Senin, 02 Maret 2009

kisah bijak !!!!!!!!!!!!!!!

Salah seorang arif (bijak) berkata: “Aku memiliki seorang anak berumur tiga puluh tahun. Namun hingga kini aku tidak pernah memberikan perintah kepadanya, karena aku takut ia tidak mentaati perintahku yang akhirnya akan menyebabkan ia mendapatkan siksa”. [Euis.D]


Tanggapan

Justru engga bijak jadiknya. Syariah ada bukan untuk membebani dan mencari-cari orang untuk mengisi neraka (karena melanggar syariah). Allah membuat syariah justru memberi kesempatan agar kita bisa lebih baik. Begitu juga ketika menjadi ortu, justru harusnya kita mengajarkan dan memberi kesempatan padanya untuk bisa mengenal tuhannya dan lebih baik hidupnya (dgn syariah).

Kertas putih itu memang terlihat bersih, hanya karena kita takut mengotorinya, bukan berarti kita tidak bisa melukis diatasnya.

———————————————————-

Islam Feminis:

Jika anda pahami ungkapan orang tua itu, niscaya anda tidak akan melihat terdapat kontradiksi antara penyataannya dan pernyataan anda.

Perintah orang tua akan dapat dibenarkan selama tidak bertentangan dengan perintah Allah. Jika hubungannya bersifat vertikal maka perintah jenis ini tidak menjadi masalah. Namun jika bersifat horisontal maka harus tidak taat kepada orang tua dan harus mendahulukan perintah Allah. Penafian perintah orang tua yang bertentangan dengan perintah Allah pun harus dengan cara yang baik dan sopan, sesuai apa yang diperintahkan Allah.

Maksud dari perintah orang tua di atas adalah, ia khawatir perintahnya itu bersifat horisontal. Makanya ia hanya memberikan perintah Allah saja kepada anaknya. Itu saja.

Salah seorang pembesar telah ditanya; bagaimana Tuan dapat mencapai kedudukan seperti ini? Beliau menjawab: “Melalui doa ibuku. Pada suatu malam beliau meminta air dariku. Lantas aku mengambilkan dan hendak memberikan kepadanya, namun aku melihat beliau telah tertidur kembali. Menyaksikan hal itu aku berdiri menunggunya hingga waktu subuh. Sewaktu ibuku terbangun dengan penuh rasa heran beliau bertanya: “Kenapa berdiri?” lantas aku menceritakan sebab berdiriku kepadanya. Melihat hal tersebut kemudian ibuku bangkit untuk melaksanakan shalat dan berdoa seraya berkata: “Wahai Tuhanku, sebagaimana anakku ini telah menghormati dan memuliakanku maka muliakan dan jadikanlah orang besar di antara makhluk-Mu”. [Euis.D]

(Sumber: Dantanhoye Mauzu, karya Kazim Said Pur)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar