Senin, 02 Maret 2009

Kunci Kesuksesan’ Murtadha Muthahari’

motahhari.jpg

“Salah satu kunci kesuksesan beliau yang sangat menarik, sejak usia 15 tahun beliau selalu mencatat semua yang telah dibaca (poin-poin penting dan garis besar pembahasan), sampai-sampai beliau memiliki buku catatan berdasarkan Abjad. Bahkan beliau selalu menyarankan kepada kita ketika ingin membaca sebuah buku maka bacalah sebanyak tiga kali: Pertama, bacalah! Kedua, pahamilah! Dan ketiga, perdalamilah. Sampai beliau menghapal setiap buku yang beliau baca”, Lanjutnya.

—————————————————–

Kunci Kesuksesan’ Murtadha Muthahari’

Ketika melihat berbagai karya beliau yang telah diterjemahkan dan dicetak ke dalam bahasa Indonesia, sebagian menulis nama beliau dengan tulisan ‘Murteza Muthahari’, dan adapula yang menulis nama beliau dengan tulisan ‘Murthadha Muthahari’. Pada ejaan pertama maupun kedua, orangnya adalah satu. Hanya saja, nama pertama dengan ejaan bahasa Persia yang sudah diIndonesiakan, sementara nama kedua dengan ejaan bahasa Arab yang telah diIndonesiakan. Sebenarnya kita tak perlu berdebat berkaitan dengan nama beliau.

Pada hari ini, di kampus kami diselenggarakan peringatan hari kesyahidan Murthada Muthahari. Di Negara Iran hari kesyahidan (beliau mati syahid .red) beliau dijadikan sebagai hari guru. Pada hari tersebut, para murid membawa bunga dan hadiah untuk dipersembahkan kepada para guru sebagai tanda terima kasih atas jasa-jasa mereka.

Bertepatan dengan ‘hari guru’ dan untuk mengenang Murtadha Muthahari, kampus kami mengundang salah satu putri beliau yang bernama Dr. Wahidi Muthahari. Sewaktu ayahnya syahid, beliau berusia 14 tahun. Kemudian beliau memulai pembicaraannya dengan penuh ketawadhuan (rendah hati) seraya berkata: “Aku tidak memiliki kelebihan yang dimiliki oleh ayahku. Aku hanya ingin menyampaikan yang kuketahui tentang beliau dari perannya sebagai seorang ayah dan seorang guru. Selama 14 tahun kami hidup bersamanya. Kelahiran dan kematian beliau dimulai dengan sebuah mimpi (mimpi benar). Nenekku (ibu Murthadha Muthahari) berkata: ”Semasa aku hamil, aku telah bermimpi terdapat banyak perempuan telah berkumpul. Tiba-tiba seorang perempuan datang memberi air bunga kepada kami, para perempuan. Namun anehnya, ada yang disirami hanya setetes saja, bahkan ada yang sama sekali tidak disirami air bunga tesebut. Namun ketika tiba giliranku, beliau menyiramiku dengan air bunga yang sangat banyak. Untuk menghilangkan rasa keheranan yang telah meliputiku, akhirnya aku bertanya: “Kenapa tuan menyiramiku banyak sekali? Beliau menjawab: “Ini dikarenakan janin yang ada di dalam rahimmu.”

Putri Murtadha Muthahari melanjutkan; “Jiwa dan raganya, beliau serahkan kepada Kekasih Sejatinya (Allah swt). Beliau benar-benar pandai membagi waktu untuk keluarga, ibadah, dan tugas beliau lainnya. Segala sesuatu dilakukan berdasarkan planing dan program terlebih dahulu. Kesabaran beliau sebagai ayah, lemah lembut tapi tegas. Beliau meluangkan waktu untuk acara keluarga, memperhatikan dan mengontrol tugas-tugas anak-anaknya, dan mengontrol dengan cermat tugas-tugas yang berkaitan dengan kewajiban agama anak-anaknya (shalat, puasa dan ibadah lainnya). “Beliau selalu bangun dari tidurnya 2 jam sebelum adzan Subuh, untuk bermunajat dengan Kekasih Sejatinya dan melakukan shalat malam (tahajud) dengan melakukan sujud yang sangat panjang. Beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam sejak muda sampai ketika beliau mendekati kesyahidannya. Seusai shalat Subuh beliau melaksanakan ibadah mustahab lainnya seperti zikir dan membaca al-Qur’an sampai terbit matahari.”

Putri Murtadha Muthahari mengatakan bahwa salah seorang mantan tetangganya telah berkata: “Aku melihat cahaya lampu yang berasal dari salah satu tempat tetanggaku setiap 2 jam sebelum adzan subuh. Rasa heran mendorongku untuk mengatahuinya. Lantas aku bangun dan mengikuti tempat berasal cahaya lampu tersebut. Ternyata, aku melihat orang yang setiap hari aku melihat beliau keluar dari rumah pagi-pagi sekali dengan aktifitas yang padat dan kembali pada malam hari. Saat itu beliau sedang melaksanakan shalat malam dengan sujud yang sangat lama. Setelah menyaksikan hal itu, akhirnya aku melaksanakan shalat subuh dan selalu melaksanakan shalat, padahal sebelumnya aku tidak pernah melakukan shalat (ia menjadi orang yang baik).”

Dalam melanjutkan pembicaraannya kembali berkata: “Ayahku selalu membaca al-Qur’an sebelum tidur, kurang lebih selama 20 menit. Beliau pun selalu dalam keadaan wudhu (Murtadha Muthahari berwudhu bukan untuk ketika hendak mendirikan shalat saja), dan tidak pernah melakukan pekerjaan apapun tanpanya (tanpa berwudhu). Beliau sangat berani, walaupun posisi sulit dan tekanan yang beliau hadapi baik yang berasal dari rezim Pahlavi maupun dari orang yang mengaku Islam tapi Islam marxis. Kebebasan pemikiran beliau. Beliau menjauhi ketenaran dan tidak cinta kedudukan. Salah satu contoh konkrit ketawadhuannya ialah beliau tidak pernah mau menerima selain namanya dicantumkan (Tidak suka gelarnya dicantumkan) dalam berbagai karyanya, seraya berkata: “Namaku hanyalah ‘Murthadha Muthahari’. Beliau lakukan semuanya yaitu menulis berbagai buku dalam berbagai bidang seperti: Tafsir al-Qur’an, Filsafat Islam dan Barat (studi komparasi dan kritisi pemikiran dan berbagai aliran filsafat Barat), Teologi, Mistik (Tasawuf/Irfan), Sosiologi, Politik, Ushul-Fikih, Fikih, Ilmu Logika…dll, dengan penuh keikhlasan dan karena Allah swt (demi menjalankan tugas yang ada di pundaknya).”

Dan kelebihan yang beliau miliki yang tidak mungkin disebutkan semuanya dalam kesempatan sekarang ini. “Namun salah satu kunci kesuksesan beliau yang paling menarik, sejak usia 15 tahun beliau selalu mencatat semua yang telah dibaca (poin-poin penting dan garis besar pembahasan), sampai-sampai beliau memiliki buku catatan berdasarkan Abjad. Bahkan beliau selalu menyarankan kepada kita ketika ingin membaca sebuah buku maka bacalah sebanyak tiga kali: Pertama, bacalah! Kedua, pahamilah! Dan ketiga, perdalamilah! Sampai beliau menghapal setiap buku yang beliau baca”, Lanjutnya.

Salah satu karya beliau yang sangat menarik yang telah membahas isu-isu perempuan ialah: Hijab (baca; jilbab), tentang sejarah, falsafah, pensyariatan ..dll. begitupula karyanya tentang hak-hak perempuan dalam Islam. Berulang-ulang saya membaca buku tersebut, penjelasan serta analisa beliau yang sangat menarik yang membuat buku tersebut akan terasa selalu baru dan menarik. Terutama ketika saya langsung membaca buku dari bahasa aslinya (bukan terjemahan), terasa lebih lezat (emang makanan) dan enak sekali. Buku-buku ini sebelumnya bukanlah berbentuk sebuah buku, akan tetapi berupa makalah yang beliau tulis dalam rangka menjawab berbagai gugatan terhadap Islam berkenaan dengan perempuan di kala itu. Begitupun karya beliau yang berkaitan dengan filsafat, beliau menulis itu dalam rangka menjawab pemikiran marxisme yang berkembang kala itu di Iran.

Di akhir pembicaraannya putri Murtadha Muthahari melanjutkan: “Di awal pembicaraan telah saya katakan, bahwa kelahiran dan kesyahidan ayahku selalu dimulai dengan sebuah mimpi. Tiga hari sebelum kesyahidan menjemputnya beliau bermimpi, lantas beliau menceritakan mimpinya kepada ibuku seraya berkata: “Aku telah bermimpi melihat Rasulullah saww keluar dari Masijil Haram. Sementara Imam Khomaini telah berdiri di samping kananku. Rasulullah saww datang mendekati kami. Aku berkata: “Wahai Junjunganku, ini adalah keturunan Engkau!” Kataku sambil menunjuk ke arah Imam Khomaini. Beliau menjawab: “Ya, tentu”. Lantas beliau memeluk dan menciumi Imam Khomaini. Setelah itu beliau mendatangiku, memeluk dan menciumku kurang lebih ¼ jam lamanya. Aku terbangun sementara hangat pelukan Rasulullah saww masih terasa oleh diriku. Lantas aku ceritakan mimpiku kepada istriku, ia mengatakan mungkin itu pertanda baik dan Rasulullah saww meridhoi sepak terjangmu”.

Imam Khomaeni menangis ketika mendengar kabar tentang kesyahidan Murtadha Muthahari, padahal ketika anak terbesarnya telah syahid beliau tidak menangis ataupun menunjukkan kesedihan. Dalam kutipan ucapan Imam Khomaeni setelah kesyahidan Murtadha Muthahri beliau berkata: “…Aku mengucapkan duka atas kesyahidan seseorang yang telah menghabiskan umurnya untuk membela tujuan-tujuan suci agama Islam…seseorang yang dalam menguasai berbagai keilmuan Islam, dan metodologinya tidak ada yang membandinginya. Aku telah kehilangan seorang anak yang sangat mulia…”.

Ringkasnya kita akan menikmati karya-karya Murtadha Muthahri sewaktu kita membacanya. ‘Manusia Sempurna’, ‘Islam dan Tuntutan Zaman’, ‘Keadilan Tuhan’, Falsafah Akhlak, Hak-Hak Perempuan dalam Islam, Hijab (baca:jilbab), sejarah dan masyarakat…dll di antara karya-karyanya yang telah diterjemahkan. Lebih menarik lagi jika membaca karya beliau yang menyerempet pembahasan filsafat, sebelumnya kita sudah mengetahui (ada basic) paling tidak ilmu logika dan dasar-dasar filsafat.

[Euis D, sumber: Ceramah Dr. Wahidi Muthahari-salah satu putri Murtadha Muthahari-]

Tanggapan

  1. Subhanallah….
    Segera setelah meng-klik tombol ‘Submit Comment’ ini, saya akan mencatat tips penting dari seorang Syahid Muthahhari.
    Terima kasih, semoga Allah dan 14 ma’shumin meridhai upaya Anti. Keep up your good works!


  2. Terima kasih atas doanya…


  3. Salam Sejahtera

    semoga Web ini tetap bisa eksis diantara kegersangan bacaan yang selalunya mengumbar hawa nafsu.

    saya berharap tetap bisa mendapatkan informasi yang baru.
    trimakasih

    ———————————————————————————

    Islam Feminis:
    Salam juga…Terimakasih juga atas kunjungan, dukungan dan doanya.


  4. ass.wr,wb. SALAM JUANG
    ya allah, datangkanlah muthahari 2x baru yang akan selalu cinta akan keadilanmu, yang selalu menegakkan keadilan di muka bumi.
    bumi ini milikmu
    disini tempat muhammad
    disini tempat ayah dan ibuku
    dulu permai, indah dan damai
    semua itu tinggal kenangan
    MUTHAHARI PANUTANKU.


  5. salam.

    terima kasih teh euis untuk tulisannya. walau di perpustakaan kecil di rumah kami terdapat sejumlah buku karangan beliau, tapi saya belum mengetahui good habit beliau ini. insya Allah, akan saya teruskan kepada kedua anak kami, terutama si bungsu karena nama tengahnya mengambil nama beliau (zaki muthahhari lubis) kata suami saya mah … nama anak kedua kami ini agak lucu, karena kedua namanya bermakna yang sama. fyi, yang sulung nama tengahnya mengambil dari allamah nasir makarim assyiraz (afif makarim lubis). terima kasih artikelnya.
    kapan pulang ke tanah air? ngisi di fathimiyyah ya? diantos pisan. bulan lalu kami bahas soal haid dll, dipandu neng dina, menggunakan bahan dari teh euis.

    wass, ratna

    ———————————————

    Islam Feminis:
    Insya-Allah bu, mohon doanya saja…
    Saya turut berdoa semoga anak-anak ibu akan menjadi kebanggan kedua orangtuanya dan sellau mengharumkan nama agamanya. Amin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar