Jumat, 12 Desember 2008

ASYURA Dan Kajian Realitas Masyarakat Muslim Saat Ini





Muharam, bulan dengan hari-hari yang akan selalu mengingatkan kita akan kesyuhadaan Imam Husein. Terlebih lagi, perjuangan Imam Husein sebenarnya tidak berdiri terpisah dari realitas sosial mayarakat muslim. Untuk itu, setiap kajian sejarah yang mengeliminir perilaku sosial masyarakat, akan membawa kita kepada pemahaman sejarah yang penuh distorsi. Lebih menarik lagi, sejarah ternyata selalu berulang. Yang juga berarti realitas masyarakat di zaman Imam Husein tak berbeda jauh dengan saat ini.

Hampir tidak ada perbedaan dan sekali lagi sejarah berulang. mengapa demikian ?. kita dapat melihat berulangnya sejarah dari realitas sosial yang ada. Dulu ketika Imam Husein berdiri di barisan terdepan dalam menentang penindasan dan rezim, banyak sekali umat muslim yang justru melegitimasi penindasan. Lebih menyeramkan lagi, bila legitimasi tersebut di atas nama Allah serta kesucian Rasullulah. Kini, umat Islam masih sulit menjadi penentang penindasan. Umat Islam saat ini dengan mudahnya termakan oleh iming-iming uang. Dan termakan oleh propaganda yang mengatasnamakan Allah. Sementara sulit sekali mencari sosok seperti Imam Husein, yang tegas-tegas menentang penindasan.

Model struktur sosial seperti Mu’awiyyah juga dipertahankan hingga kini dalam masyarakat Islam. Model yang dimaksud tidak sekedar ‘kerajaan’ secara harfiah. Namun struktur sosial yang memunculkan arogansi suku, membanggakan ras dan feodalisasi hadir dalam fenomena yang baru. Salah satu contoh bentuk arogansi suku adalah banyaknya sebagian kaum muslimin yang dengan mudahnya menganggap sesat kaum yang berbeda dengan mereka. Tidak hanya itu, mereka juga memperolok-olok kaum muslimin lainnya yang berbeda. Termasuk para pengikut Ahlul bait di Indonesia. Syiah, bagi kaum muslimin di Indonesia adalah sekte Islam yang sesat. Tetapi lucunya mereka sendiri tidak mengetahu dengan pasti kesesatan kaum syiah.

Padahal mereka sebenarnya masih saudara kita juga. Tetapi karena tabir sejarah yang gelap, mereka dengan mudah terjebak dalam kesempitan melihat kebenaran. Terjebaknya mereka juga didorong oleh propaganda yang dengan sengaja ditiupkan untuk membenci syiah. Begitu bencinya terhadap Syiah, mereka dengan berani menghalalkan darah para pengikut ahlul bait. Lihatlah, begitukah layaknya seorang muslim kepada saudaranya.

Sementara kita, para pengikut ahlul bait yang insya Allah selalu setia pada Allah dan Rasul, realitas sosial yang kita hadapi memang tidak kondusif. Mungkin kita dalam kondisi minoritas. Tetapi dengan ‘minoritas’ seharusnya akan semakin mengingatkan kita akan keadaan Imam Husein serta pengikutnya. Imam Husein dan pengikut setianya, shalawat serta salam semoga tercurah pada mereka, jauh lebih minoritas. Mereka lebih menghadapi kenyataan hidup yang ganas. Kenyataan sosial yang ternyata telah membawa mereka kepada kesyuhadaan. Tidak ada pilihan kecuali bertahan dan terus menentang rezim penindas. Karena Islam lahir untuk melawan para penindas. Dan jiwa kaum muslimin adalah jiwa pemberontak terhadap penindasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar