Jumat, 26 Desember 2008

'Ali bin Abi Thalib



Biji Kurma yang Merepotkan

Seorang istri datang kepda Imam Ali dalam keadaan sangat gelisah dan tidak tenang. Di tangannya tampak sebuah kaleng kecil. Wajahnya pucat dan memelas.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam warahmatullah wa barakatuh…” jawab Imam Ali sambil membukakan pintu.

“Tolong aku wahai Abal Hasan…,” kata wanita itu dengan suara seakan menahan tangis.

“Ada apakah kiranya?”tanya Imam Ali r.a.

“Aku dan suamiku saat ini di ambang perceraian.

“Aku masih tidak mengerti, coba ceritakan dengan tenang persoalanmu, insya Allah aku dapat membantu.”

“ Begini. Aku dan suamiku baru saja duduk-duduk sambil menikmati buah kurma. Kami berdua menikmati kurma itu dan memasukkan biji-bijinya ke dalam kaleng ini. Setelah habis, suamiku berkata:’Pisahkanlah biji yang aku makan dengan yang engkau makan. Kalau tidak,engkau aku cerai!’ Sekarang aku dan suamiku kebingungan. Dia sebenarnya tak bermaksud menceraikanku, begitu pula aku tak ingin bercerai darinya. Tetapi bagaimana mungkin aku memisahkan biji-biji yang aku makan dengan biji-biji yang dimakannya, sedang keduanya telah tercampur dalam kaleng ini…?”

Imam Ali terharu melihat keadaan wanita di hadapannya itu. Tetapi tak lama kemudian ia tersenyum, dan berkata: “Tenanglah wahai hamba Allah… Apa susahnya memisahkan biji-biji itu?”

“ Ia telah tercampur aduk dalam kaleng ini,” kata wanita itu serius.

“Tak mengapa. Sungguh sangat mudah melakukannya,” kata Imam Ali tenang-tenang seakan tidak terjadi sesuatu.

“Tetapi bagaimana caranya?”

“Pisahkanlah biji-biji itu secara berjajar, yang satu dengan yang lain mempunyai jarak sehingga yang satu benar-benar terpisah dari yang lain.”

“Aku belum lagi mengerti. Saat ini aku tidak tahu mana biji buah kurma yang aku makan.”

“Tak perlu engkau tahu. Yang penting, pisahkanlah dengan jarak, seperti yang aku katakan tadi. Bukankah suamimu hanya menyuruh engkau memisahkannya, dan bukan membedakan biji dari kurma yang engkau makan?Apa susahnya?”

Mengertilah wanita itu. Ia pun menjadi lega dan bersyukur memuji Allah.”Alhamdulillah…segala puji bagi Allah, dan shalawat atas Nabi-Nya. Sungguh, tidak salah apabila Rasulullah saaw. Menggelari anda sebagai: ”Pintunya ilmu,” katanya, kali ini dengan tersenyum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar