Jumat, 12 Desember 2008

Di balik Tragedi Karbala atau karbala tragedi terbalik?????






Husainun Minni wa Ana min Husain, Husain adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Husain. Demikian sabda Nabi saw menyatakan keutamaan Imam Husain putra Ali Ibn Abi Thalib as. Selanjutnya Nabi meneruskan, "Maka Allah akan mencintai orang yang mencintai al-Husain".

Dalam sabda lain Nabi menegaskan, "Ya Allah! Aku mencintai kedua anak ini, yakni al-Hasan dan al-Husain, dan aku mencintai orang yang mencintai mereka". Sedemikian cintanya Rasulullah kepada al-Hasan dan al-Husain. maka tatkala keduanya menaiki punggung Rasulullah saw yang ketika itu sedang shalat, ia membiarkan saja mereka berdua bermain sepuas-puasnya diatas punggungnyayang mulia. Rasulullah tidak ingin mereka berdua kecewa. Karena itu ia belum bangkit dari sujud kecuali setelah mereka sendiri turun dari punggungnya setelah merasa puas.

Tatkala ada seorang Sahabat yang berupaya mencegah kedua cucu kesayangan Rasulullah itu "mengganggu" majlis Rasul, Rasulullah malah menegumya dan berkata kepadanya, "Biarkan mereka bermain! Sungguh demi ayah dan ibuku, sesungguhnya barangsiapa mencintaiku maka hendaknya mencintai kedua anak ini". Karena al-Hasan dan al-Husain bukan sekedar cucu-cucu Rasulullah, tapi adalah anak-anaknya sendiri. Rasulullah bersabda, "Kedua anak ini adalah anak-anakku. Maka barangsiapa mencintai mereka berdua, ia berarti mencintaiku".

Al-Husain adalah manusia sorga. Nabi berkata, "Barangsiapa ingin melihat manusia sorga maka lihatlah al-Husain. Nabi malah menjelaskan di depan khalayak ramai, seperti diriwayatkan oleh Sahabat Khuzaifah Ibn al-Yaman, "Hamba-hamba Allah, ini adalah al-Husain Ibn Ali. Kenalilah dia. Demi yang nyawaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya kakeknya al-Husain lebih mulia di sisi Allah dibanding kakeknya Yusuf Ibn Ya'kub. lni al-Husain. Kakeknya di sorga. Ibunya di sorga. Saudara laki-laki ayahnya di sorga. Saudara perempuan ayahnya di sorga. Saudara laki-laki ibunya di sorga. Saudara perempuan ibunya di sorga. Saudaranya di sorga. Dan ia sendiri di sorga." Bahkan Nabi juga menegaskan, sebagaimana dikutip Sahabat Abubakar al-Siddiq, "al-Hasan dan al-Husain adalah penghulu-penghulu sorga".

Beberapa hadis diatas hanya merupakan beberapa bagian kecil saja mengenai keutamaan Imam Husain as yang dapat diungkapkan di sini. Masih terdapat puluhan hadis lain yang mengungkapkan betapa

tingginya kedudukan Imam Husain di mata Allah dan rasul-Nya. Antara lain, "Suatu hari ketika Nabi keluar dari rumah putrinya Fatimah as, ia mendengar suara tangisan al-Husain. Nabi bergegas mampir ke rumah Fatimah dan berkata, "Ketahuilah putriku! Betapa tangisnya membuat aku tersiksa." Oleh karena itu ketika Malaikat Jibril a.s. mengabarinya bahwa al-Husain akan mengalami nasib tragis, Nabi menangis tersedu-sedu dan berkata, "Ya Allah kutuklah pembunuhnya!"

Al-Syekh Thusi meriwayatkan dalam kitabnya al-Amali dari Imam Ridha as, dari kakek moyangnya,

dari Asma’, yang berkata, "Ketika Fatimah as melahirkan al-Husain, aku menggendong al-Husain.

Asma', "Jangan engkau beritahu Fatimah tentang ini". Asma' berkata, "Pada hari ketujuh dari kelahiran al- Husain, Nabi saw datang dan berkata kepadaku, "Bawa kesini anakku itu Asma"'. Aku berikan al- Husain kepadanya. Asma' berkata, "Kemudian Nabi saw meletakkannya di pangkuannya dan berkata, "Ya Aba Abdillah [nama panggilan al-Husain] Hal ini sungguh berat bagiku". Kemudian Nabi menangis. Aku berkata kepadanya, "Ya Rasulullah, engkau telah melakukan hal yang sama pada hari ini seperti pada hari pertama. Ada apa gerangan? Nabi menjawab, " Aku menangisi putraku ini karena ia akan dibunuh oleh kelompok Bani Umayyah yang baghi, sesat, dan kafir. Mereka sama sekali tidak akan mendapat syafaatku pada hari kiamat. AI-Husain akan dibunuh oleh seorang yang merusak agama dan kafir kepada Allah". Kemudian Rasulullah saw berdoa kepada Allah berkenaan dengan al-Hasan dan saudaranya al-Husain, "Ya Allah, aku memohon seperti yang dimohonkan Ibrahim untuk keturunannya. Ya Allah, cintailah mereka berdua, cintailah yang mencintai mereka, dan kutuklah orang-orang yang membenci mereka sebanyak isi langit dan bumi".

Nabi saw. bahkan lebih memilih al-Husain daripada Ibrahim putranya sendiri. Abu al-Abbas meriwayatkan bahwa suatu hari aku bersama Rasulullah saw. Ketika itu Rasulullah sedang memangku Ibrahim, putranya, di paha kiri dan al-Husain Ibn Ali di paha kanan. Ia mencium keduanya bergantian. Kemudian malaikat Jibril datang membawa wahyu dari Tuhan semesta alam. Nabi bercerita kepadaku, "Jibril datang kepadaku dan berkata: "Hai Muhammad! Tuhanmu menyampaikan salam untukmu dan berfirman, "Aku tidak akan mengumpulkan mereka berdua [yakni Ibrahim dan AI-Husain] bersama-sama. Maka pilihlah salah seorang diantara mereka berdua". Nabi menatap Ibrahim, kemudian menangis. la berkata: Jika Ibrahim yang meninggal tidak ada yang menangisinya kecuali aku. Tapi ibu Husain adalah fatimah. Ayahnya Ali, putra pamanku, darah dagingku. Jika ia meninggal, ibunya akan menangisinya. Demikian pula putra pamanku dan aku sendiri. Aku lebih memilih biarlah aku yang sedih, jangan mereka berdua. Wahai Jibril, biarlah Ibrahim saja yang meninggalkanku. Aku Ibrahim demi al-Husain". Tiga hari kemudian Allah memanggil Ibrahim. Maka setiap kali al-Husain datang menghadap Nabi, Nabi selalu mencium dan memeluknya seraya berkata: "Wahai orang yang aku relakan Ibrahim pergi deminya."

Jika demikian besamya cinta Rasulullah kepada al-Husain, maka bayangkan betapa hancumya hati Rasulullah menyaksikan umatnya sendiri yang membantai al-Husain dan keluarganya yang dicintainya. Tapi sejarah keluarga Nabi adalah sejarah perjuangan dan pengorbanan. Apa yang menimpa al- Husain, bukanlah yang pertama dan bukan pula yang terakhir yang dipersembahkan Keluarga suci ini.

Ketika Rasulullah saw memutuskan berangkat ke Madinah bersama sahabatnya Abubakar, ia minta Imam Ali bin Abi Thalib as putra pamannya dan calon penerus risalahnya menggantikannya di posisinya. Sebuah pilihan yang amat berat. Saat itu puluhan pemuda Quraisy dengan senjata lengkap mengepung rumah Nabi saw untuk membunuhnya. Ali diminta Rasulullah berperan sebagai dirinya supaya para pengepung itu mengira bahwa Rasulullah ada di dalam rumah. Dengan demikian mudah bagi Rasulullah menyelamatkan diri. Hanya orang yang siap mati saja yang mau melakukan hal ini. Sementara sahabat-sahabat lainnya menyelamatkan diri dengan hijrah ke Madinah, Imam Ali Ibn Abi Thalib justru mempertaruhkan nyawanya menghadapi algojo-algojo Mekkah yang beringas karena agama nenek moyang mereka terancam punah. Tapi Ali as sama sekali tidak takut. la jalani tugas yang diembankan Rasulullah kepadanya dengan sempurna. la selamatkan Rasulullah. la selamatkan Islam. Atas perannya itu turun ayat yang memujinya: "Diantara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang menjual dirinya hanya untuk mendapatkan ridha Allah". [Al-Quran]. ltulah Ali Ibn Abi Thalib.

Kini setelah 60 tahun peristiwa heroik itu, agama Islam kembali terancam. Tetapi bukan oleh orang- orang yang diluar agama Islam yang terang-terangan memerangi agama Allah, melainkan oleh orang-orang yang menamakan dirinya sebagai pengikut-pengikut Muhammad saw. Bahkan orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin kaum Muslimin! Na'uzu billah.

Tapi apa lacur! Kekuasaan Islam berada ditangan orang-orang yang dikenal sangat bejat. Tidak pemah peduli terhadap ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai relakan kemanusiaan. Mereka melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Yang menentang ditebang. Yang mencoba melawan dipenggal. Yang berani mengusik dihancurkan. Tidak peduli. Siapa saja yang mereka anggap dapat mengganggu kekuasaan mereka, mati adalah hukuman yang paling ringan.

Lihat perintah Muawiyah putra Abi Sufyan, musuh utama Nabi saw, kepada salah seorang komandan perangnya, Sufyan Ibn Auf al-Amiri, "Bunuh setiap orang yang engkau temui yang tidak sependapat denganmu. Rusak desa-desa yang engkau lewati. Rampas harta-harta mereka karena dengan merampas harta-harta itu engkau telah membunuh mereka, dan itu justru lebih menakutkan mereka. Di lain kesempatan ia menginstruksikan semua gubemurnya, "Siapa saja yang kamu curigai cenderung kepada mereka (maksudnya Keluarga Rasulullah) bantai mereka dan hancurkan rumah-rumah mereka."

Ibn al-Atsir menggambarkan kepada kita tentang kekejaman pemerintahan Muawiyah setelah pelaksanaan penandatanganan perdamaian dengan Imam Hasan as bahwa ketika Samrah menggantikan posisi Ziyad sebagai gubernur Kufah, ia banyak pembantaian. Ibn Sirin berkata, "Selama ketidakhadiran Ziyad di Kufah tidak kurang dari delapan ribu jiwa manusia yang dibantai Samrah." Ziyad berkata kepadanya, "Apakah engkau tidak khawatir dengan membunuh orang-orang yang tidak bersalah? la menjawab: "Seandainya pun aku harus membunuh lagi dalam jumlah yang sama, sama sekali tidak akan membuatku khawatir". Abu al-Sawari al-Adwi mengatakan, "Samrah telah membunuh kaumku pada satu hari saja empat puluh tujuh orang. Semuanya telah mengumpulkan AI-Quran."

Di atas semua itu adalah seorang yang bernama Yazid Ibn Muawiyah, putra Abu Sufyan, seseorang yang tidak mempunyai pekerjaan kecuali mabuk-mabukan, bermain perempuan, bercanda dengan kera dan anjing-anjing piaraannya, serta seorang yang dengan mudah menumpahkan darah anak manusia yang tidak bersalah. Cukup bagi kita untuk menunjukkan betapa bejatnya anak Muawiyah ini, selain pembantaiannya terhadap Keluarga Rasulullah saw, adalah penghancuran Ka 'bah dan penghalalan kota Madinah atas perintahnya. Sejarah merekam dengan jelas bahwa Yazid memberikan kebebasan kepada tentaranya untuk melakukan apa saja di kota Rasul itu selama tiga hari penuh. Mereka membunuh tidak kurang dari seribu Tabiin, tujuh ratus Muhajirin dan Anshor, serta menggagahi ratusan perawan Muslimah.

Apakah al Husain akan tunduk seperti yang lainnnya? Bahkan ada yang sudi melakukannya dengan penuh penghinaan. Yazid tidak perlu memberikan kepadanya tangannya untuk menerima baiat. Cukup dengan kakinya saja. Tentu putra Asadullah Al Ghalib, Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Allah ini, tidak akan pemah menghianati amanat para leluhurnya supaya terus berkorban demi Islam. ltulah yang dilakukan al-Husain as. Maka ketika melakukan Gubemur Madinah memaksanya baiat kepada Yazid, Imam Husain dengan berani membongkar kedok Yazid. Imam berkata kepada al-Walid, "Yazid adalah seorang yang bejat, peminum khamar, pembunuh nyawa yang tidak bersalah, dan pembuat maksiat yang terang-terangan. Orang seperti Aku tidak boleh membaiat orang seperti Yazid." Di lain kesempatan

membaiat orang seperti Yazid." Di lain kesempatan Imam Husain berkata, "Wahai orang-orang! Mereka adalah pengikut-pengikut setan, penentang Tuhan, pelaku perusakan di muka bumi, penghapus ajaran agama, perampas harta kaum Muslimin, dan penghalal sesuatu yang diharamkan Allah. Aku adalah orang yang paling menentang mereka." Dalam khotbah lain Imam menegaskan, " Wahai orang-orang! Barangsiapa melihat pemimpin yang zalim, menghalalkan segala yang diharamkan Allah, mengingkari perjanjian dengan Allah, menentang ajaran Rasulullah, memerintah dengan bejat dan zalim, tapi tidak ada yang menggugatnya dengan Iisan atau perbuatan, sungguh murka Allah akan menimpanya, dan adalah hak- Nya memasukkannya ke neraka bersama pemimpin itu."

Dengar apa yang diingatkan oleh Allah, "Hai orang-orang yang beriman! Ada apa dengan kamu, jika dikatakan kepadamu berangkatlah untuk berperang di jalan Allah, kamu malah merasa berat dan ingin tinggal di rumah. Apakah kamu lebih memilih kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal apalah arti kenikmatan dunia ini di banding akhirat. Tidak ada artinya. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kamu dan mengganti kamu dengan orang lain, sementara itu kamu tidak dapat merugikan Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Mampu melakukan apa saja." (Q.S. al- Taubah, 9: 2,38-39)

Tatkala sekelompok warga Irak bertanya kepada Sahabat Abdullah Ibn Umar tentang hukum membunuh lalat pada saat ihram, Abdullah Ibn Umar malah balik bertanya, "Warga Irak bertanya kepadaku tetang hukum membunuh lalat, tetapi lupa hukum membunuh cucu Rasulullah? Padahal Rasulullah bersabda, 'al-Hasan dan al-Husain adalah wewangian dari wewangian dunia." Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Anas Ibn Malik ketika menyaksikan Ibn Ziyad sedang mempermain-mainkan bibir al-Husain. Ia berkata, "Tahukah engkau, sesungguhnya bibir itulah yang selalu dikecup Rasullulah saw."

Tapi apalah arti bibir kecupan Rasulullah bagi pengikut-pengikut jalan setan ini. Tokoh utama mereka dan sumber dari segala nestapa ini, Muawiyah, malah tidak menghargai Rasulullah sama sekali. Ketika suatu hari terdengar olehnya suara azan yang mengumandangkan dua kalimah syahadat, dengan geram Muawiyah berkomentar, "Kapan nama anak Hasyim ini (maksudnya Rasulullah saw) dipisahkan dari nama Allah. Aku sungguh belum merasa puas jika nama itu belum dipisahkan dari nama Allah." Astaghfirullah! Adakah kalimat semacam ini keluar dari orang Islam yang paling bejat sekalipun? Hanya orang-orang yang tertutup hatinyalah yang dapat mentolerir perbuatan semacam ini.

Dengan pengorbanannya Imam Husain a.s. telah menyelamatkan Islam. Menyelamatkan kita semua. Kini kita dengan tenang dapat menunaikan sholat. Dengan tenang dapat beribadat. Dengan tenang dapat berdoa dan berdoa.

Ketika rombongan keluarga Rasullah dipimpin Imam Ali Zainal Abidin as kembali ke Madinah, seseorang iseng bertanya kepadanya, "Siapakah yang menang wahai putra Rasulullah?" Imam tidak menjawabnya. Tapi ia mengatakan kepadanya, "Jika nanti suara azan terdengar maka engkau akan tahu siapa pemenangnya."

Hayya alas-shalat!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar