Minggu, 14 Desember 2008

PESAN UNIVERSAL ASYURA : Perjuangan Tidak Mengenal Zaman dan Tempat



Tiap 10 Muharram, dihari Asyura kita yang mengaku para pengikut Ahlibayt dan para simpatisannya selalu mengenang dan memperingati syahidnya Aba Abdillah, Al - Husain, cucu tercinta Rasulullah Saaw. Di tempat - tempat lain di Indonesia dan di seluruh dunia juga banyak diadakan peringatan yang sama. Di tahun ini, peringatan Asyura di Jakarta berpusat di gedung Balai Sudirman, dengan dihadiri tak kurang dari 5000 orang. Sebuah jumlah yang berlipat kali jika melihat simpatisan yang menghadiri peringatan Asyura 2 - 3 tahun yang lalu. Di tempat yang cukup mewah untuk sebuah gedung pertemuan tersebut pada puncak acara dibacakan maqtal - kronologi pembacaan syahidnya Imam Husain as, yang dibawakan oleh Ust. Husein Shahab. Sementara ceramah disampaikan oleh Ust. Abdullah Assegaf. Syukur alhamdulillah, atsmosfer kecintaan kepada Ahlilbayt telah mewarnai bumi Indonesia, khususnya di Jakarta.

Selalu saja usai menghadiri, kita banyak mendapatkan hikmah, semangat dari peringatan tersebut. Terkadang kita diliputi oleh kegelisahan yang positif. Pertanyaan - pertanyaan yang sulit dijawab dan membingungkan tiba - tiba saja sering muncul di kepala kita, seperti, bagaimana cara kami mengikuti perjuanganmu? Bagaimana cara kami wahai Aba Abdillah, menunjukan kecintaan kepadamu? Bagaimana pula cara kami wahai penghulu para syahid menunjukan kesetiaan padamu? Hidup ditengah era konsumerisme, kuatnya tarikan materialisme dan telah memudarnya penghargaan terhadap nilai - nilai kesucian seperti sekarang telah membelenggu kita untuk dapat memahami hal tersebut.

Kecintaan kita kepada Imam Husain as. tentu tidak cukup dan hanya kita tunjukan di hari tersebut. Semboyan "Kullu Yaumin Asyura wa Kullu Ardhin Karbala - Tiap Hari adalah Asyura dan Tiap Tempat adalah Karbala", mengisyaratkan bahwa momentum hari tersebut harus selalu ada di tiap hati para pencintanya dimanapun dan kapanpun. Lalu bagaimana pengejawantahannya? Bagaimana wujud realisasinya? Tulisan dibawah ini adalah sebuah potret dan renungan dari kegelisahan mengenai seputar diatas yang mencoba dikomunikasikan dan diharapkan menjadi wacana perenungan bersama. Ditulis untuk mengenang 40 (arbain) hari syahidnya Imam Husain as.

Asyura : Hari Syahid Umat Islam

Hari Asyura adalah hari yang sangat penting kedudukannya di dalam Islam. Hari yang oleh Murtadha Muthahari disebut sebagai hari syahid bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Hari yang pesan dan maknanya abadi, tak pernah habis untuk di ungkap di setiap masa. Syahidnya Imam Husain beserta keluarga dan sahabatnya telah memberikan inspirasi dan semangat kepada kaum muslimin yang hidup sesudahnya untuk menegakan kebenaran - Islam - dan meruntuhkan kezaliman (eksploitasi) terhadap nilai - nilai kemanusiaan di seluruh dunia. Penunjukan hari Asyura sebagai hari syahid ini menjadi amat relevan mengingat kedudukan konsep syahid dalam Islam sendiri begitu penting dan mulia, disamping mendorong kaum muslimin untuk mempelajarinya lebih mendalam.

Di setiap berlalunya zaman selalu saja terjadi pengulangan peristiwa (rekonstruksi sejarah). Imam Ali as pernah dalam sebuah kesempatan mengutarakan hal ini. Dari sudut potensi manusia, pengulangan ini amat memungkinkan. Manusia adalah mahluk yang berdimensi dua - dimensi lahir dan batin. Potensi ini dimiliki oleh seluruh manusia yang pernah hidup.

Dari zaman ke zaman kita banyak menyaksikan dua kutub (polarisasi) sikap manusia. Satu kutub selalu memelihara potensi kesucian diri yang dianugerahkan Tuhan, sementara yang satunya sebaliknya. Kalau di zaman dahulu kita mengenal sosok Yazid bin Muawiyyah, maka di zaman modern ini kita mengenal tokoh seperti, Ceucescu, Pinochet, Milosevic, Ne Win, Marcos, Hitler, Musollini, yang merupakan tipikal Yazid. Selain itu kita juga mengenal pribadi seperti Imam Khomeini, Hasan Albanna, Sayid Abbas Musawi - pemimpin Hizbullah dll yang merupakan tipikal yang mengikuti kepribadian Imam Husain as. Dua kutub ini akan terus mewarnai dan menghiasi lembaran - lembaran kehidupan di dunia ini.

Di zaman kontemporer seperti sekarang, peristiwa Asyura inilah yang mengilhami dan membakar semangat pejuang Islam untuk menegakan kebenaran seperti yang terjadi di Libanon (perjuangan Hizbullah), revoulusi Islam di Iran dll. Tokoh besar dalam Islam abad 20 seperti Imam Khomeini - semoga Allah SWT mensucikan ruhnya, Sayid Abbas Musawi, Murtadha Muthahari dan tokoh - tokoh besar Islam di sepanjang masa yang amat kita hormati adalah pribadi - pribadi yang menyerap pesan dan hikmah dari peringatan Asyura.

Konsep Bentuk dan Hakikat

Jika kita menelusuri literatur sejarah para Imam, maka kita akan menyaksikan benang merah perbedaan garis perjuangan yang mereka tempuh. Garis perjuangan para Imam satu dengan yang lainnya berbeda - beda. Perbedaan ini menurut Ust. Husain Alkaff, disebabkan bentuk dari kegelapan yang dihadapi para Imam sangat berbeda, jadi bukan pada entitas mereka (bulletin Aljawad 10/th. X/Muharram 1422 H).

Untuk lebih memudahkan pemahaman, mungkin yang dimaksud kegelapan disini adalah situasi dan kondisi penyimpangan yang terjadi pada masa para Imam hidup sangatlah berbeda satu dengan yang lainnya. Bentuk kegelapan yang berbeda itu meniscayakan strategi dan garis perjuangan yang berbeda pula. Hal seperti ini misalnya dapat dilihat pada masa pemerintahan Imam Ali as. Beliau tidak secara frontal melakukan perlawanan terhadap penguasa yang merampas kekhalifaannya, padahal kita semua mafhum bahwa Imam Ali as. adalah panglima perang yang paling berani di zaman Rasulullah Saaw. Lalu Imam Hasan as. memberikan hak kekhalifaannya kepada Muawiyyah demi menjaga keselamatan kaum muslimin, dan Imam Husain as. yang dengan gagahnya telah mengorbankan diri, keluarga dan sahabatnya (martyr). Begitupun dengan para Imam - Imam yang lain.

Sebagai sebuah contoh kasus (case study) yang lain, apa yang ada dibenak kita, melihat garis perjuangan Imam Ali Zaenal Abidin as. misalnya, dimana beliau menyaksikan langsung peristiwa yang amat memilukan yang menimpa seluruh keluarga, adik, kakak dan ayahnya - syahid. Apakah beliau memilih untuk melakukan garis perjuangan yang sama dengan apa yang telah ditempuh oleh ayahnya - bertempur melawan pasukan Yazid bin Muawiyyah - la'natullah. Kenyataannya tidak demikian, beliau malah memilih garis perjuangannya, dengan cara membimbing masyarakat dengan banyak munajat yang terkumpul dalam karya monumentalnya mutiara - mutiara "Asshahifah Assajadiyyah". Begitupun dengan apa yang ditempuh Imam Muhammad Albaqir, cucu Imam Husain. Hampir sama dengan ayahnya, Imam Baqir as. memilih garis perjuangannnya dengan lebih banyak mengajar. Sehingga beliau digelari Albaqir, yang artinya orang yang menguraikan ilmu. Ia tidak mengikuti cara yang ditempuh kakek ataupun pamannya, Zaid bin Ali Zaenal Abidin. Seperti diketahui Zaid bin Ali syahid melawan pemerintahan yang zalim pada zamannya, bahkan hingga ia di salib.

Apakah, lalu, kita akan mengatakan bahwa keduanya tidak menyerap dan memahami pesan Asyura? Tentu saja tidak. Kedua Imam tersebut sangat menghayati dan memahami pesan Asyura. Garis perjuangan yang keduanya tempuh adalah sebagai salah satu bentuk atau model dari pemahaman mereka yang menyeluruh tentang ajaran Islam. Tidak berarti pula para Imam seolah lari dari kenyataan seperti para sufi - sufi semu (psedo - sufism), Imam tetap memberikan pandangan - pandangan dan jawaban atas persoalan yang sedang menimpa kaum muslimin. Namun, para Imam telah memilih strategi yang disesuaikan dengan kondisi yang tengah menimpa ummat. Sehingga pesan dan ajaran Islam yang utuh dapat lebih efektif diterima ummat.

Hasil perjuangan, para Imam, adalah hasil yang abadi. Kita dapat memastikan bahwa pesan Islam yang asli (original) yang kita dapat dari sumber - sumber Ahlilbayt, yang kita pelajari sekarang adalah merupakan usaha kolektif yang diwariskan para Imam Ahlilbayt dan orang - orang yang mengikutinya. Munculnya para ulama besar, yang sangat kita hormati, seperti At-Thusi, Mulla Sadra, Thabathaba'i, Imam Khomei'ni dll adalah merupakan produk dari madrasah Ahlilbayt. Kondisi yang berbeda meniscayakan pola dan model yang berbeda pula.

Satu hal yang mengikat (common thread) adalah substansi dan materi penyampaian dan bimbingan mengenai Islam yang mereka sampaikan adalah pemahaman Ahlilbayt - pemahaman dan kontekstualisasi ajaran - ajaran Islam. Rasulullah telah menyampaikan seluruh ajaran - ajaran Islam baik yang lahir maupun yang batin. Pada konteks ini Islam telah sempurna. Namun ia belum sempurna secara manifestasi. Penyempurnaan ini dilanjutkan oleh para Imam. Dengan kata lain Islam telah memberikan sebuah panduan mengenai masa depan manusia. Para Imamlah yang menjadi juru bicara Al-Qur'an. Merekalah manusia terpilih, yang sangat mengenal zamannya, sebagai salah satu anugerah dari ilahi, yang menjaga kemurnian ajaran - ajaran Rasulullah Saaw - Islam yang original. Siapakah yang berani mengklaim sebagai pihak yang memiliki otoritas untuk menguraikan tentang Al-Qur'an, selain daripada mereka? Antara mereka dengan Al-Qur'an tidak dapat terpisahkan. Merekalah Al-Qur'an yang hidup. Mereka pulalah yang dapat membimbing manusia untuk dapat sampai menuju Allah (Sayr wa Suluk). Dalam literatur para sufi rentetan dari inisiasi, yaitu para mursyid, mayoritas berakhir pada para Imam Ahlilbayt.

Perjuangan Dalam Konteks Kekinian

Perjuangan model apa yang akan kita pilih? Perjuangan atau gerakan yang memiliki tujuan harus terlebih dahulu diawali oleh sebuah pemahaman. Perjuangan untuk menyebarkan kepada ummat mengenai ajaran - ajaran Ahlilbayt harus pula diawali pemahaman yang menyeluruh mengenai Islam itu sendiri. Bolehlah dikatakan bahwa pemahaman adalah menjadi dasar daripada Islam hakikat. Sementara perjuangan merupakan Islam bentuk.

Yang harus menjadi catatan adalah pada konteks Islam hakikat ini tidak ada toleransi atas pandangan yang berbeda, yaitu pandangan dunia tauhid. Maksudnya, kita tidak dapat mentoleransi pemahaman - pemahaman yang tidak menempatkan pemahaman Ahlilbayt sebagai rujukan.

Pandangan dunia tauhid yang dibawa Ahlilbayt memberikan sebuah gambaran pemikiran di kepala kita mengenai hakikat dunia ini. Bagaimana kita dapat memahaminya, hubungan diri kita dengan dunia luar, dengan pencipta, dll. Pandangan yang berbeda mengenai hal ini hanya akan menghasilkan masyarakat yang memahami Islam secara parsial. Beberapa pandangan tauhid yang tidak proporsional adalah seperti jabbariyah (keterpaksaan - determinisme) dan Mu'tazilah (kebebasan - free will). Contoh ekstrim dalam hal ini adalah kaum Khawarij yang hidup pada masa pemerintahan Imam Ali. Generasi kesekian dari kaum Khawarij ini terus lahir, dan banyak kita temui di masyarakat kita pada masa sekarang. Khawarij adalah produk dari pemahaman yang tidak utuh terhadap Islam.

Pemahaman yang benar tentang Islam akan membimbing kita untuk dapat merefleksikan dan memancarkan hal tersebut dalam kehidupan sehari - hari, lebih jauh dalam bentuk perjuangan. Dengan kata lain, sebuah perjuangan merupakan sebuah pancaran dari gelora dan energi pemahaman. Pribadi - pribadi yang telah menyerap nilai - nilai Ahlilbayt secara otomatis akan merefleksikannya dalam kehidupan sehari - hari.

Hal - hal diatas adalah dalam konteks yang sifatnya sangat personal (private). Lalu, bagaimana dalam bentuk yang lebih terorganisir (jamaa'ah). Apakah gerakan dakwah mengalir begitu saja ataukah diperlukan sebuah riset dan analisa mengenai medan dakwah? Jika kita merujuk pada fragmen para Imam, maka kita akan sepakat bahwa kita harus terlebih dahulu mengenal kegelapan yang kita hadapi. Dengan kata lain dengan pemahaman yang kita peroleh dan mengenal bentuk kegelapan yang dihadapi.

Menentukan bentuk kegelapan yang dihadapi dan mencoba mencari model metode penyampaian dakwah dengan merujuk pada garis perjuangan yang para Imam tempuh akan menjadi bahan diskusi yang akan kontroversial dan menyita waktu. Pertanyaan seperti siapa yang amat berkompeten untuk memberikan jawaban terhadap persoalan ini, hanyalah akan kontra produktif saja hasilnya. Lebih jauh jika hal ini kita dapat pahami, maka, "kelatahan" untuk mengadopsi sebuah garis perjuangan gerakan lain akan dapat ditentukan benang merahnya. Lebih jauh pemahaman akan hal ini, dapat membangun sikap saling menghormati (toleransi), dll. Mungkin outputnya dapat saja adopsi dengan perubahan - perubahan kondisional, sinergi, ataupun bentuk baru. Pada poin ini - perbincangan mengenai bentuk dan kegelapan yang kita hadapi, biarlah menjadi sebuah wacana.

Kata kuncinya adalah bahwa bentuk atau garis perjuangan adalah sebuah strategi yang dapat saja berubah dan berbeda disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dalam bentuk mikro strategi penyampaian dakwah Ahlilbayt di sebuah kota kecil akan sangat berbeda dengan di kota besar. Bentuk atau garis perjuangan adalah tidak sakral. Ia adalah produk dari hasil perenungan dan analisa terhadap objek penyampaian (dakwah).

Bentuk ini harus selalu terkait dengan hakikat dari pemahaman yang menyeluruh. Ia tidak lebih dari sebuah pancaran yang akan dengan sendirinya, berkat bantuan ilahi, akan hadir. Itu sebabnya ia tidak dapat diseragamkan. Itu pula sebabnya, bentuk tidak menjadi berarti ketika ia terlepas dari hakikat yang sebenarnya. Adanya yayasan, kelompok studi dll adalah menjadi tidak bermakna dan terputus dari perjuangan ketika hal - hal itu tidak dimaknai sebagai sebuah sarana dan model dari penyebaran Islam. Alih - alih penyampaian ajaran - ajaran Ahlilbayt yang tersebar malah kepopuleran yang sangat pribadi (personal tendensius) yang tersebar. Itulah sebabnya bentuk yang ada menjadi sangat dinamis sifatnya. Kita menghadapi situasi yang terus berubah. Mengutip pernyataan seorang filosof, tidak ada yang abadi dari sebuah kondisi, melainkan yang abadi adalah perubahan itu sendiri.

Namun begitu, jika kita telah memahami bahwa bentuk adalah sebuah manifestasi dari sebuah pemahaman, maka ia tidak terlepas dari spirit dan pemahaman yang menyeluruh. Kita bisa mengambil pelajaran dari Imam Ali Zaenal Abidin as. Kita meyakini, beliau amat memahami arti syahid dan bagaimana mengaktualisasikannya. Para Imam lain pun selalu mengkaitkan bentuk dengan semangat pemahaman yang menyeluruh. Konkritnya, do'a yang yang Imam Ali Zaenal Abidin wariskan yang terkandung dalam Asshahifah Assajadiyyah, misalnya, bagi orang yang memiliki pemahaman yang utuh akan memberikan energi yang amat besar. Dalam kaitan ini Imam Khomei'ni pada saat beliau mengisi ceraman di TV yang membahas mengenai tafsir dari basmalah dan hamdalah, beliau mengatakan bahwa doa dan semacamnyalah yang mendorong manusia menjadi insan kamil sehingga ia dapat memimpin dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu dunia sebagaimana yang seharusnya.

Sebaliknya jika konsep bentuk tidak dikaitkan dengan pemahaman yang menyeluruh, maka hasil yang dicapai adalah pemahaman yang partikular - pemahaman yang sepotong - sepotong. Pemahaman ini akan menggerogoti pemahaman Islam yang nantinya akan menjadi ancaman yang sangat berbahaya - pemahaman model Khawarij. Pada akhirnya, momentum Asyura, buat mereka, tidak akan memiliki konsep dan kontribusi yang berarti. "Setelah Asyura, hari - hari akan berjalan seperti hari - hari biasanya".

Jadi, dari pengantar ini, pertanyaan - pertanyaan mengenai manifestasi dari kecintaan kita kepada Imam Husain dapat diwujudkan dalam bentuk yang sangat berbeda - beda. Bisa saja hal tersebut dalam pelayanan kita kepada masyarakat, perjuangan politik, menulis, mengajar, dll. Dimana bentuk perjuangan - perjuangan tersebut diikat oleh satu ikatan pemahaman Islam yang menyeluruh. Jika kita melihat sketsa sejarah perjuangan para Imam niscaya kita akan dapat memahaminya.

Momentum Asyura

Ke depan, kita bisa membayangkan betapa dahsyatnya pergerakan orang - orang yang telah menyerap energi dan pesan dari peringatan Asyura. Seandainya saja ada sinergi dan pengorganisasian (organize), mereka akan menjadi kekuatan yang akan merubah masyarakat dan menyumbangkan nilai - nilai kemanusiaan, dan mengawal perjalanan sejarah dari nilai - nilai yang menyimpang.

Pada akhirnya, buat kita bentuk tidaklah penting, yang penting bagaimana kita dapat memahami ajaran Ahlilbayt ini secara menyeluruh, tidak partikular. Akhirnya saya amat meyakini, bahwa bentuk merupakan pancaran dari pada pemahaman kita tentang Islam seperti yang diajarkan para Imam Ahlilbayt. Contoh yang paling monumental dalam hal ini adalah pada pribadi Imam Khomeini, yang pada mulanya sangat terkenal dengan ulama irfan tetapi ternyata beliau secara strategi politik mampu memimpin dan menghantarkan bangsa Iran keluar dari kezaliman tiran Syah Reza. Kini di Iran berdiri sebuah republik Islam yang merupakan prototipe dari model pemerintahan yang islami. Dengan kesucian dirinya dan pemahamannya yang utuh mengenai Islam, Imam Khomeini, dengan bantuan ilahi mampu merubah dan membangun sebuah tatanan masyarakat baru.

Sepeninggal Imam Khomei'ni, wilayatul faqih, dilanjutkan oleh Rahbar, Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khameine'i. Berbeda masa, berbeda pula gaya dan style serta strategi. Republik Islam Iran, dibawah Rahbar melakukan banyak terobosan yang tidak dilakukan pada masa Imam Khomei'ni. Sekali lagi kata kuncinya adalah bentuk kegelapan atau situasi dan kondisi yang dihadapi berbeda meniscayakan pula pada bentuk perjuangan yang berbeda.

Ala kulli hal, perjuangan ini, dalam bentuk apapun, merupakan manifestasi dari rasa cinta dan syukur kita kepada Ahlilbayt? Kita semua nanti akan ditanya, bagaimana wujud kecintaan kita kepada Ahlilbayt?

Ya Ilahi, jadikanlah perenunganku ini menjadi salah satu bukti akan kecintaanku kepada Ahlilbayt. Mudah - mudahan kita bersama menjadi bagian dari kafilah pengikut Ahlilbayt yang mendapatkan syafaat dari Imam Husain as. Wallahua'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar