Senin, 25 Mei 2009

Mengimani Kenabian

Karena lawan dhalim itu adalah adil, semantara definisi adil menurut Imam Ali as adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, maka deduksinya adalah yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya adalah dhalim. Mereka yang melakukan homoseksual dan lesbian pada hakekatnya tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya, mereka menempatkan syahwat mereka ditempat yang tidak selayaknya, maka mereka itu adalah pelaku kedhaliman yang nyata.

Mengimani Kenabian

Narasumber: Ali Bafagih

Moderator: Mukhlisin Turkan

Transkip: Ali Redho Al-Hamid

Untuk mempelajari Islam maka kunci utama yang harus di pelajari adalah prinsip-prinsip dasar dalam Islam. Kalau kita melihat dari dalih yang diungkapkan oleh Islam Liberal, maka akan kita dapati kerapuhan dalam memahami pondasi agama. Ungkapan bahwa Nabi Luth as kecewa terhadap kaumya adalah ungkapan yang keluar dari seseorang yang rapuh dan gagal dalam memahami konsep kenabian, sementara kenabian adalah pondasi dalam Islam. Begitulah muqaddimah Ali Bafagih dalam membahas Kenabian Adalah Prinsip Agama.

Dari sini Ali Bafagih memulai diskusinya dengan mendefinikan nabi. Dikatakan nabi adalah seseorang yang diutus oleh Allah swt untuk memberi petunjuk kepada manusia dan makhluk Allah swt agar mereka mampu mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan. Atas dasar definisi datas maka seorang nabi harus mendapatkan kesempurnaa dan makrifah ilahiah tanpa perantara terlebih dahulu.

Dengan berpijak pada definisi diatas Ali Bafaqih mengutarakan 7 unsur penting yang ada pada seorang nabi.

Ketujuh unsur tersebut adalah:

1. Nabi haruslah dari jenis manusia dan bukan dari makhluk Tuhan lainnya, karena manusia adalah ciptaan Allah swt yang paling sempurna dari segala demensi.

2. Nabi adalah seseorang yang diutus oleh Allah swt. Jika tanpa pengutusan ilahiah ini maka, seseorang tidak bisa dikatakan sebagai nabi.

3. Nabi sebagai petunjuk untuk manusia dan makhluk lainya, kaerna misi diutusnya seorang nabi adalah untuk memberi petunjuk kepada manusia dan makhluk lainnya. Disinilah letak kehakiman Allah swt, Allah swt tidak melakukan suatu pekerjaan tanpa hikmah atau kabaikan dibaliknya, sementara salah satu hikmah dari pengutusan seorang nabi adalah memberi hidayah kepada makhluk.

4. Keharusan makrifah ilahiah yang harus ada pada nabi.

5. Makrifah ilahiah haruslah datang dari Allah swt bukan dari orang lain, dari sini bisa dikatakan bahwa apa yang ada pada nabi berasal dari Allah swt.

6. Seorang nabi mempunyai tanggungjawab untuk menyampaikan kepada makhluk apa yang dia dapatkan dari Allah swt agar mereka bisa sampai pada kesempurnaan dan kebahagiaan.

7. Tanpa perantara. Yakni seorang nabi untuk mendapatkan atau menyampaikan hidayahnya tanpa melalui perantara dari siapapun. Nabi mendapatkannya lansung dari Allah swt, jadi tanpa belajar dari orang lain.

Setelah mendefinisikan nabi dan unsur-unsur yang harus ada pada nabi, Ali Bafaqih berusaha membahas secara global filsafat tujuan dari seorang nabi.

1. Nabi diutus sebagai petunjuk yang sah bagi manusia.

2. Untuk memberikan pengajaran kepada manusia.

3. Untuk membenahi segala kekurangan-kekurangan.

4. Penyempurna agama.

5. Menjadi hakim diantara makhluk dan manusia.

6. Mendirikan pemerintahan,

7. Memberikan peringatan, atau pemberi kabar buruk kepada pelaku kesalahan, tentang dosa dan balasan yang akan didapat .

8. Pemberi kabar baik tentang adanya pahala disisi Allah swt

9. Memberangus segala jenis kedhaliman dan kefasadan.

Berkaitan dengan kasus Musdah Mulia atas legalitas homoseksual maka Ali Bafaqih menyimpulkan dari poin-poin diatas bahwa, homoseksual adalah salah bentuk dari kefasadan sekaligus kedhaliman. Kenapa demikian..? karena dampak negatif yang luar biasa yang dihasilkan dari perbuatan asusila itu. Dan yang paling mengerikan adalah dampak psikologi dari pelaku sekaligus masyarakat setempat. Ada banyak dampak negatif ketimbang positifnya yang dihasilkan dari penyimpangan seksual ini.

Homoseksual dan lesbian adalah bentuk dari kedholiman kepada diri sendiri, minimal psikologis pelakunya. Kasus Rian adalah bentuk dari pendholiman atas diri sendiri dan sekaligus mendholimi lingkungan. Dan inilah yang diinginkan oleh Musdah Mulia. Musdah Mulia menginginkan generasi Indonesia adalah generasi yang seperti Rian. Generasi pembunuhkarakter pribadinya sekaligus membasmi karakter masyarakatnya. Inilah tujuan asli dari legalitas homoseksual dari Musdah Mulia. Tandas Ali Bafaqih berapi-api.

Lebih lanjut Ali Bafaqih mengutarakan bahwa tujuan diutusnya Nabi Luth as adalah untuk menghidayahi kaumnya sekaligus melawan kedhaliman dan kefasadan. Dan kebencian Nabi Luth as adalah kebencian Allah swt juga. Mengingat definisi dan unsur penting yang ada dalam kenabian.

10. Tujuan yang ke sepuluh adalah mengarahkan manusia kepada tauhid. Seluruh nabi yang diutus oleh Allah swt dari Nabi Adam as sampai Nabi terakhir kita Muhammad saw adalah emmpunyai misi yang sama yaitu menyeru kepada Tauhid.

Dalam akhir diskusinya Ali Bafaqih menyingung tentang Ismah [Kemaksuman]. [Pembahasan Ismah telah dibahas oleh Ammar Fauzi Heryadi, insyaAllah segera kita postingkan ke situs ini].

Pada sesi tanya jawab, Mukhlisin Turkan sekaligus moderator diskusi mengawali pertanyaan masalah dholim. Satu perbuatan itu bisa dikatakan dholim adalah ketika mempunyai dampak negatif bagi pelaku sekaligus orang sekitarnya, padahal Musdah Mulia ketika menghalalkan perbuatan asusila tersebut berdasarkan atas suka sama suka, dan tidak ada pihak yang dirugikan, bagaimana mungkin ini bisa dikategorikan sebagai perbuatan dhalim. Begitu juga di Eropa dan Amerika pelaku asusila ini dialokasikan ketempat sendiri sehingga masyarakat umum tidak akan bisa masuk ke sana apalagi menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.

Menjawab pertanyaan ini Ali Bafaqih mengatakan bahwa dengan dialokasikannya mereka itu menunjukkan adanya dampak yang negatif terhadap masyarakat. Kalau tidak ada dampak negatifnya kenapa mereka mesti dialokasikan..? meskipun dalih mereka atas dasar suka sama suka. Kalau boleh saya bertanya sama Musdah Mulia, apakah rela anaknya melakukan perbuatan homoseksual atau lesbian dan apa reaksi dia secara psikologis terhadap lingkungan sekitarnya..?. Kalau Musdah Mulia menjawab it,s no problem, maka dia telah mendholimi hati nuraninya. Maka dengan segera dia harus menanggalkan ke-NU-anya dan ke-Fatayat-annya. Tegas Ali Bafaqih

Mukhtar Lutfi juga menimpali bahwa, keliberallan seseorang yang mengusung jargon liberalisme hanya dibatasi satu hal, yaitu pokoknya tidak menganggu seseorang, atau dibatasi satu hal yaitu tidak menganggu orang lain. Kalau mereka mendefinisikan dhalim dari kaca mata liberal adalah menyakiti atau menganggu orang lain, maka definisi dhalim harus di perjelas. Karena lawan dhalim itu adalah adil, semantara definisi adil menurut Imam Ali as adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, maka deduksinya adalah yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya adalah dhalim, mereka yang melakukan homoseksual dan lesbian pada hakekatnya tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya, mereka menempatkan syahwat mereka ditempat yang tidak selayaknya, maka mereka itu adalah pelaku kedhaliman yang nyata. Tandasnya

Saiful Yusuf yang pendiam mencoba mengambarkan kondisi pelaku homoseksual dan lebian. Menurut Saiful, Musdah Mulia itu jatuh kedalam kepintarannya, karena dia tidak sadar bahwa dia itu terlahir bukan dari hasil hubungan lesbi apa lagi homo. Lalu Saiful Yusuf yang kita kenal dengan sebutan Mang Ucup itu mencoba mengambarkan kondisi pelaku asusila tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya, dikatakannya: “Menurut perbincangan saya dengan seorang teman saya yang seorang homo, dia bilang kalau mereka orang-orang yang homo atau lesbi itu setelah mereka melakukan hubungan pasti akan terjadi pertengkaran, karena salah satu dari mereka harus ada yang memerankan laki-laki dan perempuan. Nah, pada saat itu timbul rasa tidak puas ketika seseorang yang seharusnya menjadi laki-laki, eh.. dia maunya menjadi perempuan. Maka dari sini akan timbul ketidakpuasan, dan ketidakpuasan itu akan menjadi penyebab pembunuhan.”. Mang Ucup juga berkata kalau orang yang melakukan homo dan lesbi tingkat kecemburuannya sangat tinggi sampai-sampai mereka rela untuk mempertahankan pasangannya dalam pelukan dengan membunuh saingannya. Seperti yang terjadi pada kasus Rian.

Mang ucup terus memperjelas, kalau emang yang pengen dicari laki-laki atau perempuan kenapa sih… harus melakukan hal tersebut orang fitrahnya mereka sendiri mencari laki-laki atau perempuan kok, kenapa harus menjadi laki-laki atau perempuan sedangkan sudah ada laki-laki atau perempuan yang asli bukan laki-laki yang dijadikan perempuan atau sebaliknya. Jadi kesimpulanya menurut Mang Ucup, mereka yang melakukan homoseksual ataupun lesbian tetap mempunyai fitrah ingin adanya seorang laki-laki, dan perempuan. Oleh karena itu sebisa mungkin adalah mengarahkan mereka kepada kebaikan bukannya melegalkan perbuatan tersesat tersebut seperti Musdah Mulia, tegas Mang Ucup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar