Jumat, 09 Januari 2009

Tafsir Atas Julukan "Abu Abdillah" Imam Husain As

Tafsir Atas Julukan “Abu Abdillah” Imam Husain As Cetak E-mail


Penghulu para syahid (sayyid asy-syuhada), “Orang yang ditangisi sebelum terbunuh” (qatil al-abra'a), Imam Husain as mempunyai kuniyah (julukan) yang menarik, Abu Abdillah. Julukan ini artinya, “Ayah Abdullah.” Bangsa Arab mempunyai kebiasaan menyapa satu sama lain dalam berbagai cara. Cara pertama adalah memanggil orang dengan namanya, cara kedua dengan merujuk gelarnya, dan cara ketiga menyapa orang dengan julukannya. Misalnya, nama imam pertama kita adalah Imam Ali as, laqab (gelar)nya “Asadullah,” “Haidar,” sementara julukannya (yang dinisbatkan kepada ayah, ibu atau anak) adalah Abul Hasan, atau Abul Hasanain.
Demikian halnya, julukan Imam Husain as adalah Abu Abdillah, namun gelarnya banyak, misalnya, asy-syahid as-sa’id, as-sibth ats-tsani (cucu kedua), imamuts tsalits (imam ketiga), ar-rasyid (orang yang lurus), al-wali as-sayyid (pemimpin Sayid), “orang yang mengikuti kehendak Allah dan bukti-Nya.” Pastinya, Anda pernah membaca frase ini beberapa kali dalam Ziarah Asyura, “Assalamu ‘alayka ya Aba Abdillah (Salam atasmu wahai Abu Abdillah).” Sejenak, mari kita coba tingkatkan pemahaman dan pengetahuan kita atas julukan Imam Husain as ini melalui artikel di bawah ini.

Asal-Muasal Kuniyah
Julukan tersebut diturunkan dari kata “kunyah” yang artinya “menyebut sesuatu dengan suatu sikap tertentu.” Karena alasan inilah, dalam tatabahasa Arab, kata-kata tersebut digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disebut kinayah. Penduduk Basrah biasa menyebut pronoun sebagai kinayah. Ketika seseorang tidak ingin menggunakan nama dari orang yang tengah ia ajak bicara, maka ia gunakan suatu julukan ketika berbicara dengannya. Itu artinya, ia menyinggung orang itu melalui ayahnya, ibunya, atau anaknya dan menggunakan kata-kata seperti “Abu,” “Ummi,” atau “Ibnu,” seperti Abu Thalib (ayah Thalib), Ibnu Abbas (putra Abbas), atau Ummu Daud (ibunya Daud). Kata-kata tersebut disebut “kuniyah.” Pada umumnya, ini disebabkan nama-nama ayah atau leluhur terkait dengan nama seseorang. Gelar seperti “Sayid,” “Syekh,” “Khan,” “Mirza” dan lain-lain yang umumnya digunakan di kalangan non-Arab tidak menyebar di kalangan bangsa Arab. Karena itu, suatu kuniyah digunakan secara sangat luas di kalangan mereka. Pada dasarnya, penggunaannya adalah standar akhlak dan adab yang baik.
Seorang penyair berkata:
Ketika aku memanggilnya, aku menyapanya dengan julukannya sehingga aku bisa menghormatinya
Dan ketika aku tidak memanggilnya dengan gelarnya karena itu dipandang tidak hormat
Aku terus menggunakan cara ini sampai ia tidak menjadi watak kedua bagiku
Sesungguhnya aku t’lah menemukan cara ini sebagai adab yang patut.
Dari sini, ketika seorang anak dilahirkan dan dinamai, kuniyah ayahnya juga ikut ditetapkan. Sebenarnya, pada banyak kesempatan, kuniyah seseorang diputuskan jauh-jauh sebelum anak itu lahir. Acapkali, kuniyah seseorang akan menjadi lebih kondang ketimbang nama sebenarnya. Banyak kuniyah dari seseorang yang dipilih berdasarkan karakteristik istimewa yang terdapat padanya. Misalnya, umum diketahui bahwa Nabi saw memiliki kuniyah Abul Qasim. Ini disebabkan bahwa telah dikatakan tentangnya, “Beliau disebut sebagai Abul Qasim karena pada hari Kiamat ia akan membagi-bagikan (qasama) surga.”

Kuniyah Imam Husain Sejak Kecil
Banyak hadis mengisyaratkan bahwa kuniyah Abu Abdillah-nya Imam Husain as disandarkan kepadanya sejak masih kanak-kanak. Asma binti Umais meriwayatkan bahwa ketika Imam Husain as dilahirkan, Nabi saw mengambilnya dari pangkuannya dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah! Engkau begitu berharga bagiku.”
Usai berkata demikian, beliau mulai menangis. Asma meriwayatkan, “Aku berkata: ‘Wahai Nabi, mengapa Anda menangis seperti ini pada hari penuh harapan?’ Nabi saw menjawab, ‘Aku menangis karena putraku ini, yang akan dibunuh oleh sekelompok pemberontak dari Bani Umayah.’” (Biharul Anwar, juz.43, Bab 11; Uyunul Akhbar ar-Ridha; Manaqib Ibnu Syahr Asyub)
Poin yang mesti dicatat di sini adalah bahwa Nabi saw tak pernah melontarkan suatu kata atau melakukan suatu perbuatan tanpa landasan wahyu dan sanksi Tuhan. Sesungguhnya, ada sejumlah rahasia Ilahi yang disembunyikan dalam kuniyah khusus ini dan itu bisa jadi bahwa Imam Husain as telah disifati kuniyah ini (Abu Abdillah) karena alasan yang sama bahwa kakek beliau sang Nabi saw telah disifati dengan kuniyah Abul Qasim. Dengan kata lain, adalah mungkin bahwa Imam Husain as telah dinilai dengan kuniyah ini karena amal ibadahnya yang istimewa.

Makna Abu Abdillah pada Pribadi Imam Husain as
Penting untuk dicatat bahwa sebelum Imam Husain as tak seorang pun di kalangan para nabi atau para pengganti (washi) mereka yang memberikan teladan ibadah secemerlang yang ditunjukkan oleh Sayidusy Syuhada (penghulu para syuhada Imam Husain as) sendiri. Kepasrahan totalnya (di hadapan ketentuan Allah), ibadahnya, kesabarannya di bawah panji tauhid dan kebaktiannya kepada Allah, adalah amal-amal yang tak bisa dibandingkan dengan tokoh suci mana pun. Seluruh nabi terdahulu berikut para washi mereka telah menyebutkan, “Jika aku mencoba melangkah meski satu langkah menuju kedudukan ini, niscaya aku terluka (akan celaka).”
Ibadah dan kebaktian Imam Husain as secara khusus terbukti pada hari Asyura, yakni himpunan amal ibadah baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Setiap amal perbuatan Imam Husain as, baik itu berupa salat, puasa, zakat, atau pun haji, amar makruf-nahi mungkar, masing-masing amal tersebut merupakan suatu teladan dan pelajaran bagi orang yang berakal. Secara khusus, gerakan jihad dan amar makruf-nahi mungkar Imam as. Ini merupakan pelajaran bagi dunia bahwa jika kejahatan dan amoralitas ada di dunia, maka itu tidak hanya disebabkan orang-orang kotor yang melakukan perbuatan-perbuatan tak senonoh tersebut, namun juga disebabkan orang-orang baik yang tetap berpangku tangan di hadapan ketaksenonohan-ketaksenonohan tersebut dan tidak berusaha bangkit membalas (perbuatan) para penindas. Maka itu, Imam Husain as merupakan simbol kebaikan-kebaikan moral, keberanian, kesabaran, kasih-sayang, rasa malu, nasihat, kebangkitan, keyakinan, kanaah, keberanian, kesantunan yang para malaikat notabene suci dan merupakan makhluk Allah yang dimuliakan, tercengang dan kagum akan amal kebaktian Imam as ini. Tidaklah salah ungkapan dalam slogan yang berbunyi, “Tidak ada hari yang serupa dengan harimu (Asyura), wahai Aba Abdillah!” menunjuk pada seluruh kebajikan dan keutamaan ini.
Tipe-tipe kuniyah dan gelar tersebut sangat lumrah di kalangan bangsa Arab era awal. Misalnya, jika keberanian dan kegagahan dari sejumlah orang tertentu didiskusikan, maka akan dikatakan, “Aku melihat seekor singa di antara mereka.”
Atau jika kemurahhatian seseorang disebutkan, maka dikatakan, “Si fulan ayah dari kemurahhatian.”
Alasan kedua atas kuniyah Sayidusy Syuhada sebagai “Abu Abdillah” adalah bahwa seandainya ia tidak berjuang dan berusaha keras di Karbala, maka tentunya Syariat Islam akan terhapus oleh kebrutalan dan kezaliman dari Bani Umayah dan orang-orang (Islam) niscaya akan kembali ke (pangkuan) kebiasaan-kebiasaan politeisme dan kejahilan pra-Islam. Para raja tiranik dan opresif dan kegairahan pada dunia niscaya menguasai semua orang. Tak seorang Muslim pun mengambil keuntungan dari petunjuk Nabi saw dan al-Quran. Niscaya tak seorang pun untuk memerangi penindasan yang dilakukan oleh Bani Umayah atau pun menyerang serangan-serangan (ideologis) orang-orang seperti Ibnu Taimiyah. Karena itu, hari ini siapa pun yang menyembah Allah dan mengikuti Nabi Muhammad saw, maka itu asli karena berkah Imam Husain as. Dia adalah Husain yang sama yang tentangnya dikatakan, “Jika kalian tidak ada, niscaya Allah tak akan disembah. Jika kalian tidak ada, niscaya tak seorang pun akan memperoleh makrifatullah yang hakiki.” (Faraid as-Simthain, jil.1, hal.46)
Karena itu, memang benar bahwa Sayidusy Syuhada as adalah ayah semua hamba Allah (karena kata “Ayah” (Abu) digunakan dalam arti “pelatih” sebagaimana ia sering digunakan di kalangan bangsa Arab). Istilah “Abu Abdillah” merujuk pada hamba-hamba Allah—baik kata ‘Abd itu ditafsirkan dalam arti “kerendahan” atau “ketundukan” atau pun dalam makna “ibadah” dan “salat.” Kedua tafsiran tersebut tidak meniadakan konsep dan gagasan istilah Abu Abdillah.
Alasan ketiga untuk pemakaian kuniyah Abu Abdillah adalah—sebagaimana disebutkan oleh kebanyakan sejarahwan dan ahli hadis—bahwa Imam Husain as mempunyai putra bernama Abdullah yang kita sebut dengan nama Ali Ashgar. Ia baru berumur enam bulan ketika ayahnya sampai bersamanya di Padang Karbala. Pada usianya yang belia itu, Ali Ashgar dijadikan target tembakan anak panah oleh Harmala (laknat atasnya), ketika Ali kecil berada di buaian tangan sang ayah. Karena itu, sering ditemukan dalam buku-buku yang menceritakan peristiwa tragedi Karbala frase-frase seperti “Dan kemudian dia (Imam Husain) keluar bersama putranya, Abdullah bin Husain.” Karena alasan inilah Imam Husain as juga disebut sebagai Abu Abdillah.

Kesimpulan
Sebelum mengakhiri artikel ini, ada hadis dari Imam Ridha as yang berkata, “Apabila engkau berbicara dengan seseorang sementara ia di hadapanmu, maka gunakanlah (nama) julukannya. Sementara, jika engkau berbincang dengan seseorang yang tidak ada di depanmu, maka sebutlah ia dengan nama (asli)nya.” (Biharul Anwar, juz.78, hal.335)
Karena itu, setiapkali kita membaca Ziarah Asyura, maka kita semestinya mencamkan dalam hati kita bahwa ketika kita menyalami Syahid Karbala seperti ‘wahai Abu Abdillah,’ maka sesungguhnya ia hadir di depan kita. Kedua, juga harus dicamkan dalam pikiran bahwa sebuah kuniyah digunakan sebagai tanda penghormatan. Misalnya, di masa pemerintahan khalifah kedua, ketika seseorang melakukan tuduhan terhadap diri Amirul Mukminin Ali dan ketika Imam Ali didatangkan ke hadapan khalifah, khalifah pun memanggil Abul Hasan untuk Imam Ali as. Kontan, Amirul Mukminin Ali keberatan dan berkata, “Keadilan harus ditegakkan di meja peradilan. Adalah bertentangan dengan keadilan ketika Anda menyebut saya dengan kuniyahku, sementara engkau menyapa orang lain dengan namanya.”
Apabila kita lalai dan alpa selama membaca ziarah dan tidak menggunakan kuniyah, maka ini merupakan tanda tidak menghargai dan Allah tidak menerima doa-doa tersebut. Hal ini bisa disimpulkan dari hadis Amirul Mukminin as yang berkata, “Allah tidak menerima salat (doa) dari hati yang lalai.” (Biharul Anwar, juz.93, hal.314)
Demikianlah, kita harus fokus sepanjang waktu dan harus berjuang keras untuk melindungi diri sendiri dan meyakinkan bahwa hati tidak menjadi lalai ketika membaca ziarah kepada para imam as. Kita harus berdoa kepada Allah di sepanjang waktu agar Dia menerima ziarah kita dan juga ibadah-ibadah lainnya, agar Dia mempercepat kemunculan orang yang menjadi simbol dan manifestasi ibadah, yakni Baqiyatullah, Imam Mahdi as. Dan melalui kemunculannya, Dia akan menghilangkan semua derita dan musibah orang-orang beriman di muka bumi.[Diterjemahkan oleh Arif Mulyadi dari “Exegesis of the Agnomen Abu ‘Abdillah (as)” dalam www.almuntazar.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar