Jumat, 12 Desember 2008

Hur...sang Merdeka






Hurr adalah nama salah seorang panglima tinggi tentara ‘Umar bin Sa’ad yang menghadapi cucu Nabi Saww, Husain bin ‘Alî, atas perintah dari Yazid bin Muawiyah untuk melaksanakan salah satu dari dua perintahnya, yaitu mendapatkan baiat (sumpah setia) Husain bagi kekhalifahannya yang korup, atau membunuh Husain dan semua sahabatnya. Adalah Hurr dan tentaranya yang mula-mula menghadapi Imam Husain, dan kemudian mengepungnya, serta menghalangi beliau dan para sahabatnya untuk mendapatkan air minum.

Pada hari ‘Asyura, Hurr membuat sebuah keputusan yang besar. Persis sebelum pertempuran dimulai, dia meninggalkan posisi dan pasukan yang sedang dipimpinnya, dan bergabung dengan Imam Husain. Dan menjadi syahid pertama yang terbunuh di jalan Allah oleh tentara yang beberapa jam sebelumnya masih berada di bawah komandonya. Nama Hurr berarti “merdeka, lahir sebagai orang merdeka, mulia, orang bebas.”

Takdir terkadang melakukan sebuah permainan. Pabrik penciptaan terus-menerus memproduksi makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya: batu-batu, pohon-pohon, sungai-sungai, serangga-serangga, manusia, dan terkadang memperlihatkan sebuah adegan humor, menciptakan sebuah inovasi atau kekecualian: ia menulis puisi, menggambar sebuah lukisan, atau melakukan sesuatu yang unik. Dalam satu kata, dapat dikatakan bahwa benda-benda ciptaan tersebut mempunyai “karakter”. Dari antara rumah-rumah, ada Ka’bah, dari antara semua tembok, ada Tembok Besar Cina; dari antara planet-planet yang mengelilingi matahari, ada bumi, dan... dari semua syuhada, ada Hurr.

Tangan artistik takdir telah menyusun adegan ini dengan tingkat ketepatan dan ketelitian yang paling tinggi. Dan seolah-olah hendak menekankan pentingnya ceritera yang sedang terjadi, ia memilih semua pemain lakonnya dari pemain-pemain yang berkarakter absolut, alias mutlak, dengan tujuan untuk menjadikan ceritanya lebih efektif.

Cerita yang sedang kita bicarakan ini adalah tentang sebuah “pilihan”, sebuah manifestasi terpenting dari arti menjadi seorang manusia. Tetapi, pilihan macam apa? Kita semua dihadapkan pada beberapa pilihan dalam kehidupan kita sehari-hari: karir, teman, isteri, rumah, bidang studi. Tetapi dalam cerita ini, pilihannya jauh lebih sulit: antara baik dan buruk. Dan di samping itu, pilihan tersebut juga bukan dari sudut pandang filosofis, ilmiah, ataupun teologis. Sungguh, pilihan yang sedang kita bicarakan di sini adalah pilihan antara agama yang benar dan agama yang lancung, antara politik yang adil dan politik yang zalim, dengan nyawa sebagai harga yang harus dibayar untuk pilihan yang diambil.

Untuk menekankan lebih jauh sensitifnya situasi, pencipta lakon cerita ini tidak menempatkan sang pahlawan di tengah-tengah antara yang benar dan yang bathil. Alih-alih, si pahlawan adalah pemimpin dari pasukan tentara yang berdiri di pihak yang jahat. Di lain pihak, sutradara lakon ini harus mencari lambang-lambang bagi ceritanya untuk membuatnya efektif. Akankah dia menempatkan Prometheus di satu pihak dan beberapa setan di pihak yang lain? Tapi pemilihan tokoh-tokoh seperti ini akan menjadikan ceritanya terlalu berbau mitos. Bagaimana dengan Spartacus dan Crasius? Tidak, nama-nama ini akan membuat ceritanya bercorak nasionalistis dan memberikan kepadanya sifat bergantung pada kelas sosial. Bagaimana dengan Ibrahim dan Namrud? Mûsâ dan Fir’aun? Yesus dan Judas? Tidak juga. Sebab bagi kebanyakan orang nama-nama ini adalah tokoh-tokoh yang bersifat metafisik dan terlalu “tinggi”, jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Memasang mereka sebagai pemain utama akan mengurangi efek cerita, dan menjadikan orang mengagumi mereka, tapi tidak akan berpikir untuk mengikuti contuh teladan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, tujuan utama cerita ini adalah untuk mengajar, menunjukkan kemampuan manusia untuk berubah, untuk menunjukkan bahwa adalah mungkin bagi seorang awam, bahkan seorang yang berdosa, untuk memutuskan semua ikatan sosial, kekeluargaan dan kelasnya, dan memperlihatkan perubahan yang suci.

Sejarah Islam penuh dengan fenomena kontradiksi. Kedua garis pertentangan yang berawal dari Habil dan Qabil dan yang terus ada di sepanjang sejarah, secara berhadapan dalam berbagai wajah, juga terus berlanjut di dalam Islam. Nah, dalam cerita ini kedua aliran ini sama-sama mengenakan baju Islam, tapi dengan arah menghadap yang berlawanan. Ironisnya, pahlawan kita diharuskan memilih antara ujung-ujung yang paling ekstrim pada masing-masing pihak, yaitu: Yazid vs. Husain.

Sungguh, seandainya cerita ini dikarang oleh seorang pengarang, niscaya dia akan segera bisa dikenali dan diakui karena keaslian dan kualitas seninya...

Siapa nama pahlawan ini? Bagi seorang tokoh sejarah, apa yang penting adalah peran yang dimainkannya, bukan namanya. Sebab namanya adalah sesuatu yang dipilihkan untuknya oleh keluarganya, sesuai dengan selera orangtuanya. Di lain pihak, jika cerita ini diciptakan oleh seorang pengarang yang memiliki orisinalitas, niscaya dia akan memilih sebuah nama yang relevan dengan peran yang dimainkan oleh pahlawannya. Tetapi dalam cerita ini pahlawan kita telah diberi nama Hurr oleh ibunya, seolah-olah ibunya telah melihat peran sangat peka yang akan dimainkan oleh anaknya nanti. Maka, ketika sang Pemimpin kemerdekaan memandangi tubuhnya yang berlumuran darah sesaat sebelum dia menghembuskan nafas yang terakhir, beliau mengatakan kepadanya: “Wahai Hurr, semoga Allah merahmatimu! Engkau adalah seorang yang merdeka di dunia ini dan juga di akhirat nanti, persis sebagaimana arti nama yang diberikan ibumu kepadamu!”

Meskipun Hurr telah memainkan peran yang unik dalam sejarah, namun esensi perannya tidaklah terbatas hanya pada dirinya saja. Makna tindakannya, dalam kenyataannya, mencakup semua manusia, malahan dapat dikatakan mendefinisikan “kemanusiaan”. Tindakannya itulah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya, yang menggaris-bawahi tanggung jawab manusia dan terhadap Tuhan, terhadap sesama manusianya dan terhadap dirinya sendiri. Dan Hurr telah memainkan perannya tidak dengan kata-kata dan konsep-konsep, tetapi dengan cinta dan darah. Jika kita menangkap kedalaman kata-kata Imam Shâdiq as. bahwa “Setiap hari adalah hari ‘Asyura dan setiap tempat adalah Karbala, dan setiap bulan adalah bulan Muharram”, maka kita akan segera mengerti perluasan kata-kata ini, yaitu: “dan setiap orang adalah Hurr!”

Sejarah kita, yang berawal dari Habil dan Qabil, adalah manifestasi dari pertentangan abadi antara kubu Tuhan dan kubu Setan, meskipun dalam masing-masing zaman kedua kubu ini diselubungi samaran yang berbeda. Karena itu, dalam setiap masa, setiap orang mendapati dirinya berada pada posisi yang sama dengan Hurr: sendirian, di tengah-tengah, ragu-ragu, di antara dua pasukan tentara yang sama. Di satu pihak, komandan tentara kejahatan berseru kepada pasukannya: “Wahai tentara Allah! Serbu!” dan di pihak lain, seorang Imam, dengan suara yang bergema sepanjang sejarah, bertanya — bukan memerintah —“Adakah orang yang mau membela aku?” Dan Anda, orang itu, mesti memilih.

Dengan pilihan inilah Anda menjadi manusia. Sebelum menjatuhkan pilihan, Anda bukan apa-apa. Anda hanya suatu eksistensi tanpa esensi, Anda berdiri di tengah-tengah. Jadi, orang yang mendapatkan eksistensi melalui kelahiran, menemukan “esensi” melalui pilihan. Dengan pilihan inilah penciptaan manusia menjadi sempurna, dan inilah tepatnya saat ketika manusia merasakan beban berat di pundaknya dan mendapati dirinya sendirian, karena Tuhan dan alam telah membiarkannya berdiri sendiri dalam membuat keputusan yang penuh bahaya ini.

Sekarang kita bisa menilai pahlawan kita, kita bisa merasakan perjalanan panjang apa yang telah ditempuhnya dalam waktu singkat itu, perjalanan untuk mengubah dirinya dari seorang Hurr yang berdiri di pihak Yazid menjadi Hurr yang membela Husain. Jika dia tetap berada bersama tentara Yazid, maka dunianya akan terjamin. Dan jika dia bergabung dengan pasukan Husain yang jumlahnya kecil, maka kematiannya dapat dipastikan. Saat itu adalah pagi di hari ‘Asyura, dan meskipun pertempuran belum dimulai di lapangan, Hurr menyadari bahwa kesempatan baginya tidak akan lama. Waktu berjalan cepat, dan menit-menit yang berlalu sangat berarti. Badai telah mulai bergolak di dalam dirinya.

Sejak mula, Hurr telah berharap bahwa insiden-insiden yang telah terjadi tidak akan membawa kepada peperangan. Tapi sekarang perang tampaknya tak bisa dihindarkan lagi. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas untuk mentolerir rasa malu dan kehinaan, kecuali mereka yang memang jenius dalam dalam hal ini dan bisa mentoleransi kehinaan hingga pada tingkat yang tak terbatas. Tak pernah terlintas dalam benak Hurr bahwa menjadi “pegawai” dalam pemerintahan Yazid akan berarti harus berkomplot dalam tindakan-tindakan kriminalnya. Baginya, pekerjaannya hanyalah sumber penghidupan yang tak ada sangkut pautnya dengan politik ataupun agamanya.

Sekarang dia menyadari bahwa menyatukan kedudukannya dengan agamanya adalah hal yang mustahil. Maka, dengan putus asa dan sebagai langkah terakhir, dia lalu berbicara kepada komandan pasukannya (Umar bin Sa’ad) yang — sebagaimana dirinya — juga enggan terlibat dalam peperangan dan hanya mau menerima tugas yang diberikan kepadanya karena dijanjikan akan diberi jabatan sebagai gubernur propinsi Ray dan Jurjan. Hurr berpikir, apa yang lebih baik dari pada mencapai sebuah solusi tanpa terlibat dalam penumpahan darah cucu Nabi dan keluarganya.

Baik Hurr maupun Umar bin Sa’ad ketika menempuh perjalanan dari istana Yazid ke Karbala bersama-sama, dan keduanya mempunyai status dan kedudukan sosial yang sama. Hurr bertanya kepada Umar: “Bisakah kamu mencari jalan keluar dari situasi ini?”

Umar menjawab: “Engkau tahu bahwa seandainya wewenang berada di tanganku, pasti akan aku akan melakukan apa yang kau usulkan itu. Tapi atasanmu ‘Ubaidullah bin Ziyad tidak mau menerima penyelesaian damai!”

“Jadi, apakah engkau akan berperang dengan orang ini (Husain)?”

“Ya. Demi Tuhan, aku akan terjun ke dalam peperangan yang akibatnya yang paling ringan adalah terpenggalnya kepala-kepala dan terpotongnya tangan-tangan.”

Sekarang, nyata sudah bagi Hurr bahwa dia tidak bisa lagi bermain-main dengan agamanya. Maka kedua rekan itu pun lalu bersimpang jalan.

Bagi Hurr, tentara Yazid yang berjumlah puluhan ribu itu sekarang bukan apa-apa lagi, tak lebih dari sekumpulan wajah yang tak punya arti. Segerombolan besar manusia tanpa pribadi, sekelompok individu tanpa hati. Orang-orang yang berteriak-teriak penuh semangat, tanpa tahu mengapa mereka berteriak-teriak. Serdadu-serdadu yang bertempur tanpa tahu untuk siapa mereka berperang. Sekarang Yesus-nya cinta dan kesadaran menyembuhkan orang yang buta dan menghidupkan kembali orang yang mati, menciptakan seorang syahid dari seorang pembunuh. Dalam sebuah perjalanan, tidaklah cukup menanyakan tujuan saja. Kita juga mesti bertanya tentang darimana berangkatnya. Dengan demikian, panjangnya perjalanan Husain menjadi jelas manakala kita menyadari darimana dia mulai dan di mana dia berhenti, yang semuanya terjadi dalam waktu setengah hari.

Dalam hijrahnya dari Setan menuju ke Allah, Hurr tidak mempelajari filsafat ataupun teologi, tidak pula menghadiri kuliah atau pergi ke sekolah. Dalam kenyataannya “arah” inilah yang memberi arti kepada segala sesuatu: seni, ilmu pengetahuan, kesusasteraan, agama, doa-doa, ibadah haji, Muhammad, ‘Alî...

Setelah memulai perjalanannya, maka sambil mengendarai kudanya, maka dengan perlahan-lahan Hurr meninggalkan pasukan tentaranya menuju ke kelompok Husain. Muhajir bin Aus, yang melihat tingkah laku Hurr, yang tampak gelisah hebat dan cemas, bertanya kepadanya:

“Apa yang terjadi dengan dirimu, Hurr? Aku bingung melihat tingkahmu. Demi Allah, jika aku ditanya siapa orang yang paling pemberani di kalangan pasukan kita, niscaya akan kusebutkan namamu tanpa ragu-ragu lagi. Tapi, mengapa engkau begitu gelisah dan cemas?”

“Aku mendapati diriku berada di antara Neraka dan Surga, dan aku harus memilih di antara keduanya. Demi Allah, aku tidak akan memilih selain Surga, meskipun tubuhku akan dipotong-potong atau dibakar menjadi abu.”

Penciptaan Hurr-pun disempurnakan dan api keraguan telah membawanya kepada kebenaran yang pasti. Dengan perlahan-lahan dia menghampiri kubu Husain. Dan setelah dekat dia lalu menggantungkan kedua sepatunya di lehernya dan merendahkan perisainya (sebagai tanda penyesalan).

“Akulah orang yang telah menutup jalanmu, wahai Husain,” katanya. Dan dia menolak ajakan Husain untuk beristirahat sejenak. Dia sudah tak sabar lagi.

“Apakah ada taubat bagiku?” tanyanya. Dan dia tidak dapat menunggu jawaban atas pertanyaannya itu. Dia langsung maju ke depan dan menyerang pasukan Umar dengan kata-kata yang paling pahit dan pedas, untuk menunjukkan kepada bekas tentara dan komandannya bahwa dia bukan lagi seorang budak, melainkan seorang merdeka, seorang “Hurr”.

Umar bin Sa’ad, bekas komandannya, menanggapinya dan menembakkan sebatang anak panah, seraya berseru:

“Saksikanlah dan biarkanlah Amirul Mukminin tahu bahwa akulah orang pertama yang menembakkan panah kepada tentara Husain!”

Dan demikianlah pertempuran Karbala dimulai.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar