Senin, 29 Desember 2008

Mengenang Asyura



Setelah kesyahidan Imam Ali AS, umat Islam telah membai'ah Imam Hasan AS sebagai khalifah. Namun berita perlantikan Imam Hasan AS tidak disenangi oleh Muawiyah. Beliau menulis surat-surat protes kepada Imam Hasan dan menolak Imam Hasan AS sebagai khalifah. Muawiyah segera mengumpulkan pasukan tentara yang besar untuk menentang Imam Hasan AS. Lalu bersiap sedia untuk menyerang Iraq.

Setelah berita ini sampai kepada Imam Hasan AS, beliau AS mengirimkan pasukan tentara di bawah pimpinan Qays bin Sa'ad dan Ubaydillah bin Abbas sebanyak 12,000 untuk mengawasi musuh sampai Imam Hasan menyusul kemudian. Keterlambatan Imam Hasan AS berangkat itu disebabkan sikap keberatan orang Kufah untuk pergi bersamanya menentang Muawiyah. Ketika Imam Hasan AS mengajak orang-orang Kufah untuk berangkat bersamanya untuk menghadapi Muawiyah, mereka agak keberatan untuk pergi berjuang bersama Imam Hasan AS. Adi bin Hatim seorang sahabat Rasulullah SAWW kemudian menyampaikan kepada orang-orang Iraq desakan untuk menjawab seruan "Imam mereka anak dari putri Rasul mereka", barulah mereka keluar menuju medan peperangan.

Imam Hasan AS kemudian meninggalkan Kufah dengan tentaranya dan menuju al-Mada'in. Ketika itu pasukan tentara di bawah pimpinan Qays telah sampai di Maskin berhadapan dengan tentara Muawiyah. Gubenur Syria mencoba menyogok Qays dengan menawarkan uang satu juta dirham jika ia membelot dari barisan Hasan dan bergabung dengannya. Qays menolak tawaran itu. Muawiyah membuat tawaran yang sama kepada Ubaydillah bin Abbas yang segera menerimanya. Beliau bergabung dengan barisan Muawiyah bersama 8,000 orang tentaranya.

Ketika Imam Hasan AS sampai di Sabat dalam perjalanan ke Mada'in, ia melihat beberapa orang dari pasukannya menunjukkan sikap tidak bersungguh-sungguh, acuh tidak acuh atau enggan berperang. Imam Hasan AS berhenti di Sabat, mendirikan kemah dan berkhutbah:"Wahai saudara-saudaraku, aku tidak memiliki dendam apa pun terhadap sesama Muslim. Aku tidak lebih dari seorang pengawas atas diri kalian dan diriku sendiri. Kini, aku mempertimbangkan sebuah rencana; janganlah kalian menentangku dalam hal ini. Berdamai tidak disukai oleh sebagian kalian, lebih baik daripada
perpecahan yang lebih disukai dari kalian, lebih-lebih lagi ketika aku melihat kebanyakan dari kalian surut dari perang dan ragu untuk berperang. Kerana itu aku berfikir adalah, tidak bijaksana memaksakan kepada kalian sesuatu yang tidak kalian sukai."

Khutbahnya itu telah menyebabkan Imam Hasan AS ditikam oleh seorang Khawarij yang bernama al-Jarrah bin Sinan al-Asadi yang mendakwa Imam Hasan telah menjadi kafir seperti ayahnya. Imam Hasan AS luka di pahanya dan berita ini telah diekploitasi oleh Muawiyah untuk memecahbelah tentara Imam Hasan di Maskin. Qays kemudian mengerahkan pasukan tentaranya bertempur dengan tentera Muawiyah. Sejumlah besar pasukan tentara Qais mulai membelot kepada Muawiyah. Qays menulis surat kepada Imam Hasan AS dan setelah berita itu sampai ke tangan Imam Hasan AS, beliau segera memanggil para pemimpin Iraq dan berbicara dengan mereka dengan rasa kesal:

"Wahai rakyat Iraq, apa yang akan aku lakukan dengan orang-orangmu yang bersamaku ini? Ada surat dari Qays yang mengabarkan kepadaku bahawa bahkan orang-orang mulia dari kalangan kalian telah menyeberang ke pihak Muawiyah. Demi Allah betapa mengejutkan dan buruknya kelakuan pihak kalian! Kalianlah orang yang memaksa ayahku untuk menerima Tahkim di Siffin dan ketika tahkim yang menyebabkannya tunduk (kerana tuntutan kalian), kalian berbalik menentangnya. Dan ketika ia mengajak kalian untuk memerangi Muawiyah sekali lagi, kalian memperlihatkan kekenduran dan kelesuan. Setelah ayahku wafat, kalian sendiri datang kepadaku dan membai'atku dengan hasrat dan keinginan kalian sendiri. Aku terima bai'at kalian dan keluar menghadapi Muawiyah. Hanya Allah yang tahu betapa aku bersungguh-sungguh untuk melakukannya. Kini kalian berperilaku seperti dulu lagi (seperti dengan ayahku). Wahai kaum Iraq, cukuplah bagiku jika kalian tidak memfitnah aku dalam agamaku, kerana sekarang aku akan menyerahkan urusan ini (khalifah) kepada Muawiyah."

Setelah itu Imam Hasan AS mengutus Abdullah bin Naufal bin al-Harits menemui Muawiyah tentang hasratnya untuk mengundurkan diri dan membincangkan syarat-syarat pengunduran tersebut. Qays bersama tentaranya kemudian meninggalkan medan pertempuran dan menuju ke Kufah serta bergabung dengan pasukan Imam Hasan AS. Abdullah bin Naufal menuliskan syarat-syarat yang ia pikirkan dan Muawiyah menerima syarat-syarat tersebut dan memberikan kertas kosong kepada Abdullah untuk dibawa kepada Imam Hasan supaya beliau boleh menambah apa sahaja yang ia inginkan namun Imam Hasan AS kemudian menetapkan syarat-syaratnya seperti berikut:


"Ini adalah syarat yang atasnya Hasan bin Ali bin Abi Talib berdamai dengan Muawiyah bin Abi Sufian dan menyerahkan kepadanya negaranya atau pemerintahan Ali Amirul Mukminin:


1. Bahwa Muawiyah harus memerintah menurut Kitab Allah, Sunnah Rasul dan perangai Khulafa' al-Rasyidin. Muawiyah tidak akan menunjuk atau mengangkat seorang untuk jabatan khalifah sesudahnya;


2. Bahwa khalifah akan dikembalikan kepada Hasan setelah Muawiyah mati namun jika apa-apa berlaku kepada Hasan, maka Husain akan mengambil alih jabatan khalifah.


3. Bahwa Muawiyah tidak menuntut tindakbalas apapun atas penduduk Madinah, Hijaz, dan Iraq di atas sikap mereka pada masa kekhalifahan Imam Ali AS.


4. Bahwa gubernur-gubernurnya tidak akan melaknat Amirul Mukminin di atas mimbar atau mencacinya dengan perkataan buruk atau melaknatnya dalam qunut sholat.


5. Bahwa rakyat akan dibiarkan dalam aman damai di mana juga mereka berada di bumi Allah.


6. Muawiyah tidak berhak ke atas urusan Baitul Mal di Kufah. Hasan saja yang berhak atas urusannya.


7. Bahwa tidak ada gangguan atau bahaya, secara rahasia atau terbuka, akan ditimpakan terhadap Hasan bin Ali dan saudaranya Husain atau para pengikut dan penyokong mereka atau wanita-wanita mereka.

Walau bagaimanapun Muawiyah mempunyai tujuannya sendiri. Beliau kemudian menghasut Jud'ah al-Asy'ats meracun Imam Hasan AS. Peristiwa itu terjadi pada 28 Safar tahun tahun 50 Hijrah. Kemudian dia melantik Yazid sebagai khalifah selepasnya. Pada tahun 50 Hijrah Muawiyah mengarahkan penduduk Syria memberikan bai'ah kepada Yazid sebagai Putera Mahkota. Pada tahun 51 Hijrah Muawiyah pergi Haji ke Makkah untuk mendapatkan bai'ah umat Islam kepada Yazid. Di Madinah Muawiyah memaksa penduduk Madinah memberi bai'ah kepada Putera Mahkota Yazid. Namun terdapat empat tokoh yang tidak memberikan bai'ah kepada Yazid yaitu Husain bin Ali, Abdullah bin Umar Abdur Rahman bin Abi Bakar dan Abdullah bin Zubair.

Muawiyah sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir telah berpesan kepada Yazid:"Wahai anakku aku telah mengatur segalanya untukmu, dan aku telah membuat semua orang Arab sepakat untuk patuh kepadamu. Tidak ada seorangpun kini yang menentang engkau dalam hak khalifahmu tetapi aku sangat cemas akan Husain bin Ali, Abdullah bin Umar Abdur Rahman bin Abi Bakar dan Abdullah bin Zubair. Di antara mereka, Husain bin Ali mempunyai daya tarik cinta dan penghormatan besar kerana hak-hak keutamaannya dan hubungan dekatnya dengan Rasul. Aku kira rakyat Iraq tidak akan meninggalkannya sampai mereka bangkit memberontak menentangmu...."

Muawiyah meninggal dunia pada tahun 60 Hijrah. Yazid memerintahkan gubernur Madinah untuk memaksakan bai'ah kepada Imam Husain AS atau mengirimkan kepalanya ke Damsyik sekira dia enggan memberikan bai'ahnya.

Setelah gubernur Madinah memberitahu Imam Husain AS tentang permintaan itu, Imam meminta penundaan waktu untuk memikirkan masalah ini, dan pada waktu malam ia berangkat dengan keluarganya ke Mekah. Dia mencari perlindungan dalam Masjidil Haram. Peristiwa ini terjadi menjelang akhir bulan Rajab dan awal bulan Sya'ban tahun 60 Hijrah. Selama hampir 4 bulan Imam Husain tinggal di Mekah. Berita ini kemudian tersebar luas di seluruh wilayah Islam ketika itu. Di satu pihak ramai orang yang tidak puas hati ketidakadilan peraturan Muawiyah dan bahkan lebih tidak puas hati ketika Yazid menjadi khalifah, menghubungi Imam Husain AS menyatakan simpati kepadanya. Di pihak lain banyak surat mulai diterima oleh Imam Husain AS khususnya dari penduduk kota Kufah, yang mengundang Imam Husain AS ke Iraq dan menerima kepimpinannya dari rakyat di sana dengan tujuan untuk memulai suatu pergerakan untuk mengatasi kezaliman yang berlaku terhadap Imam Husain AS ketika itu. Imam mengetahui bahawa beberapa orang pengikut Yazid telah menyusupi masuk dalam rombongan jemaah haji dengan senjata dalam pakaian ihram dengan tujuan untuk membunuh beliau AS.

Imam Husain terus tinggal di Mekah hingga musim Haji ketika umat Islam dari seluruh dunia datang membanjiri Mekah untuk melaksanakan ibadat Haji. Imam mempersingkat ibadah hajinya dan memutuskan untuk pergi. Di tengah-tengah kerumunan orang ramai itu dia AS berdiri dan dalam pidato yang singkat itu dia juga menjelaskan bahawa dia akan dibunuh dan meminta kaum Muslimin membantunya untuk mencapai tujuannya dan menyerahkan hidup mereka di jalan Allah. Keesokan harinya dia berangkat dengan keluarganya dan beberapa orang sahabatnya ke Iraq.

Imam Husain bertekad untuk tidak memberikan bai'ah kepada Yazid dan sepenuhnya mengerti bahawa dia akan dibunuh. Dia AS sadar bahawa kematiannya tidak dapat dielakkan di hadapan kekuatan tentara Bani Umaiyyah. Beberapa orang tokoh Mekah mencoba menghalangi Imam AS dan mengingatkannya akan bahaya yang akan menimpanya akibat langkah yang diambilnya itu. Imam Husain AS menjawab bahwa dia menolak bai'ah kepada penguasa yang zalim. Dia menambahkan bahawa dia menyedari bahawa ke mana pun dia pergi dia akan dibunuh. Dia akan meninggalkan Mekah demi menjaga kehormatan Baitullah dan tidak menghendaki kehormatan ini dinodai dengan cucuran darahnya di sana.

Ketika dalam perjalanan ke Kufah, dia menerima berita bahwa agen Yazid di Kufah telah membunuh wakil dan utusan Imam Husain AS di kota itu yatu Hani bin Urwah, Muslim bin Aqil, dan Abdullah bin Yaqtar. Kota Kufah dan sekitarnya telah dikawal dengan ketat dan sejumlah tentara yang besar sedang menanti ketibaannya. Maka tidak ada jalan baginya kecuali terus maju dan menghadapi kesyahidannya.

Sesampainya di Karbala, Imam Husain AS dan rombongannya telah dikepung oleh tentara Yazid. Selama delapan hari mereka tinggal di tempat ini dan selama itu pula kepungan semakin menghimpit dengan jumlah tentara musuh semakin bertambah besar. Akhirnya Imam Husain AS bersama keluarganya dan sejumlah kecil sahabat-sahabatnya dikepung oleh pasukan musuh sebanyak 30,000 orang. Selama berhari-hari Imam Husain AS mempertahankan kedudukannya. Di malam hari dia memanggil sahabat-sahabatnya dan dalam satu pidato yang singkat menyatakan bahawa tidak ada jalan lain di hadapan mereka kecuali kematian dan kesyahidan. Ditambahkan bahwa karena musuh hanya berurusan dengannya. dia akan membebaskan mereka dari semua kewajiban sehingga setiap orang yang mau, boleh melepaskan diri dalam kegelapan malam dan menyelamatkan diri masing-masing. Kemudian dia memerintahkan untuk memadamkan lampu, dan kebanyakan sahabatnya, yang telah menggabungkan diri dengannya demi kepentingan peribadi telah keluar meninggalkan kelompok tersebut. Yang tinggal hanyalah beberapa orang dari mereka yang mencintai kebenaran kira-kira empat puluh orang dan beberapa orang dari Bani Hasyim.

Sekali lagi Imam mengumpulkan sahabat-sahabatnya dan keluarga Bani Hasyim, dengan sekali lagi mengatakan bahwa musuh hanya mau berurusan dengannya. Namun setiap dari mereka menjawab dengan cara masing-masing menunjukkan kesetiaan mereka kepada Imam Husain AS - bahwa mereka tidak sedetikpun akan menyimpang dari jalan kebenaran yang dipimpin oleh Imam dan tidak akan membiarkannya sendirian. Mereka berkata bahwa mereka akan membela keluarganya selama mereka dapat mengangkat pedang sampai titik darah yang terakhir.

Pada hari kesembilan dari bulan itu tentangan terakhir untuk memilih antara bai'ah atau perang dilakukan oleh musuh Islam. Imam minta penundaan untuk melakukan sholat malam dan memutuskan melakukan pertempuran di hari berikutnya.

Pada hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 Hijrah, Imam berbaris di depan musuh dengan sekelompok kecil pengikutnya tidak lebih dari sembilan puluh orang yang terdiri dari 40 orang sahabatnya, 30 orang anggota tentara yang bergabung kepadanya, dan keluarganya dari Bani Hasyim yang terdiri dari anak-anak,saudara, anak saudaranya lelaki dan wanita dan sepupunya. Hari itu mereka bertempur dari pagi hingga hembusan nafas mereka yang terakhir, Imam keluarga Hasyim yang muda, dan sahabat-sahabatnya semuanya syahid. Di antara yang terbunuh terdapat dua orang anak Imam Hasan, yang baru berusia tiga belas tahun dan sebelas tahun, serta anak berumur lima tahun dan seorang bayi Imam Husain yaitu 'Ali Asghar. Imam Husain AS menggendong bayi itu untuk mendapatkan air sambil berkata kepada pihak musuh:

"Hai orang-orang! Kalian telah membunuh saudaraku, anak-anak, anak-saudaraku dan para pengikutku. Kini semuanya telah tiada kecuali anak kecil ini yang tersisa. Berilah anak ini sedikit minum agar....."

Ucapan Imam Husain AS ini belum lagi selesai tetapi telah dipotong oleh anak panah yang menembus kepala bayi itu. Imam Husain AS tersentak dengan tindakan musuh itu, sementara darah memancut keluar dari bayi itu membasahi bibirnya yang sejak tiga hari lalu kering kehausan. Al-Husain AS mengangkat tangannya ke atas seraya berdoa:

"Ya Allah, saksikanlah bahwa mereka bertekad untuk menlenyapkan seluruh keluarga NabiMu."

Imam Husain AS meneteng bayi itu menuju ke kemah Zainab. Umm Kulthum berlari mendapatkan bayi itu dan mendekapnya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Imam Husain AS memacu kudanya menuju ke medan pertempuran seraya berteriak:

"Apa yang membuat kalian bersemangat memerangiku? Adakah sebuah kewajiban yang aku tinggalkan? Atau Sunnah Nabi yang aku ubah?

"Tidak, karana dendam dan kebencian di hati kami padamu dan seluruh keluargamu sejak Badr dan Hunain!"

Balas mereka dengan lantang.

Al-Husain AS menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada seorangpun di sekitarnya.

"Kemana semuanya yang telah membantu kami! Siapa yang akan melindungi wanita-wanita Muhammad dari niat jahat mereka! Mana Muslim bin Aqil, Hani bin Urwah, Zuhair, Habib, al-Hurr dan sahabat-sahabatnya? Mana bukti kecintaan kalian? Kini kami datang untuk menyusuli pemergian kalian semua! Inna Lillah wa Inna Ilahi raji'un.

Imam Husain AS memuji sahabat-sahabatnya dalam sebuah puisi yang indah:

"Mereka adalah kelompok para pemberani
membela kami dengan senjata dan nurani
Mereka adalah manusia-manusia ahli tempur
bergelut dalam dahaga, kenyang dan lumpur
Selamat meneguk air keabadian syurgawi
merasakan hangat cinta dan darah alawi
"

Ia ke pasukan musuh dan berhasil membunuh 1,500 orang. Kemudian ia kembali ke kemahnya sambil bersyair:

"Mereka orang-orang pandir
mendukung para munafiq kafir
menjilat bangkai
mendengus-dengus bak keldai
menjajakan fitnah dan dusta
menjual agama tak kenal cinta
membunuh kekasih demi harta
tuli, bisu, mati rasa dan buta
Siapakah mereka dan siapa aku?
Muhammad adalah datuk abadiku
Akulah putera Ali sang Khalifah
yang dibunuh orang-orang Kufah
Kami anak-anak Ali sang surya
"

Sekali lagi Imam Husain AS ke arah tentara musuh dan mengibaskan pedangnya dan berhasil mengorbankan sejumlah mereka. Syimr lalu menghampiri Umar bin Sa'ad dan keduanya merancang untuk menyerbu Imam Husain AS secara serentak yaitu dengan pasukan pemanah, pasukan pedang dan pasukan tentera api dan batu.

Imam Husain AS kemudian diserang oleh puluhan tombak, panah, batu dan api. Al-Husain AS tidak mampu lagi menghindarinya. Luka di tubuhnya kian bertambah. Namun al-Husain AS tetap melakukan tantangan dengan tenaganya yang masih ada. Khuli bin Yazid melepaskan anak panahnya mengenai dada Imam Husain AS. Imam Husain AS terhuyung-hayang dan kemudian terjatuh dari kudanya.

Imam Husain AS berusaha menahan luka-luka yang mengenainya sambil berusaha bangkit tetapi si laknat Abu Qudamah al-Amiri melepaskan anak panahnya lalu mengenai dada kanannya. Al-Husain AS terjatuh dan cuba bangkit lagi. Ia mengerang kesakitan di kelilingi lingkaran pasukan berkuda Umar bin Sa'ad la'natullah alaihi.

Al-Husain AS mencabut panah yang masih menacap di dada kanannya sekuat tenaga seraya mengigit bibirnya menahan kesakitan. Darah mnyembur keluar dari luka di dadanya. Imam Husain AS mengusap darah di permukaan janggutnya seraya berkata: "Demikianlah kalian mengucapkan terima kasih kalian kepada datukku! Dengan tubuh dan wajah yang berdarah inilah aku akan mengadap datukku, agar beliau tahu betapa kalian sangat membenci kebenaran dan agamanya."

Kemudian Imam Husain AS pengsan seketika. Syabts bin Rabi'i bergegas menuju kepada Imam Husain AS untuk berbuat sesuatu namun ia berhenti dan kembali ke barisannya. Sinan bin Anas mengejek:"Hai mengapa engkau ini menjadi penakut? Mengapa engkau membatalkan niat untuk membunuh al-Husain?"

"Hai keparat! Tahukan engkau ia tiba-tiba membuka matanya dan seketika aku lihat wajah Muhammad datuknya", bantah Syabts.

Kemudian Sinan pula cuba membunuh Imam Husain AS tetapi mundur juga seperti Syabts. Lalu Syimr mendekati Imam Husain AS dan duduk di atas dada Imam Husain AS.

"Siapakah engkau? Apa yang membuatkan engkau biadab?" Tanya Imam Husain AS dengan suara terputus. "Aku Syimr al-Dhibabi," Jawabnya singkat sambil menghunuskan pedangnya." Tahukah engkau siapa orang yang sedang kau duduki? Tanya Imam Husain AS."Ya. Aku tahu kau adalah al-Husain putra Ali dan Fatimah binti Muhammad binti Khadijah," Jawabnya."Lalu mengapa kau masih berniat membunuhku?", bantah al-Husain AS yang mulai merasakan sesak di dadanya."Aku mengharapkan balasan dari Yazid," Sahutnya."Tidakkah mengharapkan syafa'at dari datukku Rasulullah?"Tanya al-Husain kemudian."Hai! Sedikit imbalan dari Yazid lebih aku sukai daripada ayahmu, datuk dan nenek-moyangmu," balas Syimr sombong."Kalau memang begitu kau harus membunuhku, maka berilah sedikit air minum terlebih dahulu!" Pinta al-Husain AS.

Namun Syimr enggan menuruti permintaan al-Husain AS itu. Imam Husain AS meminta Syimr membuka penutup wajahnya. Syimr membuka penutup wajahnya."Benar ucapan datukku,"Ujar Imam Husain AS."Apa ucapan datukmu itu?" Tanya Syimr."Datukku pernah memberitahuku bahawa pembunuhku adalah lelaki buruk wajah penuh bulu tebal di tubuh dan mukanya hingga lebih mirip dengan babi atau anjing hutan daripada manusia," Jawab Imam Husain AS sambil memalingkan wajahnya.

"Terkutuklah kau dan datukmu yang menyamakan aku dengan babi dan anjing. Akan aku sembelih engkau sebagai balasan atau ucapan datukmu itu," Balas Syimr dengan nada benci.

Syimr lalu bertindak ganas. Ia mulai memotong setiap anggota badan al-Husain perlahan-lahan. Al-Husain AS hanya mampu menjerit parau menahan kesakitan:"Wa Muhammadah! WA Aliyah! Wa Hasanah! Wa Jafarah! Wa Hamzatah! Wa Aqilah! Wa Abbasah! Wa Qatilah!," setiap kali pedih luka dirasakannya.

Akhirnya Syimr memotong leher Imam Husain AS yang memutuskan kepalanya yang suci dari badannya yang suci itu. Al-Husain AS gugur syahid sebagai Abul-Syuhada pada hari Isnin 10 Muharram tahun 61 Hijrah. Inna Lilla Wa inna Ilahi Raji'un.


Sumber-sumber Rujukan:

1. Imam Husein And The Day of Ashura, al-Balagh Foudation, 1412H.
2. Awal dan Sejarah Islam Syiah, S. Husain M. Jafri, Pustaka Hidayah, 1409H.
3. Al-Husain Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib, Yayasan Islam Bagir, Bangil, 1414H.
4. Islam Syiah, Allamah M.H. Thabathabai, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1989.
5. Husayn bin Ali, Cucunda Rasulullah SAW, Fadzlullah Haji Shuib, Pustaka Warisan, Kuala Lumpur, 1989.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar