Minggu, 04 Januari 2009

Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad as

mam Muhammad al-Jawad a.s. dibesarkan oleh ayahnya yang suci yaitu Imam Ali ar-Ridha a.s. selama 4 tahun. Kondisi kehidupan yang tidak kondusif memaksa Imam al-Ridha a.s. untuk pindah dari Madinah ke Khurasan, Iran, dan meninggalkan anak bungsunya. Imam a.s. sangatlah mengetahui tentang rencana jahat yang akan dilakukan oleh raja yang berkuasa, dan Imam a.s. tahu beliau tidak akan kembali ke Madinah untuk selama-lamanya. Jadi sebelum keberangkatannya dia mengangkat anaknya Imam al-Jawad a.s. sebagai penggantinya.

Imam Ali ar-Ridha a.s. diracun pada tanggal 17 Safar 203H dan bersamaan dengan itu Allah mengangkat Imam al-Jawad a.s. bertanggung jawab pada posisi Imamah. Pada umur yang masih sangat muda, 8 tahun, tidaklah terlihat bahwa Imam yang masih muda tersebut memiliki ketinggian ilmu dan pengetahuan. Tetapi setelah beberapa hari berlalu beliau a.s. tidak hanya sering menang berdebat dengan ulama-ulama tentang fiqh, hadis, tafsir, dsb, tetapi juga meraih respect dan penghargaan mereka dalam kemampuannya. Sejak saat itulah dunia menyadari bahwa Imam a.s. memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas dan ilmu tersebut bukanlah dipelajari dan didapat, tetapi merupakan pemberian dari Allah SWT.

Umur dari Imam Muhammad al-Jawad a.s. lebih pendek dari umur ayah-ayahnya, maupun putra-putranya. Beliau diangkat menjadi Imam pada umur 8 tahun, dan kemudian diracun pada umur 25; tetapi karya-karyanya sangatlah banyak dan ketinggian beliau diakui oleh banyak orang. Imam a.s. mewakili sifat ramah dan santun Rasulullah SAAW dan kelihaian dari Imam Ali a.s. Warisan kehidupannya antara lain kejujuran, keramahan, kesantunan, ketegasan, pemaaf dan toleransi. Diri beliau yang sangat bersinar adalah karakternya yang selalu menunjukkan keramahan kepada siapapun tanpa kecuali, membantu yang membutuhkan; menjaga keadilan dalam situasi apapun, hidup sederhana, menolong yatim piatu, fakir miskin dan tunawisma; mengajarkan kepada yang tertarik untuk belajar dan membimbing rakyat ke jalan yang benar.

Al-Ma'mun, raja Abbasiyah, menyadari bahwa untuk kelangsungan kerajaannya dia harus memenangkan simpati rakyat Iran yang selalu bersahabat terhadap Ahlul-Bayt Rasulullah SAAW. Akibatnya al-Ma'mun terpaksa, dari segi politik, untuk berhubungan dengan anggota dari Bani Fatimah dengan mengorbankan ikatan keluarganya dengan Bani Abbas untuk meraih simpati kaum Shiah. Dia mengumumkan bahwa Imam Ali ar-Ridha a.s. sebagai pewarisnya, walaupun tanpa persetujuan Imam a.s., dan mengawinkan saudaranya Ummu Habihah. Al-Ma'mun berharap bahwa Imam ar-Ridha a.s. akan memberikan bantuan dalam urusan-urusan politik. Tetapi ketika dia menyadari bahwa Imam a.s. tidak terlalu tertarik pada urusan politik dan rakyat kebanyakan semakin dekat kepada Imam a.s. karena ketinggiannya, dia meracuni Imam a.s. Kemudian dia berniat untuk mengawinkan puterinya Ummu'l Fadl dengan Imam al-Jawad a.s. dan memanggil Imam dari Madinah ke Iraq. Bani Abbas sangat marah ketika tahu bahwa al-Ma'mun berencana untuk mengawinkan anaknya dengan Imam al-Jawad a.s. Mereka berusaha untuk memaksa al-Ma'mun agar mengurungkan niatnya. Tetapi al-Ma'mun tetap terpana pada ilmu dan ketinggian dari Imam a.s. Dia kerap berkata bahwa walaupun Imam al-Jawad a.s. masih sangatlah muda, tapi beliau mewarisi segala sifat-sifat ayahnya dan seluruh ulama-ulama Islam di dunia tidak ada yang menyaingi beliau a.s. Ketika Bani Abbas menyadari bahwa al-Ma'mun semakin dekat kepada Imam a.s. mereka menyuruh Yahya bin Aktham, ulama paling utama di Baghdad, untuk berdebat dengan Imam a.s. Al-Ma'mun mempersiapkan acara ini dan mengumumkannya secara besar-besaran. Selain untuk kalangan kerajaan dan pejabat, telah disediakan sekitar 900 kursi untuk para ulama. Dunia terpana ketika seorang anak kecil dihadapkan untuk berdebat dengan para ulama-ulama veteran di Iraq. Imam al-Jawad a.s. duduk di sebelah al-Ma'mun hadap-berhadapan dengan Yahya bin Aktham, yang kemudian bertanya,"Apakah kau izinkan aku untuk bertanya?" "Tanyalah apa saja yang engkau mau," jawam Imam a.s. Kemudian sesi ini dilanjutkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Imam a.s. yang dijawab dengan sangat baik oleh Imam a.s. Ketika pada akhirnya Imam a.s. bertanya balik kepada Yahya bin Aktham, dia tidak bisa menjawab. Kemudian al-Ma'mun berkata,"Tidakkah aku sudah mengatakan bahwa Imam datang dari keluarga yang telah dipilih oleh Allah sebagai tempat penyimpanan ilmu pengetahuan? Apakah ada satu orang pun di dunia ini yang bahkan mampu untuk menyaingi seorang anak kecil dari keluarga ini?" Lalu semuanya menyahut,"Tidak diragukan lagi bahwa tidak ada yang menyamai Muhammad bin Ali al-Jawad." Dan kemudian al-Ma'mun menikahkan anaknya Ummu'l Fadl dengan Imam a.s. Satu tahun setelah pernikahannya Imam a.s. memutuskan untuk kembali ke Madinah dengan istri beliau.

Sepeninggal al-Ma'mun, al-Mu'tasim menaikit tahta, dia menggunakan kesempatan ini untuk menjelek-jelekkan Imam a.s., menyakitinya dan menyebarkan berita bohong terhadapnya. Dia memanggil Imam a.s. ke Baghdad. Setibanya Imam a.s. di Baghdad pada tanggal 9 Muharram 220H al-Mu'tasim meracuni diri beliau. Imam a.s. meninggal pada tanggal 28 Zulqaidah 220H dan dikuburkan disisi kakek beliau, Imam Musa al-Kazhim a.s., Imam ketujuh dalam Shiah Imamiyah di pinggiran kota Baghdad.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar