Jumat, 12 Desember 2008

Gelar Yang Terampas






Allah berfirman dalam [Q.S. Al-Baqoroh 274] :

"Mereka yang meng-infak-kan hartanya di waktu malam dan di siang hari, secara diam-diam dan secara terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati".

Para Ahli Tafsir mengatakan bahwa Asbabun Nuzul ayat tersebut adalah pada suatu hari Imam Ali (AS) tidak memiliki apa-apa selain uang 4 dirham. Kemudian beliau (AS) meng-infak-kan 1 dirham di waktu malam, 1 dirham di waktu siang, 1 dirham di-infak-kan secara diam-diam dan 1 dirham di-infak-kan secara terang-terangan.

Sanad : Ibnu Abbas, ayah Mujahid.

Ref. ahlusunnah :

1. An-Naisaburi, dalam "Asbabun Nuzul".

2. Ibnu Atsir, dalam "Asadul Ghobah".

3. Al-Hamid Al-Husaini, dalam "Imamul Muhtadin".

dll.

Namun sayang, gelar inipun mesti terampas dari beliau (AS) dan dilekatkan kepada Umar bin Khottob yang dikatakan sebagai khalifah yang suka ber-infaq secara diam-diam.

Padahal sejarah membuktikan bahwa Umar adalah orang yang tidak adil dalam membagi Baitul Mal. Ia telah merusak tatanan pembagian Baitul Mal yang ditetapkan oleh Rasulullah SAWW. Umar telah membuat pengkelasan dalam pembagian Baitul Mal, orang Arab mendapat lebih banyak dari orang Ajam, kaum Muhajirin mendapat lebih banyak dari kaum Anshar, muhajirin Quraisy mendapat lebih banyak dari muhajirin non-Quraisy, dll. Padahal Rasul SAWW membagikan Baitul Mal secara sama rata.

Ref. Ahlusunnah :

1. Ibn Abil Hadid, dalam "Syarh Nahjul Balaghah", jilid 8, hal. 111. 2. Tarikh Ya'qubi, jilid 2, hal. 106. dll.

Dan saat Imam Ali (AS) menjadi khalifah, maka beliau mengembalikan pembagian Baitul Mal sebagaimana sunnah Rasul SAWW. Sehingga hal ini menimbulkan protes oleh Talhah dan Zubair. Keduanya berkata : "Umar telah memberi bagian kepada kami lebih banyak dari muslimin lainnya". Imam Ali

(AS) menjawab : "Kalian diberi apa oleh Rasulullah ?". Keduanya langsung terdiam. Beliau (AS) melanjutkan : "Tidakkah Rasulullah SAWW senantiasa memberi bagian kepada seluruh kaum muslimin secara sama rata ?". Mereka menjawab : "Ya". Beliau (AS) melanjutkan : "Apakah saya mesti mengikuti sunnah Rasul SAWW ataukah cara-cara Umar ?". Mereka menjawab : "Jelas, sunnah Rasulullah". Beliau (AS) berkata lagi : "Lantas mengapa kalian mengharap bagian lebih ?".....dan seterusnya.

Ref. syi'ah :

Prof. Muhsin Qira'ati, dalam "Mencari Tuhan", hal. 170-171, penerbit Cahaya. Yang mengutip dari Biharul Anwar, jilid 41, hal. 116.

Sehingga jelaslah, siapa sebenarnya orang yang memperhatikan keadilan dan memperhatikan nasib kaum muslimin.

Mengapa gelar Ali (AS) bisa terampas ?

Saya yakin hal ini tidak lepas dari peran Mu'awiyyah dan antek-anteknya seperti Abu Hurairah, Samroh bin Jundub, dll.

Ahmad bin Hambal berkata :

"Ali banyak mempunyai musuh. Mereka berupaya untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa mencelanya, namun mereka tidak menemukannya. Kemudian mereka cari musuh-musuhnya, lalu diciptakanlah keutamaan-keutamaan bagi musuh-musuhnya itu"

Ref. ahlusunnah :

Ibn Hajar Al-Asqolani, dalam "Fathul Bari'", jilid 7, hal. 83.

Mu'awiyah (la'natullahi 'alaih) pernah menulis surat kepada bawahannya : "Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orang-orang agar menyediakan hadits-hadits tentang para sahabat dan KHALIFAH. Perhatikanlah, apabila seorang muslim menyampaikan hadits tentang Abu Turab (Ali), maka kamupun harus menyediakan hadits yang sama tentang sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya dan mendinginkan hati saya, dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan syi'ahnya". Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar.

Ref. :

O. Hashem, dalam "Saqifah", hal. 134-135, penerbit YAPI. Yang mengutip dari Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif Al-Mada'ini, dalam kitab "Al-Ahdats".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar