Senin, 02 Maret 2009

Perempuan Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh

desa-iran.jpg

Maksud ayahku, bahwa aku buta karena aku tidak pernah melihat laki-laki yang bukan muhrim. Aku tuli karena aku tidak pernah mendengar perkataan buruk. Aku bisu karena aku tidak pernah menggunjing orang dan mengatakan perkataan buruk, serta aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kakiku menuju tempat-tempat maksiat”.

——————————————————————-

Perempuan Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh

Muhammad ayahnya seorang ulama besar yang bernama Al-Mukaddas AL-Ardibily hidup di desa Nayar-Ardibil (salah satu nama kota di Iran). Pada suatu hari, beliau sedang sibuk menyirami ladangnya, tiba-tiba melihat sebuah buah apel yang terbawa air yang menyirami ladangnya. Lantas beliau mengambil apel tersebut dan memakannya. Namun setelah berlalu satu jam, beliau merasa menyesal karena telah memakan apel tersebut tanpa sebelumnya meminta izin kepada pemiliknya. Kemudian beliau berjalan menelusuri aliran air sampai akhirnya tiba di kebun apel. Beliau menemui pemilik pohon apel dan memohon kerelaan darinya. Pemilik apel berkata: “Aku merelakannya, namun pohon apel ini milik aku dan saudaraku. Sementara aku tidak tahu apakah ia merelakannya atau tidak? Dan sekarang ia tinggal di
kota Najaf (Irak)”. Mendengar hal itu Muhamad Ardibily merasa sedih. Lalu dengan berniat untuk berziarah ke makam Imam Ali as dan demi meminta kerelaan pemilik pohon apel, akhirnya beliau berangkat ke kota Najaf. Sesampainya di kota Najaf, beliau menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi kepada pemilik pohon apel tersebut, serta memohon kerelaan darinya.
Namun, pemilik pemohon apel tersebut akan menerima permohonan kerelaannya dengan syarat ia harus menikah dengan putrinya. Dalam memperkenalkan keadaan putrinya beliau berkata: “Ia buta, tuli, bisu dan lumpuh”. Karena ia telah bersusah payah untuk mendapatkan kerelaannya, dan tidak mungkin kembali tanpa membawa hasil, akhirnya beliau menerima syarat tersebut.

Kemudian setelah itu, upacara pernikahanpun dilaksanakan. Pada malam pengantin Muhamad sangat kaget karena tidak mendapatkan istrinya sebagaimana yang telah disifati oleh ayahnya. Bahkan ia mendapatkan istri yang cantik dan tidak cacat. Dengan penuh keheranan ia menanyakan sebab perkataan ayah istrinya kepadanya, dalam menjawab pertanyaan suaminya ia berkata: “Maksud ayahku, bahwa aku buta karena aku tidak pernah melihat laki-laki yang bukan muhrim. Aku tuli karena aku tidak pernah mendengar perkataan buruk. Aku bisu karena aku tidak pernah menggunjing orang dan mengatakan perkataan buruk, serta aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kakiku menuju tempat-tempat maksiat”.

Dari pernikahan ini lahirlah seorang ulama besar yang bernama Ahmad yang kemudian dikenal dengan Syeikh Al-Mukaddas Al-Ardibily. Beliau telah mendapat kehormatan berjumpa dengan Imam Mahdi aj.

(Euis Daryati, sumber: Ahklak Ijtimai Dukhtaran, Ali Ashghar Zahiri, hal 106)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar