebih pedih dari hukuman lainnya dari narapidana neraka. Dan jika orang backbites tentang saudara-Nya percaya kepada penguasa, dan meskipun Muslim mungkin tidak harus menderita cedera apapun darinya, yang akan memiliki lagipencela segala perbuatan baik nullified. Namun, jika Muslim harus menderita penindasan di tangan penguasa, bagian belakang-penggigit akan dipelihara oleh Allah dalam neraka yang seksi di mana Haman akan dibatasi. "(Wasa'il ul-Syiah)

Memuji penindas: Haram
Memuji seorang penindas sehingga kekuasaannya dan otoritas dapat bertambah, atau mungkin mendorong dia menjadi lebih berani, hukumnya juga Haram. Hal ini dikonfirmasi oleh argumen yang telah disebutkan, dan juga dibuktikan dengan adanya pencegahan kemungkaran (Nahy 'anil Munkar).
Shaykh Ansari telah secara khusus menukil hadits dari Nabi Muhammad (sawa): "Seseorang yang menunjukkan rasa hormat kepada orang kaya dan tunduk karena rakus terhadap harta seseorang, maka Allah akan marah menempatakkan dia dalam kandang api di bagian terendah neraka dimana Qarun dikurung. "(Wasa'il ul-Syiah)
Hadits ini berlaku untuk semua orang, maka jika memuji seorang yang tidak adil (dhalim), orang yang memuji itu akan memenuhi syarat untuk menerima dosanya. Nabi Allah (sawa) telah bersabda, "Jika seseorang memuji raja tiran (dhalim) atau menunjukkan kerendahan hati karena kerakusan (pada hartanya) maka dia akan berada di neraka dengan dia (Raja)." (Wasa'il ul-Syiah)
dalam hadits nabawi yang lain, "Apabila seorang yang berdosa (dhalim) dipuji, langit bergetar ketakutan dan kemarahan Allah akan membalut orang yang telah memuji itu." (Safinat'ul-Bihar).[IslamMuhammadi/R/imamreza]
Bersambung….

Jumat, 10 Juli 2009

Korban Pembantain di Cina Ditaksir 800 Jiwa


xin_0120706071715671721110

Kelompok Uighur di pengasingan memperkirakan korban jiwa dalam kerusuhan di kota Urumqi, China, antara orang Uighur Muslim dengan Han China mencapai 600 hingga 800 orang tewa, kata Wakil Presiden Kongres Uighur Dunia, Asgar Can, Rabu.

Asgar Can, yang tinggal di pengasingan di Jerman –tempat organisasi itu berpusat, mengatakan, “Sebagian orang telah memberi tahu kami 600 (orang tewas), yang lain telah mengatakan 800. Kami memperkirakan bahwa jumlah itu adalah antara 600 dan 800″.


Ia menyatakan perkiraan tersebut dilandasi atas perhitungan saksi mata mengenai kerusuhan itu.

China telah menyatakan bahwa 156 orang tewas dalam bentrokan di Urumqi, Ahad. Lebih dari seribu orang cedera.

article-1197754-059DECF7000005DC-835_634x307

Pemerintah, Rabu, menyatakan situasi sekarang “dapat dikendalikan” setelah ribuan prajurit memasuki kota tersebut dalam upaya mencegah kerusuhan lebih lanjut.

Beijing telah menyalahkan pemimpin Uighur, Rebiya Kadeer, menghasut kerusuhan itu, tuduhan yang dibantah keras.

article-1197754-059DF1C6000005DC-908_634x435

Rebiya, Rabu, malah menuduh kebijakan China sebagai pangkal kerusuhan di Xinjiang, dan menyatakan korban jiwa akibat kerusuhan tersebut “jauh lebih banyak” dibandingkan dengan 156 yang dinyatakan oleh Beijing.

Dalam wawancara dengan radio BBC, Rebiya –Presiden Kongres Uighur Dunia– membantah tuduhan resmi China bahwa dialah dalang kerusuhan itu, dan mengatakan tampaknya lebih banyak orang Uighur yang gugur dibandingkan dengan Han China.

xin_012070607171546837569


“Orang yang bertanggung jawab atas serangan ini adalah Wang Leguan, Kepala Partai Komunis Xinjiang, dan juga kebijakan pemerintah,” katanya.

Delapan juta orang Uighur di Xinjiang merupakan separuh penduduk di wilayah tersebut, daerah pegunungan dan gurun luas yang kaya akan sumber alam dan berbatasan dengan Asia Tengah.

Masyarakat yang berbicara bahasa Turki itu telah lama mengeluh mengenai penindasan dan diskriminasi di bawah kekuasaan China, tapi Beijing berkeras pemerintah telah menyalurkan kemakmuran ekonomi ke wilayah tersebut.


“Dalam delapan tahun belakangan, orang Uighur dicap sebagai separatis, teroris dan ekstremis. Akibat propaganda dari pemerintah China ini, rakyat China mulai percaya bahwa orang Uighur adalah musuh dan mereka mulai membenci orang Uighur,” kata Rebiya. (antara)

Sila klik http://uyghur.tv/#

Somalia : Antara Kelaparan dan Radikalisme Wahabi

Nama Somalia belakangan ini tiba-tiba mencuat lagi karena perang saudara yang menelan ribuan korban jiwa dan pengungsi antara Pemerintah yang dipegang oleh kelompok Islam moderat dan faksi-faksi Islam radikal (wahabi).

Somalia adala nama yang diambil dari kata Somali (Soo Maal) yang berarti kaya dengan sumber kehidupan. Negara itu merupakan satu-satunya negara di dunia dengan penduduk 100 % Muslim. Seluruh Muslim di sana adalah kaum Suni yang mempraktekkan kitab Iman Syafi’i. Orang-orang yang hidup di Somalia umumnya berbicara Somalia dan Arab, plus bahasa Rahanwayn minoritas di selatan Somalia.
Ada empat suku besar di Somalia yakni Hawiye, Isaaq, Darod, dan Rahanwayn. Isaaq, Darod, dan Hawiye memiliki akar Arab, sementar Darod adalah keturunan dari Darod Ismail Jabarti yang berasal dari selatan Yaman. Isaaq, lebih tepatnya adalah keturunan Sheikh Isaaq bin Ahmed yang berasal dari Mosul Irak. Sedangkan Hawiye adalah kombinasi dari beberapa kelompok berbeda namun umumnya dari Yaman.

Para warga Somalia setelah ambruknya ADAL, mulai mendatangai universitas Arab khususnya Universitas Al-Azhar di Mesir. Hubungan antara Arab dan Somalia pun bertambah kuat, terutama antara Yaman dan Kesultanan Oman.

Beberapa lulusan Universitas Al-Azhar kembali pulang termasuk Sayed Abdullah Hassan, yang memiliki julkan, The Mad Mullah atau Mullah yang Gila. Ia bukanlah orang yang bijak dan mulai membangun pasukan untuk berjuang melawan Inggris. Ia mencoba mengambil alih beberapa bagian Tanah Somalia terutama area Hawd. Inggris pun menghancurkan pasukkannya dengan bom udara. The Mad Mullah itu pun terbunuh dalam serangan udara yang dilancarkan pasukan Inggris.

Sayed Abdullah Hassan (the Mad Mulla) dulu dikenal sebagai seorang penganut paham Sufi dan meyakinkan banyak warga Somalia untuk mempraktekan cara hidup Sufi sebagai keyakinan Islam. Namun kelompok Salafi, yang juga dijuluki Wahabis Somalia menolak ide pengasingan dari dunia luar. Para penganut Wahabi tersebut pun mulai berjuang untuk menyebarkan pandangan mereka di Somalia sekitar empat dekade lalu.

Sayed Abdullah Hassan (the Mad Mulla) dulu dikenal sebagai seorang penganut paham Sufi dan meyakinkan banyak warga Somalia untuk mempraktekan cara hidup Sufi sebagai keyakinan Islam. Namun kelompok Salafi, yang juga dijuluki Wahabis Somalia menolak ide pengasingan dari dunia luar. Para penganut Wahabi tersebut pun mulai berjuang untuk menyebarkan pandangan mereka di Somalia sekitar empat dekade lalu

Hingga tahun 1960, mayoritas Muslim Somalia mempraktekkan paham Sufi, paham yang mendapat penghormatan besar di hampir seluruh suku Somalia. Warga menganggap Sufi memiliki tingkat kekerasan jauh lebih sedikit bila dibanding Salafi.

Namun setelah gerakan ulet yang dilakukan kaum Salafi selama 40 tahun lebih, berangsur-angsur membuat sebagian warga Somalia meninggalkan paham Sufi. Kini kondisi mulai berbalik. Jumlah praktek sufi lebih sedikit dibanding para penganut paham Salafi.

Salah satu keunikkan lain yang bisa ditemukan dalam tradisi Islam Somalia menulis Al Qur’an dengan lembar dari kayu dengan tinta yang dibuat dari batu-bara Somalia. Penulisan ulang dilakukan karena penduduk tidak mengerti bahasa Arab sehingga pengajaran dilakukan dengan bahasa Somalia. Praktek penulisan macam itu sendiri masih dapat dijumpai hingga sekarang hanya saja semakin jauh berkurang.

Kini, di beberapa propinisi yang dikuasai oleh faksi Shabab al-Mujahidin (Pemuda Pejuang), sebuah milisi bersenjata berfaham salafi ekstrem yang berperang melawan Pemerintah Somalia yang didukung oleh Amerika dan Uni Afrika, hukum Islam hingga pada hal-hal yang detail mulai diberlakukan, seperti penggunaan cadar (penutup wajah) bagi semua wanita dan keharusan melakukan shalat jamaah saat azan dikumandangkan, dengan imbalan sanksi didera beberapa kali depan khalayak.

Somalia, kini berada dalam dua masalah besar, kelaparan dan radikalisme.

Rabu, 08 Juli 2009

Mulla Sadra


Tanpa keraguan bahwa Mulla Sadrā penggagas aliran baru dalam filsafat Islam yang berbeda sama sekali dengan dua aliran filsafat sebelumnya ; Masyāiyyīn ( Peripatetik ) dan Isyrāqiyyīn ( Illuminasi ). Hal ini tercermin dari bangunan filsafat Mulla Sadrā yang dikenal dengan sebutan al-Hikmah al-Muta’āliyyah yang menghimpun kedua aliran tersebut dan melakukan sintesa serta penyempurnaan-penyempurnaan pada banyak bagian dari pandangan filsafat Peripatetik maupun Iluminasi.
Bahkan Abu Abdillah Zanjani menyebutkan bahwa Mulla Sadrā telah menghidupkan kembali pemikiran filsafat sebelumnya yang telah mati baik karena serangan-serangan al-Ghazāli terhadap filsafat maupun karena penghancuran peradaban Islam oleh kaum Mongol dan Turki. Secara lebih rinci ia jelaskan :
“Mulla Sadrā telah menghidupkan kembali dan memulai kehidupan baru dari timbunan tanah kematian aliran filsafat Ibn Sinā ( karena serangan al-Ghazāli, pengikut Asy’ari dan kaum Hanbali juga serbuan tentara-tentara Mongol dan Turki yang telah menghancurkan ilmu pengetahuan dan pemikirian ). Langkah dan semangat tersebut kembali kepadanya (Mulla Sadrā). Kagungan filsafat kembali bergema dengan hadirnya filosof besar pasca Ibn Sinā yang harapan berada dipundaknya dan sampai sekarang menjadi guru besar dan terhitung sebagai pendiri aliran baru dalam filsafat” [1].
Ada juga yang beranggapan bahwa Mulla Sadrā hanya sekedar melakukan tambal sulam dari filsafat Ibn Sina, tapi pernyataan seperti ini jelas tidak benar. Jika seseorang melihat secara mendalam pemikiran filsafat Mulla Sadrā dia akan segera menemukan perbedaan yang tegas antara aliran Peripatetik dengan al-Hikmah al-Muta’āliyyah . Meskipun Mulla Sadrā tetap menggunakan istilah dan topik-topik yang sama dalam pembahasan filsafatnya tetapi pandangan maupun argumentasi serta bentuk pemahaman terhadap topik itu jelas berbeda.
Didalam bangunan Filsafat al-Hikmah al-Muta’āliyyah secara jelas tergambar aliran-aliran pemikiran sebelumnya seperti Filsafat, Gnostik, Teologi tetapi sama sekali Mulla Sadrā tidak terjebak sebagaimana dugaan sebagian pemikir bahwa Mulla Sadrā melakukan sinkretisasi, tetapi yang dilakukan Mulla Sadrā adalah harmonisasi semua elemen tersebut sehingga membentuk warna baru yang masing-masing kesatuan saling terkait dan mendukung satu sama lain. Sebagaimana yang dinyatakannya sendiri : “Telah tergabung padanya ilmu-ilmu Ketuhanan (Teologi) pada filsafat analitis serta telah aku lapisi hakikat-hakikat penyaksian dengan penjelasan-penjelasan yang dapat dipelajari.” [2]
Al-Asfār memuat gambaran ini secara jelas dengan mengemukakan berbagai prinsip pandangan Iluminasi seperti Asālat al-Wujūd atau Cahaya dan Tasykīk al-Wujūd juga Harākat al-Jawhariyyāh yang merupakan tema bahasan filosof-filosof Iran qadim, serta Tajarrud al-Mitsāl, Ittihād al-‘Āqil wa al-Ma’qūl dan Basith al-Haqīqah Kulli Asyya’, yang merupakan tema-tema Gnostik, Plotinus maupun para Sufi. Semua hal tersebut, ditangan Mulla Sadrā mendapatkan penjelasan rasional-logis yang sama sekali bentuk seperti ini tidak ditemukan pada filosof sebelumnya.
Dua aliran utama filsafat sebelum Mulla Sadrā secara jelas saling beroposan satu sama lain. Peripatetik sebagai filsafat yang mendasarkan prinsipnya pada bentuk silogisme-Aristotelian yang sangat rasional, bahkan menurut Fayadi “Ibn Sinā tidak akan membicarakan sebuah persoalan yang tidak terbukti secara rasional”.[3] Dihadapannya, Suhrawardi dengan Mazhab Iluminasinya meyakini bahwa pengetahuan dan segala sesuatu yang terkait dengannya hanya bisa dicapai melalui proses Syuhūdi dan proses tersebut hanya bisa dicapai dengan melakukan upaya elaborasi ruhani.
Kita kemudian dapat menemukan posisi filsafat al-Hikmah al-Muta’āliyyah yang jelas-jelas memunculkan sebuah warna baru diantara aliran filsafat yang ada. Dalam pandangan Mulla Sadrā baik Akal maupun Syuhūd keduanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam filsafat dan meyakini bahwa Isyrāqi tanpa argumentasi rasional tidaklah memiliki nilai apapun, begitupun sebaliknya.
Melakukan suluk ruhani untuk mencapai ma’rifat dan pencerahan batin bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan setiap orang, karena di perlukan seorang guru yang mampu membimbing salik untuk melewati tahap-tahap perjalanan ruhani dan disitu juga terkandung upaya-upaya Setan yang selalu berusaha menjerumuskan para penempuh jalan ruhani tersebut. Tetapi tanpa ma’rifat dan pencerahan batin tidak mungkin seseorang akan dapat mencapai puncak kesempurnaan dirinya. Dengan argumentasi-argumentasi rasional Mulla Sadrā telah memberikan pelita bimbingan bagi para ilmuwan dan intelektual untuk dapat menempuh jalan ruhani dalam upaya ma’rifat dan pencerahan batin. Inilah metoda al-Hikmah al-Muta’āliyyah yang dikembangkan Mulla Sadrā. Karenanya Mulla Sadrā dapat disebut sebagian merupakan filosof Peripatetik, sebagian disebut Filosof Iluminasi bahkan Plotinusnya Islam, karenanya Henry Corbin secara khusus dalam hal ini memberikan komentar :
“Jika Dia dikenal sebagai filosof beraliran Ibn Sinā, harus juga ditambahkan bahwa dia juga Filosof Isyrāqi dan pada saat yang sama merupakan penggambaran dari pemikiran Ibn ‘Arabi. Mulla Sadrā merupakan salah satu yang terpenting dari pemikir Plotinus dari Iran Islami dan juga seorang pemikir Syi’ah…” [4]
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa bagi Mulla Sadrā kebenaran mistis yang diperoleh berdasarkan perjalanan ruhani merupakan kebenaran intelektual itu sendiri dan pengalaman-pengalaman mistis yang diperoleh merupakan pengalaman kognitif yang dihasilkan dari proses berfikir, hanya menurut Sadrā yang dibutuhkan adalah upaya ilmiah yang dapat menjadi bukti logis bagi hal tersebut.
Mulla Sadrā beranggapan bahwa Musyāhadah yang dihasilkan melalui proses Mukāsyafah jika merupakan sebuah kebenaran Ilahi dan Hakiki maka pastilah rasional dan akal akan dapat membuktikannya. Mulla Sadrā menyadari bahwa pada umumnya kaum Sufi dan Gnostik seringkali mengabaikan argumentasi rasional dalam menegakkan ajarannya, semisal Ibn ‘Arabi yang menggunakan metodologi analogi dan imaji dalam penyampaian ajaran-ajarannya. Yang demikian tersebut bagi Mulla Sadrā tidak dapat menjadi hujjah bagi semua orang. [5]
Bahkan pada bagian lain secara tegas Mulla Sadrā menetapkan pola filsafatnya yang berbeda dari pemikiran lainnya sekaligus kritiknya[6] terhadap sebagian Sufi : “Dan dia (al-Hikmah al-Muta’āliyyah ) bukan merupakan perdebatan Teologis, bukan filsafat rasional semata dan juga bukan hasil khayalan-khayalan kaum sufi” [7]
Dalam filsafat Mulla Sadrā kita juga menemukan warna diskursus Teologis, akan tetapi seperti pernyataannya diatas filsafatnya bukanlah Teologi. Mulla Sadrā memang sejak muda telah menguasai Teologi (Ilmu Kalam) secara sangat mendalam baik pada fase pelajarannya di Syirāz, Qazwin ataupun Isfahan dia selalu bersentuhan dengan Teologi sehingga pada usia sangat muda, Mulla Sadrā sudah menguasai Teologi secara matang. Beberapa kitabnya yang ditulis pada fase-fase belajarnya merangkum kritik-kritik tajamnya kepada Mu’tazilah yang menyandarkan sepenuhnya pada akal sehingga cenderung mengabaikan nash-nash Syari’at dan Asy’ari yang cenderung mengabaikan akal dan hanya menganggap bahwa semata kebenaran hanyalah syari’at. Bagi Mulla Sadrā keduanya berada pada dua titik ekstrim yang sama bahayanya.
Diskursus Teologis pada intinya juga berkaitan dengan topik-topik filosofis, karenanya, Mulla Sadrā memberikan analisa kritis dan argumentasi-argumentasi rasional dalam persoalan tersebut namun tidak terjebak menjadikan Filsafat sebagai Teologi. Mulla Sadrā tetap dengan plat form filsafat dalam menanggapi diskursus tersebut, ia menggunakan caranya sendiri yang khas sebagaimana yang juga dilakukan sebelumnya oleh Khwaja Nasiruddin Tusi, sehingga memberikan senjata baru untuk membela ajaran-ajaran Islam. Kalau Khwaja Nasiruddin Tusi merubah Teologi menjadi Filsafat, Mulla Sadrā menjadikan filsafat sebagaimana layaknya Teologi tapi tentu Teologi baru, dalam pengertian bentuk, pola dan cara yang digunakan didasarkan pada aliran filsafat peripatetik dan Iluminasi akan tetapi persoalan yang di bahas justru persoalan Teologi.
Teologi sebagai satu cabang ilmu yang berusaha mempertahankan agama dan keyakinan dari serangan-serangan yang datang dari luar dengan menggunakan nash-nash dan sedikit argumentasi rasional tetapi di tangan Mulla Sadrā meskipun tetap menjadikan nash-nash tersebut sebagai inspirasi utama namun argumentasi-argumentasi rasional-filosofis menjadi penyangga utama keyakinan-keyakinan tersebut, sehingga bagi seorang atheispun sulit untuk dapat membantah keyakinan Teologis tersebut.
Akal dan Wahyu ketika masih berada dalam wacana Asy’arian dan Mu’tazilah menjadi dua hal yang selalu beroposan, pada al-Hikmah al-Muta’āliyyah menjadi sekeping mata uang yang hanya berbeda sisinya. Argumentasi-argumentasi filosofis Mulla Sadrā menjangkau nash-nash tersebut dan memberikannya dalil-dalil rasional. Mulla Sadrā membuktikan bahwa wahyu dan hakikat yang diajarkan para Nabi bukan hanya dapat dibuktikan secara rasional akan tetapi keduanya sama sekali tidak memilki pertentangan sedikitpun. Wahyu dan Akal merupakan sebuah kesatuan dari gambaran kemanunggalan Wujud Tuhan.
Mulla Sadrā memandang akal dalam dua hal penting ; pertama, Seluruh asal dari kebenaran wahyu dan kenabian serta agama berasal dari akal dan merupakan jembatan untuk sampai pada syariat. Kedua, akal manusia meskipun derajatnya lebih rendah dari wahyu dan agama dalam membimbing manusia akan tetapi kejelasannya dan benderangnya tidak kurang dari wahyu. Meskipun demikian tidak sedikitpun terjadi pertentangan antara akal dan wahyu. Akal yang sehat dengan Wahyu yang benar dalam pandangan Mulla Sadrā, keduanya adalah satu warna. [8]
Bagi Mulla Sadrā akal dan wahyu merupakan hal yang satu dan berasal dari tempat yang satu yaitu Ruh Kesucian (Ruh al-Quds) atau Intelek Aktif (Aql Fa’āl) dan bagi Mulla Sadrā tidak terbayangkan diantara kedua hal tersebut terjadi pertentangan. Karenanya Akal berfungsi sebagai penopang rasional bagi penyaksian ruhaniah (Musyāhādah) dan penyaksian ruhaniah merupakan puncak tertinggi dari upaya menyerap pengetahuan.
Berdasarkan prinsip-prinsip yang telah dikemukakan Mulla Sadrā mengambil tiga sumber mendasar dan melakukan harmonisasi diantara ketiga hal tersebut dan menjadikan warna filsafat tersendiri yang jauh lebih sempurna dari pemikiran yang berkembang sebelumnya. Karenanya ada banyak tokoh yang memandang Mulla Sadrā sebagai Filosof Peripatetik, Teosof Iluminasi sekaligus Teolog Islami.
[1] Abu Abdillah Zanjani sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Khamne’i, Muqaddimah., hal. Dua ratus Tujuh puluh Dua. Teks asli sebagai berikut :

ملا صدرا در خاكستر مكتب مرده ابن سينا- كه بر اثر حملات نارواى غزالى وييروان اشعرى مسلكـــ وحنبلى مآب او و همجنين بدنبال حملات ويرانكر علم وانديشه تركان ومغولان بيجان شده بود-روحى تازه دميد وجوانى رابه وى بازكر دانيد. شيفتكان فلسفه به اين فيلسوف بزركـــ وامدارند وحقا يس از ابن سينا تا بامروز معلم بزركـــ و بنيانكذار فلسفه وصاحب مكتب بشمار مىرود".

[2] Mulla Sadra, Syarh al-Ushul.,hal.9 Teks asli sebagai berikut :

"قد اندمـجت فيه العلوم التألهية في الحكمة البحثية وتدرعت فيه الحقائق الكشفية بالبيانات التعليمية".
[3] Fayadi, “Falsafeye Masya’ dar Hikmat Muta’’Aliyeh”, Majeleye Ma’rifat, XII, 3 (Bahman (bulan Iran), 1997), hal. 65
[4] Henry Corbin, sebagaiamana yang dikutip Muhammad Khamne’i, Muqaddimah, hal. Dua ratus tujuh puluh tujuh.
[5] Lihat : Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta’āliyyah fi al-Asfar al-Arba’ah ., J. 9 hal. 234 (Selanjutnya disebut : al-Asfar)

[6] Meskipun Mulla Sadra kerap melakukan kritik yang tajam pada kaum sufi, tetapi sufi yang dimaksud adalah sufi-sufi yang hanya menunjukkan bentuk-bentuk ritual (Pseudo-Sufistik), karena dalam memandang Ibn Arabi, Mulla Sadra begitu kagum dan sama sek’Ali tidak didapati kritik langsung kepada Ibn Arabi, bahkan berdasarkan beberapa penggalan-penggalan pernyataannya di dalam kitab Asfar ditemukan bahwa Mulla Sadra meyakini konsep Wahdat al-Wujūd Ibn Arabi. Untuk lebih jelas lihat al-Asfār J. 2,3 dan 7.
[7] Mulla Sadra, al-Masya’ir, (Tehran : Amir Kabir). 1376, hal.3 Teks asli sebagai berikut :

"وهي ليست من المجادلات الكلامية ولا من الفلسفة البحثية المذمومة ولا من التخيلات الصوفية"

[8] Lihat : Mulla Sadra, Muqaddimah., hal. Dua ratus Delapan puluh Satu.

Nama bulan Islam


Berikut adalah nama bulan Islam dan asal-usulnya (yang kebanyakannya muncul sebelum Islam lagi). Kebanyakan nama tersebut timbul sempena cuaca ketika suatu peristiwa besar berlaku ataupun sempena peristiwa besar tersebut. Walau bagaimanapun, oleh kerana semuanya adalah nama bulan dan bulan berubah 11 hari lebih awal setiap tahun, maka, musim atau peristiwa asal tidak begitu mempengaruhi nama sesetengahnya kini.

  1. Muharam al-Haram (dipendekkan kepada Muharram – محرّم)
    • Bulan ini mengambil perkataan "Haram" yang bermaksud terlarang. Ini disebabkan budaya atau tradisi Arab mengharamkan sebarang peperangan pada bulan ini. Selepas munculnya Islam, Allah meneruskan budaya ini lantas menjadi satu antara empat bulan haram dalam Islam.
  2. Safar (ﺻﻔﺮ)
    • Perkataan in bermaksud tiupan angin. Ketika nama tersebut mula diguna pakai, kemungkinan yang ketika itu adalah waktu yang berangin. Safar juga menunjukkan yang masyarakat Arab (badwi) meninggalkan rumah mereka.
  3. Rabiulawal (ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ)
    • Bulan pertama musim bunga iaitu masa ketika bulan tersebut dinamakan.
  4. Rabiulakhir (ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﺧﻴﺮ/'ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ)
    • Bulan kedua musim bunga.
  5. Jamadilawal (ﺟﻤاﺪ ﺍﻷﻭﻝ)
    • Bulan pertama musim panas. "Jumada" bermaksud kering.
  6. Jamadilakhir (ﺟﻤاﺪ ﺍﻷﺧﻴﺭ/ﺟﻤاﺪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ)
    • Bulan kedua musim panas. Jamada, juga bulan yang lain juga lebih sejuk, yang membawa maksud telaga menyejuk adalah suatu yang biasa ketika itu.
  7. Rejab (ﺭﺟﺐ)
    • Satu lagi bulan suci yang mengharamkan perlawanan atau peperangan dan salah satu bulan yang dihormati. Ia juga dikenali sebagai Rajab al Fard. Fard bermaksud keseorangan; kerana tiga bulan suci yang lain berada jauh dan berturutan berbanding Rejab di tengah-tengah.
  8. Syaaban (ﺷﻌﺒاﻦ)
    • Bulan ini terbit dari perkataan "syu'ba", bermaksud berpecah/menyimpang. Masyarakat Arab dahulu sering keluar dan berpecah untuk mencari air.
  9. Ramadan (ﺭﻣﻀاﻦ)
    • Diambil daripada perkataan "ramda", yang bermaksud batu panas. Ini menceritakan ketika nama tersebut diberikan, keadaan amat panas ketika itu.
  10. Syawal (ﺷﻮﺍﻝ)
    • Diambil daripada perkataan yang membawa maksud, apabila unta betina bunting. Ketika nama bulan ini diberikan, lazimnya unta betina bunting pada ketika itu.
  11. Zulkaedah (ﺫﻭ ﺍﻟﻘﻌﺪة)
    • Diambil daripada perkataan "qa'ada" bermaksud untuk duduk. Inilah bulan suci ketiga yang mengharamkan sebarang pertempuran. Kebanyakan orang juga mula menghentikan aktiviti perniagaan mereka untuk duduk dan bersedia untuk menunaikan Haji.
  12. Zulhijah (ﺫﻭ ﺍﻟﺤﺠة)
    • Ini adalah bulan suci terakhir dalam setahun dan dilarang melakukan sebarang pertempuran kerana pada bulan ini, haji dilaksanakan. Perkataan tersebut juga mengambil perkataan "haji" sebagai rujukan nama bagi bulan haji ini.

Selasa, 07 Juli 2009

Hadith Hadith Pendeskreditan Rasulillah Saww


Berikut adalah beberapa Bagian Hadits yang mendeskreditkan Baginda Suci Saww yang dimuat oleh Kitab Bukhari

Rasulullah Cemas Akan Turunnya Wahyu

Shahih Bukhari Hadits No. 3

Dari ‘Aisyah, katanya: “Wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah SAW, ialah berupa mimpi-baik waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Hingga pada suatu ketika datang kepada beliau Al Haq (kebenaran atau wahyu), sewaktu beliau masih di Gua Hira. Malaikat Jibril datang kepadanya dan memeluk beliau sambil berkata, “Bacalah!” Sampai beliau dapat “membaca”, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal akram.

Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah, lalu beliau berkata,”Selimuti aku! Selimuti aku!” Lantas diselimuti oleh Khadijah hingga hilang rasa takutnya. Kata Nabi SAW kepada Khadijah (setelah dikabarkannya semua kejadian yang baru dialaminya itu), ”Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa).”

Kata Khadijah, “Jangan takut, Demi Allah, Tuhan sekali-kali tidak akan membinasakan Anda. Anda selalu menghubungkan tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.”

Setelah itu Khadijah (bersama Nabi SAWW) pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliyah itu. Usianya sudah lanjut dan matanya buta. Lalu Rasulullah menceritakan semua peristiwa yang dialaminya kepada Waraqah.

Berkata Waraqah, “Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Semoga saya masih hidup ketika itu, yaitu ketika Anda diusir oleh kaum Anda.” Maka bertanya Rasulullah, “Apakah mereka akan mengusirku?” Jawab Waraqah, “Ya, betul! Belum pernah seorang jua pun yang diberi wahyu seperti Anda yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari itu, niscaya saya akan menolong Anda sekuat-kuatnya.” Tidak berapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus sementara waktu.

Kajian:

Hadits ini jika diamati sekilas tidak mengandung keraguan. Tetapi marilah kita pahami baik-baik bahwa pada saat turunnya wahyu pertama kali tersebut,Nabi Muhammad Saww telah diangkat menjadi Rasul sehingga dapat kita ambil beberapa hal:

• Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dalam riwayat ini. Ia seakan-akan melihat dan mendengar sendiri. Ia melihat nabi pergi ke gua, pulang kepada Khadijah, mendengar percakapan khadijah dan Waraqah bin naufal. Kita boleh saja mengatakan bahwa Aisyah mendengarnya dari Rasulullah Saww; tetapi dalam ilmu Hadist, ia harus mengatakan : Aku mendengar Rasulullah Saww bersabda… dan seterusnya. Dengan begitu, kita harus menolak hadist ini sebagaimana kita menolak hadis yang mencerikan bahwa Abu hurairah berjumpa dengan Ruqayyah, istri Utsman, padahal Ruqayyah meninggal dunia ketika Abu Hurairah masih kafir dan tinggal di negeri Daws.

• Dalam peristiwa ini digambarkan kedatangan wahyu yang sangat berat. Malaikat jibril memuluk Nabi dengan keras, sampai kepayahan dan ketakutan. Nabi Saww dipaksa untuk membaca, padahal ia tidak bisa membaca. Tidak pernah wahyu datang dengan cara yang “menggerikan” seperti ketika ia datang kepada Nabi Saww. Padahal ia adalah kekasih Rabbil Alamin; yang tanpa dia tidak akan diciptakan seluruh alam semesta. Dampaknya kepada Nabi Saw juga sangat menyedihkan. Ia pulang ke rumah dengan diliputi ketakutan, kebingungan, dan kesedihan.

Bukankah ini sangat bertentangan dengan ayat Al-Quran yang disebutkan (QS.An-nisa:125) bahwa bila orang yang mendapat petunjuk, ia akan mengalami kelapangan dada, kelegaan hati, ketentraman jiwa. Jadi karena data rasulullah Saw, setelah menerima wahyu, sempit dan sesak, maka ia sedang dikehendaki untuk disesatkan, dan bukan diberi petunjuk.

• Rasulullah saw tidak paham dengan pengalaman ruhani yang ia alami, karena itu kemudian ia dibawa menemui Waraqah bin Naufal dan ternyata seorang nasrani yang lebih tahu tentang kenabiannya, ketimbang rasulullah sendiri. Waraqahlah yang meyakinkan Nabi bahwa ia itu utusan Allah, bahwa yang dating itu malaikat Jibril. Ia sendiri tidak yakin bahwa dirinya adalah Rasulullah. Kita tidak paham bagaimanan nabi yang mulia tidak menyadari kenabiannya, sedangkan orang lain – seperti Adas dan Waraqah- mengetahuinya. Bukankah Bahira pernah mengingatkan Abu thalib bahwa Muhammad itu adalah nabi Akhir zaman?, bukankah menurut banyak hadist, sebelum diangkat manjadi Nabi, kepadanya pepohonan dan bebatuan mengucapkan salam?

• Dilukiskan pula bahwa Ibunda Khadijah menasihati Rasulullah bahwa Allah tidak akan membinasakan Rasulullah. Hal ini menunjukkan seolah-olah Rasulullah kurang ilmu akan perjalanan spiritualnya ini sehingga beliau minta nasihat kepada Ibunda Khadijah.



Rujukan dari beberapa ayat Al-Qur’an:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Ahzab: 40).

Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah jadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al An’aam: 125).



“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang dikendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak laggi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS.An-Nisa:125)

Dari kedua ayat ini, jelaslah bahwa dada Rasulullah sangat lapang dalam menerima wahyu, apalagi beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ditimpa kecemasan dan ketakutan. Dan beliau juga sangat mengetahui pengalaman spiritualnya ini karena beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ada orang lain yang lebih mengetahui dari beliau.

Kerusuhan Xinjiang Berlanjut, Korban Tewas Terus Bertambah

Selasa, 07 July 2009 Sample ImageAksi kekerasan dan kerusuhan etnis di provinsi muslim Xinjiang, China barat laut masih terus berlanjut. Sebagaimana dilansir Kantor Berita Xinhua, kerusuhan antara polisi dan warga di Xinjiang hingga kini telah menewaskan 156 orang dan melukai sedikitnya 830 lainnya. Menyusul aksi itu, polisi telah menahan 1.453 orang di kota Urumqi, sebelah barat laut China. Mayoritas yang ditahan adalah laki-laki meski terdapat sejumlah perempuan. Lebih dari 20.000 polisi khusus dan bersenjata, dan pemadam kebakaran dikerahkan untuk menumpas kekerasan di Urumqi. Meski pengamanan diperketat, kerusuhan tampaknya meluas di wilayah bergolak itu.

Hampir setengah dari 20 juta penduduk provinsi Xinjiang adalah Uighur Muslim, namun mereka sudah lama mengeluhkan etnis Han China karena lebih sering diuntungkan oleh investasi dan subsidi pemerintah pusat, sementara sebagian besar rakyat beragama Islam yang lebih memiliki kesamaan bahasa dan budaya dengan Asia Tengah, merasa terpinggirkan.

Disamping Tibet, Xinjiang adalah salah satu dari wilayah China yang secara politik sangat sensitif dan di kedua wilayah itu pemerintah berupaya mengetatkan cengkeramannya dengan mengendalikan kehidupan beragama dan kebudayaan sambil menjanjikan pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi.