Jumat, 26 Desember 2008

Kesalehan Sosial



Dengan susah payah, seorang pengemis datang memasuki Masjid Nabawi di Madinah. Sayang, ia hanya melihat orang-orang melaksanakan shalat dengan khusyuk. Didorong rasa lapar yang kuat, akhirnya ia meminta-minta kepada orang-orang yang sedang shalat. Hasilnya nihil.

Hampir putus asa, ia mencoba menghampiri seseorang yang khusyuk melakukan rukuk. Kepadanya ia minta belas kasihan. Ternyata kali ini ia berhasil. Orang itu memberikan cincin besinya kepada pengemis itu.

Tidak lama setelah itu, Rasulullah saw memasuki masjid. Nabi melihat pengemis itu lalu mendekatinya.
''Adakah orang yang telah memberimu sedekah?''

''Ya, alhamdulillah.''

''Siapa dia?''

''Orang yang sedang berdiri itu,'' kata si pengemis sambil menunjuk dengan jari tangannya.

''Dalam keadaan apa ia memberimu sedekah?''

''Sedang rukuk!''

''Ia adalah Ali bin Abi Thalib,'' kata nabi. Ia lalu mengumandangkan takbir dan membacakan ayat, ''Dan barang siapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama Allah) itulah yang pasti menang.'' (Al-Maidah: 56)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kisah tersebut di atas adalah faktor yang menjadi sebab turunnya ayat sebelumnya, yaitu ''Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).'' (Al-Maidah: 55). Asbabun-nuzul ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Shofyan Ats-Tsauri.

Dalam kisah tersebut kita dapat melihat bagaimana nabi memberikan penghargaan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib karena tindakannya yang terpuji. Bahkan Allah SWT menjadikan tindakannya itu sebagai sebab turunnya suatu ayat. Ali telah membuktikan bahwa kesalehan dirinya bukan hanya pada taraf untuk dirinya dan kepada Tuhan, atau sebatas kesalehan ritual, tetapi ia wujudkan kesalehan lain, yaitu kesalehan sosial.

Kesalehan yang diwujudkan Ali bisa dijadikan teladan bahwa semestinya kesalehan ritual dapat mengantarkan seseorang pada kesalehan sosial. Ini karena memang kesalehan ritual sangat mendukung untuk itu. Karena itu, semestinya kita tidak bisa shalat dengan khusyuk ketika tetangga kita dan kawan-kawan kita masih membutuhkan uluran tangan. Juga sangat aneh jika sebuah masjid penuh sesak dihadiri para tamu-Nya, dan yang shalat di dalamnya tidak sedikit yang bermobil, sementara di samping masjid itu kawasan kumuh masih merajalela, para pengemis di emperan masjid masih berkeliaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar