Senin, 02 Maret 2009

“Apakah Hawa Penyebab Terusirnya Nabi Adam dari Surga?” (Bag I)

kitab-suciku-al-quran.gif

Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk menganalisa kembali tentang ‘apakah benar bahwa Hawa sebagai penyebab terusirnnya Nabi Adam dari surga?”, dengan mengadakan perbandingan antara dua kitab suci yaitu al-Qur’an dan Perjanjian Lama (Taurat)

—————————————————

“Apakah Hawa Penyebab Terusirnya Nabi Adam dari Surga?” (Bag I)

(Study komparatif antara kitab suci Al-Qur’an dengan kitab suci Perjanjian Lama (Taurat))

Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk menganalisa kembali tentang ‘apakah benar bahwa Hawa sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam dari surga?”, dengan mengadakan perbandingan antara dua kitab suci yaitu al-Qur’an dan Perjanjian Lama (Taurat). Mungkin sebagian menganggap hal ini merupakan permasalahan yang telah usang. Namun bagi saya tidak ada salahnya kita kembali menganalisanya masalah tersebut. Benarkah Hawa sebagai penggoda yang menyebabkan Nabi Adam berbuat dosa (dosa di sini ialah melakukan yang sebaiknya ditinggalkan atau istilah lainnya ialah tarkul aula (meninggalkan yang utama untuk kemaslahatan), bukan dosa dalam artian berbuat haram karena di surga sana belum terdapat taklif untuk manusia) dan akhirnya terusir dari surga?

Namun sebelum memasuki pembahasan, terlebih dahulu terdapat satu pertanyaan yang harus kita jawab sebagai prolog untuk memasuki pembahasan pokok, sehingga permasalahan menjadi lebih transparan.

Pertanyaan:Apakah sejak semula Adam diciptakan untuk tinggal di muka bumi, atau untuk tinggal di surga?”

Jawab: Sejak semula Nabi Adam dan Hawa (manusia) telah diciptakan Tuhan untuk tinggal di bumi, bukan untuk tinggal di surga, sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah 30 yang berbunyi:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Dalam ayat di atas ungkapan Fil Ardhy” yang artinya dalam bahasa Indonesia ialah “di muka bumi”. Dalam ayat tadi, Allah swt telah mengatakan kepada para malaikat bahwa Dia hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, dan tidak mengatakan untuk tinggal di surga. Hal itu terjadi terjadi sebelum penciptaan Nabi Adam dan Hawa, yang akhirnya para malaikat protes kepada Allah swt tentang hal itu, namun Allah swt memberikan jawaban kepada mereka bahwa Dia lebih mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh para malaikat. Perihal ini dapat anda lihat dalam lanjutan ayat di atas.

Namun, sebelum turun ke muka bumi, Allah telah menempatkan Adam dan Hawa di surga untuk ditraining dan diuji sebelum memasuki kehidupan dunia yang tentunya lebih sulit dibanding kehidupan di surga tersebut. Ujian serta training tersebut sebagai bekal mereka dalam kehidupan di muka bumi. Di sisi lain, para ahli tafsir Qur’an mengatakan bahwa surga tempat Nabi Adam dan Hawa tinggal bukanlah surga setelah kiamat. Dengan alasan;

Pertama; Surga pasca Kiamat penghuninya akan kekal di dalamnya dan tidak akan keluar darinya, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an seperti dalam surat Fath ayat 5, al-Hadid ayat 12, al-Mujadalah ayat 22, at-Taghabun ayat 9 dan lain sebagainya. Sementara surga yang ditempati oleh Nabi Adam dan Hawa, mereka tidaklah kekal di dalamnya, buktinya akhirnya mereka keluar dari surga tersebut.

Kedua; Syetan tidak dapat masuk ke dalamnya. Sementara surga Nabi Adam dan Hawa dapat dimasuki oleh syetan yang telah menggoda mereka.

Ketiga; Surga pasca Kiamat adalah yang disediakan sebagai balasan amal manusia, artinya surga adalah balasan untuk orang-orang yang telah berbuat baik. Namun surga Nabi Adam dan Hawa tidak seperti itu, sebelum mereka beramal (taklif) telah dimasukan ke dalam surga.

Keempat; Surga di akherat kelak bersifat bebas mutlak untuk para penghuninya. Dalam arti, tidak ada larangan sedikitpun, berbeda dengan surga Adam-Hawa dimana mereka dilarang untuk memakan buah Khuldi yang ada di surga tersebut.

Setelah menyelesaikan prolog di atas, marilah kita memasuki pembahasan pokok yaitu menjawab sebuah pertanyaan: “Apakah benar Hawa penyebab turunnya Adam dari surga?” dengan mengadakan study komparatif antara Al-Qur’an dan Perjanjian Lama .

Apabila kita merujuk ke kitab suci Al-Qur’an maka jawabannya ialah negative. Terdapat dalam beberapa surat yang telah menjelaskan penciptaan Nabi Adam dan Hawa dalam al-Qur’an, seperti dalam surat al-Baqarah dari ayat 34-38, an-Nisa ayat 1, al-A’raf, 19-24 dan Thoha ayat 115-122. Namun yang telah menjelaskan secara terperinci ialah terdapat dalam surat al-A’raf. Dimana dalam surat tersebut telah dijelaskan pula sebab terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga. Dalam surat tersebut telah dijelaskan pula bahwa sumpah palsu syetan yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga. Allah swt telah menegur kedua-duanya (Nabi Adam dan Hawa) atas perlakuannya. Mari kita perhatikan kandungan ayat-ayat berikut ini, apakah dapat diambil kesimpulan bahwa Hawa sebagai penyebab turunnya Adam dari surga?:

“(dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”(al-A’raf 19-22)

Berdasarkan ayat di atas, sumpah palsu syetan dengan mengatakan kepada Adama dan Hawa bahwa sebab pelarangan Tuhan untuk memakan buah tersebut ialah, karena Tuhan tidak ingin mereka menjadi malaikat dan kekal di dalamnya. Tidak cukup di situ, bahkan syetan pun telah bersumpah dengan mengatakan bahwa ia melakukan hal itu karena demi kebaikan mereka berdua. Silahkan kembali cermati secara seksama ayat di atas!

Lebih jelas lagi terdapat dalam surat Thoha ayat 117-121 yang berbunyi:

“Maka Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya Ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, Maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan Sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?“. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya Maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

Keterangan; Yang dimaksud dengan durhaka di sini ialah melanggar larangan Allah Karena lupa dan dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam ayat 115 surat ini. Dan yang dimaksud dengan sesat ialah mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat, Karena tingginya martabat Nabi Adam a.s. dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang Bagaimanapun kecilnya.

Mari kita bandingkan ayat di atas dengan yang terdapat dalam kitab perjanjian lama (Taurat) yang sudah terjadi banyak penyelewengan berkaitan dengan isinya, niscaya akan kita dapati bahwa jawabannya adalah positif, Hawa-lah penyebab terusirkannya Nabi Adam dari surga. Dalam kitab perjanjian lama dalam ‘bab penciptaan Adam dan Hawa’ telah dijelaskan bahwa Hawa sebagai penyebab diturunkannya Adam dari surga. Bahkan Tuhan menegur Adam kenapa mengikuti ucapan istrinya untuk memakan buah terlarang. Dengan kata lain, Hawa yang telah menyebabkan Nabi Adam melakukan kesalahan. Saya dapatkan hal ini dari terjemahan (edisi Arab dan juga edisi Persia) Perjanjian Lama. Namun saya yakin, edisi terjemahan kitab tersebut dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan terjemahan resmi. Dan insyaAllah pemahaman saya dari terjemahan tersebut tidak akan melenceng dari isinya. Kurang lebih isinya seperti ini:

Telah berkata ular kepada wanita (Hawa): “Kenapa telah memerintahkan Tuhan kalian untuk tidak memakan semua (buah) pepohonan surga? Lantas wanita (Hawa) tersebut menjawab pertanyaan ular; “Kami memakan buah-buahan pepohonan yang ada di surga. Namun dari buah pohon yang ada di tengah surga, Tuhan telah melarang kami untuk memakannya, dan kami tidak boleh mendekatiya karena kami akan mati. Ular berkata; “Kalian berdua tidak akan mati. Karena sesungguhnya Tuhan mengetahui bahwasanya setiap saat kalian memakan dari buah pohon itu, maka mata kalian akan terbuka dan kalian akan menjadi seperti Tuhan, akan mengetahui kebaikan dan kejahatan. Wanita (Hawa) melihat buah pohon tersebut baik untuk dimakan dan enak dipandang. Maka ia mengambil dari buah pohon tersebut dan memakannya, ia memberikan buah pohon tersebut kepada suaminya (Adam), dan iapun (Adam) memakannya. Maka terbukalah mata mereka, dan ketika mereka mengetahui dalam keadaan telanjang maka mereka menyambungkan dedaunan dari pohon tin dan mereka membuat sarung untuk mereka berdua. Di saat itu terdengarlah suara Tuhan yang sedang berjalan di surga ketika mendekati sepoi-sepoi angin setelah zuhur. Maka bersembunyilah Adam dan Hawa dari wajah Tuhan di antara pepohonan surga. Lantas Tuhan memanggil Adam seraya berkata: “Dimana engkau? Adam menjawab: “Aku mendengar suara-Mu di surga, maka aku takut karena aku dalam keadaan telanjang , karena aku malu (telanjang) maka aku sembunyi. Tuhan berkata kepadanya (Adam): “Siapa yang telah memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engaku telah memakan buah yang telah Aku larang untuk tidak memakan darinya? Adam menjawab: “Tuhanku, wanita (Hawa) ini yang telah Engkau jadikan teman untukku yang telah memberikan buah dari pohon itu kepadaku lalu aku memakannya. Kemudian Tuhan berkata kepada wanita (Hawa): “Kenapa engkau melakukan hal ini?. Wanita (Hawa) menjawab: “Ular itu yang telah menipuku, lalu aku memakannya.” Kemudian Tuhan berkata kepada Ular: “Karena engkau telah melakukan hal ini, maka akan terlaknatlah (terusir) engkau dari seluruh binatang dan semua binatang melata. Engkau akan berjalan pada dadamu dan engkau akan makan tanah selama hidupmu…kemudian Tuhanpun berkata kepada wanita (Hawa): “Akan kuperbanyak rasa sakitmu, dan kehamilanmu, engkau akan melahirkan anak dengan rasa sakit dan engkau akan berada di bawah kekuasaan laki-laki (di bawah perintah laki-laki), serta ia akan menguasaimu. Dan berkata Tuhan kepada Adam: “Karena engkau telah menuruti ucapan istrimu, dan engkau telah memakan buah dari pohon yang telah aku larang untuk memakan darinya, maka setelah itu bumi terlaknat dalam pekerjaanmu, dengan susah payah engkau akan makan darinya pada seluruh hari-hari kehidupanmu…lantas Tuhan mengeluarkan Adam dari surga… ” .

Silahkan bandingkan dengan surat Thaha dari kitab suci al-Qur’an di atas! Dimana syetan telah menggoda dan membisikan kepada Adam secara langsung (yang ditulis tebal). Namun dalam Perjanjian Lama, ular (syetan) pertama menggoda Hawa, kemudian Hawa membujuk Nabi Adam untuk memakan buah khuldi yang akhirnya Adam ditegur oleh Tuhan karena telah menuruti dan tergoda ucapan istrinya yang akhirnya menyebabkan ia terusir dari surga. Namun dalam al-Qur’an kedua-duanya telah ditegur oleh Allah swt, karena baik Nabi Adam maupun Hawa telah tergoda oleh sumpah palsu syetan. Lihat dalam al-Qur’an sejak semula syetan telah menggoda Adam dan Hawa dengan mengatakan ‘kalian berdua’ (karena dalam ayat tersebut menggunakan ‘dhamir mutsana’, yaitu kata ganti orang yang menunjukkan dua orang) ), bukan syetan hanya menggoda kepada Hawa, lalu Hawa menggoda Nabi Adam:

“Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua”. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. (al-A’raf 19-21)

Kesimpulan:

  • Dalam al-Qur’an Hawa bukanlah penyebab Nabi Adam as terusir dari surga, akan tetapi sejak semula Nabi Adam as pun sebagaimana Hawa telah tertipu oleh sumpah palsu syetan.
  • Sumpah palsu ialah; pertama, syetan telah bersumpah bahwa tidaklah Allah swt telah melarang Nabi Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi melainkan karena Dia tidak ingin mereka kekal seperti para malaikat. Kedua, syetan bersumpah bahwa ia melakukan hal ini hanyalah demi kebaikan mereka berdua.
  • Karena kedua-duanya telah bersalah maka Allah swt menegur kedua-duanya.
  • Namun dalam kitab Perjanjian Lama, pertama syetan (yang dalam kitab tesebut disebut ular) menipu Hawa, kemudian Hawa menggoda Nabi Adam untuk memakan buah khuldi.
  • Oleh karena itu, setelah Tuhan mengetahui pelanggaran atas pelarangannya, pertama Tuhan menegur Adam. Sewaktu Tuhan menegur Nabi Adam karena kesalahannya, Nabi Adam mengatakan bahwa perempuan yang Engkau ciptakan untuk jadi temanku (Hawa) yang telah membujukku untuk memakannya. Jadi, secara tidak langsung Hawa sebagai penyebab ia berbuat salah dan akhirnya terusir dari surga.
  • Setelah itu, kemudian Tuhan menegur Hawa, kenapa telah menggoda Adam untuk memakan buah terlarang?
  • Oleh karena itu, secara tidak langsung menurut kitab Perjanjian Lama Hawa sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam dari surga, sebagaimana yang selalu kita dengar selama ini.

Sumber:

  1. Al-Qur’an
  2. Perjanjian Lama (Taurat) edisi bahasa Arab.
  3. Tafsir Mizan karya Allamah Thabathabai’
  4. Tafsir Tasnim, karya Ayatullah jawadi Amuli
  5. Tafsir Nemuneh, Ayatullah Makarim Syirazi

Catatan:

  • Kenapa Hawa dinamakan Hawa? Karena ia merupakan ibu para Makhluk hidup (maksudnya manusia). Karena Hawa berasal dari akar kata ‘Hayun’ yang artinya hidup.
  • Adam dinamakan Adam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq ia berasal dari akar kata: ‘Adim’ yang artinya bagian permukaan tanah.

Bagi yang dapat memahami bahasa Arab dapat langsung merujuk sendiri kepada 2 sumber (al-Quran dan Perjanjian lama edisi Arab) tersebut. Sebenarnya saya ingin sekali melihat kitab aslinya yang berbahasa Ibrani, namun percuma saja, karena saya sendiri tidak bisa memahami bahasa Ibrani. Saya pun telah berusaha men-search kitab Perjanjian Lama yang berbahasa Indonesia di internet, khususnya yang berkaitan dengan pembahasan ini, namun tidak mendapatkannya. Jalan terakhir saya menggunakan rujukan saya ke kitab Perjanjian Lama edisi bahasa Arab dan Persia.

[Euis Daryati, mahasiswi Pasca Sarjana jurusan Tafsir al-Qur’an]

Tanggapan

  1. Ck ck ck luar biasa mbak ini euis Salut sebagai seorang mahasiswi Tafsir Al-Qur’an.
    Mengapakah membandingkan sumber yang tidak dijamin kebenarannya, ada tendensi apakah gerangan ?
    Semoga apa yang menjadi maksud baik mbak euis terkabulkan
    NB: Klo butuh sumber saya nanya mbak euis boleh ya, karena saya ini bukan ahli apa-apa, hanya bisa menuangkan isi otak kedalam tulisan saja.


  2. baru baca kesimpulannya, tak link… kapan-kapan saya baca-baca lagi……
    saya pernah baca buku yang intinya mirip seperti ini (tapi lupa judulnya), ya karena memang belum memiliki kemampuan meneliti seperti sampeyan…. intinya: banyak mitos-mitos dalam Islam yang sumbernya bukan dari al-Qur’an tapi dari taurat maupun injil…..! bener..??


  3. Salam.. Waah komprasi yang bagus. saya perlu membaca ulang dan perlu aku minta izin copy paste artikel ini untuk di di sini. makasih


  4. bagus…di copy ah!


  5. Alhamdulillah, terima kasih telah berbagi ilmu.


  6. makasih ya mba artikelnya,
    aku ikut ngopi ya buat referensi skripsi ku… ^_^
    jazakumullah khairan katsiran…

    semangat kaum hawa…….


  7. @Sang Otak
    Wah ini terlalu berlebihan Mas…banyak sekarang perempuan yang belajar seperti jurusan saya…
    Kitab Taurat dan Injil memang tidak dijamin kebenarannya, karena kalau memang kedua kitab suci tersebut terjamin kebenaran dan keotentikannya maka tidak akan diturunkan kitab suci al-Qur’an. Dan jika al-Qur’an tidak terjamin kebenarannya, maka harus diturunkan kitab suci lagi. Jika tidak melakukan hal itu, berarti Tuhan tidak proposonal, karena membiarkan makhluknya terombang-ambing tanpa buku pedoman yang dijamin kebenarannya untuk menuju kehidupan abadi, pasca kematian.
    Dan salah satu cara untuk mengetahui bahwa kitab suci lainnya tidak otentik lagi dan tidak dijamin kebenarannya ialah dengan mengadakan study komparatif antara kedua / ketiganya, terkhusus kandungannya.
    Toek NB: Kalau saya dapat bantu, ya insyaAllah saya akan membantunya tentu dengan semua keterbatasan yang saya miliki Mas…dan saya yakin Anda memiliki keahlian tersendiri. Terima kasih….

    @Kurtubi
    Waalaikumussalam…
    Sebuah langkah baru…pelan tapi pasti…mmm (senyum)
    Silahkan Pak Yai…
    Makasih

    @Dedi
    Terima kasih, mudah-mudahan dapat bermanfaat.

    @Dimas
    Terima kasih juga.

    @Ibnu Ghazali
    Silahkan…sama-sama


  8. Assalamualaikum wr wb

    Saya gak sengaja buka , but saya ucapkan salut atas artikel diatas, mampu menelaah lebih jauh mitos yang berkembang di masyarakat muslim. memang jangan hanya mereka theologis kristen yang mempelajari serta membandingkan dengan kitab yang lain.
    mohon diterangkan lebih lanjut arti buah khuldi?
    terimakasih. mohon balasannya

    jakamullah katsiran.

    Wassalamualaikum wr wb


  9. Wa’alaikumsalam wr wb
    Terima kasih atas kunjungannya.
    Ya seharusnya seperti itu, jika masih mampu untuk kembali meneliti sumber-sumber mitos maka tak ada salahnya kita kembali mengkaji masalah itu.
    Berkenaan dengan buah khuldi perlu penjelasan yang panjang dengan merujuk beberapa sumber yang menjelaskan hal tersebut karena terdapat perbedaan penafsiran ttg buah khuldi dalam Kitab Perjanjian Lama dan al-Qur’an. Termasuk dalam berbagai sumber islam sendiri terdapat berbagai pendapat.
    InsyaAllah pada kesempatan lain saya akan menyinggung hal itu.
    Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.


  10. Salam,

    Ini kajian kristologi Islam yang bagus sekali. Mabruk!

    Kajian ini merupakan topik-topik mendasar dalam kajian lintas iman di agama-agama Ibrahimik, seperti Yudaisme, Kristenitas dan Islam.

    Tujuannya adalah jelas, meninjau kembali apakah benar Adam as dan Hawa as melakukan dosa ataukah tidak? Dan apakah prinsip dosa itu bisa diwariskan seperti yang diimani Katolik.

    Jadi, kajian ini sangat diperlukan. Selamat sekali lagi.


  11. Wa’alaikumsalam
    Terima kasih
    Semakin kita berusaha menggali dan memperbandingkan kandungan agama kita dan agama lainnya (terkhusus di antara agama samawi)dalam permasalahan yang sama, maka disaat itu keyakinan akan kebenaran agama kita akan semakin mantap.


  12. bolehkah saudara terangkan 5 wasiat terakhir nabi adam a.s sebelum wafat.. antar satu adalah jikalau ingin memmbuat sesuatu hendaklah berbincang dahulu seperti nabi adam a.s tidak bertanya kepada malaikat tentang buah khuldi itu

    ————————–

    Islam Feminis:
    Silahkan anda menjelaskannya disertai dengan referensinya…terimakasih.


  13. Walaupun singkat, tetapi sudah menunjukkan semuanya. Artikelnya sangat menarik, ringkas, jelas, dan padat.

    Semoga Ukhti Euis Daryati diberi kekuatan dan kesehatan hingga mencapi kersarjanaannya. Amin.


  14. Ass…….
    Saya sangat senang membaca tulisan anda…
    mohon keikhlasannya…
    saya copy beberapa artikel buat referensi menata hati saya…

    Best Regard’s

    ——————————————————————

    Islam Feminis:
    Waalaikumsalam…
    Silahkan…
    Terima kasih


  15. soo…good aku baca penjelasan ini tambah pinter aja jadinya n kalo bisa di jadikan VCD nya yaaa biar kita bisa ulang ulang terus kan jd ga lupa skses teruss ya kabari aku di alamat e-mail ini biar aku dapat info info yang baruu thanks banget


  16. sebenarnya Ada pertanyaan menarik yang mendasar sebelum menanyakan siapa yang salah antara adam dan hawa sehingga mengakibat mereka turun dari surga ke bumi…

    pertanyaannya yaitu kenapa Tuhan menciptakan manusia dan memberikan hidup sementara di surga kemudian ke bumi untuk transit menuju surga dan neraka yang kekal itu..?

    pada dasarnya Allah telah menciptakan semua yang Dia inginkan dengan diciptakan-Nya malaikat dengan dunianya sendiri yang luar biasa taatnya kepada Allah tanpa kata ‘lelah’. namun menarik ketika Allah menciptakan Manusia. Allah dengan sengaja memberikan keistimewaan terhadap manusia akal pikiran yang bisa membentuk sikap maupun perilaku yang tercermin dari semua sifat-Nya.

    Skenario yang disusunkan Allah untuk dilakoni manusia adalah untuk beribadah kepadanya… dan memiliki episode yang dinamis.

    lalu kenapa surga yang dihuni adam dan hawa tidak kekal… beda dengan surga setelah hari akhir nanti yang kekal itu…?

    Allah sebnarnya cemburu dengan ciptaan-Nya ini. ketika di ciptakan untuk menghuni surga, manusia pada saat itu atau adam dan hawa, hidup dengan gemerlapnya kehidupan surga, sehingga setan disisi lain pun enggan untuk menyembah adam. Allah memberikan kehidupan yang lebih dari kecukupan namun tidak se-taat apa yang dilakukan malaikat kepada Allah. untuk tidak menyia-nyiakan ciptaan-Nya agar selalu bisa taat kepada-Nya maka manusia harus mempunyai kesalahan dan harus terus mengingat-Nya. Inilah sebab manusia ditakdirkan untuk di bumi dengan kehidupan dinamisnya selalu bertujuan kembali ke Rabb-Nya.
    itu aja yang bisa saya jomontari mbaa

    ——————————————————————————————-

    Islam Feminis:
    Terimakasih atas komentarnya. Namun ada satu kejanggalan yang membikin saya kurang paham dari ungkapan anda. Anda menyatakan; “Allah sebnarnya cemburu dengan ciptaan-Nya ini”, apa maksud cemburu? Apakah mungkin Dzat Yang Maha Kaya nan Sempurna akan cemburu dengan hasil ciptaan-Nya yang sangat terbatas? Apa yang harus dicemburui oleh Dzat Yang Maha Kaya dan Sempurna itu dari Adam dan Hawa, manusia yang lemah dan banyak kekurangan?

    Dan satu ungkapan lagi dari anda, yaitu; “setan disisi lain pun enggan untuk menyembah adam”. Apakah Allah memerintahkan Iblis untuk menyembah Adam, atas dasar apa? Apakah sujud berarti menyembah? Apakah mungkin Allah memerintahkan hamba-Nya (Malaikat dan Iblis) untuk melakukan perbuatan yang paling Dia benci, yaitu menyekutukan Allah (syirik)? Apa esensi dasar penyembahan (ubudiyah) versi Islam sehingga sujud disamaartikan sebagai penyembahan? Jika sujud=menyembah maka Iblis jauh lebih mulia dari malaikat, karena Iblis menolak sujud (=menyembah) dan Malaikat melakukannya untuk Adam. Jika benar semacam itu, kenapa justru Iblis yang dilaknat dan diusir oleh Allah, kenapa tidak Malaikat saja?
    Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain jika kita perdalam tentang masalah ini.

Sungguh Ajaib…!, Perempuan Malaikat

mawar-salju.jpg

Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as akan menurunkan azab bagi kaumnya. Nabi Uzair as menyampaikan kabar tersebut kepada kaumnya. Kaumnya meminta kepadanya, untuk memohonkan kepada Tuhan agar menangguhkan azab-Nya. Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as bahwa azab tersebut tidak dapat ditangguhkan kecuali mereka dimaafkan oleh salah satu hamba-Nya yang tinggal di sebuah pulau. Kemudian mereka pergi ke pulau tersebut dan mereka menemui seorang perempuan yang wajahnya sangat bercahaya dan memiliki kharisma yang selalu terpancar darinya.

——————————————————

Sungguh Ajaib…!, Perempuan Malaikat

Imam Baqir as berkata: “Pada zaman Nabi Uzair as (nama beliau terdapat dalam al-Qur’an, dalam surat al-Baqarah dan at-Taubah ayat 30) terdapat seorang Hakim Agung yang memiliki hubungan sangat erat dengan raja. Sayangnya, ia sangat mata keranjang. Ia telah mendengar dari istrinya bahwa istri salah satu saudaranya sangat cantik (makanya kenapa agama melarang kepada seorang istri untuk tidak menceritakan keadaan -yang berhubungan dengan penampilan fisik- kepada suaminya, karena mungkin saja hal tersebut dapat menjerumuskan suami berbuat dosa). Sewaktu mendengar bahwa istri salah satu saudaranya sangat cantik, tersirat rasa penasaran untuk melihatnya.

Ketika istri saudaranya mendengar bahwa Hakim Agung mata keranjang, maka ia berusaha sedapat mungkin untuk selalu menjauhinya. Sampai akhirnya pada suatu hari raja mengutarakan kepada Hakim Agung bahwa ia memerlukan seorang duta untuk ditugaskan di sebuah kota atau negeri, seraya berkata: “Wahai Hakim Agung, apakah engkau dapat memperkenalkan kepadaku seseorang untuk menjadi duta?”. Hakim menjawab: “Ya, ia adalah saudaraku, tidak ada yang lebih baik darinya”. Saudaranya telah mengetahui bahwa Hakim Agung mata keranjang, tetapi karena diiming-imingi bayaran yang berjumlah banyak akhirnya iapun menerima tawaran tersebut untuk menjadi duta.

Hari kedua dari kepergian saudaranya, Hakim Agung mendatangi rumah saudaranya, sesampai di rumahnya lalu ia mengetok pintu. Dan dari dalam rumah terdengar suara seorang perempuan bertanya: “Siapa?”. “Saya Hakim Agung”, jawabnya. Perempuan kembali bertanya: “Ada perlu apa?”. “Saya datang untuk menengok istri saudaraku”, jawab Hakim Agung. Perempuan kembali berkata: “Silahkan anda datang kemari ketika suamiku telah datang. Saya perempuan bukan mahram-mu sehingga tidak diizinkan untuk memasukkan anda ke dalam rumah. Dan Anda sebagai seorang Hakim Agung pasti tidak suka berbuat dosa”. Sewaktu Hakim Agung menyaksikan istri saudaranya sangat tegas, akhirnya ia pergi meninggalkan rumah tersebut.

Empat hari setelahnya, Hakim Agung kembali mendatangi rumah saudaranya dan berkata: “Saya datang untuk menengok istri saudaraku”. Perempuan berkata: “Istri saudaramu?, memangnya ada urusan apa dengan istri saudaramu? Saya tidak mengerti, apakah Anda suamiku?”. Hakim kembali bertanya: “Apakah engkau tidak ada perlu?”. Perempuan menjawab: “Apabila saya ada perlu, terdapat orang yang dapat menolongku. Saya tidak ingin merepotkan Anda”. Perempuan tersebut tidak membuka pintu dan berkata dari balik pintu.

Sewaktu Hakim tidak berhasil melakukan niat jahatnya, akhirnya ia mencari tipu muslihat lain dan kembali mendatangi rumah saudaranya sambil tergopoh-gopoh, kemudian ia mengetuk pintu dan berkata: “Tolong bukakan pintu, tolong bukakan pintu…!?”. Perempuan bertanya: “Ada apa?”. “Cepat, tolong bukakan pintu, cepat tolong bukakan pintu, saya ingin pergi ke WC…!?”, kata Hakim Agung. Kemudian perempuan membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. Hakim pergi ke WC dan kembali seraya berkata: “Sebenarnya ada satu hal yang ingin saya utarakan kepadamu”. “Saya menginginkan Anda tidak mengatakan apa-apa. Anda telah kembali dari wc, pintupun terbuka, silahkan keluar!”, sahut perempuan muda itu dengan tegas. Hakim Agung kembali bertanya: “Tahukan Anda siapakah saya? Saya adalah Hakim Agung ”. “Siapapun diri Anda, apakah Anda datang kemari untuk menyalahgunakan kedudukan anda? Saya bukan orang yang bersalah sehingga harus takut pada Anda. Dan sayapun tidak mempunyai masalah, sehinggga Anda kujadikan perantara untuk menyelesaikan masalahku (nepotisme)”, ujar perempuan.

“Apabila engkau tidak melayaniku maka saya akan membuatmu celaka”, ancam Hakim. “Jika sedetik lagi Anda tinggal di sini, maka saya akan berteriak sehingga semua orang tahu siapa dirimu dan akhirnya harga dirimu akan jatuh di hadapan masyarakat”, jawab perempuan kembali mengancamnya. Hakim kembali berkata: “Anda telah mengusirku?”. “Ya, pergilah, pergilah dari sini”, sahut perempuan itu. Kemudian Hakim keluar dari rumah sambil menutup pintu dengan keras. Ia pergi menuju istana raja. Sewaktu raja melihatnya dalam keadaan murung, kemudian ia bertanya: “Apa yang telah terjadi? Kenapa Anda murung?”. “Tidak ada apa-apa, hanya sedikit masalah keluarga”, jawab Sang Hakim. Namun raja terus memaksanya untuk menjelaskan kepadanya. Akhirnya ia berujar: “Istri saudaraku telah menghianati kami. Ia telah menyeleweng dengan seorang laki-laki lain”. “Apa, ia telah berkhianat?”, tanya raja kaget. “Ya”, jawab Sang Hakim. “Harus diberi pelajaran dia”, ujar raja. “Ya, benar”, sahut Hakim bersemangat.

Keesokan harinya, raja memerintahkan untuk menangkap perempuan itu dan dibawa ke hadapannya. Perempuan muda itu bertanya: “Ada apa Tuan raja?”. “Engkau telah mengkhianati dutaku”, jawab raja. Dikala itu, perempuan melihat Hakim dari kejauhan yang sedang memandang kepadanya dengan penuh perasaan puas. Perempuan kembali berkata: “Siksalah diriku tuan!? Namum saya katakan lagi, bahwa saya tidak bersalah. Saya rela menyerahkan jiwa dan raga untuk disiksa. Tetapi saya tidak akan pernah menyerahkan kesucian dan kehormatanku”. Berdasarkan keputusan raja akhirnya perempuan diberi hukuman rajam (diletakan di sebuah lubang dan kemudian ditutup tanah dalam posisi berdiri hingga lehernya, dan orang-orang melemparinya dengan batu .red).

Pada sore hari, ketika kepala perempuan itu telah dipenuhi dengan batu, orang-orang mengira ia telah meninggal. Kemudian mereka meninggalkannya dan berencana akan menguburkannya pada keesokan harinya.

Imam Baqir as berkata: “Perempuan tersebut tidak mati. Pada tengah malam ia berusaha mengeluarkan diri dari lobang dan lari untuk menyelamatkan diri dengan tubuh yang dipenuhi luka. Ia berjalan sampai akhirnya tidak sadarkan diri. Ia telah diselamatkan oleh seorang rahib (orang yang selalu beribadah .red). Ketika sadar, ia sangat kaget seraya bertanya: “Dimanakah saya?”. “Ini tempat ibadah”, jawab rahib. “Engkau telah menyelamatkanku. Apa yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan tuan?”, tanyanya kembali. “Saya sudah tua dan tidak berniat untuk menikah lagi, Akan tetapi saya memiliki anak-anak kecil sementara ibu mereka telah meninggal dunia. Jadilah engkau ibu bagi mereka. Selain itu aku mmepunyai pembantu yang akan membantumu pekerjaanmu”, kata rahib lanjutnya.

Imam Baqir as berkata: “Namun sayangnya ternyata pembantu laki-laki tersebut pun bermata keranjang. Pada suatu hari, ia mengajak perempuan muda nan cantik jelita itu untuk melakukan perbuatan mesum. Mendengar ajakannya, perempuan itupun tertawa. “Kenapa engkau tertawa?”, tanya sang pembantu. “Nasibku sampai di sini karena saya tidak ingin berbuat mesum”, katanya lirih. “Akan kulempar engkau dengan batu jika tidak mau melayaniku”, ancam pembantu. Perempuan kembali tertawa seraya berkata: “Saya telah dilempari beribu-ribu batu. Apakah saya harus takut hanya dengan satu batu saja”, tegasnya. Ternyata benar, pembantu itu melemparnya dengan batu. Namun batu itu mengenai anak rahib yang akhirnya menyebabkannya meninggal dunia karena lemparan batu tersewbut. Mendengar hal itu Rahib sangat marah sekali. Pembantu melemparkan perbuatannya itu kepada sang perempuan muda. Dan akhirnya rahib pun mengusirnya. Sebelum pergi, perempuan kembali berkata: “Sumpah demi Tuhan, saya tidak melakukannya tuan”. “Enyahlah engkau dari sini! Saya tidak ingin melihatmu lagi! Apakah saya harus mempercayai ucapanmu yang baru tinggal di sini dan tidak mempercayai ucapan pembantuku yang sudah bertahun-tahun tinggal di rumahku?!”, ujar sang rahib.

Akhirnya perempuan itu pergi meninggalkan rumah sang rahib dengan dibekali uang sejumlah 120 dinar. Ia berjalan hingga sampai di sebuah kota. Di kota tersebut ia menyaksikan seorang laki-laki yang digantung setengah badan sedang berteriak-teriak meminta tolong. Rasa penasaran membuat perempuan bertanya: “Kenapa ia diperlakukan seperti itu?”. “Pengadilan telah memberikan hukum seperti itu bagi yang tidak dapat membayar hutang, hingga ada orang yang merasa belas kasihan dan membayari hutangnya”, jelas orang-orang. “Berapa jumlah hutangnya?”, tanyanya lagi. “120 Dinar”, jawab orang-orang. Kemudian perempuan mengelurkan uang yang dimilikinya untuk membayar hutang laki-laki tersebut. Setelah bebas, laki-laki itu berterima kasih kepada perempuan seraya bertanya: “Engkau dari mana?”. “Saya sendirian dan asing di kota ini”, jawab perempuan tersebut. Ketika laki-laki mengetahui perempuan itu asing dan sendirian, akhirnya ia memiliki pikiran jahat. Tanpa sepengetahuan perempuan muda tadi, ia telah menjual perempuan tersebut ke tempat jual-beli para budak.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba pembeli budak mengikat tangannya. “Lepaskan saya”, ujar perempuan itu. “Bukankah engkau seorang budak? Saya telah membelimu dari laki-laki itu”, tanya pembeli budak. Mendengar hal itu, kemudian perempuan menatap ke arah langit dan berguman: “Ya Tuhan, sungguh mengherankan orang-orang ini, diselamatkan malah seperti ini balasannya”.

Imam Baqir as berkata: Kala itu, di pelabuhan terdapat dua kapal. Satu kapal barang dan satunya lagi kapal penumpang. Pembeli budak menempatkan perempuan di kapal barang, karena kecantikannya sehingga ia takut perempuan itu diganggu oleh para penumpang. Perempuan menempati kapal barang. Tetapi di tengah perjalanan, kapal itu berhadapan dengan badai dan topan laut. Kapal oleng dan akhirnya perempuan dengan kapalnya terdampar di sebuah pulau, sementara penumpang lainnya tenggelam. Perempuan itu kahirnya tinggal di pulau tersebut. Bertahun-tahun lamanya ia beribadah kepada Kekasih Sejatinya (Allah SWT) di pulau tersebut”.

Imam Baqir as berkata: Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as bahwa, Ia akan menurunkan azab bagi kaumnya. Nabi Uzair as menyampaikan kabar tersebut kepada kaumnya. Kaumnya meminta kepadanya untuk memohonkan kepada Tuhan agar menangguhkan azab-Nya tadi. Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as bahwa azab itu tidak akan dapat ditangguhkan kecuali jika mereka dimaafkan oleh salah seorang hamba-Nya yang tinggal di sebuah pulau. Kemudian mereka berbondong-bondong pergi ke pulau tersebut hingga akhirnya mereka menemui seorang perempuan yang sangat bercahaya wajahnya dan memiliki kharisma yang terpancar darinya. Satu persatu dari mereka meminta maaf kepada perempuan tersebut. Namun tidak seorangpun mengetahui siapa perempuan tadi. Raja berkata: “Saya dulu telah merajam seorang perempuan muda yang tidak bersalah, karena saya tidak mengira Hakim Agungku seperti itu. Maka mohonkankan kepada Tuhan agar Ia sudi memaafkanku”. Perempuan itu berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah dia!?”. Tiba giliran Hakim Agung berkata: “Aku bukanlah orang yang baik. Aku telah menuduh istri saudaraku yang baik dan taat itu. Maka mohonkankan kepada Tuhan agar Ia memaafkanku”. “Ya Tuhanku, ampunilah ia”, doanya. Kemudian datanglah seorang rahib sambil berkata: “Aku tidak mengetahui jika pembantuku telah berpikiran busuk. Aku telah mengusir seorang perempuan yang tidak bersalah. Maka mohonkankan dari Tuhan agar memaafkanku”. “Ya Tuhanku, ampunilah ia”, doanya. Kini giliran pembantu rahib datang sambil berkata: “Saya telah menuduh perempuan tidak bersalah dengan tuduhan membunuh. Mohonkankan kepada Tuhan agar memaafkanku”. “Ya Tuhanku, ampunilah ia”, doanya”.

Akhirnya tiba giliran laki-laki yang telah dibayarkan semua hutangnya tadi. Ia datang seraya berkata: “Saya telah menjual perempuan asing dan sendirian itu, dan telah merusak kehormatannya sebagai seorang yang baik. Maka mohonkankan kepada Tuhan agar sudi memaafkanku”. “Ya Tuhan, janganlah Engkau ampuni penjual kehormatan seorang perempuan ini!”, doa sang perempuan. Setelah itu, bumi pun terbelah dan laki-laki tersebut masuk ke dalamnya dan akhirnya binasa. Setelah menyaksikan kejadian itu, mereka yang datang ke pulau itu berkata: “Wahai tuan, silahkan datang ke kota kami, istana tersedia untuk tuan”. “Tidak usah repot-repot. Azab tidak jadi diturunkan kepada kalian. Silahkan pergi dari pulau ini!?”, jawab sang perempuan. Mereka kembali bertanya: “Tuan, siapakah Anda sebenarnya?”. “Aku adalah perempuan yang telah kalian zalimi itu. Aku telah mengatakan bahwa tidak bersalah, namun tipu daya syetan telah menguasai diri dan jiwa kalian. Sekarang pergilah kalian semua dari sini!”.

[ED, sumber: Karamat wa Hikayat Asyiqane- Khuda, Jibrail Haji Zadeh, jil 2, hal 218-228]

Detik-Detik Terakhir Menjelang Penghulu para Wanita Wafat

Beliau yang merupakan wanita paling mulia dan tergolong manusia pilihan kenapa di akhir hayatnya berwasiat seperti itu? Jawaban dari pertanyaan ini akan dapat menyingkap berbagai hakekat akan kebenaran agama Allah yang diturunkan kepada manusia suci Muhammad bin Abdillah saww.

————————————————–

Detik-Detik Terakhir Menjelang Penghulu para Wanita Wafat

Kumulai tulisan ini dengan sebuah hadis Rasulullah, dimana beliau telah bersabda kepada putrinya, Fathimah Zahro: “Sesungguhnya Allah SWT akan murka karena murka-mu (Fathimah .red), dan akan ridho karena ridho-mu”. (Lihat: Kanzul-Ummal hadis ke- 37725 karya al-Muttaqi al-Hindi al-Hanafi yang dinukil dari Kitab Muntakhab Mizan al-Hikmah hal: 16). Jelas hadis tadi tidaklah keluar dari Nabi Muhamad saww karena nepotisme sebagai putrinya, akan tetapi berdasarkan kehendak Tuhannya. Bukankah dalam surah Najm ayat 3-4 Allah swt telah berfirman: “Dan tidaklah ia (Muhammad .red) berkata melainkan wahyu yang telah diturankan kepadanya”.

Langit berkabung menyertai duka cita akan kepergian perempuan mulia penghulu para wanita, bagian jiwa Nabi saww, pemilik syafa’at, penghulu para wanita ahli surga, neraca keridhoan dan kemurkaan Allah, putri makhluk paling sempurna dan penutup para nabi; dialah Bunda Fathimah Zahro as. Lidah kelu untuk mengucapkan kata-kata pujian untuknya. Bunda Fathimah Zahro as ialah salah satu jalan manusia untuk mendapat keridhoan Tuhannya.

Berdasarkan salah satu riwayat, hari ini (13 Jumadil-Awal) merupakan hari wafat beliau, karena terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hari wafat beliau. Sebagian berpendapat, beliau wafat 75 hari setelah wafat Nabi Muhamad saww. Sebagian lagi mengatakan beliau wafat 95 hari setelah wafat ayahanda beliau. Salah satu penyebab perbedaan pendapat ini adalah karena wafat beliau dirahasiakan oleh keluarga beliau. Begitu pula pelaksanaan memandikan, mengkafani dan memakamkan jasad suci beliau. Oleh karenanya, hingga saat ini tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti dimana makam beliau, kecuali Imam Mahdi aj yang masih keturunan beliau.

Di sini, kita akan mencoba kembali melihat detik-detik menjelang wafat beliau. Sewaktu beliau sudah merasakan ajalnya akan tiba, lalu beliau mandi merapihkan keadaan rumah dan membersihkan anak-anaknya. Setelah itu, kemudian beliau kembali membaringkan tubuhnya yang sangat lemah, akibat sakit parah yang dideritanya. Dengan penuh rasa hormat lalu beliau berkata kepada suami tercintanya, Imam Ali as: “Wahai anak pamanku, hari ini aku akan berpisah dengan dunia. Aku yakin tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia ini, dan aku akan pergi menyusul ayahku. Oleh karena itu aku akan berwasiat kepadamu”.

Imam Ali as berkata: “Wahai putri Rasulullah, semoga Alloh memberi keselamatan kepadamu. Katakan apa yang engkau inginkan!?”. Kemudian Imam Ali as duduk di sampingnya dan menyuruh beberapa orang yang sempat berkumpul di tempat itu untuk keluar dari kamar tempat pembaringan istrinya sehingga beliau dapat leluasa mengutarakan semua rahasianya. Kemudian Sayyidah Fathimah Zahro as berkata: “Wahai anak pamanku, bukankah tidak engkau dapatkan diriku berbohong dan berkhianat kepadamu? Dan bukankah aku tidak pernah menentangmu?”.

Imam Ali as berkata: “Aku berlindung kepada Allah, engkau adalah orang yang lebih mengenal Allah. Engkau adalah orang yang terbaik, orang yang paling bertakwa dan orang yang paling mulia…yang paling aku takutkan dari Tuhanku ialah….. Sungguh telah membuatku sedih dan berduka atas perpisahan dan kepergianmu. Namun harus bagaimana lagi, ini merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sumpah demi Allah, kepergianmu telah menambah kesedihanku atas musibah kepergian Rasulullah. Dan ketahuilah, sungguh agung musibah yang kuhadapi dengan kepergianmu dan ketiadaanmu. Dan sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya”.

Kemudian kedua insan mulia lagi sempurna tersebut menangis karena perpisahan yang akan mereka hadapi. Setelah itu, Imam Ali as meletakkan tubuh suci Sayyidah Fathimah Zahro as di dadanya seraya berkata: “Wahai wanita mulia, ibu terbaik bagi anak-anakku, katakan jika engkau ingin berwasiat. Dan ketahuilah, Ali lelaki setia yang akan melaksanakan segala perintahmu. Dan aku akan mendahulukan keinginanmu dari pada keinginanku, sesulit apapun keinginanmu itu”.

Sayyidah Fathimah Zahro berkata: “Tuhan Maha Pengasih akan memberikan pahala teragung kepadamu. Wahai Ali sayang, wasiat pertamaku setelah kepergianku adalah, engkau harus menikah dengan anak saudariku (bernama Ummul Banin .red), karena ia merupakan ibu yang sangat penyayang terhadap anak-anakku yang masih kecil-kecil itu. Selain itu, dalam mengatur urusan rumahmu engkau memerlukan keberadaan seorang istri”.

Beliau melanjutkan: “Wahai anak pamanku, mandikanlah jenazahku pada malam hari (dalam riwayat lain dikatakan beliau berwasiat agar dimandikan dalam keadaan mengenakan pakaian karena badannya telah suci dan bersih .red). Dan kafani jenazahku pada malam hari. Serta kuburkan jasadku pada waktu malam hari. Janganlah engkau izinkan orang-orang yang telah menzalimiku menghadiri pengiringan jenazahku dan menshalatinya, karena mereka adalah musuh-musuh Allah swt dan Rasul-Nya”.

Seusai berwasiat, lantas beliau memerintahkan untuk memindahkan pembaringannya di tengah ruangan. Lantas beliau berbaring menghadap kiblat dan merenung. Dalam sebagian hadis dikatakan bahwa beliau telah mengirim para putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ke rumah perempuan Bani Hasyim, agar mereka tidak menyaksikan detik-detik kepergiannya yang akan menyedihkan mereka. Bahkan dalam sebagian riwayat dijelaskan pula bahwa kala itu karena ada keperluan yang mendesak, atau karena yang lainnya Imam Ali as dan kedua putranya (Hasan dan Husein as .red) pergi keluar rumah.

Oleh karena itu, kedua putra beliau diakhir ajal beliau tidak berada di sisi ibundanya, sehingga harus menyaksikan kepergian ibu yang sangat mereka cintai. Hanya Asma’ (sebagian mengatakan Fiddhah al-Hindi, murid dan pembantunya .red) yang berada di sampingnya. Detik-detik menjelang ajal beliau telah tiba. Lantas beliau mengucapkan: “Salam atasmu wahai malaikat Jibril. Salam atasmu wahai Rasulullah. Ya Allah, hamba bersama Rasul-Mu. Ya Allah, tempatkan selalu hamba pada keridhoan-Mu, di sisi-Mu, di rumah-Mu, yaitu rumah keselamatan dan kedamaian”.

Lantas beliau bertanya: “Apakah kalian tidak melihat yang sedang aku lihat?”. “Aku melihat rombongan para malaikat langit. Itu malaikat Jibril dan itu adalah ayahku yang berkata: “Wahai putriku, cepatlah kemari. Apa yang ada dihadapnmu lebih baik bagimu…”. Setelah itu beliau menutup kedua belah matanya seraya bibirnya berkomat-kamit: “Hamba kembali menuju-Mu wahai Tuhan-ku, bukan menuju api neraka”. Dan akhirnya beliaupun pergi meninggalkan alam fana ini.

Menyaksikan hal itu Asma’ merangkul tubuh bunda Fathimah Zahro as sambil menangis dan memanggil nama mulia beliau: “Wahai junjunganku, wahai Fathimah, ketika engkau bertemu dengan ayahmu sampaikan salamku kepadanya”. Di saat terdengar suara teriakan, maka datanglah Imam Hasan dan Imam Husein as. Ketika mereka melihat ibunya terbaring, lantas mereka berkata: “Wahai Asma’, ibuku tidak pernah tidur pada jam-jam segini, kenapa beliau diam saja?”. Asma’ dengan raut wajah sedih berkata: “Ibu kalian tidaklah tidur, melainkan ia telah meninggalkan dunia yang fana ini”.

Mendengar hal itu lantas Imam Hasan as (saat itu kurang lebih berusia 7 tahun .red) menjatuhkan tubuhnya di tubuh ibundanya seraya menciumi berkali-kali kedua kakinya. Lalu beliau berkata: “Wahai ibunda, berbicaralah denganku sebelum terpisahnya jiwaku dari ragaku”. Lantas Imam Husein as (saat itu kurang lebih berusia 6 tahun .red) pun melakukan hal yang sama seraya berkata: “Wahai ibunda, aku adalah Husein puteramu. Berbicaralah denganku sebelum jantungku berhenti berdetak, maka kala itu aku meninggal”. Dan seterusnya, saya tidak sanggup untuk meneruskannya. Pada kesempatan lain kita teruskan lagi, sekarang yang hanya dapat kita lakukan hanyalah sekedar untuk mengambil berkah dan mengenang kepergian putri Rasulullah saww. Sebagai perwujudan rasa duka cita atas kepergiannya manusia termulia penghulu para wanita.

Wasiat terakhir beliau yang mungkin membuat kita bertanya-tanya; kenapa beliau berwasiat seperti itu? Dan memang setelah itu Imam Ali as membuat kurang lebih 40 gundukan yang mirip seperti kuburan, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kuburannya kecuali orang tertentu yang turut mengusung jenazahnya. Dan hingga sekarang ini tidak seorangpun mengetahui dengan jelas di mana makam suci wanita paling mulia tersebut kecuali para Imam maksum as dari keluarga Rasul. Beliau yang merupakan wanita paling mulia dan tergolong manusia pilihan kenapa di akhir hayatnya berwasiat seperti itu? Jawaban dari pertanyaan ini akan dapat menyingkap berbagai hakekat akan kebenaran agama Allah yang diturunkan kepada manusia suci Muhammad bin Abdillah saww.

Wahai bunda Fathimah…!

Engkau penjelmaan cahaya Tuhan…

Engkau Penjelmaan kesempurnaan-Nya…

Dan engkau neraca keridhoan dan kemurkan-Nya…

Syafa’ati kami di hari penghisaban semua amal….

[Euis D]

Sumber:

[1] Muhamad Kazim Qazwini, Fathimah minal Mahdi ilal Lahdi.

[2] Pur Sayyid Oghoi, Cesyme dar Bastar.

[3] Muhamad Rey Syahri, Muntakhab Mizan al-Hikmah.

Tanggapan

  1. Asma’ ini siapa ya? Mohon keterangan lebih lanjut karena mungkin banyak yang bernama Asma’ pada saat itu.
    ———————————-
    Muslimah:
    Asma’ binti ‘Umais yang kala itu adalah janda, mantan istri Jakfar bin Abi Thalib. Terima kasih atas saran dan atas kunjungannya.


  2. salom
    ikut berduka cita atas wafatnya penghulu wanita seluruh dunia. semoga kita bisa meneladani kemuliaan beliau. amiiin !


  3. pertanyaan yang susah di cari jawabnya….! cerita ini juga mengingatkan bahwa kita pasti mati….! sudah siapkah saya….?


  4. assalamualaikum,
    Turut merasa berduka atas kepergian ibunda kita tercinta (sayyidah azzahra as), dan kita terkenang dengan pergorbanan beliau dalam membantu ayahnya (Rasulullah Saaw) yang menegakkan Islam sampai saat ini.
    wassalam.


  5. Subhanallah…..

    Sungguh diri ini tak sanggup membaca kalimat demi kalimat yg tertulis ini…..hatiku seperti hancur berantakan….

    berkaca diri yang penuh dosa….


  6. aku mau tanya siapa nama istrinya imam husein?

    ———————————————————————-

    Islam Feminis:
    Imam Husein AS memiliki beberapa istri diantaranya: Syahr Banu (salah satu putri kaisar Persia dinasti Sasania) adalah ibu dari Imam Zainal Abidin AS, Rubab dan Laila.


  7. Berapakah usia Fatimah tatkala dinikahi Ali bin Abi Tholib. Berapakah pula usianya tatkala kembali menghadap Allah

    ———————————————————————————-

    Islam Feminis:
    Sayidah Fathimah Zahra as menikah pada usia 9 tahun dan pergi menghadap Allah swt pada usia 18 tahun.

Al'Qur an berjalan ??/??

Laki-laki bertanya; “Apakah anda jin atau manusia?”.

Ia menjawab: “Ya bani Adam khuzduu zinatakum”; “ Hai anak Adam, pakailah pakainmu yang indah”. [al-A’raf: 31] Maksudnya, ia adalah manusia.


———————————————–

Wow Hebat Sekali…! Al-Qur’an Berjalan

Masih ingatkah akan sejarah hidup pembantu putri Rasulullah saww Sy. Fathimah Zahra as? Mungkin anda jarang sekali menemukan buku sejarah tentangnya. Ia seorang pembantu, namun bukan sembarang pembantu. Ia menjadi pembantu di rumah wanita termulia dan teragung. Siapakah dia, dan apa kelebihannya sehingga kita layak untuk mengenalnya?

Dialah Fidhah Hindi. Ia berasal dari Negara India. Ia datang ke kota Madinah pada zaman Rasulullah saww masih hidup. Dimana statusnya pada saat itu ialah sebagai budak perempuan. Adapun mengenai sebab kedatangannya ke Madinah terdapat perbedaan pendapat dalam berbagai sumber sejarah. Sebagian mengatakan bahwa Fidhah merupakan putri raja India. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui secara jelas mengenai kedatangannya ke Madinah. Karena, pasukan Islam pada saat itu belum pernah memasuki wilayah India. Karena wilayah tersebut baru ditaklukan pada zaman Abdul Malik bin Marwan. [Biharul-Anwar jilid 41 halaman 272 dinukil dari Cesyme dar Bastar halaman 314]

Sementara dalam sumber lain dijelaskan tentang beberapa kemungkinan, di antaranya; Kemungkinan pertama, Raja Najasyi berperang dengan kerajaan India dan akhirnya Fidhah Hindi ditawan, lalu raja Najasyi menghadiahkannya kepada Rasulullah saww. Kemungkinan kedua, Raja Romawi telah memberikan berbagai hadiah kepada Rasulullah, di antaranya ialah menghadiahkan Fidhah Hindi.

Kemungkinan ketiga, karena cahaya Islam telah terpancar dalam hatinya akhirnya ia membiarkan dirinya tertawan agar dapat sampai ke Negara pusatnya Islam…hanya Allahlah yang mengetahui yang sebenarnya. [Riyahanu asy-Syari’ah jilid 2 halaman 320 dinukil dari Cesyme dar Bastar halaman 314] itulah kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan Fidhah Hindi sampai di kota Madinah.

Sempat terbesit dalam hati Fidhah mengharapkan kematian, karena seringnya mendengar berbagai cerita kekejaman para majikan kepada para budak. Fidhah Hindi akan pergi menuju rumah majikan barunya yaitu Sy. Fathimah Zahra as. Dalam perjalanan menuju rumah majikannya, Fidhah menangis karena teringat akan kasih sayang, kelembutan, belaian dan pelukan hangat ibunya. Namun akhirnya, ia pun pasrah atas nasib yang telah menimpanya. Fidhah terus larut dalam lamunannya, sampai akhirnya tiba-tiba ia mendengar seseorang memberikan salam kepadanya. Tidak salah mendengarkah saya? Apaka ada orang yang memberikan salam kepada seorang budak. Ternyata ia tidak salah mendengar, kembali ia mendengar sambutan hangat yang telah memberikan salam kepadanya, seraya berkata: “Assalamualaikum, saya adalah Fathimah. Selamat datang di rumah barumu!”.

Kemudian Sy. Fatimah Zahra membawa masuk ke dalam rumah dan mempersilahkannya duduk. Setelah itu, lantas beliau menyuguhi ia dengan segala hidangan yang terdapat di dalam rumah. Seusai menyaksikan sambutan hangat majikan barunya, pikiran buruk yang telah terbesit dalam pikiran Fidhah pun hilang dari ingatannya. Ia telah datang di rumah wanita termulia dan penghulu para wanita sebagaimana yang telah dijelaskan dalam berbagai riwayat, yang telah memperlakukan pembantu dengan sebaik-baiknya.

Fidhah Hindi sangat terkesima sewaktu menyaksikan wajah suci dan menarik Fathimah Zahra. Ia kembali larut dalam lamunannya: “Betapa bercahaya perempuan ini. Betapa berkharisma perempuan ini. Walaupun ia calon majikanku, namun ia pun sangat baik dan hangat dalam menyambutku…sepertinya aku telah mengenalnya”. Tiba-tiba Fidhah merasakan tangan majikannya telah memegang tanggannya dengan lembut, seraya berkata: “Janganlah sungkan di rumah barumu! Anggaplah aku sebagai saudarimu! Engkau pasti lelah. Oleh karena itu, istirahatlah dulu untuk beberapa hari. Setelah itu, baru kita bergantian dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Ketika giliran saya yang mengerjakan pekerjaan rumah, engkau harus beristirahat. Dan sebaliknya, ketika giliranmu tiba, engkau yang bekerja dan saya akan beribadah”.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Fidhah melihat seorang majikan yang membagi pekerjaan dengan seorang pembantu secara adil. Memberi makan pembantu sama dengan makanannya sendiri . Setiap malam, ia mendengar munajat doa dan tangisan Fathimah Zahra a, yang sedang bermunajat dengan Tuhannya. Menyaksikan pemandangan seperti itu, lalu ia pun bangun mengambil air wudhu dan beribadah. Di rumah majikannya ia telah mendapatkan berbagai ilmu. Ia telah belajar tentang keutamaan, pengorbanan, kedermawanan dan kemanusiaan dari majikannya, Fathimah Zahra as. Fidhah telah menyaksikan majikannya ketika sedang bekerja dan menumbuk gandum selalu terlantun dari bibir sucinya ayat-ayat suci al-Qur’an. Oleh karenanya, ia telah belajar untuk selalu dekat dan bersama al-Qur’an dari Fathimah Zahra as. Bahkan ia tidak pernah berbicara melainkan dengan ayat-ayat al-Qur’an sampai akhir hayatnya. Ketika ia ingin mengatakan atau menanyakan sesuatu maka akan menggunakan ayat-ayat suci al-Qur’an.

Disebutkan dalam sejarah, pada suatu hari di padangan pasir Hijaz seorang laki-laki tertinggal dari rombongannya dan ia telah bertemu dengan Fidhah Hindi.

- Laki-laki tersebut bertanya kepadanya: “Siapakah anda?”.

- Fidhah Hindi menjawab: “Wa qul salaamun fa saufa ya’lamun; “dan Katakanlah: “Salam kelak mereka akan mengetahui”. [Az-Zuhruf: 89]

- Dari ayat itu, laki-laki telah memahami bahwa ia harus mengucapkan salam terlebih dahulu. Oleh Karena itu, ia mengucapkan salam kepada Fidhah Hindi. Lalu ia bertanya kembali: “Apa yang anda lakukan di tempat ini sendirian? Apakah anda tersesat?”.

- Fidhah Hindi menjawab: “Man yahdillahu fa ma lahu min mudhilin”; “Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya”. [az-Zumar:37]

- Laki-laki bertanya; “Apakah anda jin atau manusia?”

- Fidhah Hindi menjawab: “Ya bani Adam khuzduu zinatakum”; “ Hai anak Adam, pakailah pakainmu yang indah”. [al-A’raf: 31] Maksudnya, ia adalah manusia.

- Laki-laki bertanya; “Anda berasal dari mana?”.

- Fidhah Hindi menjawab: “Yunaduuna min makanin b’aiidin”; “mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh“. [Fushilat:44] Maksudnya, ia berasal dari tempat jauh.

- Laki-laki bertanya: “Anda mau pergi kemana?”.

- Fidhah Hindi menjawab: “Walillahi ‘alannasi hijjul baeti”; “ Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”. [Ali-Imron: 97] Maksudnya, ia hendak pergi ke kota suci Mekkah.

- Laki-laki bertanya: “Sudah berapa lama anda di perjalanan?”.

- Fidhah Hindi menjawab: “Wa laqad kholaqna as-samawaati walardhi fi sitati ayyaami “; “Dan Sesungguhnya Telah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa”. [Qaaf: 38] Maksudnya, telah 6 hari lamanya ia berada dalam perjalanan.

- Laki-laki bertanya: “Apakah anda sudah makan?”.

Fidhah Hindi menjawab: “Wa ma ja’alna hum jasadan la ya’kuluun at-tha’ami”; “Dan tidaklah kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan. [al-Anbiyaa: 8] Maksudnya, ialah belum makan.

- Lalu laki-laki tersebut memberi makan kepadanya, seraya bertanya: “Kenapa anda tidak berjalan cepat sehingga tidak tertinggal?”.

- Fidhah Hindi menjawab: “La yukalifullahu nafsan illa wus’ahaa”; “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [al-Baqarah: 286] Maksudnya, ia tidak mampu berjalan dengan cepat karena usianya yang telah lanjut.

- Lalu laki-laki bertanya: “Apakah anda berkenan menaiki tungganganku -unta-?”.

- Fidhah Hindi menjawab: “Lau kaan fiihima aalihatun illallah lafasadata”; “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa”. [al-Anbiya: 22] Maksudnya, tidak mungkin menunggangi tunggangan (onta) secara bersamaan.

- Lalu laki-laki turun dari tunggangannya dan mempersilahkan Fidhah menaikinya, lalu bergerak untuk melanjutkan perjalanannya.

- Setelah menaiki tunggangan, lantas Fidhah berkata: “Subhana alladzi sakhkhaara lanaa hadza”; “Maha Suci Tuhan yang Telah menundukkan semua Ini bagi kami”. [az-Zuhruf: 13] Maksudnya, ia memohon kepada laki-laki tersebut untuk menghantarkan ke rombongannya.

- Lalu laki-laki mengantarkan Fidhah sampai bertemu dengan rombongannya, dan bertanya kepadanya; “Apakah di antara rombongan ini ada yang anda kenal?”.

- Fidhah Hindi menjawab: “Ya Daud innaa ja’alnaaka khalifatan filardhi”; “Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi”. [Shaad: 26] “Wa ma Muhamadun illa rasulun”; “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul”. [Ali Imron: 144]

Ya Yahya khudi alkitaba”; “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat)…”. [Maryam:12] ”Ya Musa innii anaa Rabbuka …”; “Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu”. [Thaha: 11-12]

- Laki-laki pun memahami maksud Fidhah bahwa nama-nama yang telah disebutkannya (Daud, Muhamad, Musa dan Yahya) ialah orang-orang yang dikenalnya. Lantas laki-laki memanggil keempat orang tersebut. Tidak lama datanglah empat orang laki-laki muda. Laki-laki itu kembali menengok ke arah Fidhah seraya bertanya: “Apakah hubungan mereka denganmu?”.

- Fidhah Hindi menjawab: “Almaalu wa albanuunu zinatul hayaati dunya”; “Harta dan anak-anak merupakan perhiasan dunia”. [Kahfi: 46] Maksudnya, keempat anak muda tersebut ialah anak-anaknya.

- Ketika anak-anak Fidhah menghampirinya, lantas ia berkata kepada mereka: “Ya abati ista’jirhu inna khaira man ista’jarta alqawiyu alamiinu “Wahai ayahku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya”. [Qashas: 26] Maksudnya, karena laki-laki tersebut telah susah payah dalam menghantarkannya ke rombongan, sebagai gantinya ia harus diberi upah. Lantas para anaknya memberikan upah kepada laki-laki tersebut.

- Namun Fidhah kembali berkata; “Wallahu yudhaifu liman yasya’u”; “Dan Allah akan melipat gandakan (diberi lebih) bagi yang dikehendakinya”. [al-Baqarah; 263] Para anak Fidhah memahami maksud ibunya, yaitu agar memberikan uang lebih dari bayaran yang seharusnya. Lantas mereka pun melipat gandakan bayaran laki-laki tadi.

Sewaktu laki-laki menyaksikan Fidhah sangat menguasai al-Qur’an, dengan penuh rasa takjub ia bertanya: “Siapakah sebenarnya perempuan ini?”. Mereka menjawab: “Dia adalah ibu kami Fidhah, mantan pembantu Fathimah Zahra as. Dua puluh (20) tahun lamanya tidak pernah berbicara melainkan dengan al-Qur’an. [Biharul-Anwar jilid 43 halaman 46 dinukil dari Cesyme dar Bastar halaman 310-312] Laki-laki tadi masih tertegun setelah menyaksikan kelihaian Fidhah dalam menguasai al-Qur’an. Dalam hati ia bertanya: “Sebenarnya bagaimana Fathimah Zahra as memperlakukan pembantunya, sehingga pembantunya menjadi seperti ini? Andaikan aku memiliki anak seperti ini”.

[ED, sumber buku Cesyme dar Bastar; analisa tentang berbagai sisi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as, karya Pur Sayyid Oghoi]

“Aku Membenci Kebenaran dan Menyukai Fitnah”

“Bagaimana engkau menginginkanku pagi hari ini? Pagi ini, demi Allah, aku membenci kebenaran, menyukai fitnah, bersaksi dengan apa yang tidak aku lihat, menghafal selain makhluk, bershalat tanpa wudhu, di bumi aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Allah.”

———————————————————

“Aku Membenci Kebenaran dan Menyukai Fitnah”

Allamah Kanji Syafi’i meriwayatkan melalui sanadnya dari Huzaifah bin Yaman yang bertemu Umar bin Khatab. Saat itu Umar bin Khatab bertanya kepadanya, “Bagaimana kabarmu pagi ini, wahai Ibnu Yaman?”

Dia menjawab, “Bagaimana engkau menginginkanku pagi hari ini? Pagi ini, demi Allah, aku membenci kebenaran, menyukai fitnah, bersaksi dengan apa yang tidak aku lihat, menghafal selain makhluk, bershalat tanpa wudhu, di bumi aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Allah.”

Maka Umar bin Khatab marah mendengar jawabannya dan segera berlalu darinya. Umar bin Khatab bertekad menghukumi Huzaifah karena mengeluarkan pendapat tersebut. Dalam perjalanan Umar bin Khatab berpapasan dengan Ali bin Abi Thalib yang melihat amarah di wajah Umar bin khatab.

Ali bertanya, “Apa yang telah membuatmu marah, wahai Umar?”, Umar menjawab, “Aku bertemu Huzaifah bin Yaman, lalu bertanya tentang kabarnya pagi ini? Dia menjawab bahwa pagi ini dia membenci kebenaran.”

Ali bin abi Thalib menjawab, “Dia benar. Dia membenci kematian, dan kematian adalah haq (benar).” Umar berkata, “Tidak, dia berkata, “Aku mencintai fitnah.”

Ali menjawab, “Dia benar, dia mencintai harta dan anaknya. Bukankah Allah swt telah berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak adalah fitnah…(al-Anfal:28).”

Umar berkata lagi, “Wahai Ali, dia berkata, “Aku bersaksi atas apa yang tidak aku lihat.” Ali menjawab, “Dia benar, dia bersaksi atas keesaan, kematian, kebangkitan, kiamat, surga, neraka dan shirath, padahal dia tidak dan belum melihat semua itu.”

Umar berkata lagi, “Wahai Ali, dia berkata, “Sesungguhnya aku menghafal selain makhluk Allah.” Ali menjawab, “Dia benar, dia hapal kitab Allah swt, al-Qur’an dan itu bukan makhluk Allah.”

Umar berkata, “Dia berkata, “Aku bershalat tanpa wudhu.” Ali menjawab, “Dia benar, shalat (shalat memiliki dua arti; shalat dan shalawat, maksud Huzaifah adalah shalawat –Allohuma shalli ala Muhamad wa aali Muhamad-) kepada putra pamanku, Rasulullah saww tanpa harus berwudhu, seperti itu diperbolehkan.”

Umar berkata, “Wahai Aba Hasan, dia berkata lebih dari itu.” “Apa yang dia katakan?” tanya Ali. Umar berkata, “Sesungguhnya di bumi ini, aku memiliki apa yang tidak dimiliki Allah swt.”

Ali menjawab, “Dia benar, dia memiliki anak istri dan Allah tidak memiliki anak dan tidak pula memiliki istri.” Lalu Umar berkata, “hampir saja putra Khatab celaka kalau tidak ada Ali bin Abi Thalib.” Kanji berkata, “Kisah ini banyak dinukil oleh para perawi, disebut oleh para sejarah”. [Kifayah ath-Thalib, Nudzum Durar as-Simthain, Nur al-Abshar, Faraid as-Simthain, Al-Fushul al-Muhimmah Ibnu Shibagh]

[ED, dinukil dari ‘Kenapa Mesti Ali’, karya Medi Fakih Imani halaman 129-130]

Tanggapan

  1. Celakalah orang yang memelihara sikap terburu-buru, telendor, dan mudah menarik kesimpulan atas sebuah fenomena.


  2. subhanallah
    sungguh luas ilmu allh
    seperti yg dinukil ali


  3. Alangkah indahnya apabila semua orang mempunyai fikiran seperti Imam Ali AS, apalagi di era komunikasi seperti sekarang ini dimana komunikasi mampu membangun dan menghancurkan suatu negara…
    pokoke two tumbs up deh…
    afwan


  4. sungguh luas ilmu yg diberikan Rasullullah Saaw kepada Imam Ali sehingga bak kota ilmu maka Ali adalah pintunya… dengan akal yg sehat kita mempertanyakan kenapa Umar menjadi khalifah ???????????….. sungguh islam telah di khianati sepeninggal Rasul suci…isfalana ya nabiAllah

Jumat, 13 Februari 2009

29 Mei- Pembebasan Constantinople

Assalamualaikum warahmatullah everyone..=)

Semoga sahabat semua sentiasa dalam rahmat kasih dan sayang NYA..Alhamdulillah, kali ini saya bawakan kepada anda tentang perjuangan tokoh Islam yang agung di zaman kegemilangan kerajaan Uthmaniyyah. Seperti yang anda semua maklum tarikh 29 Mei 1453 adalah tarikh yang bersejarah dalam perjalanan dakwah Islamiyah, kerana pada tarikh inilah Constantinople yang sebelum ini dibawah penguasaan kerajaan Kristian telah jatuh ke tangan pemerintahan Islam.

Ketika menggali parit dalam peperangan Khandaq, Rasulullah S.A.W telah bersabda:

“..Constantinople (kini Istanbul) akan jatuh ke tangan tentera Islam. Rajanya adalah sebaik-baik raja, tenteranya adalah sebaik-baik tentera……”

(Hadis riwayat Imam Ahmad)

Dan tahukah sahabat semua siapakah tokoh terulung yang dimaksudkan ini?

Di bawah ini adalah artikel yang dipetik dari blog Ustaz Muhammad Fauzi, untuk mengetahui siapakah tokoh tersebut..baca jangan tak baca…=)

Umat Islam berlumba-lumba membebaskan Constantinople untuk mendapatkan penghormatan yang dijanjikan oleh Allah swt di dalam Hadis tersebut. Walau bagaimanapun, kesemua kempen yang dilancarkan menemui kegagalan. Di antaranya, 5 kempen di zaman Kerajaan Umayyah, 1 kempen di zaman Kerajaan Abbasiyah dan 2 kempen di zaman Kerajaan Uthmaniyah.

Di dalam salah sebuah kempen semasa zaman Kerajaan Umayyah, seorang sahabat besar Nabi saw iaitu Abu Ayyub Al-Ansary ra telah syahid dan dimakamkan di bawah dinding kubu Kota Constantinople di atas wasiatnya sendiri. Apabila ditanya kenapa beliau ingin dimakamkan di situ maka beliau menjawab, “Kerana aku ingin mendengar derapan tapak kaki kuda sebaik-baik raja yang akan mengetuai sebaik-baik tentera semasa mereka membebaskan Constantinople”. Begitulah teguhnya iman seorang sahabat besar Nabi saw.

Hadis Nabi saw ini direalisasikan hampir 800 tahun kemudiannya oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, khalifah ke-7 Kerajaan Uthmaniyyah dan 150,000 orang tenteranya.

Siapakah Sultan Muhammad Al-Fatih? Apakah kehebatan beliau dan tentera-tenteranya sehingga dikatakan “sebaik-baik raja” dan “sebaik-baik tentera” di dalam hadis yang telah dinyatakan sebentar tadi?

PENGENALAN

Beliau dilahirkan pada 29 Mac 1432 Masihi di Adrianapolis (sempadan Turki - Bulgaria). Walau bagaimanapun, sejarah hidup beliau sebenarnya telah bermula hampir 800 tahun sebelum kelahirannya kerana telah disebut sebagai “sebaik-baik raja” di dalam Hadis tadi. Baginda juga dikenali dengan gelaran Muhammad Al-Fatih kerana kejayaannya membebaskan Constantinople.

Beliau menaiki takhta ketika berusia 19 tahun dan memerintah selama 30 tahun (1451 - 1481). Beliau merupakan seorang negarawan ulung dan panglima tentera agung yang memimpin sendiri 25 kempen peperangan. Beliau mangkat pada 3 Mei 1481 kerana sakit gout. Ada ahli sejarah berpendapat beliau mangkat akibat diracun.

PENDIDIKAN

Beliau menerima pendidikan yang menyeluruh dan bersepadu. Di dalam bidang keagamaan, gurunya adalah Syeikh Shamsuddin Al Wali dikatakan dari keturunan Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq ra. Di dalam ilmu peperangan pula, Beliau diajarkan tektik peperangan, memanah dan menunggang kuda oleh panglima-panglima tentera.

Guru al-fatih berserban putih di sebelah kuda

Di dalam bidang akademik pula, beliau adalah seorang cendekiawan ulung di zamannya yang fasih bertutur dalam 7 bahasa iaitu Bahasa Arab, Latin, Greek, Serbia, Turki, Parsi dan Hebrew. Di dalam bidang Ilmu Pemerintahan pula, ayahanda beliau , Sultan Murad II, dengan tujuan mendidik, semasa pergi bersuluk ke Pulau Magnesia, telah melantik beliau yang baru berusia 12 tahun memangku jawatan Khalifah. Dalam usia semuda ini beliau telah matang menangani tipu helah musuh.

KEPERIBADIAN

Beliau sentiasa bersifat tawadhu’ dan rendah diri . Semasa membina Benteng Rumeli Hissari, beliau membuka baju dan serbannya, mengangkat batu dan pasir hingga ulama’-ulama’ dan menteri-menteri terpaksa ikut sama bekerja

Beliau seorang yang sentiasa tenang, pendiam, berani, sabar, tegas dan kuat menyimpan rahsia pemerintahan. Beliau sangat cintakan ulama’ dan selalu berbincang dengan mereka tentang permasalahan negara.

PERSIAPAN AWAL MEMBEBASKAN CONSTANTINOPLE

Selama 2 tahun selepas menaiki takhta, beliau mengkaji pelan Kota Costantinople setiap malam bagi mengenal pasti titik kelemahannya. Beliau juga mengkaji sebab-sebab kegagalan kempen-kempen terdahulu serta berbincang dengan panglima-panglima perangnya tentang tentang strategi yang sesuai untuk digunakan.

Beliau mengarahkan dibina peralatan perang termoden seperti meriam besar yang boleh menembak bom 300 kg sejauh 1 batu. Benteng Rumeli Hissari dibina di tebing sebelah Eropah, lebih kurang 5 batu dari Kota Constantinople di mana Selat Bosphorus adalah yang paling sempit. Ia dibina bertentangan dengan Benteng Anadolu Hisar di tebing sebelah Asia yang telah dibina oleh Sultan Bayazid Yildirim dahulu. Benteng ini mengawal rapi kapal-kapal yang melintasi Selat Bosphorus. Perjanjian damai dibuat dengan pihak Wallachia, Serbia dan Hungary untuk memencilkan Constantinople apabila diserang nanti.

Beliau membawa bersama para ulamak dan pakar motivasi ke medan perang bagi membakar semangat jihad tenteranya. Sebaik sahaja menghampiri dinding kubu Kota Constantinople,beliau mengarahkan dilaungkan Azan dan solat berjemaah. Tentera Byzantine berasa gentar melihat 150,000 tentera Islam bersolat di belakang pemimpin mereka dengan laungan takbir memecah kesunyian alam.

MELANCARKAN SERANGAN KE ATAS CONSTANTINOPLE

Setelah segala persiapan lengkap diatur, beliau menghantar utusan kepada Raja Byzantine meminta beliau menyerah. Keengganan beliau mengakibatkan kota tersebut dikepung. Pada 19 April 1453, serangan dimulakan. Kota tersebut hujani peluru meriam selama 48 hari. Setengah dinding luarnya rosak tetapi dinding tengahnya masih teguh.

Menara Bergerak

Seterusnya beliau mengarahkan penggunaan menara bergerak yang lebih tinggi dari dinding kubu Byzantine dan memuatkan ratusan tentera. Tentera Byzantine berjaya memusnahkan menara tersebut setelah ianya menembusi dinding tengah kubu mereka.

Bantuan Dari Pope Vatican

rantai merentang teluk horn

Pope di Rome menghantar bantuan 5 buah armada yang dipenuhi dengan senjata dan tentera. Perairan Teluk Golden Horn direntang dengan rantai besi untuk menghalang kemaraan armada Uthmaniyah. Ini menaikkan semula semangat tentera Byzantine.

rantai yang digunakan rantai merentangi teluk horn

Melancarkan Kapal Perang Dari Puncak Gunung

Kegembiraan mereka tidak lama. Keesokan paginya, mereka dikejutkan dengan kehadiran 72 buah kapal perang Uthmaniyah di perairan Teluk Golden Horn. Ini adalah hasil kebijaksanaan beliau mengangkut kapal-kapal ke atas gunung dan kemudian diluncurkan semula ke perairan Teluk Golden Horn. Tektik ini diakui sebagai antara tektik peperangan (warfare strategy) yang terbaik di dunia oleh para sejarawan Barat sendiri. Kapal-kapal itu kemudiannya membedil dinding pertahanan belakang kota.

kapal merentasi gunung-laluan coklat di blakang kanan

Kapal-kapal perang tentera Byzantine habis terbakar kerana bedilan meriam Uthmaniyah. Pertahanan Byzantine menjadi semakin lemah. Beliau mengambil kesempatan pada malamnya dengan memberikan semangat kepada tenteranya serta mengingatkan mereka kepada Hadis Rasulullah saw dan bersama-sama berdoa kepada Allah swt.

Memanjat dan Melastik Dinding Kota

Keesokan paginya tentera Uthmaniyah cuba memanjat dinding dalam kubu dengan tangga dan cuba merobohkannya dengan lastik besar. Tentangan sengit pihak Byzantine menyebabkan ramai yang syahid. Baginda memerintahkan tenteranya berundur dan bedilan meriam diteruskan sehingga tengahari.

Karisma Seorang Pemimpin

Pengepungan selama 53 hari tanpa sebarang tanda-tanda kejayaan telah menimbulkan rasa bosan dan menghilangkan keyakinan tentera beliau. Pada saat yang genting ini beliau telah berucap bagi menaikkan semula semangat tenteranya yang berbunyi,“Wahai tenteraku, aku bersedia untuk mati di jalan Allah. Sesiapa yang mahu syahid ikutlah aku!”.

Mendengarkan itu, Hasan Ulubate, salah seorang tentera beliau mengetuai sekumpulan kecil 30 tentera membuka dan melompat masuk ke dalam kubu musuh lantas memacak bendera Islam di situ. Mereka kesemuanya gugur syahid setelah dihujani anak panah musuh. Kemudian tentera-tentera Islam menyerbu bertali arus menembusi barisan pertahanan Byzantine sambil melaungkan kalimah Allahu Akbar.

Penawanan Constantinople

Pada 29 Mei 1453, Kota Constantinople jatuh ke tangan Islam. Beliau menukar namanya kepada Islambol (Islam keseluruhan) . Gereja Besar St Sophies ditukar kepada Masjid Aya Sofiya. Beliau dengan tawadhuknya melumurkan tanah ke dahinya lalu melakukan sujud syukur. Semenjak peristiwa inilah Beliau diberi gelaran “Al-Fatih” iaitu yang menang kerana kejayaannya membebaskan Constantinople.

SEBAIK-BAIK RAJA DAN SEBAIK-BAIK TENTERA

Pada kali pertama solat Jumaat hendak didirikan, timbul pertanyaan siapa yang layak menjadi imam. Beliau memerintahkan kesemua tenteranya termasuk dirinya bangun lantas bertanya, “Siapa di antara kita sejak baligh hingga sekarang pernah meninggalkan solat fardhu walau sekali sila duduk!”. Tiada seorang pun yang duduk, kerana tidak seorang pun di antara mereka pernah meninggalkan solat fardhu.

Baginda bertanya lagi, “Siapa di antara kita yang sejak baligh hingga kini pernah meninggalkan solat sunat rawatib sila duduk!”. Sebahagian daripada tenteranya duduk.

Kemudian Baginda bertanya lagi, “Siapa di antara kamu sejak baligh hingga ke saat ini pernah meninggalkan solat tahajjud walaupun satu malam, sila duduk!”. Kali ini semuanya duduk, kecuali Sultan Muhammad Al-Fatih sendiri. Baginda tidak pernah meninggalkan solat fardhu, Solat Sunat Rawatib dan Solat Tahajjud sejak baligh . Inilah dia anak didikan Syeikh Shamsuddin Al Wali. Beliau sebaik-baik raja yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah saw di dalam Hadisnya itu.