Minggu, 14 Desember 2008

Ukhuwah Islamiyah




Pengantar

Kecenderungan manusia untuk berkoloni, menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Perkembangan sejarah dari satu masa ke masa lainnya, silih bergantinya penduduk bumi merupakan drama kolonial manusia dalam perwujudan persatuan sosial. Hanya sebagian kecil manusia yang senantiasa tetap tampil dengan kejelasan dan kecemerlangan jiwa mampu membentuk Ukhuwah Islamiyah.

Dalil-dalil aqli dan naqli dalam bentuk perintah dan justifikasi yang menekankan "ukhuwah Islamiyah" banyak sekali. Mengingat pentingnya ukhuwah ini, kita memilihnya sebagai kajian disini. Bila dalam kajian sebelumnya disebutkan bahwa Islam adalah aturan yang unik, individualnya terkait langsung dengan sosial dan sebaliknya dengan satu aturan, maka tujuan-tujuan individu-individu yang terdapat dalam persaudaraan Islam bersifat satu, dan aturannya adalah aturan yang satu. Perbedaan antar individu dalam status sosial, letak geografis, ras maupun ilmu pengetahuan tidak menjadi halangan bagi terwujudnya Ukhuwah Islamiyah ini. Islam justru memandangnya sebagai modal besar bagi perwujudan ukhuwah itu sendiri.

Dengan menjadikan fenomena alam sebagai ibrah yang menunjukkan perubahan siang dan malam, peredaran galaksi dan keseimbangan yang maujud dialam sekitar merupakan ibrah peraturan dan hukum yang mengagumkan. Benda-benda yang tak memiliki ikhtiar tersebut teratur oleh satu aturan bekerja secara naturalis, atau yang dikenal dengan sunatullah. Hal itu juga merupakan kehendak takwini Allah terhadap alam dan pada diri-diri hamba-Nya yang juga kehendak tasyri’iy. Dengan demikian manusia melalui ikhtiarnya dapat menyelaraskan dirinya dengan unsur-unsur fitrah ini dan membentuk persaudaraan ditengah mereka.

Sebaliknya bila manusia condong pada dunia dalam bentuk fisikal yang terbatas dan melapuk terhadap kehidupan dunia, niscaya ukhuwah tidak akan terwujud ditengah mereka. Tanpa menafikan banyaknya klaim ukhuwah dan justifikasi yang diserukan oleh banyak kalangan dalam bentuk sebagaimana dalam materi III (syi’ar insaniyyah) yang merupakan slogan organisasi, partai politik ataupun agama-agama berupa keseejahteraan yang ditimbulkan dari persatuan mereka.

Dengan mencoba melihat akar penyebab persoalan tidak terwujudnya Ukhuwah Islamiyyah ini. Berbagai pendekatan dapat dilakukan melalui sisi jenis-jenis Quwwah (potensialitas ) yang ada pada sisi manusia. Selain itu dapat juga dilakukan pendekatan seruan seruan Allah SWT dalam nash-nash.

Pendekatan Nash

Ketika Allah SWT hendak menciptakan nabi Adam as. malaikat yang memiliki kemampuan berpikir melihat penciptaan Adam ini akan membuat pertikaian dan pertarungan ditengah-tengah masyarakat manusia sendiri. Hal ini tampak pada pertanyaan yang mereka (malaikat) ajukan dihadapan Rabulk ‘A’la sesuai dengan firman-Nya :

"Sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan manusia dimuka bumi ini dan menjadikan mereka khalifah. Berkata para malaikat – Tidakkah mereka kelak salaing membunuh dan menumpahkan darah – Sesungguhnya Aku (Allah) maha mengetahui daripada kalian". (QS : )

Ayat diatas secara tidak sadar sering dijadikan bukti untuk menunjukkan bahwa Allah SWT telah salah – dan malaikat yang benar. Maha Suci Allah dari melakukan kesalahan. Apa yang sebenarnya terpikir oleh malaikat yang tidak menjangkau apa yang dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat dalam dirinya. Bahwa manusia memiliki potensi ntuk membuat persatuan yang dengan ikhtiarnya masyarakat manusia dapat membangun ukhuwah islamiyah ini. Sebab bila hal ini tidak dapt dilakukan maka perintah bersatu dalam ayat-ayat al-Qur’an adalah sia-sia, yang bukan karena tidak terhindari/ diingkari manusia, tapi karena tidak mungkin dilakukannya. Seperti perintah dalam Firman Allah SWT :

"Bersatulah kalian dengan tali Allah dan jangan bercerai berai" (QS : )

Ukhuwah Dalam Pengertian Umum

Pada dasarnya ketika manusia sebagai makhluk sosial – dan tidak dapat berdiri sendiri, dirinya membutuhkan satu sama lainnya, maka manusia secara tidak langsung dipicu untuk berkoloni. Upaya berkoloni ini – dalam wadahnya Islam disebut dengan Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam). Dalam rangka mewujudkan orang-orang yang bertujuan sama dan duduk dibawah aturan-aturan hukum yang sama dan dibawah perintah seorang pemimpin yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam mewujudkan persaudaraannya.

Setelah nyata kehendak Allah dalam menciptakan makhluk-Nya dan jelas kecenderungan fitri manusia dan media alam memaksa manusia untuk berkoloni inilah – manusia dituntut untuk bersama saudaranya yang lain untuk mejalani kehidupan kehidupan ini dengan cara bersatu padu ditengah-tengah mereka. Selain ukhuwah merupakan prasyarat sosial juga wujud yang mengangkat kemuliaan umat Islam itu sendiri. Para nabi adalah wujud fisiknya yang tampil dengan fitrahnya – sehingga Imam Khomeini qs. Berkata :

" Sekiranya para nabi itu hidup masa niscaya tidak satupun dari mereka yang berselisih"

Hal ini disebabkan bentuk kebenaran tidak akan terjadi perselisihan, sesuatu yang terjadi dari unsur hawa nafsu yang memang cenderung untuk berpecah belah.

Dua Bentuk Persatuan

Ketika sekelompok memiliki tiket suatu bus dengan satu tujuan yang sama dan jam keberangkartan yang sama, maka penumpang yang berada dalam satu bus tersebuut tidak disebut telah berukhuwah Islamiyah. Karena Ukhuwah Islamiyah memerlukan persyaratan kesamaan tujuan yang direncanakan – bukan sebagai kebetulan.

Sebagian muslimin kini melihat ukhuwah terkadang seperti penumpang-penumpang yang secara kebetulan sama-sama menumpangi bus yang bernama "Ahli Bait" atau "Islam". Sungguh tidak demikian, tujuan demikian adalah tujuan yang tidak mengandung "amar ma’ruf nahi mungkar" karenanya ada dua bentuk persatuan yang selintas diduga sebagai ukhuwah yaitu :

Ukhuwah seseorang yang berteman dalam mazhab-mazhab Islam, memilki satu tujuan, berada dalam wadah yang sama tetapi tidak mewujudkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Ukhuwah yang teguh karena amar ma’ruf nahi mungkar.

Pendekatan Quwwah Insaniyyah

Persatuan Fisikal

Dalam diri manusia yang rendah terdapat keterikatan material, ketika tidak menggapai syi’ar kebebasan yang ada dalam jiwanya dan terikat oleh materi yang mendorong kehambaannya pada materi, mereka bertemu dan bersatu dalam kebutuhan materi yang sama. Koloni yang membentuk jiwa-jiwa mati sering bertemu satu sama lain. Mereka ini dengan sendirinya berkelompok menurut kecondongan hawa nafsunya. Fenomena konglomerasi yang kita saksikan di berbagai negara menunjukkan hal itu.

Ketika manusia terikat sedemikian rupa oleh materi yang ada dalam benaknya, maka itu tidak lebih dari angka-angka statistik fluktuasi harga yang sedemikian rupa berpengaruh pada diri mereka disebut budak hartanya. Sebab harta ketika sedemikian besarnya, maka kehilangannya sama saja dengan hilangnya seluruh semangatnya, motivasi bahkan orientasinya. Fenomena kumpulan para usahawan yang bersekongkol dalam menindas orang-orang lemah yang biasanya dilakukan pemilik kapital besar menunjukkan masyarakat materialis – budak-budak harta dan bendawi ini. Mereka tak lebih dari binatang-binatang yang hina, yang apabila kehilangan harta benda penyatu ikatan mereka, maka mereka saling melaknat dan mencaci satu sama lain.

Kasus mega skandal Bapindo menunjukkan hal ini. Ketika pengikat, penjaga status mereka tetap ada, yaitu kredit-profit dan suap, hubungan mereka tampak sedemikian mesra. Masyarakat yang melihatnya menjadi segan dan kadang memuji koruptor-koruptor berhias emas permata dan jabatan. Apakah yang terjadi dengan robeknya hubungan mereka ? yaitu saat emosi mereka tak terpenuhi lagi sehingga kutukan dan saling tuduh, yang justru muncul pada saat tidak ada musuh sejahat rekan-rekan mereka yang sebelumnya demikian mesra. Saksi, sumpah palsu dan berbagai cara diupayakan untuk menenangkan dan menyelamatkan diri serta meluluskan egoismenya.

Perhatikan dengan binatang yang bertarung satu sama lain, apa beda mereka dengan binatang ? kebinatangan yang sebagiannya kemudian mampu menutup sejarah dihadapan orang-orang bodoh (jahil) dan awam. Namun para ulama’ tentunya merasa jijik dengan jiwa kebinatangan ini dan bersegera menjauhkan diri.

Bagaimana dengan kita ? aadakah kita memandang saudara kita dengan pertimbangan materi ? sehingga kita melebihkan si kaya sambil merendahkan simiskin ? Jika demikian, maka kita sepenuhnya terpaku pada nilai-nilai material yang mengikat diri kita satu sama lain. Semoga Allah menjauhkan kita dari jiwa kebinatangan atau kekerdilan seperti itu.

Terkadang hubungan fisikal ini demikian menjenuhkannya. Mereka menggaji yang menduduki posisi tinggi merasa paling berotoritas dan – tanpa kematangan ilmu dan kebijaksanaan sedikitpun – berlaku semena-mena. Alangkah kejinya mereka itu. Terlebih lagi setelah menjustifikasi diri atas nama agama.

Terdapat pertanyaan mendasar, apakah kemudian melandasi ukhuwah ditengah-tengah mereka dengan menafikan hubungan ekonomis ? jawabnya jelas tidak, namun Islam menolak jika faktor utama persatuan Islam dengan fokus atau dasar ekonomi. Jelas masyarakat yang menjadikan materi sebagai pengikat diantara mereka, akan bergerak kearah materi. Dalam falsafah tujuan penciptaan telah dijelaskan hal ini.

Persatuan Sentimentilagak sulit mencari kata yang tepat untuk persatuan semacam ini. Tetapi melalui studi ini diharapkan ada semacam studi tematik yang dapat menghasilkan kata tpat tentangnya.

Berangkat dari sebuah fenomena yang terjadi pada kaum Gay di Amerika Serikat yang menciptakan ikatan-ikatan sentimentil diantara mereka. Berangkat dari ikatan emosional sepenuhnya atauu sebagian saja tanpa landasan pemikiran yang rasional. Ikatan mereka sedemikian rupa sehingga membuat hubungan dan persatuan yang terpadu antara elemen-elemennya.

Tidak selamanya ikatan semacam ini terjadi pada Gay’s. Hubungan yang sama terbentuk oleh penonton bioskop, dimana ikatan emosi mereka disatukan dalam sebuah gedung bioskop, sehingga bisa mengucurkan air mata atau tertawa bersama. Pembahasan tentang kumpulan-kumpulan jenis ini sekedar contoh un tuk menggambarkan asosiasi yang sering disebut ukhuwah. Hal ini merupakan contoh-contoh sederhana untuk menggambarkan ideologi nasionalisme atau rasialisme yang sudah mencapai fase menghalangi perkembangan Islam. Hal ini berdampak secara langsung, karena klaim-kalaimnya tentang ukhuwah Islamiyah itu sendiri diseantero dunia.

Gamal Abdul Nasser yang kembali menghidupkan Pan Arabisme di PBB menunjukan hal ini. Persatuan rasial ini hanya bertahan sesaat. Selain tidak memiliki landasan kokoh, Gamal telah membuahkan luka sejarah yang menyakitkan dunia Islam.

Islam tidak menolak keberadaan nation ataupun ras-ras. Namun, Islam sesekali tidak menjadikannya fokus pemersatu ukhuwah Islamiyah. Al-Qur’an menerima suku-suku dan bangsa-bangsaa sebagai tanda (bukan fokus pemersatu yang menyebabkan keterbelengguan berselubung kebebasan) sebagaimana dalam sebuah ayat yang berbunyi :

"Dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa untuk saling mengenal" (QS)

Persatuan Pengkhayal

Fenomena menunjukkan persatuan yang dibentuk oleh para pengkhayal yang hampir sehari-hari berkumpul tertawa bersama dan berbicara tanpa arahan yang jelas, dan sedikitpun tidak pernah berkesimpulan. Anehnya, meskipun mereka berbicara tidak sinkron namun dapat berkumpul bersama. Ikatan mereka disebut kumpulan para pengkhayal, yang terdiri dari beberapa orang yang keberadaannya hampir merata dimana-mana. Eksistensinya menjadi tampak ketika dengan serta merta bangkit menjadi penghalang kemajuan. Muthahari menggambarkan mereka seperti penduduk desa yang duduk diam disekitar kereta api, dan bangkit melempari kereta dengan batu ketika mesin hidup dan bergerak. Banyak terlihat pemuda yang kini berwatak pengkhayal. Jumlaah mereka berserakan merata hampir seluruh kota. Mereka bangkit dengan perkelahian massal, pecandu obat bius, dan minuman keras yang oleh kaum sosialis menjadi aset/lahan hasutan potensial.

Islam pada dasarnya tidak melarang hiburan bagi umatnya. Sekali lagi hal itu bukan menjadi dasar bagi pemersatu ummat manusia.

Persatuan Ilmu Pengetahuan

Yang dimaksud disini prinsip persatuan dalam serbuah organisasi intelektual, semacam ICMI, IPKI atau sejenisnya. Selintas ia tampak besar, meskipun organisasi semacam ini tak lebih dari tempat menumpahkan pendapat-pendapat dan tidak sedikitpun mereka pernah merumuskan kesimpulan bersama. Hal ini disebabkan prinsip Tesa dan antitesa yang diharuskan ada. Mereka berkumpul, pengikat merka adalah batasan-batasan ilmiah dan tidak memiliki kepastian dalam studi mereka.

Dan yang menjadi kekhawatiran perkembangan Ahli bait di Indonesia ditandai dengan mulainya pergeseran kearah ini. Bila hal ini benar, sungguh disayangkan. Karena itu majelis tadris tidak terwujud ditengah kita, sebaliknya seminar atau perkumpulan-perkumpulan hari-hari besar Islam seperti Muharam, Arba’in, Studi buku yang seluruhnya bersifat sementara dan lebih diminati daripada madrasah-madrasah / halqah-halqah. Tak ubahnya mazhab ini dengan ICMI yang secara logis - sulit membangun ukhuwah Islamiyah, sehingga bagi kita berhubungan satu sama lainnya. Malahan yang timbul ditengah-tengah kitapun terasa kering dan kitalah yang melihat pemuda-pemuda Ahli Bait tidak pandai mengangkat permasalahan umat. Ashabiyah ustadz dan organisasi dapat hidup, bahkan menonjol ketimbang Ukhuwah Islamiyah yang menjadi kewajiban setiap pecinta Ahli Bait.

Ukhuwah Islamiyah

Seruan ukhuwah Islamiyah tidak lagi dapat diragukan keberadaan dan pentingnya persaudaraan, berarti juga ikatan yang abadi yang akan menjadi ikatan kita disurga. Hal ini hanya bisa terwujud dengan pengikat yang abadi juga yang bersifat internal disebut fitriah (eksternal adalah ma’shumun). Allah telah menjadikan fitrah yang ada pada diri kita sebagai sarana kepengkapan sarana pengikat ukhuwah di tengah-tengah kita. Berarti kita harus melihat saudara-saudara kita sebagai diri kita sendiri. Semua akan sulit terwujud jika yang kita lihat dalam diri saudara kita adalah ilmunya, khayalnya, perasaannya, atau materinya, tetapi kita membutuhkan diri mereka dengan cara ridha melihat saudara kita duduk dibawah naungan Ahli Bait.

Sikap ukhuwah itu muncul dalam bentuk doa-doa muslimin. Dimana ketika doa dipanjatkan untuk saudara kita demi kebaikan mereka adalah doa yang cenderung tulus dari pada percaampuran hawa nafsu. Melihat saudara kita ibarat bangunan yang satu dengan kita. Perbedaan bukan terjadi pada orientasi dan tujuan melainkan perbedaan fungsi-fungsi dan profesi. Seluruhnya menjadi penting karena ukhuwah Islamiyah yang kontrol internalnya adalah fitrah dan kontrol eksternalnya adalah ma’shumun akan dapat mewujudkan keterpaduan abadi. Karena kontrol internal dan eksternal ini, dan perbedaan fungsi masing-masing dalam wadah islam yang akan menjelaskan tugas-tugas manusia dihadapan maulanya. Tugas yang akan tegak dengan amar ma’ruf nahi mungkar.

Bilakah ini maujud ? jelas hanya dengan memperhatikan diri kita lebih dahulu dalam halkembali pada fitrah.

Dua Keterpaduan

Ukhuwah Isklamiyah ini akan menjadi langgeng (abadi) dengan mengujinya dengan sistem kontrol. Seperti sudah diuraikan – kontrol individu yang bersifat internal adalah fitrahnya, sehingga setiap insan yang hendak menggapai tujuan-tujuan fitriyahnya niscaya cenderung pada bangunan sosial yang bangunan contoh internaalnya adalah para ma’shum

Cerminan dari individu-individu yang taat pada syareat Islam terhadap dirinya menunjukan hal ini – sedangkan sosial mewujudkan keberadaan :

Imam (pemimpin) yang bijaksana

Ummat yang loyal pada pemimpinnya

Ideologi yang tangguh.

Untuk prasyarat ke-3, Islam sudah diwujudkan Allah SWT. Dengan kesempurnaan ideologinya. Berbeda dengan yang lain, mereka harus mencari dulu. Studi keislaman bukan lagi mencari – tetapi memahaminya apa yang sebelumnya sudah ada.

Tentang wujudnya Imam sudah dikaruniakan pada umat manusia. Sehingga ukhuwah Islamiyah tidak wujud ditengah-tengah masyarakat yang tidak loyal terhadap Imamnya. Loyalitas ini demikian dominan dan merupakan faktor ikhtiyar insaniyah yang menentukan masyarakat Islam.

Kisah sejarah Karbala’ – pembunuhan terhadap Imam itu muncul atas ketidakloyalan ummat Islam terhadap imamnya. Demikian sejarah juga membuktikan para nabi yang dibunuh oleh umat manusia. Semua muncul karena dua faktor :

Tertipu – disebabkan tidak merujuk pada fitrah insaniyah-nya. Tidak adanya tujuan kehidupan yang jelas dalam dirinya auatupun tertipu oleh opini kekuasaan zaman.

Penipu – Yang muncul dari kehendak quwwah lain yang telah mendominasi kehendak fitrahnya.

Sehingga janji Allah untuk menentukan umat manusia tidak terwujud karena prasyarat pada manusia itu yang tidak ada. Demikia karena ukhuwah Islamiyah – sangat tergantung keberadaan Imam Ma’shumun dan mengkaji ideologi-ideologi Islam yang telah disediakan Allah sebagai karunia dan ridho’ yaitu Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar